
Mawar melenguh tertahan saat merasakan sesuatu mulai bergerak keatas perutnya.
Bibir mereka yang masih saling bertautan dan Azam yang memeluknya erat membuat Mawar tidak bisa berkutik banyak,apalagi dirinya masih sakit.
Azam menciumnya dengan rakus dan menyesap bibir lembutnya kuat-kuat.
Merasa dirinya sudah dalam bahaya,Mawar menggigit bibir pria itu agar tautan mereka bisa terlepas.
Dan benar saja lelaki itu melepaskan ciumannya dan akhirnya Mawar bisa bernafas lega.
Azam mendesis saat merasakan sakit di bibirnya akibat gigitan Mawar itu.
"Apa yang kau lakukan sayang?",ucapnya kebingungan.
"Kita belum menikah Azam..."
Azam mengusap wajahnya kasar saat dirinya sadar,ia sungguh tak berniat melangkah lebih jauh.
Tapi sialnya tangannya itu tak bisa dikondisikan lagi,instingnya sebagai lelaki tentu akan bangkit didepan wanita yang dicintainya.
Apalagi Mawar ada di dalam kamarnya,hanya berdua dengannya dan itu posisi dirumah yang tidak ada siapaun yang bisa mengganggu.
"Maafkan aku sayang...",ucapnya penuh penyesalan.
Dirinya sudah menduda selama bertahun-tahun,dan ia jauh dari wanita semenjak cerai dengan istrinya,tentu saja jiwanya meronta-ronta ingin dibebaskan,sebagai lelaki normal Azam juga menginginkan hubungan yang lebih intim.
Tapi saat ini dirinya dan Mawar belum menikah!
"Sayang...bagaimana kalau kita percepat pernikahannya?",ucapnya tiba-tiba.
"A..apa...?",tanya Mawar kebingungan,apa ia tidak salah dengar?
"Ayo kita menikah minggu depan...aku akan mengurus semuanya"
A**pa dia gila...! aku bahkan masih babak belur begini..
"Aku masih sakit Azam..."
Tidak mungkin dirinya menikah dengan keadaan seperti itu,apalagi ada banyak luka memar yang masih terlihat diwajahnya.
Kakinya yang belum sepenuhnya sembuh juga masih diperban.
"Kita akan melakukan pernikahan dengan keluarga saja,lalu aku akan mengadakan pesta resepsi yang sangat mewah saat kau sembuh nanti...bagaimana?"
Mawar menimbang-nimbang keputusan Azam itu,sebenarnya tidak baik juga jika menunda-nunda pernikahan ini.
Dirinya tak mau melakukan hal yang lebih jika mereka belum menikah,dan Mawar menginginkan hubungan yang bersih.
"Ba..baiklah...aku mau,kita akan menikah minggu depan..",ucapnya lirih dengan malu-malu.
Mendengar Mawar yang mau langsung menikah dengannya,Azam melompat-lompat saking senangnya,lelaki itu terlihat seperti seorang anak yang dibelikan mainan kesukaan oleh orang tuanya.
"Aku senang sekali...terimakasih..kita akan menikah minggu depan nanti!",ucapnya dengan penuh semangat.
Azam sungguh bahagia,mungkin bahagiannya melebihi saat dulu pertama kali ia mengajak Mawar menikah dipantai.
Dulu Mawar mau menikah dengannya karena ia yang memaksa,tapi saat ini Mawar langsung mau menyetujui lamarannya tanpa ia paksa atau tekan sama sekali.
***
__ADS_1
"Kenapa...?",tanya Dafa heran saat Anya terlihat kebingungan.
"Tidak ada ...."
"Apa kamu benar-benar sudah membawanya...?"
"Kukira begitu kak...tapi benar-benar tidak ada"
Anya mengobrak-abrik seluruh isi tasnya,saat ini dirinya tengah mencari kunci rumahnya,apa mungkin ia lupa membawa kuncinya?
"Ini benar-benar tidak ada kak...",ucap Anya frustasi.
Dia bingung harus bagaimana,ia tak mungkin balik ke rumah Kak Azam lagi,ini sudah terlalu larut dan Anya tidak mau mengganggu mereka.
Ia juga tak mau meminta kak Dafa untuk mengantarnya lagi.
Baik kunci rumah dan dompetnya tertinggal di rumah kak Azam!
Anya menepuk kepalanya saat ingat kalau dirinya menaruh dompet dan kuncinya di atas meja tamu.
"Bagaimana kalau kau menginap di apartemenku saja?",ucap Dafa tiba-tiba.
