Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Menahan Diri


__ADS_3

Mawar mencekram baju yang di kenakannya,sekarang ia sudah ada di depan rumahnya sendiri.


Ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah dua hari menginap.


Meskipun ia sempat marah pada suaminya Mas Adi,kini hubungan mereka sudah membaik,Mas Adi juga sudah meminta maaf dengan tulus.


Ia menjelaskan bahwa memang jadwalnya sangat padat apalagi kabar bahwa akan ada pengangkatan PNS (Pegawai Negeri Sipil) membuat suaminya banyak mempersiapkan banyak hal.


Tentu saja kabar itu membuat Mawar senang,pangkat suaminya akan naik menjadi PNS.


Selama ini ia terlalu egois dan memikirkan dirinya saja tanpa tahu suaminya sedang berjuang di luar sana.


"Sayang..ada apa..?"


Merangkul pundak istrinya,kelihatannya wajah Mawar yang sedikit pucat.


"Apa masih ada yang kurang nyaman?"


"Nggak mas..aku nggak papa"


Mawar menggelengkan kepala,bukan itu alasannya..ia hanya belum siap jika bertemu mertuanya.


Semenjak kejadian dua hari yang lalu Mawar belum bertemu Bu Winar,bahkan mertuanya itu tak pernah menjenguknya saat ia berada di rumah sakit.


Yah..meskipun Mawar tidak berharap sama sekali akan kedatangan mertuanya.


Kalau mau jujur ia tidak mau melihat wajah mertuanya lagi!


Bukannya dendam,sebagai manusia ia juga bukan orang yang sempurna,Mawar merasa sakit hati akan perlakuan mertuanya.


Ada kalanya ia harus menjauh dari orang-orang yang telah merusak hatinya,padahal sebelumnya Mawar sangat menghormati dan sudah memganggap Bu Winar sebagai ibu kandungnya sendiri.


*B*agaimana ya reaksiku nanti..apa aku akan menangis ketakutan dan menceritakan semuanya pada Mas Adi?


tidak..aku harus kuat ..aku nggak mau nangis lagi gara-gara mama..


*A*tau aku langsung memukul dan menjambaknya saja..?


Ia melirik suaminya,fikirannya itu memang sedikit gila,lalu tiba-tiba pintunya terbuka sebelum suaminya membukanya.


Terlihat Bu Winar dengan senyum hangatnya menyapa mereka berdua.


"Sayang...?! kamu sudah pulang..",aktingnya dengan memeluk Mawar di depan Adi.


"Apa kamu sudah sehat nak..? maafkan mama ya...badan mama juga masih belum sehat",sungguh akting yang luar biasa.


Mawar hanya diam ,bahkan wanita itu tidak tersenyum.


"Sudah mendingan mah,tapi juga butuh banyak istirahat",lalu Adi menuntun Mawar menuju kamarnya diikuti Bu Winar.


"Yaudah deh..mama nggak mau ganggu Mawar istirahat,mama pergi dulu ya..",ucapnya sembari tersenyum kepada Mawar.


Padahal Mawar sudah menata hatinya ,ia akan berubah dan menjadi wanita yang tak di remehkan.

__ADS_1


Namun kenyataannya ia tak bisa bereaksi apapun,tangannya bahkan sudah berkeringat dan sedikit bergetar,ia masih takut!


"Mas..."


Adi menghentikan aksi melepas jaketnya saat mendengar Mawar memanggilnya,lalu ia duduk di atas ranjang tempat Mawar berbaring.


"Hem..ada apa ?"


"A...aku..."


Mawar berniat mengungkapkan perihal dirinya masih bisa mengandung,ia tidak mandul.


Namun Bu Winar menyela obrolannya di depan pintu kamar.


"Adi..bisa anter mama nggak ke rumah bu Asih?"


"Kenapa mah? katanya mama belum sepenuhnya sehat"


"Ngggak papa kok,cuma sebentar..tolong ya temenin mama sebentar aja di sana"


"Tapi Mawar masih sakit mah.."


"Nggak papa kan Mawar? masa suami mau nganterin mamanya nggak boleh?",ucapnya dengan tersenyum.


Namun Mawar tahu bahwa senyum itu bukanlah senyum ramah,melainkan senyum intimidasi.


"I...iya mas..aku nggak papa"


Mawar benci...ia benci tak bisa melawan omongan mertuanya itu.


Setelah itu kedua orang itu pergi dari kamarnya.


