
"Kita mau kemana Azam?",Mawar mengedarkan pandangannya setelah mobil yang ditumpanginya melaju cukup lama.
"Kau akan tahu nanti..."
Azam mengajaknya makan diluar tadi,awalnya Mawar menolak karena tidak ingin mengganggu waktu kerja Azam,tapi lelaki itu kukuh tidak mau di tolak sama sekali.
Kadang Mawar heran sendiri dengan sikap Azam,awal mereka kenal Azam bukanlah lelaki yang memaksa seperti itu.
Tapi akhir-akhir ini rasanya Azam sudah berubah,lelaki itu sedikit memaksa dan setelah dirinya bercerai dengan Adi,Mawar sering merasakan tatapan aneh dari Azam.
Sikapnya yang sedikit berlebihan menurutnya,seperti terlalu perhatian dan overprotect ,sampai-sampai ia pernah berfikir yang tidak-tidak.
Bukannya terlalu percaya diri atau apa,tapi sebagai wanita Mawar tahu jika sikap perhatian Azam melebihi sikapnya sebagai teman atau rekan bisnis.
Karena ia pernah mengalaminya juga sewaktu sekolah dulu,banyak teman lelaki yang perhatian kepadanya tapi ujung-ujungnya mereka ingin menjalin hubungan dengannya.
Tapi jika benar Azam benar-benar menyukainya bagaimana?Mawar sendiri bahkan belum siap menjalin hubungan baru,ia masih trauma berkeluarga.
Meskipun Azam orang yang sangat baik,tapi manusia bisa berubah,Adi juga dulunya sangat baik dan mencintainya,tapi lihatlah sekarang..Adi bahkan berani selingkuh di belakangnya.
Mawar menghembuskan nafasnya pelan,ia hanya memandang keluar jendela tanpa niat bertanya lebih jauh lagi,rasanya lelah sendiri memikirkan kejadian-kejadian yang bahkan belum tentu terjadi kedepannya.
Jika benar Azam menyukainya,biarlah seperti itu saja,toh itu memang hak Azam,tapi jika masalah menjalin hubungan lagi Mawar akan secara halus menolaknya,Azam pasti bisa mengerti keadaan dirinya yang masih enggan memiliki hubungan itu.
Hingga akhirnya mobil Azam berhenti di depan resto yang terlihat mewah,Mawar memandang takjub melihat bangunan yang berdiri di depannya.
Mungkin karena jauh dari jalan raya,resto ini terasa sangat damai dan tenang.
Dilihatnya beberapa pengunjung yang keluar masuk dari dalam resto,mereka semua memakai baju dan aksesories yang terbilang mahal dan mewah.
Sepertinya yang datang ke tempat ini hanya orang-orang kaya saja.
Mawar meneliti baju yang dipakainya,untung saja hari ini ia berias dan memakai baju yang sedikit bagus,setidaknya ia tidak terlihat memalukan.
"Ayo keluar...bukankah kau sudah sangat lapar?",ucap lelaki itu setelah membukakan pintu mobil untuk Mawar.
Mawar sengaja keluar tanpa menerima uluran tangan Azam,diliriknya raut wajah Azam yang terlihat biasa tanpa ada rasa sedih sedikitpun,lelaki itu juga sepertinya tidak mempermasalahkan sikapnya.
Mawar berjalan beriringan disamping Azam,dirinya menatap kagum pada interior yang ada dalam ruangan resto tersebut.
__ADS_1
Seumur hidupnya ia baru pertama kali masuk kedalam resto yang semewah ini.
Jangankan pergi ke resto,untuk beli kebutuhan hiduppun ia masih banyak kekurangan.
Para pelayan langsung mempersilahkan dirinya duduk,pelayanan disana sangatlah bagus dan ramah,memang ya... uang bisa mendapatkan segala kenikmatan hidup...
Ia duduk bersebrangan dengan Azam dimeja dekat jendela kaca,pemandangan disana terlihat asri meskipun ini masih diarea Jakarta.
Kalau dipikir-pikir sekarang ini mereka terlihat seperti sepasang kekasih,mereka bahkan makan di resto mewah hanya berdua saja.
*A*pa jangan-jangan ini namanya kencan...?!
Mawar menggelengkan kepalanya kuat karena merasa jika dirinya terlalu PeDe,jika ini kencan Azam pasti akan memberitahunya dulu,atau bahkan setidaknya akan merapikan diri dan berdandan dulu.
