
Sudah tiga hari ini Mawar terbaring lemah dirumah sakit.
Selama itu pula Azam tidak pernah pulang kerumahnya,semua pekerjaan kantor ia serahkan pada asisten pribadinya.
Tentu saja asisten yang sekarang lebih profesional dan sudan sangat terlatih.
Dirinya hanya sesekali pergi beberapa jam ke ke kantor jika sangat dibutuhkan saja.
"Ayah...kapan tante cantik bangun?",tanya Akins menatap Mawar yang masih terbaring itu.
"Nanti...nanti tante cantik pasti bangun..Akins berdoa saja semoga tante bisa cepet bangun"
Anak itu hanya mengangguk,anak itu sungguh tidak rewel dan sangat menurut selama Mawar sakit.
Kedua anaknya malah kini terlihat lebih tegar daripada dirinya.
Akins dan Azka selalu mengunjungi tante kesayangan mereka ,setiap hari Akins juga bercerita pada Mawar tentang banyak hal,meski Mawar tidak meresponya.
"Maaf tuan..."
Tiba-tiba salah satu bodyguard masuk membisikan sesuatu padanya.
Kening Azam mengerut mendengar laporan terbaru dari bawahannya itu.
"Sekarang?"
"Ia tuan...mungkin sebentar lagi akan sampai"
Azam menghembuskan nafas beratnya,ia sedang mencoba menyiapkan mentalnya sekarang,karena mungkin sebentar lagi akan datang tamu tak diundang.
Dan benar saja,baru beberapa detik ia memikirkan betapa cerewetnya kakeknya itu dan sekarang kakek Abbas sudah terlihat didepan pintu.
Berjalan dengan tongkat kayu khasnya dan dikawal beberapa bodyguard dibelakangnya.
"Kalian sapalah kakek dulu",ucap Azam kepada Akins.
Akins yang terkejut saat melihat kakeknya langsung merubah ekspresi wajahnya.
Meski tidak berteriak memanggil namanya tapi wajah Akins yang tersenyum lebar sudah mewakili.
Kakek Abbas tahu Akins pasti senang melihatnya,tapi mungkin anak kecil itu tidak mau membuat keributan diruangan Mawar.
"Kapan kakek pulang? kenapa kakek tidak mengabali Akins?",cerewetnya.
Kakek Abbas tersenyum mendengar pertanyaan cucunya itu.
"Maafkan kakek...kakek kesini karena ada urusan yang sangat penting..apa Akins bisa pergi dengan om Rio dulu?",tawarnya.
Akins terlihat bimbang dan tidak mau,sepertinya akan memakan waktu lama jika tidak diakali.
"Kalau Akins menurut nanti kakek bakal belikan mainan baru...bagaimana?"
"Tidak mau...Akins mau disini saja belsama tante Mawal...!"
Kakek Abbas terlihat memutar otaknya lagi.
__ADS_1
"Kakek juga bakal belikan hadiah buat tante Mawar..nanti Akins yang pilihkan"
Setelah mengatakan itu akhirnya Akins mau pergi bersama Rio.
Kini tinggalah Azam dan Kakek Abbas yang ada diruangan Mawar.
Semua bodyguard berjaga di depan pintu dengan patuhnya.
"Kau terlihat menyedihkan",ucap Kakek Abbas melirik penampilan Azam.
Namun Azam hanya diam tak menanggapi ucapan kakeknya sama sekali.
Hatinya yang sedang kacau karena hari ini sedang menunggu Mawar untuk sadar,jika Mawar tidak sadar juga maka wanita itu bisa saja koma dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Dan Azam sedang tidak mood untuk menanggapi omongan kakeknya itu.
"Kalau kau mengatakan kalau calonmu dulu dia adalah Mawat kakek tidak akan menghalangimu",ucapnya kemudian.
Kakek Abbas menatap Mawar yang sedang terbaring lemah dengan perasaan bersalah.
Dulu dirinya tidak merestui hubungan Azam,saat lelaki itu mengatakan akan menikah dengan wanita janda yang tak jelas asal-usulnya.
Kakek Abbas bahkan sampai menggunakan trik agar Novi bisa kembali ke Indonesia dan merusak hubungan Azam dan wanitanya.
Dan ternyata rencananya berhasil,dengan menekan perusahaan kekasih Novi,wanita itu benar-benar kembali mengusik Azam.
Meskipun begitu Kakek Abbas juga punya rencana lain,dirinya akan memisahkan Novi dengan Azam jika rencananya sudah berjalan dengan mulus.
Semua yang kakek Abbas lakukan bukan tanpa sebab,ia hanya takut Azam akan tergoda dengan wanita yang hanya memanfaatkan kekuasaannya saja.
Cucunya itu sudah pernah gagal membangun rumah tangga karena salah memilih pasangan,dan dampaknya tentu tidak baik untuk keluarganya.
Sekarang ini Kakek Abbas juga sedang meratapi kesalahannya dan merasa sangat bersalah.
