PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 29


__ADS_3

Senja mulai tiba, tampak sekali matahari sudah mulai beranjak menuju peraduannya. Entah bagaimana caranya, hari ini meski langit terlihat indah, namun tak juga membuat hati kedua insan sepasang kekasih itu bisa lebih damai dan tenang.


Vanya dan Dewa Sinatra, adalah sepasang kekasih yang memilih jalur menyakitkan untuk bersatu. Akal sehat mereka seolah telah tergerus oleh nafsu yang membara.


Dua tahun perpisahan adalah alasan keduanya untuk kembali bersatu, meski harus melanggar norma agama dan masyarakat. Kini, Dewa dan Vanya saling menggenggam tangan, berusaha menguatkan satu sama lain.


Putri Kenan dan Anjani yang tengah bersama kekasihnya itu, tiba di kediaman Kenan dengan raut wajah gelisah bercampur takut. Tak ayal, keringat dingin nampak mulai bercucuran dari dahi mereka.


"Ingat pulang kamu, Vanya?" Anjani muncul dari anak tangga terakhir, saat Vanya dan Dewa sedang duduk di ruang tamu menunggu mama dan papa Vanya.


"Mama?" Vanya mencicit lirih. Ia melirik mamanya takut-takut. Baru Anjani yang biasanya santun dan lembut. Belum lagi Kenan yang bisa saja menghajar Dewa setelah ini.


"Kalau beberapa waktu lalu aku dan suamiku memintamu pulang kemari, maka enggak lagi mulai sekarang. Kamu bukan hanya membawa aib dalam keluarga Mahardhika, melainkan kamu juga berhasil menghancurkan silaturahmi papamu dan adiknya." Anjani yang semula membentengi diri mati-matian agar tak menangis, akhirnya tak bisa menahan gejolak emosinya lagi. Wanita itu menangis sejadi-jadinya.


"Ma, dengerin dulu penjelasan Vanya."


"Nggak ada lagi yang harus dijelaskan, Vanya. Papa tidak mau tahu, temui Tante Kania dan Anika di rumahnya, sekarang. Minta maaflah karena kelakuan Hewan kalian, Tante Kania nggak membukakan pintu untuk papa kalau nggak sama kamu." Kenan muncul dari ruang kerjanya. Sontak saja Dewa merasa ia harus bisa melindungi Vanya dari emosi kedua orang tuanya.


"Tolong, om. Beri saya dan Vanya kesempatan untuk bisa menjelaskan, beri kesempatan untuk bersuara, om. Apa pun yang terjadi di ibukota, saya bersumpah itu murni kesalahan saya, bukan Vanya." Dewa menjelaskan.


"Saya tidak butuh pembelaan dari kamu, Dewa. Bawa Vanya ke hadapan Kania dan Nika dan jelaskan di sana." Kenan beralih menatap istrinya, "Ayo kesana sekarang."


Kenan berlalu, meninggalkan Anjani yang menatap putrinya dengan perasaan nelangsa.


"Andai tahu kalau kamu akan seperti ini, Vanya. Akan lebih baik kalau dulu mama nggak pernah membesarkan kamu. Kasih sayang mama dan papa selama ini, mama merasa sudah salah besar karena telah membesarkan wanita perebut suami sepupunya sendiri. Ini lebih memalukan. Apa kalian nggak berpikir gimana perasaan Vio saat ia tahu semua ini ketika besar nanti?"


Kalimat Anjani, berhasil membuat Vanya limbung hingga nyaris terjatuh. Apa kata ibunya tadi? Menyesal karena telah membesarkannya? Ya Tuhan, Vanya tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Bahkan rasa sakitnya lebih mengerikan daripada ia harus kehilangan Dewa dua tahun lalu.

__ADS_1


"Ayo." Ajak dewa, yang kemudian tangan Dewa ditepis kasar oleh Vanya. "Kita harus selesaikan ini segera."


"Aku takut, mas. Aku malu. aku nggak mau ketemu mereka. Aku kayak nggak punya muka lagi di depan mereka." Vanya tercekat dan tak berani melangkahkan kakinya.


"Ada aku. Apa pun yang akan terjadi nanti, aku janji aku akan melindungi kamu sampai titik darah penghabisan." Janji dewa kemudian. Sayangnya, Vanya seperti lemas dan tak berani melangkah.


Beberapa saat kemudian, Vanya berhasil dibujuk oleh Dewa, Keduanya kini telah berangkat belakangan ke rumah Niko.


Sesampainya di rumah besar Niko, Dilihatnya dengan jelas Anjani dan Kenan tengah bicara dengan Niko, Fatih, dan juga Kania. Beruntung, Kania sudah menerima Kenan untuk datang. Meski begitu, bukan berarti Kania dan Niko bisa memaafkan Vanya dan Dewa.


Bagi Kania dan Niko, juga Fatih, Kenan dan Anjani tak bersalah. Hanya saja, Kania tak akan mendengar apa pun yang Kenan dan Anjani katakan, jika mereka tak datang dengan Vanya.


"Tante..... om Nik........" Bibir Vanya terasa kelu, saat pembantu rumah Kania, mempersilahkan Vanya dan Dewa masuk. Fatih hanya berdecak jijik pada keduanya itu. Meski usia Fatih dan Vanya hanya terpaut sedikit, namun Fatih tampak lebih dewasa dalam memikirkan banyak hal.


"Pa, ma....." Dewa menyapa Kania dan Niko dengan suara lirih. Ia bingung harus memulai dari mana untuk pembicaraan dalam suasana yang panas ini.