Anya melotot sembari menatap wajah Dafa yang datar itu.
"Apa tidak ada cara lain? atau aku akan pinjam uang kakak...aku akan pergi ke hotel saja,besok aku akan mengembalikannya",ucapnya memohon.
Mana mungkin aku tinggal dengan laki-laki dalam satu atap...
Anya masih terlalu polos untuk itu,pacaran saja ia tidak pernah!
"Maafkan aku...tapi aku juga tidak bawa dompet",jawab Dafa santai.
Apakah aku benar-benar harus menginap?
Kenapa mereka berdua tidak ada yang membawa dompet?
"Ini sudah terlalu malam...menginaplah satu malam,besok aku akan mengantarmu pulang"
Anya menatap wajah Dafa,ada rasa ketakutan dalam dirinya saat ini,ia tak pernah tinggal dengan laki-laki sebelumnya.
"Aku akan merepotkan kakak"
"Tidak...kau tidak merepotkanku sama sekali..malah aku senang",ucapnya sembari tersenyum.
"Ba...baiklah.."
Dafa langsung menggenggam tangan Anya saat gadis itu menyetujuinya,membawanya masuk kembali kedalam mobil dan langsung menancapkan gas menuju apartemennya.
Anya menelan ludahnya kasar,sepanjang perjalanan entah mengapa hatinya berdegup sangat kencang.
Laki-laki disampingnya itu sedari tadi menengok kearahnya sembari tersenyum.
Apa benar kak Dafa sesenang itu dirinya menginap dirumahnya?
Atau jangan-jangan kak Dafa mempunyai niat lain?
Tidak-tidak..kak Dafa bukan orang yang seperti itu..
Anya menggelengkan kepalanya,setahunya kak Dafa orang yang lembut dan tak mungkin berbuat jahat.
__ADS_1
Apalagi selama ini kak Dafa selalu membantunya melakukan penelitian tentang kesehatan.
Mobil itu berhenti disebuah garasi gedung apartemen milik Dafa.
Suasana disana sungguh terlihat sangat sepi dan sedikit gelap.
"Kita sudah sampai..",ucap Dafa sembari mencondongkan tubuhnya kearah Anya.
Tubuh Anya memaku saat tubuhnya begitu dekat dengan kak Dafa,saat ini Dafa sedang membukakan sabuk pengamannya.
Karena terlalu dekat,Anya bahkan memalingkan mukanya dan menahan nafas.
Merasa ada yang aneh,Anya mengerutkan keningnya.
Kenapa kak Dafa melakukannya lama sekali?
Dirinya bahkan sampai kehabisan nafas karena terlalu lama menahan nafasnya.
Dipalingkannya wajahnya itu,namun tanpa terduga wajahnya kini sangat dekat berhadapan dengan Dafa yang tengah menatapnya itu.
Namun sepersekian detik berikutnya Anya melototkan matanya,ia bahkan memaku saking terkejutnya.
Dafa menempelkan bibirnya sembari menatapnya,kemudian menekan tubuhnya dan mulai menciumnya.
...
Brraakk...!!
Pintu tertutup dengan kerasnya,Dafa membanting pintu setelah sampai di kamar.
Ditekannya Mawar dalam pelukannya,menciumnya lagi dan lagi.
Anya hanya bisa memegang erat jas milik lelaki tersebut tanpa bisa membalas ciuman itu.
Setelah kejadian tadi di dalam mobil Dafa bersifat lebih agresif.
Anya bahkan sampai kewalahan mengimbangi lelaki itu.
Yah..Dafa sudah mengatakan isi hatinya dan membuat Anya menerimanya.
Meski gadis itu awalnya tampak ragu-ragu,tapi Dafa terus mendorong dan membujuknya agar mau menjadi kekasihnya.
Rayuan Dafa sungguh memikat hati gadis yang masih polos itu.
Anya menelan ludahnya kasar saat dirinya sudah terbaring diatas ranjang milik Dafa.
Lelaki itu kini tengah berada diatasnya,bertumpu pada kedua kakinya tengah menatapnya sembari membuka satu persatu kemeja yang dikenakannya.
Apa kami akan melakukan itu..?secepat ini...?
Apa semua kekasih baru akan melakukannya di hari pertama mereka jadian?
"Ka..kak..."
Anya meringis geli saat merasakan bibir Dafa mulai menyentuh lehernya.
Namun didetik berikutnya ia memekik saat merasakan perih dibagian leher yang lain.
"Kak...a..aku tidak mau...!"
__ADS_1
Teriaknya sembari mendorong tubuh Dafa hingga lelaki itu melepaskan pelukannya