
"Ukh...",Anya melenguh dengan pelan tatkala Dafa menggigit telingannya.
"Ka..kak...jangan...",ucapnya lirih.
Dafa yang tak menghiraukan ucapan Anya masih saja memeluk gadis itu dengan gemas,rasanya ia ingin segera menghalalkan gadis itu.
"Kenapa...? sekarang kau pacarku"
"Tapi hanya pacar...",jawabnya lirih.
Dafa melepaskan pelukannya menatap gadis yang duduk disampingnya.
"Apa kau mau menikah denganku? aku bisa langsung menikahimu dan statusmu akan berubah menjadi istriku.."
"Ti..tidak..! bukan itu..."
Anya mengigit bibirnya,sekarang ini ia bingung sendiri menghadapi Dafa yang seenaknya sendiri.
Lelaki yang berumur enam tahun lebih tua darinya itu sungguh terlihat buru-buru dan tak serius sekali dalam menjalin hubungan.
Dia mengajak menikah seperti mengajak makan di warteg...
Tidak ada romantisnya sama sekali..!
Padahal diserial drama yang sering ia lihat pengakuan cinta dan lamaran itu hal yang sangat romantis,tidak seperti ini.
Dafa menghembuskan nafas beratnya mendengar ucapan Anya,gadis itu memang selalu menolak ajakan nikah dengannya.
Alasannya tentu saja karena dia masih kuliah dan belum siap untuk menikah,untuk itu Dafa menahan diri agar tidak memaksa gadisnya.
"Baiklah sayang...maafkan aku,aku akan menunggumu sampai kamu siap...",akhirnya itu yang bisa dikatakan oleh Dafa.
"Tapi kau mau kan diperkenalkan dengan mamaku...setidaknya keluarga dan teman-temanku tau hubungan kita"
Anya meremas jari-jarinya,ia sedikit ragu untuk mengatakannya.
Sejujurnya ia masih belum yakin tentang hubungannya dengan Dafa,tapi lelaki itu selalu memaksa dan mendorongnya.
Ia juga belum yakin tentang hatinya sendiri,tentang perasaannya pada lelaki yang kini menjadi pacarnya itu.
"Apa harus secepat itu...? aku rasa itu terlalu cepat kak",jawabnya.
Lagi-lagi kata penolakan...Dafa sudah biasa dengan hal itu,dirinya harus extra sabar menghadapi gadis di depannya ini.
Anya adalah wanita yang sangat pasif dalam hubungan,jadi dirinyalah yang harus lebih dominan.
"Baiklah...aku akan menuruti apa maumu,sekarang ayo kita makan,kau belum makan kan? setelah itu kita akan bermain ketempat Zahra...",ucapnya lembut.
Anya mengangguk,Dafa tersenyum melihat wajah Anya kembali berbinar.
Satu-satunya hal yang bisa membuat Anya senang seperti ini hanyalah tentang Mawar,gadis itu akan sangat gembira jika menyangkut soal Mawar.
__ADS_1
...
"Mba...!"
Anya berlari menghampiri Mawar yang duduk di kursi taman bersama anak-anaknya.
Disana juga terlihat Azam yang tengah bermain bola bersama Akins dan Azka.
"Anya sayang...apa kabarmu?",tanya Mawar lebut seperti biasanya.
"Aku baik mba...aku juga udah bisa ngurus diri sendiri...!",ucapnya bangga.
Mawar tertawa melihat Anya yang seperti itu,padahal ia sempat khawatir tentang Anya yang tinggal di rumah lama mereka sendiri,tapi sepertinya gadis itu baik-baik saja.
"Apa kuliamu lancar?",tanya Mawar sembari menyuapi Zahra makan.
"Lancar kok mba...satu semester lagi Anya lulus"
"Kamu tinggal bilang sama mba kalau butuh sesuatu,nanti mba sama kak Azam bakal bantu kok...jadi jangan sungkan ya adiku sayang..."
"Aw...mbaaa...",Anya mengelus pipinya yang dicubit pelan oleh mba'nya iti,kemudian ia tersenyum senang.
"Oh ya...kalau kamu mau kamu bisa bilang sama Dafa,kalian kan sama di bidang kesehatan,mungkin dia ada lowongan kosong di perusahannya.."
Anya melirik Dafa yang masih berbincang dengan kak Azam,kemudian melihat mba'nya yang sedang menanti jawabannya.
"Bukannya bagus...? kamu bisa kerja bersama Dafa,mba juga masih bisa ketemu kamu disini..."
Padahal jika Anya mau ia bisa langsung masuk bekerja di rumah sakit milik Dafa,lelaki itu pernah menawarinya bekerja disana tapi dirinya menolak.
