
Siang ini cuaca terasa sangat terik,membuat Mawar beberapa kali menyeka keringat yang meluncur di dahinya.
Saat ini dirinya tengah menata barang-barang yang baru datang.
Meskipun sudah ada pekerja yang mengangkat barang tapi Mawar tidak ingin berdiam diri dan meilhatnya saja,ia juga mengangkat barang yang berukuran kecil seperti lampu,jam dan hiasan lainnya.
Hari ini perabotan yang dipesan Azam sudah datang,setelah paksaan lelaki itu akhirnya ia menyetujui akan menempati rumah barunya.
Azam memaksanya karena katanya sia-sia jika tidak digunakan,maka dari itu Mawar mau menempati rumahnya tapi dengan syarat itu masih dalam hak nama Azam.
Sesuai janji,hari ini adalah hari dimana menata isi rumah,barang-barang baru mulai berdatangan yang diantar oleh mobil-mobil box besar.
Mawar dibantu oleh Anya dan juga pekerja yang Azam sewa,jadi ia tak merasa begitu kesulitan.
Awalnya Mawar terkejut saat melihat mobil box besar mulai berdatangan satu persatu,karena fikirnya Azam hanya akan mengirimkan barang-barang yang dibutuhkan saja.
Tapi barang yang datang malah banyak sekali,dari mulai lemari,kasur,sofa dan masih banyak lagi.
Mawar sampai geleng-geleng kepala karena merasa takjub,tapi jika mengingat bagaimana rumah Azam,ia jadi sadar kalau Azam bukanlah orang biasa.
Mungkin baginya semua ini bukanlah apa-apa,secara rumahnya saja seperti istana.
Setelah lebih dari setengah hari akhirnya mereka bisa menyelesaikan semua pekerjaan,para pekerja telah pulang dan suasana kembali sepi.
Mawar dan Anya kini sedang duduk berselonjor diatas rumput ditaman depan rumah,mereka berdua mencoba menyantaikan diri ditemani segelas jus dan beberapa camilan.
"Bagus ya mba...",kata anak itu.
"Iya...sepertinya yang tinggal di kompleks ini orang berada semua..."
"Aku nggak nyangka kita bisa ngerasain hal kayak gini mba"
"Mba juga sangat bersyukur kita bisa begini,kalau bukan bantuan Azam mungkin mba masih bingung cari kosan baru"
"Sekarang aja telfon mba...aku juga mau ngucapin terimakasih sama kak Azam"
"Mba udah kirim pesan tadi,tapi belum dibaca sama sekali...mungkin ia sangat sibuk,kemarin sih ngomongnya ada acara penting hari ini di kantornya"
Anya hanya manggut-manggut saja,orang kaya memang selalu sibuk fikirnya.
Lama mereka berdua diam,menikmati masa yang membahagiakan ini,meskipun lelah tapi hati mereka sangat senang.
Mereka sangat bersyukur bisa diberi kesempatan seperti itu,usaha toko yang kian meroket,rumah baru dan Anya bahkan bisa melanjutkan sekolah.
Kalau menilik dari bagaimana keadaan mereka dulu,mungkin tak pernah terbesit sedikitpun fikiran akan seperti ini jadinya.
Hidupnya dulu sangatlah susah,sampai untuk makan saja harus mengatur keuangan sedemikian rupa.
__ADS_1
"Mba...",ucapnya ditengah kedamaian itu.
"Hem...?"
"Kalau misalnya mba sama kak Azam bagaimana?",pancingnya.
"Maksudmu...?"
"Aku rasa kak Azam adalah orang yang baik,aku akan mendukung mba kalau nanti bersama kak Azam"
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?",padahal dirinya bahkan belum menceritakan hubungannya dengan Azam.
"Aku rasa kak Azam suka sama mba...jadi kalau misalnya dia serius tolong mba terima ya..."
Mawar diam mendengar perkataan Anya,gadis itu berkata dengan tersenyum kepadanya.
"Ba...baiklah...tapi jika dia serius"
Jujur Mawar masih sedikit ragu,meskipun hatinya mulai terbuka untuk Azam,tapi tidak menutup kenyataan kalau dirinya masih takut berkeluarga lagi.
