Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Rencana


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak ia pergi dari rumah,Mawar kini menyibukan diri dengan pekerjaan di toko.


Anya juga sembuh total dan sudah bisa bekerja,meskipun ia hanya melakukan pekerjaan ringan karena Mawar yang meminta.


Setiap hari juga suaminya Mas Adi kerap menelfon atau sekedar mengirim pesan.


Meskipun begitu,Mawar hanya meninggalkan satu pesan yang sama,yaitu Mas Adi harus menandatangani surat cerai mereka.


Segala makian dan kata marah tak luput dari isi pesan suaminya.


Namun ia sudah menetapkan hati,ia harus memandang ke depan,mau bagaiamanapun ia akan tak bahagia jika melanjutkan hubungan yang tak sehat seperti ini.


Apalagi sudah ada seseorang yang mau membantunya agar perceraiannya dengan Mas Adi bisa tercapai.


"Ini apa...?",tanya Mawar.


Azam meletakan sebuah map di atas meja.


Sekarang ini mereka sedang duduk di toko roti milik Mawar.


Azam membawa dua orang yang berpakaian rapi seperti dirinya,memakai jas dan juga terlihat sangat berwibawa.


"Bacalah dengan teliti..."


Perlahan Mawar mulai membacanya lamat-lamat,ekspresinya mulai berubah saat membaca beberapa tulisan disana.


"Ba..bagaimana bisa...?"


Mawar sangat terkejut saat melihat isi tulisan itu.


"Sesuai yang kamu baca,kalian bisa bercerai dengan cepat,kamu juga bisa melaporkan Adi dan juga mertuamu,mereka akan dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku..kedua pengacara pribadiku akan membantumu.."


"Pe..pengacara pribadi..?"


Astaga...sebenarnya siapa pria di depannya ini.???


Aku kira ia hanya orang kaya biasa...!


Tapi melihat ia bisa melakukan semua ini dengan mudah,sepertinya Azam bukanlah orang sembarangan.


Apalagi ia membawa pengacara yang terkenal!


Pengacara itu ia sering melihatnya di berita,


pengacara yang menyelesaikan kasus-kasus besar.


Tapi apa..? Azam mempekerjakan mereka sebagai pengacar pribadi.


"Kau bisa bertanya apapun jika kau masih bingung...atau kau mau menambah tuntutanmu lagi..?"


Mawar langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak..tidak seperti itu...tapi Azam..."


Mawar berbicara dengan sedikit gelisah,dan Azam tahu Mawar terlihat seperti kurang nyaman.


"Bicaralah...aku akan mendengarkanmu.."


"A..aku memang ingin bercerai...ta tapi..aku tidak pernah berfikir sedikitpun untuk menuntut mereka.."


Azam sangat terkejut mendengarnya,bukankah itu setimpal dengan apa yang Mawar alami..?


"Kenapa...? itu adalah hukuman untuk mereka karena sudah berbuat jahat padamu..mereka berhak mendapat itu,dan itu bukan salahmu.."


Azam tahu ,pasti Mawar merasa terbebani dan merasa sangat bersalah,bagaimanapun juga ia tipe seorang yang sangat memikirkan balas budi dan kasih sayang.


Mawar sudah salah mengira apa itu kasih sayang dan keluarga.


Hidup sebatang kara sedari kecil dan tiba-tiba memiliki suami yang memberikannya sedikit cinta membuatnya terperangkap akan kasih sayang yang palsu.


Karena keinginannya memiliki sebuah keluarga,membuatnya buta akan kesengsaraan yang ia alami sendiri.


"Yang terpenting aku bisa bercerai dengan Mas Adi...biarlah takdir yang akan membalas semuanya.."


Azam menghembuskan nafas beratnya.


Sebenarnya dalam hal ini ialah yang paling ingin menghukum kedua orang yang sudah menyakiti Mawar


Namun mendengar Mawar yang tidak mau menghukum mereka ...ia bisa apa..?


Mawar mengatakan dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada kedua pengacara Azam,tidak ada yang ia tutup-tutupi sama sekali.


Jika ia berbohong ia takut kedepannya akan menghambat proses perceraian mereka.


Ia ingin semuanya lancar dan segera terlepas dari pernikahan itu.


Apalagi Azam sudah membantunya agar proses perceraian mereka dipercepat bulan depan.


