
Hari ini sedikit mendung, kabut pekat menutupi langit yang cerah. Dalam kesendirian, Niko duduk seorang diri di ruang kerjanya, menatap jendela besar di ruangan itu.
Niko kembali merenungi nasibnya, memikirkan Kania yang enggan bertemu dengannya. Ada kerinduan yang begitu membuncah tatkala beberapa hari tak bertemu.
Dulu, sesuatu yang paling Niko takutkan adalah berhubungan dengan Kania tanpa restu dari Fandy dan Nawal.
Namun kini, disaat ia sudah mengantongi restu dari orang tua Kania, justru Kania yang enggan berbicara dengannya. Sakit.... itulah yang Niko rasakan.
Mungkinkah, ini karma? Dulu, Kania begitu mengejar-ngejar Niko. Namun kini, Niko lah yang merasa sedih saat Kania tak mau menemuinya.
Hampir setiap hari Niko berkunjung ke rumah Kenan, dengan berbagai alasan pekerjaan. Namun tak sebentar pun Kania memberinya kesempatan. Niko hanya tidak tau saja, bahwa sebenarnya, Kania selalu memperhatikannya dari kejauhan. Kania juga memendam rindu yang luar biasa menggelegak memenuhi rongga dadanya.
Tanpa mereka sadari, mereka saling menyakiti diri sendiri.
Niko berpikir, pantaskah Niko bila mengharapkan cinta Kania? Niko hanyalah seorang kaki tangan Kenan, orang kepercayaan Ken dalam mengurus bisnis Kenan.
Dering ponsel Niko mengejutkan Niko. Buru-buru Niko melihat ponselnya, mungkinkah itu Kania?
Namun, lagi-lagi Niko harus kecewa. Nama bunda yang tertera di sana. Apa yang harus di katakannya pada sang ibunda tentang kania?
......................
Pagi-pagi sekali, Kania mengepak seluruh pakaian dan semua barang miliknya ke dalam koper. Sore nanti, pesawat yang akan di tumpanginya akan berangkat ke australi.
Entah harus bahagia atau harus bersedih, Kania tidak bisa menjabarkan nya saat ini. Yang menjadi beban terberatnya saat ini bukan kerinduannya nanti pada orang tua, melainkan Niko.
Semua barang sudah siap, tapi entah mengapa hati Kania merasa berat untuk melanjutkan niatnya.
Bagaimana bila saat di australi nanti, dia merindukan Niko? Bisakah Niko setia pada Kania? Bagaimana bila nanti ternyata Niko tidak bisa menjaga hatinya untuk Kania?
Kania mendadak ragu.
"Sayang, semua barang kamu apa udah di packing?", Nawal mendadak muncul dari luar kamar, ia nyelonong saja masuk tanpa mengetuk pintu, karna pintu kamar putrinya memang tengah terbuka.
Yang di panggil hanya mematung dengan tatapan matanya kosong. Nawal hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa heran dengan tingkah putrinya yang tak menyadari kedatangannya.
__ADS_1
"Kania.... sayang... Kania, kamu kenapa sih?", sambung Nawal lagi dengan mengibas-ngibaskan tangannya di depan putrinya.
Kania segera sadar dan terjaga dari lamunannya.
"Mama?", katanya dengan kebingungan.
"Kamu kenapa sih? Kok mendadak ngelamun terus? Katanya udah seneng banget mau berangkat kuliah ke luar negri? Apa sih yang Kania pikirin?",
Kania hanya menggelengkan kepalanya. Bimbang.
"Kania kepikiran mas Nik, ma", jawabnya pelan. Nawal tak terkejut lagi. sudah dapat di pastikan bahwa putrinya ini memanglah kepikiran tentang Niko.
"Katanya nggak kenal? Kok pas mau berangkat masih kepikiran aja?", kata Nawal dengan nada menggoda. Kania tak perduli, baginya Niko adalah prioritasnya. Kania tak tenang saja bila harus pergi dalam jangka waktu yang lama, dan berpisah dengan Niko. Pasti lah Kania merasa rindu berat nanti.
