PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 20


__ADS_3

Malam ini, Rumah kediaman keluarga Fandyka terlihat nampak ramai. Berbagai macam jenis bunga dekorasi, di pesan langsung oleh Nawal di datangkan dari kota malang.


Bunga-bunga yang cantik nampak tertata rapi di sepanjang jalan pintu masuk. Meski acara pernikahan di gelar sederhana, tapi Nawal dan Fandy mengadakan perjamuan makan dalam menikahkan putranya, Kenan dan Anjani. Mereka juga hanya mengundang kerabat terdekat saja.


Fandy berencana mengadakan resepsi nanti, setelah Anjani melahirkan. Semua sudah terencana karna Fandy tidak ingin terkesan menyembunyikan pernikahan anaknya dari kolega-kolega bisnisnya.


Fandy dan Nawal sungguh menerima pernikahan ini dengan sepenuh hati tanpa memandang asal usul Anjani yang notabenenya anak pembantu mereka. Begitu juga dengan Kenan yang dulu sangat merendahkan Anjani, kini malah jatuh dalam pesona anak pembantu di rumahnya.


Ken saat ini lebih memilih menempati salah satu kamar tamu di lantai bawah. Semenjak kepulangannya dari Pati delapan hari yang lalu, Anjani diminta Kenan untuk menempati kamarnya. Kenan hanya ingin Anjani merasa nyaman dan tidak terganggu dengan aktifitas di lantai bawah karna penata dekorasi yang mondar mandir, juga berisik.


"mas...?", Suara Kania memecah lamunan Kenan. Kenan berbalik dan melihat pintu, sosok Kania muncul dengan senyum hangat kembali seperti dulu. Berbeda dengan Kania beberapa bulan terakhir yang bersikap dingin semenjak Anjani pergi.


"Kok kamu nggak ngetuk pintu sih?", Tanya Kenan dengan mengangkat kedua alisnya.


"Yee.... Aku mah udah ngetuk kali mas.. Mas nya aja yang nggak denger. Ngapain aja sih Sampek nggak denger orang manggil-manggil?" Tanya Kania sambil melenggang masuk.


"Nggak ada, lagi berdiam diri aja. Mau keluar rame ah jadi males", jawab Kenan.


"Mas....?", Kania tiba-tiba memeluk kakaknya. Kenan pun terkejut, bagaimana tidak? Kania bahkan selama ini sangat jarang memeluk Ken dengan hangat seperti ini.


"Kania.... Kamu apa-apa an sih?". Tanya Ken dengan mengelus puncak kepal adiknya.


"Bentaran aja mas, Aku pengen meluk gini. Beberapa jam lagi, kakak aku bakal resmi jadi milik istrinya. Aku nggak mungkin meluk mas lagi", jawab Kania dengan suara bergetar.


Ken menyadari, setelah pernikahannya dan Anjani, Ia pasti akan membatasi diri dengan Kania.


"Hei... Mas kan cuma nikah sama Anjani? Nggak akan pergi jauh", ucap Kenan menenangkan sang adik. Tangannya Ken gunakan untuk tetep mengusap pelan kepala adiknya.


"Jangan bantah! Biarin aku puas-puasin dulu sama mas", jawab Kania dengan suara kembali ketus, tapi masih tetep memeluk erat kakaknya. Tanpa keduanya sadari, Nawal melihat mereka dari balik pintu yang sedikit terbuka. Nawal tersenyum tipis melihat tingkah anak bungsunya itu.


"Sampai kapan pun, Kania tetap lah adeknya mas. Nggak ada yang bakal misahin kita sebagai keluarga. Biar bagaimana pun, darah tetap lebih kental dari air. Kamu ngerti?", Kania mengangguk.

__ADS_1


"Iya. Mas, aku nyaman dengan panggilan ini. Setelah ini, Jangan panggil Lo-Gue lagi ya..." Pinta Kania yang mendapat anggukan dari Kenan.


"Udah puas aku. Ya udah ahh Aku balik lagi aja", tukas Kania kemudian Sabil melenggang pergi begitu saja. Kenan terkekeh dengan tingkah kekakan adiknya.


Kania sangat jauh berbeda dengan Anjani yang lebih dewasa sebelum waktunya.


................


Pagi ini, Anjani tengah duduk di kursi kecil depan meja rias. Jam menunjukkan pkl 08.34 pagi. Dengan mengenakan dress putih gading dibalut dengan hijab simple nan elegan, Membuat nya terlihat semakin cantik.


Anjani menatap cermin di depannya, tanpa terasa Anjani meneteskan lagi air matanya. hatinya tiba-tiba merindukan sosok ibunya yang telah tiada.


