
"Adi...Adi...!"
Bu Winar langsung berlari memasuki rumah setelah motor yang dikendarainya berhenti.
Rosi hanya bisa mengikuti dari belakang dengan wajah yang sudah ditekuk.
"Nak...kamu dimana?!",mencari keseluruh penjuru ruangan yang ada di rumah itu.
"Mas Adi kan lagi keluar ma...paling pulang nanti malam",ucap Rosi langsung duduk diatas sofa.
Karena kehamilannya yang sudah berusia enam bulan itu membuat dirinya sering merasa kelelahan.
Kalau bukan karena suruhan suaminya untuk menjemput Bu Winar,Rosi tidak akan mau.
Setelah menikah dengan Adi,Bu Winar memang sayang menyayanginya namun semua itu tak bertahan lama.
Saat usahanya mulai hancur dan ibu kandung Rosi yaitu Bu Asih terjerat kasus usaha penipuan,Sifat Bu Winar langsung berubah kepadanya.
Mertuanya itu jadi sering menyuruh ini itu dengan seenaknya sendiri,bahkan sering menyuruhnya untuk bekerja agar menghasilkan uang.
Tapi tentu saja Rosi tidak pernah mau,dirinya menikah dengan Adi dan rela dimadu juga karena lelaki itu memilik uang dan pangkat PNS.
Meskipun dirinya bisa saja dikeluarkan oleh Bu Winar dari keluarga itu,tapi Rosi tidak takut.
Dirinya sudah punya senjata yang jitu,yaitu kehamilannya.Adi suaminya maupun Bu Winar sama-sama menginginkan seorang bayi yang lahir dari keluarga mereka demi meneruskan keluarga.
Siapa lagi yang bisa melakukan itu selain dirinya?
Dan Rosi dangat bangga dan senang saat dirinya benar-benar hamil.Karena kehamilannya ini bisa menjadi tameng yang kuat baginya nanti.
"Cih...kamu tahu? mama akan bilang sama Adi kalau mama habis ketemu Mawar tadi"
Rosi hanya diam saat mendengar perkataan mertuanya itu,meskipun ada rasa takut dihatinya akan datangnya Mawar,tapi dirinya percaya Mawar tidak mampu untuk menyaingi dirinya.
Mawar adalah wanita yang mandul dan tak bisa memiliki anak,Mawar tidak bisa menyaingi dirinya yang bahkan sudah hamil enam bulan.
***
"Are you okay honey?"
Charle bertanya karena memang sangat khawatir,Mawar sedari tadi hanya diam dan memasang wajah sedih.
Meskipun tidak mengatakannya langsung,pasti sebab Mawar seperti ini akbiat kejadian tadi.
Dirinya memang tidak terlalu paham Bahasa Indonesia,tapi wanita tua yang tadi jelas menyebut nama Mawar berulang kali.
Tidak biasanya juga Mawar berperilaku dingin kepada orang yang lebih tua darinya,biasanya wanita itu sangat sopan dan baik hati.
Mawar hanya mengangguk sembari mencoba tetap tersenyum di depan Charle.
Sekarang ini mereka sudah berada di hotel dimana mereka akan menginap nanti.
"Apa kau merasa tidak enak badan?atau jangan-jangan kau sakit?"
__ADS_1
"No Charle...aku baik-baik saja"
"Benarkah? tapi kau seperti tidak baik-baik saja"
"Aku hanya mengatuk okay",kilahnya.
"Kalau begitu ayo kita tidur,aku juga sangat mengantuk",candanya.
Sadar akan omongan Charle yang sedang menggodanya,tangan Mawar langsung mencubit kecil lengan pria itu yang sedang tersenyum lebar itu.
"Aku hanya akan mengantarmu saja,aku janji tidak akan berbuat macam-macam"
"Tidak...aku bisa sendiri,lagipula kamar kita hanya bersebelahan saja"
"Ayolah...aku hanya takut kau kenapa-kenapa"
Mawar hanya bisa menghela nafas saat Charle suda meminta,laki-laki itu tidak akan mau mendengar penolakannya.
Lihatlah...sekarang bahkan Charle sudah merebut tas milknya.
"Lagipula Anya dan Bela juga belum datang,mereka sedikit terlambat karena Anya ingin mampir ke tempat kuliahnya dulu"
"Sejak kapan?",Mawar malah baru tahu kabar itu.