Anya hanya ingin melakukan sesuatu yang normal-normal saja tanpa terburu-buru...sekolah,lulus,magang dan bekerja...itulah alur yang benar menurutnya.
Karena yang paling di khawatirkannya adalah Dafa sendiri jika ia langsung bekerja disana bersama lelaki itu.
Akan seperti apa kehidupan magangnya nanti jika setiap hari ia bertemu Dafa?
Lelaki itu terlalu Posesif dan sangat ekspresif,terkadang Anya merasa malu dan bingung sendiri menghadapinya.
Disisi lain,Dafa dan Azam sudah duduk di gazebo yang tak jauh dari tempat duduk Anya dan Mawar.
Akins dan Azka sudah masuk kedalam rumah dan mengganti pakaian yang sudah kotor.
"Ada apa...? kenapa mukamu ditekuk lecek begitu?",canda Azam sembari meminum air putihnya.
Dafa diam melirik Azam,kemudian menatap Anya yang masih berbincang dengan Anya.
Azam mengerutkan keningnya melihat Dafa yang diam saja.
"Apa ada masalah..?",tanyanya.
Azam merasa ada yang aneh pada saudaranya Dafa,lelaki itu tak pernah bersikap cuek seperti ini biasanya.
__ADS_1
"Apa itu tentang Anya...? apa kau belum bisa mendapatkanya..?"
Dafa yang sebelumnya diam langsung mengalihkan pandangannya pada Azam,Azam bahkan sudah tersenyum penuh arti sekarang.
"Kenapa...? apa ucapanku benar?"mata Azam naik turun menggoda sepupunya itu,ia tahu Dafa pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Haaa..kau sudah tahu ternyata",ucapnya lirih.
"Tentu saja...bagaimana aku bisa tidak sadar kalau kau mencintai gadis itu,matamu bahkan hampir copot gara-gara menatap Anya terus.."
Dafa terkekeh mendengar ucapan Azam,benarkah dirinya menatap Anya sampai seperti itu?
"Sepertinya aku sudah gila...",ucapnya lirih.
"Sebenarnya kami sudah pacaran,aku yang memaksanya...tapi sepertinya dia tidak tergerak sama sekali..."
Tepukan dipundak Dafa terasa begitu menyenangkan,Azam tidak banyak bicara tapi lelaki itu tahu Dafa sedang butuh dukungan.
"Kau harus bersabar...dia tumbuh dilingkungan yang keras bersama Mawar,tidak mudah untuk meluluhkan hatinya...aku dulu juga begitu...",ucap Azam sembari menertawakan dirinya sendiri.
Azam dulu juga memaksa Mawar agar jadi kekasihnya mau tak mau,perjuangannya untuk bersama Mawar sampai saat ini tidaklah mudah.
"Tapi kau lihat sekarang? kami akhirnya bisa bersama dan memiliki keluarga yang bahagia...yang kau perlu lakukan adalah keyakinan dengan rasa cintamu sendiri dan terus berusaha...untuk hasilnya itu urusan yang diatas"
Dafa mengangguk,benar apa yang di katakan oleh Azam,ia tak boleh terlalu gegabah dan merasa ragu seperti ini.
Pasti sulit bagi Anya untuk menerima hubungan baru.
Gadis itu tumbuh bersama Mawar dengan segala cobaan,tidak mudah baginya untuk langsung menerima orang lain dalam hidupnya,apalagi dalam hubungan ini dirinya yang telah memaksa agar Anya mau bersamanya.
"Baiklah...aku mengerti..terimakasih nasehatnya"
Azam tersenyum melihat wajah semangat Dafa lagi,ia tahu selama ini Dafa sudah menyukai Anya,tapi Azam tidak mau ikut campur dan membiarkan semuanya berjalan saja.
Azam akan menunggu sampai akhirnya Dafa mau bicara padanya.
Tapi siapa sangka setelah sekian lamanya sepupunya itu belum bisa menaklukan hati Anya.
Sepertinya mereka bakalan susah...
Azam menggarukan kepalanya yang tidak gatal,ia melihat Dafa yang kembali menatap intens pada Anya,sedangkan Anya merasa biasa saja dan terkesan acuh tak acuh.
Gadis itu bahkan tidak memperdulikan Dafa dan sibuk bermain dengan Zahra dan Mawar.
...End Chapter Bonus!...
...Hai hai para pembaca tersayang....!!๐๐๐...
...Cerita kali ini bakal aiuthor lanjut ya... author ucapin banyak terimakasih atas semua dukungan yang kalian berikan buat authoor๐...
...Salam sayang dari authoor..๐...
__ADS_1
...Aku sayang kaliaaannn๐๐๐๐ฅฐ๐ฅฐ๐ค๐ค...