
Ceklek...
Suara pintu terbuka...meskipun mendengarnya tapi Mawar diam dan tetap menutup matanya berpura-pura tidak tahu.
Ranjang yang tadinya diam bergerak karena ulah Azam,lelaki itu menaiki ranjang membuat pergerakan kecil disana.
Mawar merapatkan matanya merasa sangat gugup setelah mendapat pelukan dari arah belakang.
Dirinya yang tengah memeluk Akins disampingnya merasa sangat tidak karuan,degupan jantung yang kian menyepat membuatnya was-was...takut kalau Azam bisa mendengar detaknya itu.
"Kau belum tidur kan?"
Ucap lelaki itu dibelakang leher Mawar.
Pencahayaan yang terlihat remang-remang membuat suasana hati Mawar semakin tegang.
Apalagi saat Azam mengeratkan pelukannya kemudian menciumi lehernya dari arah belakang.
Karena merasa geli dan tidak tahan,akhirnya Mawar menyerah...
Dia sudah tidak kuat lagi berpura-pura tidur,apalagi karena ulah lelaki itu yang terus mengganggunya.
"Azam...geli"
Sebuah senyum terbit di bibir lelaki itu,kemudian dengan cepat Azam membalikan tubuh Mawar agar berhadapan dengannya.
Mawar menatap mata Azam untuk sesaat,namun kemudian menundukan kepalanya,ia sungguh tak berani bertatap mata dengan Azam sekarang.
Mawar merasa malu,ia malu kepada lelaki itu karena selama ini ia langsung meninggalkan Azam tanpa mendengarkan semua penjelasannya.
Ia bahkan sempat marah-marah tidak jelas kepada Azam.
Tangan Azam memegang dagunya dengan lembut,kemudian mengangkat kepalanya agar sejajar dengan wajahnya.
"Kenapa...? hm..",tanya Azam dengan suara lembut dan juga lirih.
"Maaf...",ucap Mawar lirih.
"Maafkan aku...a..aku salah,maafkan aku"
Azam langsung memeluk wanitanya,mendekap Mawar kedalam pelukannya kemudian mencium dan menghirup aroma rambut Mawar dalam-dalam.
"Aku merindukanmu...aku sangat merindukanmu sayang...
Aku juga minta maaf karena sudah menyakitimu,aku sangat bersalah karena membuatmu salah paham"
"Ta..tapi bagaimana dengan Novi? mantan istrimu?"
__ADS_1
"Dari awal aku kurang tegas kepadanya,gara-gara sibuk karena pekerjaan aku jadi kurang memperhatikannya,membuat dia menodai hubungan kita"
"Apa dia masih ada disini? maksudku didekat hidupmu?"
Meskipun tahu walau dia hanya sekedar mantan istri,tapi Mawar merasa sedikit tidak tega,ia tak mau anak-anak didekati oleh Novi.
Bagaimana jika wanita itu merebut hati anak-anak dan menghasutnya untuk menjauhi dirinya?
"Tidak mungkin...aku sudah membuangnya jauh-jauh...apa kau pikir setelah kau pergi aku tidak melakukan apapun? aku sudah bekerja sangat keras untuk memperbaiki semuanya.."
Mawar diam,dirinya tak tahu harus menjawab apa.
Sebenarnya semua ini adalah kesalahan mereka berdua,karena kurang terbuka dan komunikasi membuat mereka berdua sampai pada tahap ini.
"Kau maukan memaafkanku...? kita akan kembali seperti dulu lagi,dan aku akan segera menikahimu...aku tak mau menunda-nunda waktu lebih lama"
Tubuh Mawar mematung saat mendengar kata "Menikah".
Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya,yah...itu adalah Charle.
Sekarang ini dirinya tengah mencoba mencintai lelaki itu dan sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba menerimanya.
Minggu depan adalah waktu dirinya harus menjawab pertanyaan lelaki itu,Charle akan menunggu jawaban dari hatinya.
Mungkin jika tidak ada Azam,Mawar akan menjawab dengan kata Setuju,tapi karena munculnya Azam dengan tiba-tiba kedalam kehidupannya lagi membuat hati Mawar sedikit goyah.
Bayang-bayang Charle yang selalu tersenyum itu langsung menghanyui fikirannya.