Dirinya telah membuat Mawar menderita bahkan sampai memaksa wanita itu menikahi Charle,semua itu karena obsesinya.
Karena kepribadiannya yang keras dan menginginkan segalanya berjalan lancar malah membuat semua orang tersakiti.
"Apa kakek puas...sekarang dia sudah seperti ini",ucap Azam lirih.
"Maafkan kakek...",hanya itu yang bisa kakek tua itu katakan.
Meski Azam merasa marah karena perbuatan kakeknya,tapi dirinya juga tidak bisa selamanya marah pada kakeknya sendiri.
Kakeknya sudah seperti ayahnya yang mengajarkan dirinya dunia bisnis sejak kecil.
Karena ayahnya meninggal sewaktu ia masih muda,jadi Azam harus bisa melanjutkan usaha mereka sedari kecil mau tak mau.
Azam hanya bisa mendesah mendengar perkataan maaf kakeknya itu.
Lama mereka memandangi Mawar yang masih menutup mata itu,sampai akhirnya keduanya dikejutkan saat melihat pergerakan kecil ditangan wanita itu.
Azam dan kakek Abbas mendekat dan memanggil nama wanita itu,kemudian terlihat Mawar membuka matanya perlahan .
Mereka berdua bahagia bukan main,mereka segera memanggil Dafa untuk mengecek kesehatan Mawar.
__ADS_1
"Apa dia baik-baik saja?",tanya Azam khawatir,karena Mawar diam saja sedari tadi,padahal wanita itu sudah membuka matanya.
"Kesadarannya belum stabil...tapi Mawar beruntung karena masa kritisnya sudah terlewatkan",ucap Dafa.
"A..a..aki..."
Tak lama kemudian terdengar suara yang sangat kecil dari bibir wanita itu.
"A..apa..apa ...? katakan saja sayang...",ucap Azam panik.
Dafa dan kakek Abbas yang melihat kepanikan Azam merasa sedikit geli,karena baru kali ini mereka melihat sisi Azam yang seperti itu.
Namun keduanya langsung mengerti keadaan,baik kakek Abbas dan Dafa langsung keluar dari ruangan itu tak mau mengganggu mereka berdua.
"A..akins...",ucapnya lagi.
"Akins...Akins baik-baik saja...dia sehat dan selamat...",jawab Azam dengan lembutnya.
Mawar diam,matanya yang masih sayu itu menatap lelaki yang tengah duduk disampingnya,mengelus rambutnya dengan sangat hati-hati.
Entah apa yang difikirkan Mawar sampai-sampai dirinya melamun dan tidak mendengarkan Azam yang tengah memanggilnya.
"Apa kau masih merasa sakit...?!"
Azam terlihat panik lagi,apalagi Mawar menatapnya tanpa merespon panggilannya.
Mengetahui keadaan apa yang tengah terjadi,Mawar menggelengkan kepalanya,ia tak mau membuat semua orang panik.
"Azam...a..aku haus"
Setelah mengatakan itu Azam dengan cepat mengambil gelas yang berada diatas nakas,kemudian dengan telaten mengatur posisi ranjangnya agar Mawar bisa minum.
"Apa ada yang ingin kau makan lagi..?"
Mawar menggelengkan kepalanya,tangannya yang masih lemah itu mencoba meraih tangan Azam yang masih menempel dipipinya.
Tubuh Azam memaku saat tangan Mawar menggenggamnya,wanita itu malah kini sudah menitikan air mata.
"Ma..maafkan aku Azam...aku minta maaf karena sudah menyakitimu...a..aku masih menyayangimu..."
Mendengar perkataan Mawar...Azam langsung memeluk wanita itu,ia tahu selama ini Mawar hanya membohongi dirinya.
Wanita itu masih mencintainya...Mawar hanya membentengi diri agar tidak terluka lagi.
"Ia sayang aku tahu...aku juga mencintaimu..."
Azam menciumi wajah Mawar dengan hati-hati,mengecupnya dengan pelan kemudian membisikan kata cinta berkali-kali.
"Kali ini kau adalah milikku..kau tidak bisa lagi kabur lagi untuk selanjutnya...kau mengerti?"
Mawar tersenyum sembari mengangguk,ia senang akhirnya bisa mengatakan apa yang selama ini ia pendam.
Mawar takut jika dirinya menunda mengatakan isi hatinya ia akan terlambat dan tidak ada waktu untuk mengatakannya lagi.
Apalagi dirinya telah melewati masa yang sulit,ia kira dirinya sudah mati dan tak bisa berkata jujur pada orang-orang yang dicintainya.
__ADS_1
Maka dari itu,setelah terbangun dari masa kritisnya Mawar langsung mengatakan apa yang ia pendam dan apa yang ia rasakan.
Hidup telah memberinya pilihan untuk yang kedua kalinya,dan Mawar akan menggunakannya sebaik mungkin.