Biasanya proses perceraian berlangsung sedikit lama,namun karena bantuanya ia bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat.


"Besok kami akan mengantarkan berkas ini ke kediaman pak Adi...kalau tidak ada yang tuan inginkan kami undur diri..",ucap salah satu pengacara.


Mawar bisa melihat kedua pengacara tersebut sangat segan dan hormat kepada Azam.


Mereka juga menyebut nama Azam dengan sebutan "Tuan"


Apa Azam orang yang sangat berpengaruh..? tapi di televisi ia tak pernah mendengarnya sama sekali.


Meskipun begitu,Mawar jadi tahu kalau Azam bukan orang biasa.


"Terimakasih karena sudah membantuku..aku tidak tau apa yang harus kulakukan agar bisa membalas budimu..",ucapnya setelah pengacara itu pergi.


Azam tersenyum seperti biasanya"Sudah kubilang ini semua karena rasa terimakasihku karena kamu sudah membuat anak-anaku bahagia..kau tak perlu melakukan semua itu..."

__ADS_1


"Tapi tetap saja..jumlah uang yang kau keluarkan pasti tidak sedikit",jawabnya lirih.


Mendengar itu Azam tertawa sedikit lebih kencang,jadi yang difikirkan Mawar adalah seberapa banyak uang yang ia keluarkan untuk menyewa kedua pengacara terkenal itu?


*A*staga...dia sangat lucu..! apa dia fikir aku akan meminta uangnya lain kali..? atau dia fikir akan menyicil uangnya perlahan..?


"Yaah..memang uang yang aku keluarkan sangat banyak,jadi...apa yang akan kau berikan untuku untuk imbalan?",godanya.


Mendengar itu Mawar langsung terlihat sangat gusar,Azam menatapnya lekat-lekat,ia bisa melihat Mawar menggigit bibir bawahnya lagi


"A..aku..akan mencicilnya.."


Dan Azam tertawa lagi,namun kali ini sampai terbahak-bahak,membuat para pembeli dan Anya yang tak jauh dari mereka menengok kearahnya.


Astaga...!! ternyata kepalanya yang kecil itu memang berfikir seperti itu!


*A*h..kenapa aku gemas sekali...


Sabar...sebentar lagi aku akan punya kesempatan untuk membawanya ke sisiku...


"Maafkan aku karena tertawa..tapi kamu sangat lucu...kamu tidak perlu mencicilnya,aku hanya bercanda..."


Bukanya merasa kesal karena sudah dipermainkan oleh Azam,Mawar malah membeku melihat senyuman itu.


Baru pertama kali ia melihat Azam menunjukan ekspresi seperti manusia..bisa tersenyum dan tertawa seperti ini.


Biasanya lelaki itu hanya memasang wajah dingin dan menakutkan saja.


"Tapi aku ingin memberikan sesuatu sebagai rasa terimakasih..kamu boleh meminta sesuatu padaku."


Mendengar Mawar berkata seperti itu membuat ide gila mulai muncul di otak bisnisnya.


Azam memandang Mawar sembari tersenyum licik.


"Baiklah kalau kamu memaksa...aku akan mengatakanya kalau kamu sudah cerai dengan Adi"


Ia akan mengatakan keinginannya itu pada Mawar,dan saat itu tiba Mawar benar-benar ada di genggamannya dan tidak akan ia biarkan lepas.


"Kalau begitu aku akan pamit pulang dulu..anak-anak pasti sudah menungguku pulang"


Setelah itu,Mawar mengantar Azam sampai depan pintu,ia juga membawakannya beberapa bungkus kue untuk Akins dan keluarganya.


Dipandangnya langit yang terlihat cerah,badai yang ia lalui sebentar lagi akan hilang.


Hidupnya akan kembali seperti dulu,bekerja untuk dirinya sendiri tanpa ada suami dan keluarga kecil yang ia idam-idamkan.


Bedanya,sekarang ia memiliki banyak orang yang lebih menyayanginya.


Meskipun merasa berat,namun ia sedikit senang karena banyak yang mendukungnya dan menguatkannya.


"Seperti ini tidak buruk juga..."

__ADS_1


Berkat ada mereka melepaskan suaminya Mas Adi tidak terasa begitu menyakitkan.


__ADS_2