"Nika mana, Tante." Meski bicara dengan Kania, namun Vanya sedikit pun tak berani menatap Kania. Kania yang malam ini tampak anggun sekali dengan balutan dress sebatas mata kaki biru muda bermotif bunga mawar di bagian ujung bawahnya.


"Nika mencari ketenangan malam ini. Jadi kalian nggak perlu ketemu sama dia." Kania menjawab datar.


"Saya perlu bicara dengan Nika, ma. Tolong izinkan. Saya perlu meluruskan sesuatu yang perlu ia pahami dan........"


"Termasuk perselingkuhan kamu dan Vanya? Silahkan lanjutkan karena sebagai keluarga, kami nggak akan membiarkan Anika bersaing dengan sepupunya. kalian berdua sama-sama tak tahu diri dan tak ada malu sedikit pun." Niko bersuara.


Sebagai seorang ayah, siapa yang tak emosi bila melihat dan mendengar putrinya disakiti hingga sedemikian rupa. Di selingkuhi, terlebih yang menjadi selingkuhan menantunya adalah keponakannya sendiri. Mengapa harus Vanya?


"Apa tak ada wanita lain lagi, Dewa? Kenapa kamu harus melabuhkan pilihan pada Anika yang tak tahu apa-apa tentang masalahmu dan Vanya di masa lalu? Kenapa kamu nggak mencari wanita lain di luaran sana? Saya sungguh menyesal karena sudah memberikan restu pada kamu sebagai menantu."

__ADS_1


Meski tenang, namun Niko tetap menahan murkanya.


"Om, saya bersalah. Tolong Vanya.... beri kesempatan Vanya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf sama dek Anika. Tolong, om, Tante." Air mata Vanya kembali jatuh. Sayangnya, sekuat tenaga Vanya mencoba untuk mendapatkan iba dari Kania maupun Niko, yang ia dapat justru tatapan jijik dari Kania dan Fatih, juga Niko.


"Minta maaf untuk apa? Kesalahan yang membuat kamu terlena sampai kamu rela membuka paha lebar-lebar untuk ipar kamu sendiri?" Ujar Kania dengan nada suara meninggi. Habis sudah kesabaran Kania. Ia sudah tak lagi membentengi dirinya dengan kesabaran.


"Ma, jangan kasar sama Vanya." Ungkap Dewa datar. Ia benci dengan Kania yang murka terhadap Vanya. Siapa pun orangnya yang membentak Vanya, Dewa tak rela sedikit pun.


"Bahkan di saat seperti ini, kamu masih membela wanita lacur ini?" Kania melirik Anjani yang menekan dadanya sambil menangis. "Apa kamu nggak mikir setiap hari, bahkan saat aku mengunjungi rumah kalian, kamu selalu dingin sama Anika yang berusaha menghargai kamu. Apa kamu lupa? Perlukah aku membenturkan kepalamu ke tembok, atau melindas kepala kamu dan Vanya dengan tronton, supaya kamu sadar, kalau kamu lebih mementingkan wanita lacur daripada istri kamu sendiri? istri yang sah di mata hukum dan agama?"


Kania menatap Dewa dengan mata setengah melotot.


"Ma, tahan emosi mama." Fatih khawatir Kania kelepasan lebih jauh lagi. Anak sulung Niko dan Kania itu tahu betul dengan karakter Kania yang baik, namun juga berbahaya kalau sudah marah.


"Tapi saya dan Vanya saling mencintai, ma. Tolong mengerti." Dewa justru dengan berani menggenggam tangan Vanya yang gemetaran.


"Tidak tahu malu. Atas dasar cinta, kamu rela menggadaikan rumah tanggamu dan perasaan Elvio. Kamu lupa kalau kamu udah punya anak, Dewa. Kamu udah benar-benar nggak waras." Kali ini Niko yang bersuara.


"Pa, maafkan Dewa. Kami berdua kembali bertemu setelah berpisah dua tahun, mungkin Tuhan memiliki alasan untuk menakdirkan kami bersama. Dewa dan Vanya di masa lalu benar-benar melakukan kesalahan." Dewa tak patah arang. Lelaki itu terus berusaha untuk membela Vanya.


"Vanya bahkan berdoa pada Tuhan, jika Dewa bukan jodoh Vanya, Vanya ingin dijauhkan saja. Tapi jika berjodoh, kami ingin bersatu lagi. apa itu salah, om, Tante?" Vanya menangis tersedu-sedu. Namun baru saja Kania hendak membuka mulutnya, suara Anika menggema lantang di ujung tangga, sambil mendekat ke arah ruang tamu dengan tatapan mengerikan penuh murka. Anika saat ini, seperti bukan Anika yang biasanya.


"Hahahaha... hahaha........ Jangankan malaikat, bahkan iblis pun tertawa melihat dan mendengar doa dari kamu yang bangga akan hubungan haram kalian. Maaf, Dewa bukan lagi seleraku. Ambil saja. Tempat sampah dan penampungannya bahkan lebih pantas bersatu. Aku terlalu berharga kalau harus bersaing dengan wanita serendah kamu."


Semua orang tertegun di tempatnya. Bahkan selama ini, Anika yang manja dan tak pernah kasar itu, kini tampak lebih berani dan murka. Mereka hanya belum tahu, murkanya putri Kania itu, bahkan telunjuk kiri Anika sudah terarah pada Vanya dan Dewa.


**

__ADS_1


__ADS_2