
"Aku masih sayang kamu Mawar...Aku masih mencintaimu sama seperti dulu",ucap lelaki itu.
Mawar terdiam mendengar pernyataan Adnan.Lelaki itu tampak serius menatapnya.
Dialihkan pandangannya dari wajah Adnan,Mawar meremas rok yang tengah dipakainya di bawah meja.
"Maafkan aku Adnan...tapi aku tidak mencintaimu lagi",dan itu benar.
Dirinya kini hanya menganggap Adnan sebagai masa lalu saja,tidak lebih.
Meskipun mereka berpisah dengan damai tanpa ada pertengkaran,tapi saat ini Mawar hanya menganggap Adnan sebagai teman saja.
"Itu bohongkan? aku tidak percaya,kau dulu bahkan sangat mencintaiku"
"Itu hanya dulu...dulu memang aku mencintaimu tapi sekarang tidak",tegasnya.
"Kenapa? apa yang kurang dari diriku Mawar,tidak ada lelaki kaya di dunia ini yang bisa menerimamu apa adanya...kau bisa bahagia jika bersamaku",ucapnya lagi.
Mawar beralih menatap Adnan kembali,lelaki itu berkata seolah bersama dirinya adalah pilihan terbaik,tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mamanya yang tak merestui mereka.
"Sekarang aku sudah mempunyai kekasih Adnan...aku juga sangat bahagia bersamanya,jadi kuharap kau bisa menemukan yang lebih baik dari diriku"
Lebih baik cepat akhiri obrolan ini sebelum Azam datang.Mawar tak mau Azam salah sangka nanti.
"Haha...kau bohong kan? aku tahu kau wanita yang susah untuk menjalin hubungan baru"
"Tidak...aku benar-benar serius"
Mawar harap Adnan segera pergi,dirinya juga sudah jujur dengan statusnya yang memiliki Azam.
"Apa dia lebih kaya dari diriku?"
"Apa...?"
Kenapa tiba-tiba membicarakan soal kekayaan?
"Kau tidak akan bahagia jika dia lelaki biasa,aku bisa membawamu kedalam kemewahan yang tiada habisnya...jadi berpalinglah padaku,tinggalkan saja kekasihmu sekarang"
Apa dia gila...?
Adnan sekarang terlihat berbeda,sikap dan gaya bicara lelaki itu sudah tidak ada kelembutan sama sekali.
"Aku mencintainya Adnan...aku tidak bisa meninggalkannya,jadi buanglah keinginanmu itu...sekarang kumohon pergilah karena ini sudah malam"
Mawar merasa sedikit takut dengan situasi saat ini,dirinya dapat melihat raut wajah Adnan yang menatapnya dengan buas.
"Aku tidak mau...! bukankah sekarang kau sedang menunggu kekasihmu? aku akan disini sampai dia datang...aku harus melihat sendiri kekasih yang kau bicarakan itu"
Mawar terlihat panik,bagaimana jika Azam tidak datang? sudah beberapa jam lelaki itu tidak menjemputnya dari jadwal janjiannya.
"Kumohon Adnan...aku tidak ingin Azam salah sangka"
Adnan terlihat tersenyum,senyum lembut tapi terlihat menakutkan.
Laki-laki itu beranjak mengampirinya,tanpa bisa Mawar hindari kini kedua lengannya sudah dalam genggaman Adnan.
__ADS_1
"Dengarkan aku...jika dia tidak memepercayaimu berarti dia tidak tulus Mawar,lelaki yang yang seperti itu tidak baik untukmu",ucapnya.
Mawar hanya geleng-geleng kepala,ia yakin Azam tidak akan seperti itu.Ia tau Azam pasti mempercayainya.
"Berikan aku kesempatan,aku lebih baik darinya...aku bahkan masih mencintaimu sampai sekarang,bertahun-tahun aku hanya menunggumu berharap kau bisa kembali disisiku...dan sekarang kau disini,aku sangat senang"
"Tidak...aku sudah mencintainya,kami juga akan menikah,jadi kumohon lepaskan aku...biarkan aku bahagia Adnan,aku juga akan mendoakanmu agar kau bisa hidup bahagia"
"Kau...akan menikah?",tanyanya.
Genggaman lelaki itu terlepas saat Mawar berkata seperti itu,Adnan terlihat syok.Namun tiba-tiba dengan cepat tangan Adnan membelai pipinya.
"Belum...Aku akan berusaha sebelum kau menikah,jika memang kau memang ditakdirkan untukku kau akan kembali padaku Mawar"
"Adnan...!"
Belum sempat ia berkata,tiba-tiba Azam masuk kedalam toko.
Wajahnya terlihat sangat syok melihat Mawar dan Adnan dengan posisi seperti itu.
"Sudah datang ya...kalau begitu aku akan pulang,jaga dirimu baik-baik",bisiknya di telinga Mawar.
Adnan keluar sembari tersenyum ramah kepada Azam,lelaki itu sempat melambaikan tangan kepada Mawar sebelum benar-benar keluar dari toko.