Mawar diam merenung di dalam kamar yang sepi itu,pikirannya melayang mengingat kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidupnya.


Bagaimana kehidupannya saat ia pertama kali keluar dari panti dan menjalani kehidupan yang begitu sulit sampai sekarang.


Ia sekolah tinggi-tinggi juga karena ingin mengubah nasibnya,mungkin saja dengan ilmu yang di dapatnya ia bisa mencari pekerjaan yang sedikit bergaji besar.


Namun bahkan sampai sekarang masalah ekonomi masih menghantuinya,meskipun suaminya itu mungkin akan menjadi PNS bukankah lebih baik berpenghasilan sendiri.


Suaminya tak mengizinkannya kerja di kantoran waktu dulu,karena mereka harus pindah rumah untuk itu.


Kalau di sekitar rumahnya memang ada beberapa perusahaan besar,namun karena terlanjur memliki toko roti Mawar tak bisa meninggalkannya.


"Apa aku minta izin lagi ya sama Mas Adi.."


Bukankah tak ada salahnya mencoba mendaftar? ia juga bingung harus apa di rumah saat sudah tak punya toko roti lagi.


Matanya tak sengaja melihat sebuah kado diatas lemari kamarnya.


Matanya berbinar saat ingat bahwa kado itu milik Akins kesayangannya.


Segera Mawar mengambil kado itu,duduk diatas ranjang bersiap akan membukanya,namun ia ingat pada Mas Adi,ia takut suaminya marah kalau ia membuka tanpa izin.

__ADS_1


Bagaimanapun Mawar adalah istri yang patuh pada suami,ia tak mau berdosa karena melanggar perintah suaminya.


Ia akan menuruti semua ucapan suaminya selama Mas Adi itu benar.


*T*uuutt...tuutt...tuutt..


Setelah menunggu akhirnya telephone darinya diangkat juga.


"Ada apa ..?"


"Mas..a..apa boleh..kubuka hadiah dari Akins?",ucapnya lirih,ia sedikit takut mengingat dulu suaminya terlihat marah perihal kado itu.


Lama Mas Adi menjawab,hingga akhirnya mengijinkannya membuka kado itu.


Mawar tidak tahu kenapa suaminya itu enggan dengan kado dari Akins,memang apa masalahnya?


Namun ia juga tak bisa bertanya,ia takut Mas Adi akan berekspresi menakutkan lagi.


"Oh ya ..kamu bisa tidak buatkan mie untuk mama,katanya mama ingin makan mie buatanmu nanti saat pulang",ucap suaminya dari sebrang sana.


"Maaf mas..tapi sepertinya aku belum bisa..badanku masih lemas dan aku juga masih pusing,maaf ya mas"


Mawar berbohong,kalau hanya memasak mie ia masih bisa,tapi ia hanya tak mau membuat makanan untuk mertuanya itu.


Bagaiamana dengan PeDe'nya Bu Winar memerintahnya setelah apa yang di lakukan padanya?


Ia bahkan belum bisa memaafkan Bu Winar atas kejadian dua hari yang lalu.


"Baiklah..nggak papa kok,nanti mas kasih tahu mama,yasudah kamu istirahat saja"


"Iya mas..."


Setelah itu Mawar mematikan telfonnya,ia merebahkan diri disamping kado Akins yang belum sempat ia buka.


"Hhaaahhh....",menghela nafas panjang.


Mawar tersenyum kecut,ternyata suaminya itu lebih perduli dengan mamanya dibanding dirinya,memang itu tidak salah,namun bukankah Bu Winar keterlaluan?


Ia memerintah dirinya yang baru keluar dari rumah sakit dan menyuruhnya masak,bahkan saat ia dirawatpun mertuanya tak menjenguknya sama sekali.


*A*pa Mas Adi nggak ingat aku masih sakit?


Bibirnya masih tersenyum padahal air matanya sudah tumpah.


Padahal Mawar sudah bertekad menjadi pribadi yang kuat tapi ternyata ia masih lemah menyangkut suaminya juga mertuanya.


Mungkin karena ia sudah menaruh hati dan hidupnya bergantung pada keluarga itu?


Namum kali ini ia akan berusaha untuk tidak lemah lagi agar tak di injak-injak oleh mertuanya.


Ia akan menjaga pernikahannya bagaimanapun caranya.


.

__ADS_1


...~~~...


...Terimakasih sudah mampir dan membaca novelku🤗...


__ADS_2