"Tadi Bela menelfonku"
"Tapi Anya tidak mengatakan apapun kepadaku",gadis itu biasanya membicarakan apapun dengannya terlebih dahulu.
"Mungkin dia sedang terburu-buru"
"Baiklah...tapi kau harus cepat keluar saat mereka sudah datang"
Charle tersenyum senang saat Mawar menyetujuinya,lelaki itu langsung memerintahkan para bawahannya untuk pergi beristirahat,saat ini dirinya hanya ingin berdua saja dengan pujaan hatinya.
Mawar dan Charle langsung masuk kedalam kamar hotel yang telah mereka pesan.
Tampak beberapa pegawai hotel dengan cekatan merapikan barang-barang mereka didalam kamar,setelahnya Mawar memesan makanan untuk makan siang mereka.
Charle langsung merebahkan diri diatas ranjang sembari tersenyum kepada Mawar.
Lelaki itu berpose miring dengan mata yang dinaik turunkan,Charle sedang menggoda.
"Kenapa?"
"Aku merasa kita sedang bulan madu"
Mawar berdecak mendengarnya,Charle benar-benar pandai sekali menggombal.
"Itu tidak mungkin terjadi"
"Belum terjadi...tapi sebentar lagi kau akan menjadi milikku"
"Percaya diri sekali..."
__ADS_1
"Haha...Aku tahu kau akan menerimaku nanti,setelah itu kita akan menikah disini dan kita akan bulan madu di Indonesia"
Mawar hanya geleng-geleng kepala mendengar ucapan Charle,tapi tak dipungkiri dirinya sekarang sedang merasa senang.
Mendengar Charle benar-benar serius dan akan langsung menikahinya membuatnya sedikit merasa tersentuh.
Meskipun memang dirinya belum bisa mencintai Charle,tapi mungkin seiring berjalannya waktu Mawar bisa menerima lelaki itu sebagai suaminya.
"Makanlah...setelah itu kau harus keluar dari kamar",ucap Mawar ketika makanan yang dipesannya sudah datang.
"Tidak bolehkan aku disini lebih lama?"
"Tidak Charle...aku benar-benar sudah mengantuk,Anya dan Bela juga sepertinya masih lama"
"Baiklah...aku tidak akan mengganggu waktu istirahatmu"
Setelah itu mereka menghabiskan waktu makan siang dengan berbagai ocehan dari Charle.
...
"Tuan Sanas akan datang sore nanti,pertemuannya akan langsung dilakukan malam ini juga Tuan"
"Jam berapa...?"
"Jam delapan malam di lantai dua"
Azam memijit kepalanya,dirinya merasa sangat lelah dan juga pusing.
Hari ini jadwalnya sangat padat,dirinya bahkan baru sampai dari luar kota,dan sekarang dirinya harus menginap disalah satu hotel untuk melakukan pertemuan lagi dengan rekan bisnisnya nanti malam.
"Baiklah...kau boleh istirahat,aku akan tidur sebentar...bangunkan aku jika aku terlambat"
Danu sang asisten baru Azam langsung mengangguk sopan,dirinya langsung pergi menuju kamar yang sudah dipesannya.
Karena Azam merupakan tamu kehormatan tentu Azam mendapat lantai paling atas di hotel ini,dimana lantai itu hanya bisa dipesan oleh orang kaya saja seperti dirinya.
Azam memasuki lift pribadi di hotel ini menggunakan kartu VIP.
Ting...
Suara pintu lift terbuka,awalnya langkah kakinya berjalan normal setelah keluar dari lift itu.
Namun tubuhnya secara reflek berhenti mematung saat melihat sosok yang sangat ia kenal berada tak jauh dari dirinya berdiri saat ini.
*Mawar...?
Benarkah itu Mawar*...?
Langkah kakinya berjalan dengan cepat dan pasti,Azam yakin wanita yang tengah berdiri didepan pintu itu adalah Mawar.
Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat seorang lelaki keluar dari kamar itu.
Meskipun penampilan wanita itu berbeda sekali dengan kepribadian Mawar,tapi Azam benar-benar merasakan kehadiran Mawar.
__ADS_1
Tapi siapa pria itu...?