PESONA ANAK PEMBANTU

PESONA ANAK PEMBANTU
Episode 31


__ADS_3

Ketika mimpi hanya tinggal mimpi.


Ketika harapan tinggal harapan.


Ketika semua tergantikan dengan luka. Tidak banyak orang mampu melewati masa-masa itu.


Dititik itulah Anjani saat ini berada. Memikirkan untuk melanjutkan sekolah dan kuliah di universitas impiannya, semakin membuatnya tertekan dan merasa rendah diri.


Anjani merasa, tidak pantas untuk bersanding dengan Kenan. Pikiran-pikiran tentang perpisahan dengan kenan mulai mewarnai isi kepalanya lagi. Anjani perlu memantapkan diri untuk di sandingkan dengan Kenan ke depannya, sedang pendidikan saja, Anjani tidak sampai lulus sekolah menengah atas.


Memikirkan hal itu, membuat Anjani tertekan.


"Sayang, Kamu kenapa bengong sendirian di balkon? Ayo masuk. nanti kedinginan loh, masuk angin", Anjani tersenyum hangat. Perhatian kecil dari Ken inilah membuat Anjani bangkit dan kembali bersemangat.


Andai mereka jadi berpisah, mungkinkah Anjani mampu menjalani hidup tanpa Kenan dan segala perhatian dan pengertiannya? Sedang selama ini, Anjani sepertinya sudah mulai terbiasa dengan perhatian kecil itu.


"Makasih, mas. Oh ya, Zhivanya sama siapa dan dimana?".


"Vanya di bawah sama Oma sama Opanya. Sama Kania juga sih, mau belajar gendong katanya", Kenan tertawa kecil saat mengingat Kania meminta pada Nawal agar mengizinkannya menggendong Vanya. Namun Nawal ngotot untuk tak memberikannya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu, mas?" Tanya Anjani sembari berjalan menuju sofa di kamar mereka.


"Kamu tau nggak?",


"Enggak".


"Dengerin dulu, nja. Aku belum selesai ngomong". Anjani tersenyum malu di depan Kenan yang geleng-geleng kepalanya pelan.


"Terus terus?".


"Kania kena semprot Omelan mama".


"Kenapa emangnya, mas?"


"Kania bilang, nggak mau nerusin kuliah, alasannya karna pengen punya anak yang gemes kayak Vanya".

__ADS_1


Ken dan Anjani terdiam beberapa detik, hingga tak lama suara tawa terdengar dari kamar mereka. Ken dan Anjani merasa geli sendiri dengan Kania yang tidak mau lanjut kuliah hanya karna ingin segera punya anak.


Tentu saja Nawal akan mengoceh sepanjang hari yang di iringi Fandy di belakang Nawal sambil memijit pelipisnya atau pangkal hidungnya.


Ken dan Anjani membayangkan, Pastilah akan menjadi pemandangan hiburan yang sangat langka.


"Reaksi mama sama papa, gimana?" Tanya Anjani di sela-sela tawanya.


"Ya ngomel lah pasti itu si ibu ratu. yang lebih parahnya, mama bilang ke papa 'tuh mas, anak kamu kelakuannya' Apa iya Kania cuma anak papa doang? Bayangin aja sayang, terus kalau anak papa seorang diri, keluarnya dari mananya coba?"


Sekali lagi Anjani dan Kenan terbahak untuk Kania.


"Udah deh mas berhenti ahh, Aku sakit perut kebanyakan tawa", ucap Anjani kemudian sembari mengusap sudut matanya yang berair karna terlalu banyak tertawa.


Momen hangat seperti ini, Pasti tidak akan terjadi lagi jika sampai Ken Anjani benar-benar berpisah.


Ah tidak, membayangkannya saja Anjani tidak mampu. Biarlah. biarlah Anjani menjadi egois kali ini. Anjani memutuskan akan mempertahankan Kenan dan berusaha belajar menjadi pribadi yang pantas mendampingi hidup kenan.


Sekuat tenaga Anjani akan berusaha memantaskan diri untuk menjadi istri seutuhnya seorang Kenan Nayaka Mahardhika. Boleh kah Anjani menjadi egois untuk kali ini saja?


Setelah sedikit tenang, Kenan bertanya dengan hati-hati.


"Apa?".


"Kamu apa mau sekolah lagi?".


"Ingin. Sangat ingin. Tapi apalah daya mas? Aku nggak mungkin sekolah lagi kan? Selain aku banyak ketinggalan pelajaran, Aku nggak mau ninggalin Vanya d mi impian aku".


"Kamu salah kalau ngomong gitu. Sebagai orang yang udah membuatmu terpuruk, aku ingin kamu tetep mengejar impianmu. Kamu harus lanjutin sekolah. Tidak di sekolah kamu yang dulu, Tapi di sekolah yang berbeda. Kamu cerdas loh, sayang. Kania aja beda sama kamu".