"Siapa...?",tanya Azam menelisik.
"Di..dia Adnan...kau pernah bertemu dengannya",jawab Mawar takut-takut.
"Oh...mantanmu itu"
"Ini bukan seperti yang kau lihat Azam"
"Sudahlah...sekarang kita pulang dulu,ini sudah sangat malam",ucapnya.
Azam berbalik arah,lelaki itu sepertinya berniat keluar sekarang.
"Apa kau marah padaku Azam?"
Mawar bertanya dengan nada yang sudah gemetar,dirinya menunggu dengan wanti-wanti reaksi Azam selanjutnya.
Karena Azam terlihat terkejut saat melihatnya tadi,tapi Azam sekarang malah diam seperti enggan berinteraksi dengannya.
Dirinya takut jika Azam tidak percaya padanya,dan apa yang dikatakan Adnan benar adanya.
Langkah kaki Azam terhenti tatkala mendengar pertanyaan Mawar.Lelaki itu menoleh kerah Mawar lalu mengusap wajahnya kasar.
"Maafkan aku...aku tidak marah,aku hanya sangat lelah hari ini...sekarang aku akan mengantarmu pulang",ucapnya langsung keluar toko.
Mawar diam menatap wajah Azam,dia memang terlihat sangat berantakan hari ini.
Mawar langsung beranjak membereskan barang-barangnya.Dimatikan lampu di tokonya kemudian beranjak keluar menghampiri Azam yang sudah menunggunya di dekat mobil.
Dirinya sempat terpaku saat melihat Azam menelfon seseorang,lelaki itu tampak sangat serius dan saat melihatnya datang Azam langsung mematikan telfonya.
"Siapa?"
__ADS_1
Azam menatap Mawar dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan,kemudian mengusap rambut Mawar pelan.
"Bukan siapa-siapa,hanya orang iseng yang salah sambung"
"Benarkah?"
"Iya...sekarang masuklah"
Mawar mengamati gerak-gerik Azam yang sedikit mencurigakan,lelaki itu terlihat sedikit aneh.
Sejak masuk kedalam toko,Azam lebih banyak diam,lelaki itu tidak menunjukan kasih sayang seperti biasanya.
Apa dia marah? atau salah paham?
Tapi Mawar sudah menjelaskannya tadi.
"Azam...Adnan tadi hanya berbincang-bincang padaku...aku benar-benar tak ada hubungan apa-apa lagi dengannya"
Mawar mencoba menjelaskan,meskipun Azam tidak bertanya ia akan menjelaskan semuanya,ia tak mau hubungannya dengan Azam jadi retak gara-gara kejadian hari ini.
Mawar siap jika Azam bertanya semuanya,ia akan menjawab dengan jujur,juga dengan apa yang mereka bicarakan tadi.
"Aku juga tidak tahu dia ada disana,sewaktu aku bangun dari tidur dia sudah ada di depanku..."
Azam hanya mengangguk saja,lelaki itu bahkan tidak menoleh sedikitpun kepada dirinya.
Melihat itu Mawar sedikit sakit hati,Azam seperti tidak mendengarkanya.Lelaki itu seperti sudah tidak percaya kepadanya.
Setelahnya Mawar memilih diam,dia membuang muka kearah jendela kaca mobil.Entah mengapa malam ini terasa sangat dingin.
Padahal Mawar berharap pertemuannya kali ini akan penuh kebahagiaan karena mereka jarang bertemu.Tapi melihat sikap Azam yang acuh membuat fikiran negatif mulai menyerbu otaknya.
Sampai akhirnya mereka sampai kedepan halaman rumah Mawar.Azam masih diam menatap kedepan,lelaki itu menoleh dan menatap Mawar dengan wajah yang datar.
"Buang itu...",ucapnya tiba-tiba.
"Apa...?"
"Buang jas milik pria itu"
Mawar bingung saat Azam berkata demikian,tapi dirinya langsung paham setelah sadar kalau dirinya tengah memakai jas sekarang.
"I..ini jas siapa?"
Dirinya juga tidak tahu kenapa jas itu ada pada dirinya.
"Tentu saja bukan milikku",Azam berkata sembari tertawa kecil.
Melihat itu Mawar jadi tahu kalau Azam sedang marah.Lelaki itu memang tersenyum tapi senyum itu bukan karena senang,malah terlihat seperti senyum merendahkan.
"Aku benar-benar tidak tahu kenapa ini bisa ada padaku Azam...",Mawar tidak bohong.
Lelaki itu hanya diam menatapnya,Azam tidak menjawab pertanyaannya,lelaki itu kemudian beranjak keluar dan membukakan pintu untuknya.
"Pulanglah...ini sudah sangat malam",katanya.
__ADS_1
Mawar tertegun saat Azam memperlakukannya sangat dingin.Dirinya langsung keluar dari mobil itu.
Azam tidak mengatakan apa-apa setelahnya,lelaki itu malah langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkannya tanpa sepatah katapun.