
Sudah beberapa hari sejak Mawar membuka toko kue,namun Mas Adi belum mengetahuinya juga,karena memang itu dirahasiakan.
"Satu bulan lagi..."
Mawar mencoret tanggalan yang telah ia tandai,tepat satu bulan lagi adalah hari Anniversary mereka berdua.
Mawar akan membawa Mas Adi ke toko barunya dan memberi kejutan disana.
Rencananya ia akan mendekor lantai atas untuk kejutan,Mawar juga berniat memberikan surat keterangan dari dokter bahwa ia tidak mandul.
Membayangkannya saja Mawar senang sekali,ia bahkan senyum-senyum sendiri di meja kasir.
Anya yang melihat hanya geleng-geleng kepala,mba'nya itu sepertinya sedang bahagia sekali.
Padahal baru beberapa hari terakhir terlihat lesu dan murung,tapi lihatlah sekarang..senyum-senyum tidak jelas entah apa yang sedang di bayangkannya.
*K*liingg...
Suara bel pintu pertanda orang masuk langsung membuyarkan fokus mereka berdua.
Mawar yang tadinya ngelantur kini menutup mulutnya tak percaya.
Ia melihat seorang laki-laki yang di kenalnya,bahkan lelaki itu juga terlihat sedikit terkejut.
*B*agaimana dia bisa ada disini...?
Dilihatnya lelaki itu yang kini berjalan ke arahnya dengan senyuman yang mengembang di wajah tampannya.
"Kita bertemu lagi..",ucapnya dengan senyuman sejuta watt.
Anya bahkan sampai mematung melihatnya,baru kali ini ia melihat ada lelaki tampan yang masuk ke dalam toko mereka.
"Saya juga tak menyangka..."
Lelaki itu tersenyum lagi,sekarang ia terlihat seperti memindai tokonya,melihat sekeliling ruangan toko.
"Jadi anda pindah kesini..?"
"Iya..saya pindah kesini bersama suami "
Entah apa yang di fikirkan lelaki itu,wajahnya terlihat berbeda setelah Mawar berkata seperti itu.
Dari sisi lain Anya hanya mengawasi dan mendengarkan interaksi mereka berdua,walaupun dalam hatinya ia sangat penasaran akan laki-laki yang sedang berbincang-bincang dengan mba'nya.
"Ini juga toko anda..?"
"Iya ..saya sedang mencoba bisnis kecil-kecilan.."
"Saya senang mendengarnya..saya kesini karena dengar di daerah ini katanya rotinya enak-enak jadi saya mampir karena penasaran"
"Waahh..saya sangat senang mendengarnya dokter"
Yah..lelaki di depannya ini adalah Dafa,seorang dokter yang beberapa kali menanganinya saat ia sakit dulu di Jogja.
__ADS_1
Mawar juga terkejut saat melihat dokter Dafa masuk ke dalam tokonya.
"Haha..jangan panggil saya dokter,kita sedang berada di luar,jadi anda bisa memanggil saya Dafa saja"
"Tapi saya tak enak hati"
"Tidak apa..umur kita juga tak terpaut jauh,saya lebih nyaman di panggil nama saja"
Mawar melihat wajah dokter Dafa,ragu-ragu ia membuka mulutnya.
"Baiklah Dafa...anda juga bisa memanggil saya Mawar "
Dafa tersenyum mendengarnya,kemudian lelaki itu melirik beberapa kue yang ada di dalam lemari kaca.
"Kita bisa menggunakan bahasa santai saja,toh sepertinya kita akan sering bertemu",katanya.
"Mama ku sangat suka kue..kemarin tante katanya pesan kue disini jadi aku datang untuk membeli beberapa kue lagi",tambahnya.
Padahal Mawar tidak bertanya apapun,tapi Dafa membuka suara dan bercerita,sepertinya ia orang yang supel,padahal Mawar kira Dafa orang yang serius dan kaku karena kesan mereka bertemu memang seperti itu.
"Jadi kemarin yang pesan tantemu?",meskipun sedikit canggung,Mawar tetap mencoba berkata santai,toh sepertinya Dafa juga santai-santai saja.
"Iya..kemarin ada arisan keluarga,dan tanggapan semua orang kue-kue itu enak"
"Senang mendengarnya..jadi kamu pindah ke jakarta juga? atau cuma berlibur?"