Menyesal? Ya, Anjani sangat menyesalinya. Andai ia tidak pergi meninggalkan rumah saat itu, mungkin ibunya saat ini masih ada bersamanya. Mengingat sosok ibu, membuat Anjani kembali di Landa rasa bersalah.


"Sayang....?" Suara Nawal menyadarkan Anjani yang hanyut dalam kesedihan. Kania juga berjalan anggun di belakang sang ibu.


Nawal nampak sangat cantik meski usianya tidak lagi muda. Dengan memakai kebaya berwarna krem dan sewek berwarna coklat keemasan, Rambutnya di sanggul tinggi dengan make up ringan, tidak membuat Nawal seperti wanita berumur lima puluh tahunan.


"Iya, nyonya." Anjani tersenyum sambil berusaha menghapus air matanya dengan tissue.


"Kenapa nangis?", Anjani menggeleng sambil berusaha menampilkan. senyum yang nampak kaku.


"Anja keinget almarhumah ibu".


"Kamu yang tabah ya, sayang. Ibumu pasti tersenyum di surga melihat putrinya akan segera menikah. Jangan nangis lagi". Nawal menjeda kalimatnya. "Kalau kamu kangen almarhumah ibu, biar Kenan membawamu ke makam beliau. Kemarin pagi, Ken sudah dari sana untuk berziarah".


"Kenapa nggak ngajak Anja?".


"Karena kamu selalu terkesan menghindar dari Ken. Dia bukan nggak mau deketin kamu, Tapi lebih menghargai kamu yang masih enggan dia dekati. Mulai saat ini, Kamu nggak boleh menolak lagi". Anjani tidak menjawab, hanya menunduk dengan hati yang masih kecewa pada Kenan.


"Dan satu lagi, Jangan panggil aku non yah?", kali ini, Kania yang bersuara. "Panggil aku Kania, karna aku adik kamu. Sama mama papa juga kamu nggak boleh panggil nyonya dan tuan. Kamu harus panggil mama papa juga kayak aku, Iya kan, ma?" Lanjut Kania dengan mengalihkan tatapannya pada sang mama.

__ADS_1


"Iya iya bener. Ya udah ayo turun, penghulunya udah datang juga",


"Anjani malu nyo... eh, ma", kata Anjani cepat".


"Malu kenapa?". Tanpa menjawab, Anjani mengusap perutnya yang sudah buncit karena usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke 8. "Nggak usah pikir apapun lagi. Siapapun yang menghinamu, maka dia kan berhadapan dengan mama dan papa", sambung Nawal dengan tegas.


Saat itu juga, Anjani turun dengan di apit oleh Nawal dan Kania. Saat mereka tiba di tangga paling bawah, semua mata tertuju pada Anjani tak terkecuali Ken.


Ken terpesona. Ken terpana. Ken terhipnotis. Ken takjub, karena Kania begitu nampak sangat cantik dan menawan. Perut buncitnya, sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya. Justru kehamilannya ini, Anjani nampak sangat montok dan menggemaskan.


Hingga Anjani duduk di samping Kenan dengan wajah menunduk, Kenan masih tak berkedip memandang Anjani.


Tiba-tiba, pinggang Ken di cubit keras oleh Kania, dan Kenan tersentak kaget. Spontan Ken menoleh ke arah adiknya yang sudah terkikik geli dengan ekspresi wajah yang menyebalkan. Ken pun segera menguasai dirinya dengan berdehem dan memandang lurus ke arah penghulu.


Khotbah nikah pun di paksakan. Acara berlangsung khidmad.


"Saya terima nikah dan kawinnya Anjani Syafa Zulaikha Binti marwan dengan maskawin berupa alat sholat dan emas seberat tujuh belas gram di antar tunai"


Sah


Sah


Sah


Sah


Setelah pembacaan doa selesai, Anjani pun mencium punggung tangan Ken dan Anjani di kecup keningnya oleh Kenan.


Kenan nampak sangat bahagia. Berbeda dengan Anjani yang terlihat nampak mendung.


Setelah acara selesai, Semua kerabat tengah menikmati perjamuan. Anjani pun pamit ke kamar serta di susul Kenan. Sesaat setelah keduanya tiba di anak tangga teratas, Kenan mengejutkan Anjani.

__ADS_1


"Anjani Syafa Zulaikha, Aku mencintaimu. Tolong jangan mengabaikan aku dan jangan meninggalkan aku lagi", ucap Kenan lirih dengan pandangannya yang meneduhkan hati Anjani.


__ADS_2