PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 44


__ADS_3

Malam harinya, Kania tengah tidur tertelungkup di atas ranjang. Wajahnya ia benamkan diatas bantal dengan Isak tangis yang tak mampu di tahan lagi. Baru kali ini Kania merasakan jatuh cinta, tapi baru kali ini pula Kania merasa patah hati.


Bayangan tentang adegan ciuman panas Niko dengan wanita lain, selalu mengiang dalam ingatannya. Hatinya terasa sesak kala mendapati pria pujaannya, nyatanya benar-benar mengabaikannya dan memilih mencumbu wanita lain.


Mestinya, dari awal Kania sadar....


Mestinya dari awal Kania mendengar mamanya tanpa menentangnya....


Mestinya, Kania tak mudah menyerahkan hatinya begitu saja pada Niko....


Mestinya, ia mundur sejak awal karna jelas Niko telah menolaknya...


Mestinya....


Mestinya....


Mestinya....


Semua hanya menjadi sesal. Kania merasa menyesal sekarang. Dan....mengapa semua sesakit ini? Beginikah rasanya patah hati? Kania putus asa.


Mungkin, dengan melanjutkan studi ke luar negri bisa menjadi pelarian Kania dari bayang-bayang Niko. Ya, itu satu-satunya jalan keluar.... melarikan diri.


Jalan keluar kok melarikan diri, Kania?


Pintu di ketuk dari luar, suara Nawal memanggil Kania dengan lembut.


"Dek, Kania sayang. Keluar yuk. Papa mau bicara", ajak Nawal lembut di balik pintu.


"Kania males keluar, ma".


"Ya udah biar papa yang kesini ya?".


"Iya, deh".

__ADS_1


Hening. Suara Nawal tak terdengar lagi, namun tak berapa lama, pintu kembali di ketuk. Kania pun bangkit dari rebahannya dan mengusap air matanya yang masih menggenang di pelupuk mata. Ia beranjak dan segera membuka pintu.


Nawal dan Fandy tengah berdiri berdampingan di depan pintu. Kania sama sekali tak menyembunyikan penampilan kacaunya di depan orang tuanya.


Fandy mengernyitkan kening menatap putrinya yang acak adul penampilannya. Sedang Nawal, sudah terperangah melihat putrinya. Putri yang biasanya tampil rapi dan cantik, kini nampak awut-awutan bagian rambutnya.


"Ehm...", Fandy berdehem pelan untuk menetralkan suasana. Ia menyimpulkan, pasti lah Kania ada masalah hingga ingin melarikan diri ke luar negri, seperti yang di sampaikan istrinya sore tadi.


"Papa.... apa boleh masuk?", tanya Fandy dengan hati-hati.


"Masuk aja, pah". Jawab Kania dengan membuka pintu lebar-lebar.


Fandy masuk dengan langkah tegapnya, disusul sang istri yang mengekorinya di belakang. Setelah mereka duduk di sofa sudut kamar Kania, Fandy memulai percakapan.


"Kamu minta ke mama ngelanjutin kuliah di luar negri, apa itu bener?", Tanya Fandy hati-hati tanpa berbasa-basi. Saat ini, yang Fandy hadapi ialah putrinya yang keras kepala dan tergolong nekat. Salah sedikit saja dalam berkata, bisa-bisa akan membuat putrinya makin nekat.


"Iya, pah". Jawab Kania mantap. Kania menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Ia berusaha menutupi kegelisahan yang menyelimuti hatinya.


"Kenapa kok tiba-tiba? Dulu aja, Kania nggak mau sekolah dan ngebet mau nikah. Ada masalah apa sebenernya? Kenapa putri papa mendadak sedih gini?", Tanya Fandy dengan pandangan yang tak lepas dari putrinya.


Berbeda dengan Nawal yang cenderung mengomel dan kadang bertolak belakang dengan apa yang Kania katakan. Nawal cenderung keras dan sulit mengerti apalagi mengalah.