"Tidak..rumahku memang disini,aku hanya ada beberapa tugas di Jogja,tapi sekarang aku sudah kembali lagi kesini"
"Waah...dunia itu memang sempit ya..",gumam-gumam Anya.
"Oh ..perkenalkan..dia adik saya Anya..",melihat Dafa seperti penasaran akhirnya Mawar memperkenalkan mereka berdua.
Dan dengan cepat mereka bertiga akrab satu sama lain,Dafa orang yang sangat supel dan cepat akrab dengan seseorang,mungkin karena notebennya seorang dokter yang sering berbincang dengan para pasien?
Setelah memesan beberapa kue dan berbincang-bincang akhirnya Dafa meninggalkan toko itu.
"Waah...orang kaya memang beda ya mba..",Anya terlihat senang,bagaimana tidak?Dafa membeli banyak roti disana.
Semua rotinya hampir habis di borong oleh lelaki itu.
"Apa itu dokter yang pernah memeriksa mba?"
"Iya..mba juga nggak nyangka bakal ketemu lagi"
"Nambah satu lagi list pelanggan baru kita mba..",Mawar tersenyum dan mengelus lengan Anya.
Anya adalah wanita yang ceria dan selalu berfikiran positif,dengan adanya Anya di sampingnya Mawar merasa hidupnya sangat bahagia.
"Semoga saja toko kita tambah terkenal dan tambah laris..!"
"Iya..iya...sekarang kita beres-beres dulu,sepertinya kita akan tutup lebih awal"
Melihat jumlah roti yang tersisa hanya tinggal sedikit,Mawar berniat pulang lebih awal,sore ini cuaca di luar sangatlah mendung,dan sepertinya bakal ada hujan lebat.
__ADS_1
"Okeh boss..",ucapnya sembari memberi hormat.
Mawar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Anya,anak muda memang sangat energik.
***
Benar saja..saat pulang tadi Anya dan Mawar terkena hujan,meskpun tidak sampai basah kuyup.
Namun kalau dibiarkan bisa membuat masuk angin dan bisa jadi bibit penyakit.
"Eh.."
Mawar terkejut saat ingin membuka kunci rumah ,karena ternyata pintunya sudah di buka.
Siapa..?
Mobil Mas Adi juga belum ada di halaman.
*A*pa maling...?
Segera ia membuka pintu rumah,betapa terkejutnya Mawar saat melihat ada mertuanya sedang duduk di sofa sembari menonton televisi.
Seperti de javu..?
Tanpa di duganya Bu Winar hanya menengok saja,memandanginya sebentar dan langsung melengos tak mempedulikannya lagi.
Apa ini..? apa aku mimpi buruk?
"Mama pulang?",tanyanya basa-basi,padahal hatinya berdegup kencang karena merasa takut.
"Hm..",tanpa dugaan ,hanya sebuah deheman sebagai sebuah jawaban.
Tak ada teriakan dan kata makian yang biasa Mawar dengar,padahal Mawar sudah mempersiapkan telinganya.
Karena tak mau berinteraksi lebih lama dengan mertuanya Mawar memilih masuk kedalam kamar.
Di balik pintu Mawar menenangkan dirinya,tangannya bahkan masih bergetar hebat.
Setelah selesai menenangkan diri Mawar keluar kamar dan menuju kamar mandi.
Mawar sengaja mandi lama-lama disana,ia masih bingung dengan sikap Bu Winar,kenapa mertuanya seperti orang lain?
Bahkan terkesan acuh tak acuh dan tak menganggap kehadirannya.
Sewaktu Mawar melewatinya saat hendak ke kamar mandipun Bu Winar seperti tak meliriknya sedikitpun.
Mertuanya itu asyik tertawa melihat acara komedian di televisi sembari makan kripik singkong di dalam toples.
Tapi anehnya Mawar melihat ada sebuah tas berukuran besar yang tergeletak di lantai,Mawar tahu tas itu milik mertuanya.
"Apa mama mau pergi dari rumah ini..?"
Dilihat saja tas itu bukanlah tas kosong,tas itu berisi dan terlihat penuh,sepertinya isi pakaian?
__ADS_1
Entahlah...bukankah lebih baik mertuanya itu tidak tinggal serumah dengannya lagi? pengaruh buruk Bu Winar kepadanya juga bisa menghilang dengan perginya orang tua itu.