
Dalam diam, Vanya mencoba mencerna kembali apa yang baru saja Dewa katakan padanya. Selama ini, memang ada yang janggal dengan semua yang Dewa lakukan, sangat jauh dari karakter Dewa. Sekalipun tak dapat di pungkiri bahwa Vanya sangat terluka, akan tetapi Dewa tak akan mengambil tindakan di luar jalur. Ada yang aneh, ada yang janggal.
Seseorang? Siapa seseorang yang telah memfitnah dirinya? Vanya mencoba untuk menggali informasi lebih dalam lagi.
"Siapa seseorang itu, Dewa? Katakan!" Vanya berkata dengan tidak sabaran. Putri sulung Kenan dan Anjani itu lantas bangkit dan menghampiri Dewa. Ada rasa marah, ada rasa kecewa, ada rasa sakit yang luar biasa mengaduk hatinya. Vanya tak berdaya saat ini.
"Tasya".
Satu kalimat Dewa, berhasil membuat kesadaran Vanya terpukul mundur. Wanita itu kemudian memikirkan beberapa hal di masa lalu yang sangat jarang ia pikirkan sebelumnya. Tasya. Nama yang tidak pernah Vanya pikirkan sebelumnya dan sangat tidak memiliki potensi untuk kehancuran hubungan Vanya.
"Tap.. tapi, tapi, tapi nggak mungkin Tasya melakukan hal itu". Vanya mencoba untuk mencari pertahanan terakhir, dan menyangkal segala kemungkinan yang menyakitinya.
"Tapi memang itulah kenyataannya, Vanya." Dewa bangkit dan membawa Vanya untuk kembali duduk. Pria itu lantas bangkit dan mengambil minuman yang terletak dalam showcase mini yang ada di pojok ruangan. Vanya butuh minum dan menenangkan pikiran. Keduanya tak peduli, bahwa saat ini, mereka tengah berada dalam jam kerja.
"Apa mungkin Tasya sedang sengaja berniat menghancurkan hubungan kita saat itu, wa?"
"Ya. Tapi sayangnya, Tasya menghilang begitu saja sejak saat itu. Aku sendiri udah mencari tau dan hasilnya nihil".
Dewa ingat kala itu, ketika satu hari sebelum Dewa resmi menikahi Anika. Dewa berusaha mencari tau dimana keberadaan Tasya untuk menegaskan semuanya, berharap Tasya hanya salah bicara dan bercanda. Tetapi satupun tak ada jejak Tasya di temukan. Semua orang seolah bungkam akan tanya Dewa yang mencari Tasya.
"Ya tuhan, kalau benar begitu, aku rasa Tasya suka sama kamu". Memangnya apa lagi? Satu-satunya kemungkinan yang ada adalah Tasya menyukai Dewa.
__ADS_1
"Kalau benar seperti itu, sudah pastinya dia akan merayu aku ketika hubungan kita benar-benar tidak baik, Vanya. Bukannya itu adalah kesempatan baik bagi Tasya?"
"Kalau gitu, apa alasan Tasya?" Vanya menunduk dalam. Wanita itu tengah menerka-nerka apa yang menjadi motif tasya melakukan hal keji seperti itu.
Hening cukup lama, hingga kemudian Dewa kembali bersuara setelah pikirannya hanyut dan tenggelam dalam spekulasi-spekulasi buruk.
"Aku rasa aku perlu mencari tau lagi, Van." Suara Dewa berhasil membuat Vanya mengangkat wajahnya menatap Dewa dengan kening mengernyit.
"Untuk apa, wa? Untuk apa? Sekalipun kamu bertemu dengan Tasya, nggak akan merubah keadaan sedikitpun. Kamu akan tetap menjadi milik Anika, sepupu aku. Antara kamu dan Anika, ada anak di antara kalian, kan? Kamu nggak bisa mengabaikan anak dan istri kamu gitu aja hanya demi masa lalu yang udah selesai".
Apa yang Vanya katakan adalah sebuah kebenaran. Apapun yang akan Dewa lakukan, tetap tak akan merubah segalanya. Kenyataan bahwa Dewa adalah milik saudaranya, membuat Vanya lagi-lagi terhempas oleh kenyataan itu, meski tak Vanya pungkiri ada rasa yang kembali meletup ketika ia tau bahwa Dewa masih mencintainya dan ada alasan di balik tindakannya yang meninggalkan Vanya.