Namun, terlepas dengan perbedaan sifat papanya yang lembut, dengan mamanya yang cerewet, Kania sejatinya tetap menyayangi orang tuanya tanpa membedakan.


"Sayang....", Nawal mendekat dan mengusap pelan puncak kepala putrinya. "Apa kamu ada masalah dengan Niko?".


Kania mematung. Insting sang mama sejatinya lebih kuat dari apapun. Nawal bisa menebak tepat sasaran. Bagaimana ini? Apa Kania harus jujur?


Kania bimbang.


Kania melepaskan diri dari rengkuhan Fandy. Saat ini, ia tengah duduk dengan diapit kedua orang tuanya.


Baiklah, nampaknya, Kania haruslah jujur. Kania bukanlah gadis pembohong, terlebih lagi pada orang tua.

__ADS_1


"Dari awal, Kania sama mas Niko emang nggak ada apa-apa kan, ma? Jadi, Apa yang perlu di permasalahkan? Antara Kania sama dia.... nggak ada hubungan apapun yang mengikat diri kami masing-masing. Jadi, bukankah itu kesalahan Kania kalau Kania mempermasalahkan jika mas Niko sama perempuan lain?".


Degg


Fandy terpaku.


Kania, putrinya yang terbiasa berfikiran konyol dan kekanak-kanakan, kini nyatanya mampu berfikiran lebih dewasa, dan legowo dalam menerima keadaan. Hal ini juga menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Nawal dan Fandy.


"Maksudmu apa, sayang?", Nawal tampak khawatir.


Siang tadi, Kenan membawa istrinya pulang di saat jam sekolah, dengan keadaan menantunya yang begitu memprihatinkan. Sampai saat ini, Ken pun belum keluar dari kamarnya dan Nawal tak berani mengganggu. Belum ada penjelasan apapun dari Kenan terkait menantunya. Biarlah, Jika sampai esok hari Ken tak keluar, maka Nawal terpaksa harus mendobrak pintu kamar putranya itu. Karna, Ken hanya bisa minta untuk tak mengganggunya


Dan sekarang, ditambah lagi keadaan putrinya yang memprihatinkan. Nawal semakin pening karna memikirkan anak-anaknya. Ada apa sebenarnya ini?


"Maksud Kania?", Tanya Nawal lembut tanpa mengalihkan tangannya dari puncak kepala sang putri.


"Mas Niko udah punya perempuan lain yang lebih pantas dari Kania, ma. Katakanlah.... kandidat calon istri". Jawab Kania dengan disertai senyum getir. Meski tersenyum, namun tak urung matanya menyiratkan banyak luka. Fandy dan Nawal bisa melihatnya dengan jelas.


Fandy manggut-manggut dengan tersenyum. Kini, dirinya mengerti. Ia akan mendukung keputusan putrinya seluruhnya. Andai Kania dan niko saling mencintai dan merek terjerat hubungan, mungkin Fandy akan mencegah Kania dan menyuruhnya menyelesaikan masalah ini.


Namun, jika ditilik dari status mereka yang bukan apa-apa, Kania lebih membiarkan putrinya melanjutkan kuliah di luar negri. Masalah biaya, Fandy lebih dari sekedar mampu untuk membiayai hidup dan pendidikan putrinya di sana.


"Kania yakin sayang? Nggak nyesel?".Tanya Nawal lagi. Kami menggeleng mantap.


"Aku yakin, ma. Tapi, boleh nggak kalau Kania meminta sesuatu?",


"Katakan", ucap Fandy cepat.


"Jangan biarkan biarkan mas Niko menemui aku mulai sekarang sampai keberangkatan aku keluar negri nanti?".


Fandy dan Nawal mengernyit heran.


"Kenapa?" Tanya merka dengan bebarengan.

__ADS_1


"Aku mau fokus kuliah dan nggak mau fokusku nanti terbagi sama yang lain termasuk pertemuan terakhir sama mas Niko. Cukuplah semua menjadi kenangan. Aku yakin aku kuat dan aku bisa bahagia tanpa mas Niko". Jawab Kania dengan tekad besar yang menyala di matanya.


🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2