"Apa masih ada sekolah yang mau Nerima aku? Sementara aku ini.... pernah hamil di luar nikah pas usia masih muda banget.... Aku....".


"Ssshhttttttt", Kamu nggak usah khawatirkan itu. Nggak usah banyak mikir. Aku akan sadarkan kamu untuk bisa sekolah lagi. Dan kamu nggak boleh bantah!" Tegas Kenan tak mau di bantah.


..................

__ADS_1


Di ruang keluarga, Drama perdebatan masih berlangsung sepeninggal Kenan menuju kamarnya. Kini tinggallah tiga orang yang masih asik beradu pendapat.


Nawal dan Kania masih terlibat dalam perdebatan alot, enggan mengalah dan tidak ada yang mau mengakhiri. Sedang Fandy merasa pusing sendiri dengan tingkah Kania dan Nawal yang emosinya sulit di tebak.


"Pokoknya selesai ujian nasional aku udah nggak mau ngelanjutin pendidikan, ma. Sekolah itu capek tau nggak? Capek badan, capek hati, capek pikiran".


"Kalau kamu nggakmau ngelanjutin, mau jadi apa nanti kamu Kania?".


"Ya jadi Kania lah, ma. Jadi orang. Masa iya jadi gelandangan? Papaku aja punya resto yang cabangnya udah banyak dan dimana-mana. Belum lagi penghasilan papa dari perkerbunan kopi dan cengkeh. Tiap bulan juga aku tetep dapet jatah dari mas Ken meski mas Ken udah nikah. Jadi nggak perlu kerja lah, ma. Kania juga nggak boros-boros amat. Jadi ya nggak usah lah sekolah.", Jawab Kania ringan seringan membahas cuaca hari ini.


Dengan kepala pening, Fandy segera meraih Vanya yang di tidurkan di ayunan bayi dekat Nawal. Hanya dengan melihat wajah imut Vanya yang bisa membuat Fandy sedikit terhibur.


"Kania! Apa sih yang kamu mau? Pernikahan itu bukan hal yang main-main. Pernikahan itu ikatan suci dua hati antara lelaki dan perempuan. Please Kania, Jangan Bebani mama dengan tingkah mu yang seperti ini". Nawal mulai putus asa. "Apa yang kamu harapkan dari pernikahan di usia yang masih sangat muda?". Sambung Nawal lagi.


"Berapa kali Kania mesti ngomong sama mama? Kania cuma pengen punya anak, ma. Kalau mas Ken udah punya Vanya, cucu perempuan untuk mama, biar Kania yang ngasih mama sama papa cucu laki-laki. Pasti kebahagiaan mama dan papa akan sangat sempurna, iya kan, pa?".


Kania tersenyum lebar ke arah Fandy. Fandy geleng-geleng kepala sambil menggigit bibir bawahnya pelan. Pikir Fandy, sungguh konyol pemikiran putrinya ini.


"Kania, Mengurus bayi itu nggak mudah, sayang", Suara Nawal merendah. Nadanya mengandung keputus asaan yang sudah melewati batas.


"Kan ada mama dan papa yang bakal ngurusin.... Mama kan udah setengah tua, meski nggak tua-tua amat sih. Jadi ya lebih pengalaman gitu. Ntar kalau anak aku udah bisa jalan dan main sendiri, aku buatin cucu lagi deh buat mama. Kata orang tua jaman dulu, Banyak cucu itu banyak kebahagiaan yang pasti akan datang".


"Cukup Kania! Kamu keterlaluan, yah? Memangnya siapa yang mau nikah sama kamu yang masih nggak bisa apa-apa?". Nawal sudah menaikkan suaranya beberapa oktaf.


"Ya mama cariin jodoh, lah. Atau kalau enggak... Temen mas Ken ganteng-ganteng tuh, jadi boleh kan? Mas Rio dan mas Niko juga.... nggak malu-maluin amat", jawab Kania tanpa beban dengan memakan cemilan di toples kecil di atas meja.


Nawal gusar. Ia tidak menyangka Kania, putrinya akan memiliki pemikiran seperti ini. Dengan nafas yang memburu Karna emosi, Nawal melirik ke arah Fandy dengan wajah garangnya.


"Pah, urusin anak kamu. Aku capek. Terserah mau kamu apain". Kania melongo karna ucapan sang mama. Sedang Fandy..... tentu saja Fandy sudah kehabisan kata-kata.


Karena berdebat dengan Kania tentu tidak lah mudah dan sudah di pastikan akan kalah. Bukankah Kania menuruni sifat Nawal?


🌹🌹🌹🌹🌹


Kalau beberapa part, isinya sedih dan nangis-nangis,,,, Kali ini mumpung Tia lagi baik ya.... jadi tak kasi yang sedikit bikin senyum-senyum gitu....

__ADS_1


hehe tetep semangat semua...


😚😚


__ADS_2