"Aku yakin kak Azam serius kak,dia lelaki yang baik...aku hanya ingin mba bahagia"
Mawar hanya bisa mengangguk sembari mengelus rambut Anya dengan sayang.
Ia tahu Anya sangat menyanginya dan selalu mendukungnya,gadis itu tulus berkata seperti itu.
"Sudah malam,ayo kita masuk...mba ngantuk"
"Haha...mau mba pijitin...?"
"Nggak deh mba..Anya mau langsung tidur saja"
Mereka berdua langsung masuk kedalam rumah setelah merasa cukup bersantai,hari ini terasa sungguh sangat menyenangkan meskipun melelahkan.
***
Pagi ini Mawar bangun seperti biasa,ia menyapu rumah dan juga mencuci baju sebagai awal kegiatan.
Biasanya ia akan memasak dulu,tapi karena ia belum belanja dan tidak punya stok makanan Mawar memilih menunggu tukang sayur lewat saja.
Kata para pekerja yang kemarin membantunya,di daerah yang sekarang ia tempati terbilang sangat nyaman.
Lingkungannya yang bersih dan asri,soal keamanan juga bisa dijamin.
Setiap pagi akan ada pedagang sayur atau makanan siap saji yang keliling sesuai jam yang telah di tentukan.
Suara ketukan khas terdengar saat Mawar sedang menyapu halaman rumah,segera ia meletakan sapu lidinya dan beranjak keluar,mungkin itu pedagang sayur?
__ADS_1
Dan ternyata benar,disana terlihat pedagang sayur dengan sebuah mobil tengah dikerumuni beberapa ibu-ibu.
Berbeda dengan pedagang sayur ditempatnya dulu yang menggunakan gerobak kayu,pedagang sayur sekarang menggunakan bak mobil yang terbuka,disana terlihat berbagai macam sayur tertata rapi.
Mawar menyapa dengan senyuman saat mata para ibu-ibu itu menatapnya dengan penuh penasaran.
"Pendatang baru ya mba...?",tanya ibu-ibu yang tengah memegang terong.
"Iya...saya baru pindah kemarin"
"Oh...sama suami atau sendiri?"ibu-ibu yang satu ini terlihat sedikit judes?
"Saya kesini sama adik saya,perkenalkan nama saya Mawar",jawabnya tetap ramah.
Para ibu-ibu lainnya langsung ramah saat secara terbuka Mawar memperkenalkan diri,kecuali ibu-ibu yang memang terlihat judes itu.
Hingga akhirnya Mawar dikejutkan dengan seseorang yang baru datang,Rosi menatapnya dengan mata yang melotot.
Wanita itu juga sama terkejutnya saat melihat dirinya tengah berbelanja sayur disana.
"Kenapa kamu disini..?!",tanya Rosi langsung secara sarkas.
Para ibu-ibu lainnya merasa heran karena Rosi datang dan langsung berteriak seperti itu.
Mata Rosi memindai penampilan Mawar yang tengah berbelanja sayur.
"Oh...jangan-jangan kamu kerja jadi babu ya di daerah sini?",ucapnya sembari tersenyum miring.
Memang penampilan Mawar kali ini terlihat sangat sederhana,ia hanya memakai daster dan mwnggulung rambutnya secara asal.
"Bukan urusanmu...",jawabnya singkat.
Mawar sungguh tak ingin ribut di hari pertama pindahnya.
"Haha...kamu benar-benar pekerja keras ya..."
semua pekerjaan kamu lakukan,mulai dari jualan roti,jadi babu bahkan simpanan orang kaya.Begitu maksudnya.
"Ibu-ibu hati-hati ya...dia tuh janda",kata Rosi.
Mawar geram saat Rosi berkata seperti itu,ia ingin sekali menjambak rambutnya tapi tahan.
Tapi tanpa diduganya,respon ibu-ibu terlihat aneh,mereka secara terang-terangan melirik dan berbisik-bisik.
Memangnya apa salahnya jika dia janda?
Dan apa itu,ibu-ibu yang terlihat judes menatap jelas tak suka kepada dirinya.
__ADS_1
"Bukan sebuah dosa jika saya janda...",jawabnya tegas.
Mawar tak tahu apa yang tengah terjadi,tapi kali ini ia ingin mempertahankan harga dirinya di depan Rosi.