
Vanya mengamati penampilannya sekali lagi di depan cermin toilet kantornya. Untuk naik menuju lantai paling atas,rupanya di perlukan nyali yang besar. Meski ia tak begitu tau bahwa ternyata pengganti pak Haris selaku CEO di kantor ini, namun rupanya lagi-lagi fakta pagi tadi yang di dengarnya dari Emi, membuat jantung Vanya menghentak liar tanpa henti.
Tidak!!
Sekali lagi Vanya tidak mau kalah lagi oleh perasaannya.
Dengan segenap keberanian yang masih Vanya miliki, Vanya harus memang berangkat ke ruang CEO.
Hanya mengantar berkas saja, bukan? Mungkin hanya dua atau satu menit saja, selepasnya, gue mau pergi kembali ke ruangan divisi. Iya.... gue harus bisa lebih kuat. Gue yakin gue bisa!!
Menuju lift, Vanya berkali-kali menghembuskan nafasnya dengan kasar demi membuang kegugupan dan ketakutannya dalam menghadapi pria masa lalunya itu. Tidak, Vanya tidak boleh takut lagi, begitu pikirnya.
Sesampainya di lantai atas, segera saja Vanya melangkahkan kakinya dengan tenang, seolah tak ada masalah apapun pada hatinya. Sebisa mungkin Vanya akan bersikap biasa saja tanpa terpengaruh, seolah ia dan Dewa tidak pernah saling mengenal. Oh salah, seharusnya Vanya lebih tepat menyebut nama Dewa, dengan dengan embel-embel almarhum mungkin. Kedengarannya tidak buruk.
"Selamat pagi, Mbak Siska, maaf mau mengantar dokumen yang pak dewa minta. Dari divisi keuangan".
Sapa Vanya ramah. Ia berharap kali ini bisa menitipkannya saja pada Siska, sekertaris Dewa.
"Oh, silahkan, mbak. Di dalam pak Dewa nya. Mari saya antar". Siska sudah bangkit dari duduknya dan hendak membukakan pintu ruangan Dewa untuk Vanya. Namun urung ketika Vanya kembali bertanya pada Siska.
"Apa saya bisa titip saja, Mbak Siska?"
"Tapi, pak Dewa meminta di antar langsung, mbak."
Kalimat Siska tentu saja mampu membuat Vanya tersenyum maklum.
"Katanya sekalian ada yang mau di minta perihal laporan keuangan".
Laporan yang mana lagi? Bisa-bisanya cari alasan.
Batin Vanya dengan jengah.
"Permisi, pak Dewa, ini ada mbak Zhivanya yang mau antar dokumen yang bapak pinta".
__ADS_1
Ucap Siska formal, setelah sebelumnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hmm.... silahkan".
Ucap Dewa, hingga kemudian Siska pamit undur diri, meninggalkan Vanya yang hanya menunduk tanpa berani bersitatap dengan pimpinan di tempatnya bekerja.
Setelah pintu tertutup, keheningan sejenak menaungi ruangan Dewa. Dewa menatap lekat gadis yang berdiri di depan mejanya, yang tanpa berniat menyapa Dewa lebih dulu.
"Kemarikan berkasnya". Perintah dewa dengan suara yang sekuat tenaga, di buatnya datar.
Vanya mengangguk dan meletakkan kertas-kertas yang di bawanya.
"Silahkan, pak". Dengan bersikap formal seolah mereka tak saling mengenal. Dengan begini, ia berharap Dewa melepaskannya dan dia segera hengkang dari sana.....
Sayangnya, realita tak seindah ekspektasi.
Dewa tak segera meraih dokumen yang Vanya letakkan di atas meja, melainkan menatap tajam gadis yang selama ini selalu mengisi hatinya, meski sudah ada sosok istri yang begitu baik telah mendampinginya selamanya bulan ini. Katakanlah, Dewa pria brengsek. Dewa tak akan memungkiri itu.
"Maaf, pak. Bila urusan pekerjaan telah selesai, saya pamit un......" Vanya menjawab pelan, meski ia tau itu bukanlah jawaban atas pertanyaan yang Dewa berikan padanya.
"Jangan sekali-kali mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaan ku". Nada bicara Dewa terdengar pelan dan terkontrol.
Vanya mendongak dan menatap mata tajam Dewa yang mampu meluluh lantakkan benteng yang ia bangun sejak tadi. Tapi tidak, Vanya tidak akan semudah itu menyerah.
Meski mereka saling tatap wajah, namun Vanya tidak ingin mengeluarkan sepatah katapun agar ia tak lepas kendali.
"Sampai kapan kamu akan menghindar seperti ini?" Tanya Dewa lagi tanpa mempersilahkan Vanya duduk.
"Sampai aku bisa melihatmu menyatu dan terurai dengan tanah."
Entah keberanian dari mana yang Vanya dapatkan. Ia benar-benar kehilangan kontrol dirinya karena di paksa untuk berkata-kata.
Dewa terkekeh pelan di tempatnya. Kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari laci meja kerjanya. Membukanya, dan memutar-mutar dengan jari-jari nya. Membuat Vanya melotot ke arah Dewa dengan degub jantungnya yang kian meningkat drastis.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?"
"Itu artinya kamu masih mencintaiku. Memendam kebencian yang dalam akibat kecemburuan, hingga mendoakan diriku segera mati". Alih-alih menjawab, Dewa justru melempar pistol yang di mainkannya sejak tadi ke arah Vanya, membuat Vanya berjingkat dan refleks menangkap pistol itu.
"Bunuh aku sekarang sampai kamu puas, Vanya.... Kamu tahu, dua tahun ini aku juga merasa hidupku seperti di neraka tanpa kamu. Atau.... perlukah aku menulis surat wasiat lebih dulu agar aparat hukum tak menangkapmu setelah aku mati?"
Kalimat Dewa, membuat Vanya melempar pistol ke lantai dengan tangan bergetar.
"Kamu gila, Dewa!!" Hardik Vanya. Matanya sudah berkaca-kaca dengan bibir bergetar. Antara rasa takut, dan cemas yang berlebihan.
"Lakukan.... Lakukan agar aku bisa mengembalikan kebahagiaanmu".
Merentangkan tangan, Dewa berjalan pelan ke arah Vanya.
Vanya hanya menggeleng dramatis, tak habis pikir dengan sikap Dewa kali ini.
"Kamu menginginkan kebahagiaanku, lalu bagaimana dengan kebahagiaan anak dan istrimu di rumah?"
"Sekalian saja aku menghancurkan dan memporak poranda semua, bila itu yang kamu mau. Seperti yang kamu bilang, aku gila, Vanya ... aku gila."
"Aku benci sama kamu, wa.... benci....."
"Kamu pikir, semua yang terjadi ini sepenuhnya salahku? Harusnya kamu sadar, ada andil dirimu dalam kerusakan hubungan kita. Kamu nggak menyadarinya? Aku mengambil langkah sedrastis ini dengan menikahi Anika, itu semata karna kamu yang sudah berselingkuh dengan Alfin di belakangku!!"
"Kamu salah, aku nggak selingkuh! Aku hanya membantu Alfin untuk mendekatkannya dengan Emilia, asal kamu tahu itu".
"Kamu bohong.... kamu bohong".
Suara Dewa, menggelegar memenuhi seisi ruangan.
....
....
__ADS_1