
"Hallo, Andre....
Tolong cek CCTV yang merekam kejadian tadi pagi di tempat dimana mobil menantuku, Niko di parkir di resto".
~Part sebelumnya~
"Baik, pak". Ucap Andre, pria muda sang asisten Fandy.
Setahun yang lalu, Fandy resmi merekrut Andre sebagai sekertaris nya. Andre merupakan pria yang telaten, disiplin, cekatan dan cukup tegas dalam menjalankan tugasnya.
Itulah sebabnya Fandy sengaja menjadikan Andre sebagai asisten pribadinya. Fandy suka dengan cara kerja pemuda itu.
Fandy berjalan kembali ke arah dimana keluarganya menunggu kabar dari dokter tentang Kenan.
"Pa, papa darimana?", Tanya Kania pada papanya. Fandy tersenyum pada putri nya yang selalu ia manjakan itu.
"Dari toilet. Kenapa? Mau ikut?", Tanya Fandy sedikit mencairkan suasana. Ia hanya tak ingin kelurganya tegang dengan kejadian ini. Keluarganya bersedih, namun Fandy hanya ingin suasana hangat tetap tercipta di dalamnya.
Kania berdecak.
"Ih. Papa di tanya bener-bener juga". Jawab Kania malas.
Nawal, Anja dan Niko hanya tersenyum. Senyum yang mereka paksakan. Sejurus kemudian, mereka saling diam dan tak ada yang membuka percakapan.
"Niko. Papa mau bicara empat mata sama kamu. Ini tentang Kenan. Ayo kita ke kantin rumah sakit sebentar." Ajak Fandy pada menantunya itu. Niko mengangguk. Namun sejurus kemudian, Kania menghentikan.
"Aku ikut", selorohnya tanpa malu.
"Papa sama suamimu mau bicara empat mata. Kami butuh prifasi. Kamu di sini aja nunggu kabar dari dokter.
Temenin mama dan kak Anja." Ucap Fandy.
Kania mengerucutkan bibirnya sebal.
"Ya udah deh boleh. Tapi bentar, Kania minta anter mas nik ke toilet dulu sebentar", Pinta Kania tak terbantahkan.
"Sendiri ke toilet kan bisa", sela Nawal tiba-tiba. Ia heran dengan Kania yang selalu manja pada suaminya. Tak heran, Niko bahkan tak pernah keberatan dengan sikap manja sang istri.
"Nggak bisa ma, harus berdua".
"Emang ngapain ke toilet?" Tanya Fandy seraya mengangkat kedua alisnya.
"Ciuman!!", jawab Kania seraya berlalu menarik lengan Niko, meninggalkan tiga orang yang melongo ke arahnya persis seperti orang bodoh.
Kania tak peduli. Ia memang harus ke kamar kecil saat ini. Usia kandungan yang sudah sangat tua dan mendekati HPL (hari perkiraan lahir), membuat Kania bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air kecil.
Kini, Kania tengah berada di toilet, meninggalkan Niko yang berdiri di depan toilet wanita dengan mengalungkan tas Kania yang Kania titipkan.
Sayup-sayup, Niko mendengar seorang wanita tengah berbincang di sudut toilet. Entah mengapa, Niko tertarik mendengarkan percakapan itu. Sepertinya wanita itu tengah berbicara di telepon.
__ADS_1
"Hallo, Jes.... Gagal. Jebakan nggak tepat sasaran." Ucap sang wanita.
"......"
"Aku harus cari cara lain Aku nggak bisa nunggu lebih lama lagi. Mama udah terlalu lama nyekap aku".
"......."
"Entah lah..... Mungkin istrinya".
"......"
"Kasih kabar aku kalau kamu udah dapet caranya".
Percakapan di hentikan. Sepertinya sambungan telepon sudah dimatikan. Niko pun melangkah pelan menjauh dari sana. Ia tak mau di tuduh menguping apalagi menguntit. Bisa habis di cincang dan di jadikan omelet dia sama istrinya.
"Mas, kamu dengar seseorang ngobrol di telpon barusan ya, di pojok ruangan?", Tanya Kania tiba-tiba. Niko terlonjak kaget dengan kemunculan istrinya yang tiba-tiba.
"Iya. Aku... Nggak tau kenapa, feeling aku bilang harus dengerin obrolannya. Suaranya.... kayak ya nggak asing di telingaku." Jawab Niko. Ia tak mau Kania curiga padanya dan menuduhnya melirik wanita lain di saat Kania hamil besar.
