PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Season 3. 26


__ADS_3

Langit yang tadi cerah, tenyata kini telah berubah menjadi sedikit gelap. Senja yang biasanya menampakkan keindahannya, kini tak lagi terlihat. Tak ada lagi semburat warna merah, tak ada lagi cahaya merah keemasan. Yang ada hanyalah langit yang tertutup awan kelabu di atas sana.


Kania tak tahu apa yang terjadi setelah ini. Yang Kania tahu, dirinya harus segera menyelesaikan urusan ini agar putrinya tak lagi di bodohi.


Mobil Anika tampak datang menghampiri mobil rumah yang Kania tumpangi bersama sopir. Hati Kania semakin bergetar tak karuan. Kania khawatir, Nika tak sekuat yang ia pikir. Menghadapi perselingkuhan, tak semudah yang biasa orang katakan.


"Ma, ini rumahnya mas Dewa?" Anika tampak sembab. Tampak sekali matanya memerah dan juga hidungnya ikut merah.


"Ya. Ini rumah yang Dewa beli belum lama ini. Dewa baru saja masuk dan dia sama Vanya di dalam setelah tadi sempat shoping sebentar. Jadi gimana?"


"Langsung masuk saja, ma. Nggak usah ketuk pintu dan pencet bel. Biar sopir yang membobol pintu." Anika melambaikan tangan pada sopir yang baru keluar dari mobil.


"Tapi itu nggak sopan, Anika" Kania mencoba mengingatkan.


"Selingkuh bersama sepupu istri, apa itu terlihat sopan?" Mendengar kalimat putrinya, Kania hanya menggeleng tak percaya apa yang baru saja ia dengar, nyatanya membuat Kania melihat sisi lain dari diri putrinya.


"Anika, mama harap kamu jangan sampai melukai ataupun menyentuh kulit Dewa maupun Vanya. Mama nggak mau repot karena harus berurusan sama hukum."


"Kita nggak akan berurusan sama hukum, ma. Tapi hukum adat di kampung halaman kita yang akan menyentuh dua ular di dalam." Tatapan mata Anika beralih pada sopir, "Pak, tolong buka gerbangnya, bobol pintunya dan kita cari dimana pak Dewa dan pelacurnya."


"Tapi..... gimana nanti kalau saya dipecat bapak, Bu?" Sopir menatap ragu pada Anika.


"Nggak usah takut kehilangan pekerjaan. Mama yang jadi saksi, biar papa yang akan membawa bapak untuk bekerja di tempat usaha papaku. Jangan takut, ayo. Bapak nggak tega kan, kalau saya di khianati dan dibohongi terus menerus?"


Dengan keringat dingin yang membanjiri kedua telapak tangan, sopir keluarga Dewa membuka gerbang yang tak terkunci. Sebuah obeng yang digenggam sopir, digunakan untuk membuka pintu rumah minimalis Dewa.


Hingga pintu terbuka, sayup-sayup Anika, Kania dan juga sopir mendengar ******* keras yang begitu jelas.

__ADS_1


Kania lantas naik ke lantai atas, menarik pelan Anika yang kakinya telah gemetar.


Bagaimana hancurnya hati Anika saat ini? Bukan Kania tega pada Anika, namun Kania awalnya hanya ingin menunjukkan pada putrinya, bahwa Dewa jelas selingkuh dengan Vanya.


"Kita pulang saja? Kalau kamu nggak kuat, kita pulang." Anika menggeleng tegas dengan mengentak kasar cengkeraman tangan ibunya pada lengannya.


"Kita terlanjur terjun ma, sekalian kita selesaikan urusan di sini." Anika sudah kehabisan kesabaran. "Ambil ponsel mama dan ambil gambar dan video anika sebentar lagi." Anika membuka Hells nya dan menendang kasar ke sembarang arah. "Buka sandal mama dan pak sopir. Ayo pak, buka pintu kamar yang itu."


Anika menunjuk kamar sumber suara ******* dan erangan dewa bersama Vanya. Jantung Anika berdegup lebih cepat dari biasanya. Begitu juga dengan sang sopir yang sekujur tubuhnya gemetar.


"Kamu yakin, Nika?" Tanya Kania lagi untuk sekedar memantapkan hati putrinya.


"Lebih dari sekedar yakin, ma."