Mawar menggeser sedikit tubuhya dari Azam,menatap lelaki itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa..?"
Mawar beranjak duduk,dirinya memandangi Akins dan Azka yang masih tertidur lelap disampingnya itu.
"Tidak Azam...aku tidak bisa...kita tidak bisa kembali seperti dulu",ucapnya lamat-lamat.
Senyum yang tadi mengembang diwajah Azam kini terlihat langsung menghilang,dirinya merasa sangat terkejut dengan ucapan Mawar.
Azam tidak mengira bakal seperti ini jadinya,Mawar akan menolaknya langsung secara mentah-mentah walaupun telah mengetahui semua jawaban permasalahnnya.
"Apa maksudmu...apa yang kau katakan Mawar?",tangannya sudah memegangi kedua pundak Mawar dengan sedikit tekanan disana,membuat Mawar tidak merasa nyaman dan sedikit takut.
"Kita sudah tidak bisa seperti dulu lagi Azam,aku tidak bisa menerimamu lagi dalam hidupku"
"Apa kau belum memaafkanku...? bukankah sudah aku jelaskan semuanya"
Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah Azam,wajah lelaki itu kini berubah menjadi suram dan kembali memandanginya dengan tatapan yang penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Bukan itu Azam..sungguh...tapi aku sudah mempunyai kekasih sekarang dan kami akan menikah"
Meskipun hanya rencananya saja,tapi Mawar adalah wanita yang punya pendirian,dirinya sudah meyakinkah hati akan menerima Charle dan menikah dengan pria itu.
Azam melepaskan cengkramannya setelah Mawar mengatakan itu,dirinya sangat terpukul saat mendengarnya langsung dengan kepala dingin,berbeda saat mereka bertengkar tadi.
Padahal apa yang diucapkan Mawar hanya sembarang kata saja,tapi ternyata wanita itu serius.
Wanita yang ia cari dengan segenap kekuatannya akan menikah dengan pria lain,menolaknya meskipun sudah tahu semua kebenarannya.
"Apa kau serius...? aku bahkan mencintaimu Mawar...Aku bahkan setia menunggu dan mencarimu di segala penjuru negeri ini"
"Aku serius Azam...mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama,jadi kumohon lupakan aku,kita masih bisa berteman kan?"
Azam tersenyum kecut,dirinya beranjak berdiri dan turun dari ranjang.
"Apa kau tidak kasihan dengan mereka? atau selama ini kau hanya berpura-pura menyukai mereka?"
Mawar terkejut saat mendengar ucapan lelaki itu,ia tak menyangka Azam berkata dengan kasar kepada dirinya.
"Azam kumohon...jangan ulangi lagi",jangan ulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
Azam selalu berkata pedas dan meluap-luap saat marah.
Terlihat Azam mengusap wajahnya kasar,lelaki itu berjalan bolak-balik seperi orang yang sangat gelisah.
"Maaf...maafkan aku...",ucapnya lirih.
"Apa kau mencintainya...? Charle...? apa kau mencintainya lebih dari aku?",tambahnya lagi.
Mawar diam berfikir untuk sementara waktu,jika dirinya ditanya begitu Mawar juga bingung.
Dirinya tidak tahu harus menjawab apa...
Disisi lain separuh hatinya ada di dirinya,tapi disisi lain fikannya sudah ada pada Charle.
"Aku tidak tahu...tapi yang jelas semua ini sudah tidak bisa ditarik kembali..."
Azam terlihat mematung mendengar perkataan Mawar,kemudian tangan yang satunya memegangi jas yang ia pakai.
Azam bisa melihat dengan jelas,bagaimana wanita itu menolaknya berkali-kali lipat.
Kemudian terlihat sebuah kartu hitam bercampur warna gold it.
Mawar bingung karena Azam melakukan itu,namun tak lama kemudian terdengar kata pamit dari Azam.
"Tidurlah ...ini sudah sangat malam,dan ini kartu jika kau ingin keluar dan ingin pergi juga.
__ADS_1
Kemudian Azam melangkahkan kakinya dan keluar lagi dari ruangan itu,meninggalkan dirinya yang masih bingung karena laki-laki itu langsung meninggalkannya