"Semua udah terjadi, wa. Andai kamu nggak emosi dan mencari tau dulu kebenarannya, kamu nggak akan kehilangan aku, kita bisa hidup bersama. Terlepas dari kamu hanya menjadikan Anika sebagai alat untuk balas dendam sama aku, tetapi Anika udah jadi milik kamu. Kamu harus menjaga anak istri kamu sesuai dengan kewajiban kamu".
"Tapi aku masih sangat mencintai kamu, Van. Sangat. Tolong jawab pertanyaan aku, kamu masih sayang dan cinta ke aku, kan?" Dewa menatap lekat netra mata wanita yang masih sangat ia cintai itu.
Berbeda dengan Dewa, Vanya justru memalingkan wajahnya demi bisa menghindari kontak mata dengan Dewa. Vanya tidak mau larut dan kembali terjebak oleh pesona bening mata Dewa yang bisa membuatnya terhanyut dan lupa diri.
Cinta itu masih ada. Getaran itu semakin terasa. Rindu itu masih menggebu. Dan gelenyar kasih itu masih sama seperti yang dulu. Tak ada yang berubah. Cinta dan kasih sayang diantara keduanya masih sama-sama besar seperti dulu. Entah apa alasan tuhan, tetapi baik Vanya maupun Dewa tidak menghendaki rasa di antara keduanya tetap ada.
Tak jarang, Vanya berdoa agar Tuhan mencabut saja rasa cintanya terhadap Dewa. Begitu pula dengan Dewa. Mereka berdua sama-sama terjebak, namun sulit menyelamatkan hati mereka.
__ADS_1
"Vanya, lihat aku. Katakan kalau kamu memang udah nggak lagi cinta sama aku". Sekali lagi Dewa mendesak Vanya yang semakin ciut nyalinya. Keberanian Vanya seolah hilang ditelan angin. Vanya hanya tidak mau dirinya nanti mengatakan apa yang dirasakannya saat ini.
Keberanian putri dari Kenan dan Anjani semakin luruh ketika Dewa meraih dan mengusap pelan punggung tangan Vanya. Pria itu seolah sedang merayu dan membuat pertahanan Vanya hancur.
"Aku... aku masih sangat mencintai kamu, wa," kalimat lirih Vanya, berhasil membuat Vanya merutuki bibirnya sendiri yang dengan kurang ajarnya mengatakan jujur sesuai dengan hatinya. Di dengarnya hembusan nafas lega Dewa.
Dengan gerakan yang berhasil membuat Vanya lumpuh dalam sesaat, Dewa berhasil membawa Vanya dalam pelukannya. Pria itu begitu rindu pada Vanya, menghidu aroma rambut Vanya yang tak berubah sejak dulu.
Hal itu hanya bertahan dalam beberapa detik saja, sebelum kemudian akhirnya kesadaran Vanya kembali. Dengan kekuatan penuh di tengah tubuhnya yang melemas layaknya jelly, Vanya mendorong Dewa hingga tubuhnya terlerai dari Dewa.
"Cukup, wa. Tolong jangan memancing rasa ini lagi. Kamu milik Anika, aku nggak mau merebut kamu. Tolong, ngerti, wa. Tolong kamu ngerti. Tante Kania pasti akan marah besar kalau tau kita menjalin hubungan. Andai Tante Kania tau bahwa dulu kamu kekasih aku, tapi baik Tante Kania dan om Niko pasti tidak akan membenarkan apa yang kita lakukan saat ini. Aku mohon, wa. Aku mohon kamu ngerti...."
Tangis Vanya kian pecah. Wanita itu tidak bisa mengontrol diri dan emosinya saat ini. Andai saat ini ada Anjani, Kenan, Niko dan Kania, sudah pasti perang dunia ke tiga akan terjadi dalam keluarga Mahardhika. Tidak. Vanya tidak akan membiarkan hal ini terjadi.
"Tapi kita sama-sama tau kalau kita saling mencintai, Vanya. Kita juga tidak menghendaki perasaan ini hadir di dalam hati kita masing-masing."
"Enggak, wa. Kamu nggak kenal gimana Tante Kania. aku nggak mau kamu menjadi musuh ibu mertua kamu."
**
Sampai sini dulu, ya. Akan update lagi besok. Sampai jumpa lagi dengan neng Tia yang penulis abal-abal ini😂❤️
__ADS_1