Bahkan di dalam sana, sepasang insan yang tengah memadu kasih itu tak mendengar pintu kamar mereka dibobol. Terlambat sadar, kini bahkan pintu telah terbuka sepenuhnya.


Vanya dan Dewa sama-sama memucat, mereka terkejut bukan main saat mendapati Anika dan Kania berada di ambang pintu.


Anika hanya tertawa, tertawa sumbang namun penuh dengan kesakitan yang tak bisa di tahannya lagi.


Lelaki yang menjadi cintanya, kekasih halal selamanya, pusat dunianya, poros hidupnya, kini telah tega bergulat diatas ranjang bersama sepupunya. Kurang hancur apa hati Anika? Kurang terluka bagaimana lagi hati dan jiwa wanita itu?


"Kenapa berhenti? Ayo lanjutkan? Keluarga besar Sinatra dan keluarga besar Mahardhika, aku pastikan akan menonton live show ini hingga akhir. Jangan tanggung-tanggung, selesaikan semuanya dan lanjutkan permainan panas kalian."


Suara Anika lantang menggema ke seluruh ruangan.


Vanya yang sudah melindungi tubuh sebatas dadanya dengan selimut, juga Dewa yang tergopoh memakai piyama, membuat Anika Makin tertawa lebar. Tawa yang menyakitkan, namun sangat berbahaya.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu ada disini, Anika?" Suara Dewa lirih dan bergetar. Terlebih, ada Kania yang hanya diam tanpa berkata-kata yang membuat Dewa gentar.


"Nggak usah mikirin aku, Dewa Sinatra. Pikirkan saja masa depan kalian. Aku dan mama nggak akan melakukan hal yang berbau kekerasan. Hanya saja, setiap dosa pasti ada hukuman. Silahkan, selamat menikmati dan jangan lupa untuk mengunci semua pintu sebelum memulai permainan. Aku ingatkan, Kuncilah pintu gerbang biar rumah kamu nggak mudah di bobol maling. Karena maling yang sebenarnya, adalah sesosok yang biasanya jadi kerabat, atau keluarga kita."


Dengan anggun Anika berbalik pergi, di ekori Kania yang menyudahi mengambil video keduanya. Padahal yang Anika rasakan, kaki Anika terasa gemetar dan seperti sulit di gerakkan.


"Pak, bawa Siska dan Vio untuk pergi ke hotel yang dekat dengan rumah, jangan lupa hubungi Siska dulu untuk mengemasi pakaiannya dan juga pakaian Vio. Bawa separuh saja jika kesusahan."


"Baik Bu."


"Bawa mobilnya. Mama biar sama aku."


Sopir mengangguk dan berlalu pergi, meninggalkan Anika dan Kania yang kini menatap jijik ke arah Dewa yang baru keluar dari pintu gerbangnya hanya menggunakan celana pendek berwarna putih dan kaos polos hitam.


"Ma, kemudi mobilnya. Anika lemas."


Situasi sulit ini, siapa yang bisa membayangkan bahwa Anika akan tiba di titik ini. "Kemarikan ponsel mama."


Kania dan Anika buru-buru masuk ke dalam mobil. Kedua wanita beda generasi Itu benar-benar tidak tahu lagi harus apa setelah ini.


"Anika tunggu, tunggu Nika..... tolong, tolong buka pintu mobilnya. Kita perlu bicara." Dewa menggedor-gedor kaca mobil Anika. "Ma, mama tolong, ma. Dengerin dulu penjelasan Dewa."


Kania seolah terlihat seperti wanita yang tuli. Ia tak bisa mengentikan mobilnya begitu saja. Tak ada yang bisa ia lakukan selain terus melajykan mobil dengan kecepatan sedang, tanpa peduli pada Dewa yang mengerang frustasi.


"Mau kamu apakan ponsel mama, Nika?" Kania berkata pelan.


"Mengirim video barusan ke nomornya om Ken dan Tante Anja, ma. Juga ke nomor Anika untuk Nika kirim ke nomor keluarga besar Dewa Sinatra. Ayo kita pulang, Kemasi barang-barang kita di rumah dan kita menginap di hotel saja. Anika akan mencari penerbangan tercepat untuk kita semua pulang ke kampung halaman."

__ADS_1


Anika menjawab sambil melelehkan air matanya. Wanita muda yang biasanya ceriwis dan manja itu, kini telah berubah menjadi wanita rapuh dan kuat dalam satu waktu.


**


__ADS_2