Meskipun Azam selalu terlihat rapi dan tampan,bukankah laki-laki biasanya juga mempersiapkan diri?
Padahal ia tadi melihatnya sendiri kalau Azam bahkan langsung kesini tanpa melakukan persiapan sama sekali.
"Kenapa? apa kepalamu sakit...?",tanyanya saat melihat tingkah Mawar.
"Ti..tidak...tidak apa-apa",karena merasa malu,Mawar langsung membuka menu yang pelayan tadi siapkan.
"A..azam...?!",ucapnya sembari menarik kecil jas milik Azam.
Lelaki itu tampak bingung melihat tingkah Mawar yang melihat keadaan sekeliling.
"Ada apa...? apa kau tak suka menu disini?",ucapnya.
"Tidak...bukan itu...",bisiknya lirih.
Terlihat Mawar yang mencodongkan badanya kedepan agar lebih dekat dengan Azam.
Tangan lentiknya itu ia letakan diantara mulutnya yang kecil,karena penasaran apa yang akan dikatakan Mawar,Azam inisiatif mendekatkan diri juga.
"Apa kau serius membawaku makan ditempat ini?",bisik Mawar.
"Iya...memangnya kenapa...?"
"Tapi disini harganya sangat mahal...!aku tidak bisa membayarnya Azam...lebih baik kita beli makanan diresto biasa saja,kalau tidak di jajanan pinggir jalan dekat dengan kantormu"
__ADS_1
Mendengar itu Azam tertawa lepas,lelaki itu tertawa bahkan sampai air matanya keluar,diusapnya air mata itu,Azam memandangi wajah Mawar dengan senyum yang masih terbit disana.
"Apa kau lupa siapa aku...? tenang saja aku yang akan membayar semuanya,kau tinggal pesan saja apa yang kau suka..."
"Tapi bukan itu maksudku..."
*A*ku sangat tau kalau kau sangat kaya raya...!
"Harga disini sangatlah mahal,bahkan jika kita memesan beberapa menu semua itu setara dengan gaji karyawanku"
"Aku punya banyak uang,kau tak perlu khawatir"
"Tapi kau masih punya dua anak kecil yang harus kau tanggung masa depannya",Mawar bergumam kecil.
Ia tahu Azam memiliki banyak harta,tapi dia juga punya Azka dan Akins yang harus ditanggung kedepannya.
Meskipun Mawar tahu Azam mungkin tidak akan merasa kesusahan untuk masalah itu,hanya saja Mawar menyangkan kalau uang Azam dikeluarkan untuk hal yang lebih berarti atau ditabungkan saja.
Mungkin karena dirinya tumbuh di lingkungan yang serba kekurangan,Mawar jadi menyangkan sikap Azam saat ini.
Padahal kalau kita beli lima porsi makanan di resto atau jajanan pinggir jalan tidak ada seperempatnya dari harga menu di resto ini...
Azam tersenyum mendengar perkataan Mawar,meskipun wanita itu bergumam lirih tapi telinganya yang tajam masih bisa menangkap kata yang dilontarkan Mawar.
"Sudah kubilang aku punya banyak uang,kehidupan anak-anakku juga sudah aku asuransikan jadi tak perlu khawatir akan masa depan mereka"
Mawar menatap Azam yang tengah tersenyum kepadanya,ternyata laki-laki itu mendengar gumamannya.
"Maafkan aku...aku tak bermaksud menyinggungmu",ia tak bermaksud ikut campur dalam urusan pribadi Azam,tapi jika menyangkut kedua bocah itu entah megnapa Mawar tak bisa mengabaikannya.
"Tak apa...santai saja,aku malah suka kamu menghawatirkan anak-anakku,aku harap kedepannya kau akan selalu begitu..."
Mawar menatap Azam yang didepannya,ia merasa heran mendapat perkataan ambigu seperti itu.
"Pilihlah makanan yang kamu suka,hari ini aku akan mentraktir sampai kamu puas,ini semua bentuk permintamaafanku karena telah menunggumu tadi.
Mawar merenges mendengar itu,ternyata ia yang terlalu PeDe karena sikap Azam yang perhatian ia menganggap kalau Azam menyukainya.
Padahal lelaki itu hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi,bukankah sudah jelas dengan semua itu?dari dulupun Azam berbuat baik karena rasa balas budi.
__ADS_1