Sungguh, Niko tak mau menjadi sasaran amukan Kania untuk yang ke sekian kalinya hingga ia di suruh tidur di luar kamar selama beberapa malam.
Niko tak akan sanggup.
"Dia Winda".
Niko tentu saja terkejut dengan pernyataan istrinya itu.
Winda? Bukankah Winda dan ibunya sudah menghilang sejak sebulan yang lalu? Lantas? mengapa sekarang Winda kembali? Mungkinkah ada niat buruk terselubung di balik kembalinya Winda kali ini? Niko berusaha melerai benang kusut yang saling berhubungan, ini sedikit mencurigakan.
"Winda? Kamu melihatnya tadi?" Tanya Niko seperti tak percaya. Kania mengangguk mantap.
"Iya, mas. Dia pakai masker dan top.....", ucap Kania berbisik, ia tak melanjutkan kalimatnya saat mendapati Winda keluar dengan terburu-buru.
"Dia?". Niko bertanya pada istrinya dengan jari telunjuknya menunjuk ke arah Winda.
"Iya. Dia Winda, ayo cepet ikutin dia". Ucap Kania dengan mendorong pelan suaminya.
Niko pun berlalu dan meminta istrinya untuk kembali pada Fandy.
...............
Kania berjalan tergesa-gesa menuju ke arah keluarganya yang tengah menunggu Kenan untuk di tangani. Anjani, Nawal dan Fandy menoleh ke arahnya.
"Loh, sayang.... Suamimu mana?".
Tanya Fandy pada Kania.
Kania bingung antara harus menjawab jujur atau menyembunyikannya.
__ADS_1
Fandy, papanya harus tau yang sebenarnya. Tapi, di sini ada Nawal dan Anjani yang masih shock atas kecelakaan yang menimpa kenan.
Kania ragu.
"Kania, kamu nggak apa-apa kan?", tanya Nawal yang agak khawatir. Bagaimana tidak? Kania tengah mengandung saat ini. Tentu Nawal khawatir bila Kania terlihat gelisah.
"Emm itu, anu ma. Kania baik-baik aja. Itu.... mas Niko masih benerin bajunya di toilet."
Ucap Kania Menyanggah. Sejujurnya ia tak nyaman bila harus berbohong pada mamanya. Tapi, ia juga tak mau mamanya makin shock bila ia memberi tahu tentang Winda.
"Kalian beneran ciuman di toilet?", Kali ini Anja ia yang bertanya. Anja menggeleng kan pelan kepalanya, merasa tak berdaya karna adik iparnya ini terlalu agresif di matanya.
"Ii.. iya lah kak. Orang ini aku lagi ngidam. Mungkin bawaan bayi", jawab Kania sekenanya. Nawal, Fandy dan Anja melotot ke arah bumil yang tak tau malu ini.
"Kamu keterlaluan Kania, keadaan mas mu kritis, masih sempet-sempetnya kamu minta cium suamimu yang tengah bingung dari tadi".
Kania hanya cengengesan.
"Pa, anterin Kania ke kantin. Kania laper. Cucu papa mau makan", rengek Kania pada Fandy. Fandy menghembuskan nafasnya berat. Kania menarik-naeik lengan papanya. Nawal dan Anjani saling tatap, mereka heran dengan tingkah Kania yang terlihat mencurigakan.
Sejujurnya, Fandy ingin berdiskusi dengan menantunya, namun Kania kini menghancurkan niatan Fandy. Dengan langkah pasti, Fandy pun menuruti permintaan putri manjanya itu.
Kini, mereka tengah duduk di kantin. Kania memesan minuman saja. Dengan hati-hati, Kania melirik ke kanan dan ke kiri, memastikan bahwa tidak akan ada yang menguping pembicaraan mereka kali ini.
"Pa".
"Iya? Kenapa?".
"Mas nik sekarang mengejar Winda dan mencari informasi tentang aktifitas Winda.
Tadi, di toilet Kania dengar Winda bicara yang agak mencurigakan.
Jadi, Kania sengaja bilang ini ke papa aja biar kak Anja dan mama nggak shock lagi.
Kania minta, papa harus bantu mas Niko memecahkan permasalahan ini".
🌹🌹🌹🌹🌹
Maafkan daku yang yang telat up yah.
Neng Tia banyak urusan dan kegiatan di dunia nyata😄
Maklumin lah....
Tetep dukung yah....
Salam rindu buat kakak-kakak readers semua
❤️❤️❤️
__ADS_1