"Aku serius, ma", Jawab Kania malas. Berbicara dengan mamanya bukannya membuat Kania tenang justru Kania semakin di goda habis-habisan.
"Kamu sih sok nggak kenal, sekarang malah bingung kan ha........", kalimat Nawal seketika terhenti saat Anjani datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Terlebih lagi Anjani membawa serta Zhivanya di dalam gendongannya. Nawal jadi khawatir nanti cucunya kenapa-kenapa.
"Sayang, kamu kenapa kok lari-lari? Apa ada masalah?" Tanya Nawal sembari bangkit dari duduknya, mengambil alih Vanya.
"Hah? Mau ngapain?". Tanya Nawal kaget.
"Nggak tau, udah deh ma cepetan telepon papa. Papa juga baru berangkat, biar puter balik dulu", jawab Anjani masih dengan kepanikannya.
"Nja, kamu telpon papa sama ken gih, Vanya biar sama mama.... ",
Nawal selalu begitu, ia selalu saja memerintah Anjani. Kalau tidak di turuti, bisa-bisa Nawal akan mengomel sepanjang hari pada semua orang yang bahkan tak tau apa-apa
Kania beruntung saat ini ada Anjani, segala perintah yang dulu di tujukan pada kania, sekarang sudah Anjani yang menggantikan.
Kania sejenak tertegun dengan apa yang baru saja ia dengar, ayah dan bunda Niko datang? bukankah mereka sedang dalam janji akan melamar Kania? Apakah ini sudah tiba waktunya? Oh tidak.... Kania bisa gila saat ini juga. Jika memang iya, lantas, bagaimana dengan nasib semua koper yang berisikan semua barang bawaannya? Kania mendadak pening.
Di saat ia sudah akan berangkat, justru pikirannya terbebani dengan Niko. Tapi tunggu.....! Benarkah ayah dan bunda Niko datang untuk melamar?
Kania harus melihat dan mendengarnya dulu untuk memastikan.
__ADS_1
Kania segera turun ke lantai bawah dengan mengendap-endap.
.......................
Saat ini, Fandy telah tiba dan duduk di ruang tamu. Di sana ada Nawal, Fandy, ayah Niko, Niko dan bunda Niko.
Kecanggungan mendadak menyelimuti suasana. Entah mengapa, firasat Fandy mendadak tak enak, mudah-mudahan ini hanya firasat semata.
"Kedatangan kami kemari, semata untuk melamar putri bapak untuk putra bungsu kami, Niko."
Deg.......
Semua menatap ayah Niko terkejut, yang di tatap masih menampilkan senyum hangat. Niko tak tau lagi harus bagaimana.
"Ehm....", Fandy berdehem pelan untuk menutupi rasa keterkejutannya. Sore nanti, Kania harus segera berangkat ke Australia dan pagi ini, Kania dilamar oleh h pemuda sebaik Niko.
Bagus, kejutan ini membuat Nawal dan Fandy sedikit syok.
"Kami menyerahkan semua keputusan kepada yang menjalani. Baik saya ataupun istri saya selaku orang tua, tidak berhak menerima ataupun menolak tanpa konfirmasi dari putri kami", Jawab Fandy tenang, namun keseriusan yang begitu kentara.
"Mama, minta tolong panggilkan Kania". kata Fandy.
Nawal bangkit dari duduknya dengan memanggil putrinya. Kania yang sedari tadi menguping di tangga segera kocar kacir berlari menuju kamar.
"Mampus gue", gumamnya sambil berlalu.
Sesampainya di kamar, Nawal memanggil Kania yang pura-pura mengoleskan bedaknya tipis le wajahnya.
"Sayang, ciye-ciye..... yang di lamar sama mas Niko.....", kata Nawal menggoda, " Kamu di panggil papa tuh.".
"Mau ngapain?".
"Turunlah saja dulu. Siapa tau penting".
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Hayyo tebak, Kania mau nggak ya di lamar Niko??