
Pagi ini, adalah pagi paling sibuk di rumah Kania dan Niko. Pernikahan Rama dan Anika yang digelar secara sederhana, hanya mendatangkan keluarga besar ini saja, dan juga keluarga Rama dari ibukota.
Tak ada dekorasi mahal seharga ratusan juta, juga tak banyak bunga yang menghiasi seluruh ruangan. Nyatanya Anika hanya menggunakan sedikit sentuhan bunga hiasan untuk dekorasi acara pernikahan dengan Rama.
Tak banyak tamu undangan yang datang, karena memang Rama inginnya sederhana saja. Tak hanya itu, Rama juga meminta restu dari semua keluarga calon istrinya itu.
Acara berlangsung khidmat dan sakral. Gurat bahagia tampak terpancar dari seluruh wajah yang menghadiri acara pernikahan tersebut. Terlebih Kenan dan Anjani yang tampak lebih lega, sedikit merasa berkurang rasa bersalahnya.
Menikahnya Anika dengan Rama, tentu menjadi sebuah bukti bahwa kini Anika benar-benar sembuh sakit hatinya. Ya, meskipun bekasnya akan selalu ada hingga kapanpun. Namun setidaknya, Anika mulai menemukan kebahagiaannya.
Rama tampak kalem dengan setelan baju Koko warna putih dan sarung putih. Tak lupa, Rama juga mengenakan peci hitam yang pas di kepalanya, dan Anika yang menggunakan gamis syar'i berwarna serupa, putih tulang.
Tak ada make up tebal, tak ada aksesoris kepala yang berat dan memusingkan. Namun suasana sakral benar-benar terasa. Terlebih, ini adalah pernikahan Rama untuk yang pertama kalinya.
Namun tak seperti sebuah wajah yang muram di belakang, duduk dengan bersandar pada tembok. Dia adalah Dewa, yang Tirta serta bahagia, meski sudut hatinya ada sebuah penyesalan. Lelaki itu pikir, Anika akan selamanya berkubang dalam rasa sakit yang ia ciptakan. Nyatanya, Rama, si anak pembantu dan sopirnya dulu itu, datang membawa surga untuk Anika yang bahkan tidak pernah melepaskan senyum kecilnya.
"Selamat ya, Dek. Maaf, aku sama mas Dewa, cuman punya ini buat kamu sama Rama," Vanya tiba-tiba menghampiri Anika, saat penghulu baru saja pulang. "Semoga kamu dan Rama suka, ya?" tambah Vanya.
__ADS_1
"Makasih, Kak. Makasih banyak," Anika tersenyum lebar, menerima kado pemberian Vanya dengan tulus tanpa beban.
"Selamat, Anika. Semoga kamu bahagia. Aku ikut bahagia," Dusta Dewa kemudian, yang menyusul istrinya di belakang Vanya. "Selamat ya, Rama," imbuhnya lagi.
"Terima kasih, pak Dewa," jawab Rama dengan polosnya, dan tidak mengerti dengan arti tatapan Dewa padanya.
Hingga acara yang digelar sore hari itu telah selesai, dan kemudian petang menyapa. Anika segera menghampiri Vio yang tengah digendong oleh Kania. Anjani dan Vanya masih sibuk membantu-bantu asisten rumah tangga Kania yang sedang beberes perabotan dapur.
"Ma, Vio kayaknya udah ngantuk, deh. Biar aku tidurkan," ucap Anika kemudian.
"Jangan. Pengantin baru nggak boleh tidur sama anak," larang Kania kemudian.
"Panggil aku, Mama, Rama. Kamu anak saya juga sekarang. Oke?" Kania mencoba mengakrabkan diri dengan Rama. Tentu saja Rama mengangguk.
Di sudut lain, sepasang kakak adik tengah bicara serius.
"Kamu nanti jangan keras mainnya, Nika, dia masih perjaka," Fatih berbisik pelan, dengan menunjuk Rama yang tengah bicara dengan Anika.
__ADS_1
"Ya biarin lah. Tiga tahun haus belaian nggak diapa-apain, ya kali, aku harus diem aja. Kecuali kak Fatih tuh, nggak laku sampai sekarang," ejek Anika kemudian.
"Ih, kamu!" Fatih melempar adiknya dengan bantal sofa, menatap tajam adiknya yang selalu meledeknya dengan sebutan bujang lapuk.
Begitulah suasana kediaman Niko dan Kania. Tidak ada kemarahan, pertengkaran, perselisihan, maupun sakit hari.
Dewa juga mulai sadar di tempatnya, bahwa apa yang sudah ia campakkan dulu, tidak bisa ia dapatkan dan ia raih kembali. Sesuatu yang dulu membosankan dan tidak menarik dimatanya, nyatanya begitu berharga di mata orang lain.
Vanya hanya bisa menatap Dewa yang menatap Anika dan Rama yang sedang bercanda ria bersama Fatih, anak sulung Kania dan Niko. Ia sadar, suaminya itu tengah menyesali apa yang sudah ia lakukan dulu.
Sayangnya, tak ada pilihan lain bagi mereka sekarang. Semua sudah terjadi akibat ulah mereka sendiri yang tak memikirkan konsekuensi dan segala kemungkinan besar yang terjadi.
Hidup terkadang memang penuh dengan bisikan yang menyesatkan, namun terasa nikmat untuk dilewatkan.
Tamat.
**
__ADS_1
Nanti aku kasih ekstra partai Anika dan Rama malam pertama, ya🤣🤣