
"Lagi...",Azam menyerahkan piring kosongnya.
Mawar memiringkan kepalanya,ia masih tidak percaya Azam meminta nasi lagi.
"Ini sudah ketiga kalinya...",meskipun berkata demikian ia tetap menyendokan nasi kedalam piring itu lagi.
"Itu karena nasi goreng buatan kekasihku sangat enak"
Mawar tersenyum mendengarnya,ia tidak menyangka Azam begitu menyukai masakannya.
Padahal lelaki itu sudah menghabiskan dua porsi besar sebelumnya,untung dirinya sengaja memasak banyak tadi.
"Jadi...mobilmu sekarang ada di bengkel?",katanya setelah duduk bersebelahan dengan Azam.
"Iya...nanti supirku akan kesini menjemputku"
Mawar hanya mengangguk saja,ia menatap Azam yang tengah menyantap dengan lahap makanannya itu.
*A*ku tak menyangka akan menjalin hubungan dengan orang seperti Azam...
Sudah baik,tampan dan sangat kaya.Mawar bahkan masih belum percaya sekarang dirinya sudah berpacaran dengan Azam.
Meskipun ia merasa senang,namun dalam hati yang terdalam dirinya masih ada sedikit rasa takut.
Azam adalah sosok yang sempurna,keluarganya juga dari orang sangat berada,berbeda dengan status dirinya yang bahkan bukan apa-apa.
Bukankah normal jika dirinya merasa takut?perbedaan kasta yang sangat jauh itu bagaikan tembok besar yang tak kasat mata.
Meskipun Azam tidak mempermasalahkan akan itu semua tapi Mawar tetap kepikiran.
Bagaimana jika dirinya tidak bisa mengimbangi kehidupan Azam? bagaimana jika keluarga Azam yang lain membencinya?
Mawar berfikir seperti itu bukan tanpa alasan,mengingat ia pernah mengalami keadaan yang menyedihkan.
Berhubungan dengan anak orang kaya seperti Adnan dan berakhir menyakitkan,karena orang tua dan keluarganya menentang karena dirinya yang miskin.
Dan juga pernikahannya yang kandas gara-gara mertuanya yang dari awal memang tidak menyukainya,ditambah suami yang berselingkuh karena dirinya yang tidak sempurna.
Jadi Mawar sedikit takut jika nanti bertemu keluarga Azam lainnya,meskipun Bu Risma dan Dafa orang yang sangat baik,tapi tidak menutup kemungkinan semua keluarga Azam akan menyukainya.
Jujur ia masih sedikit trauma jika menyangkut nama keluarga.
...
"Kau benar-benar tidak mau ikut denganku?",tanya Azam.
Saat ini ia hendak pulang karena sang supir sudah datang,sekarang ini dirinya sedang membujuk Mawar untuk menginap dirumahnya.
Karena akhir-akhir ini ia sibuk dan belum bertemu Mawar,Azam ingin Mawar menginap di rumahnya malam ini dan menghabiskan waktu bersama.
Anak-anak dan mamanya ingin sekali Mawar bermalam disana,meskipun disini yang paling ingin Mawar menginap adalah dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan aku...aku benar-benar masih sibuk,lusa bahkan toko sudah mulai buka"
*A*ku juga belum siap bertemu calon mertua...
Pasti canggung sekali jika dirinya hari ini bermalam disana,padahal baru sehari ia dan Azam menjalin hubungan.
"Baiklah...tapi setelah semuanya selesai kau harus mau menginap dirumahku nantinya"
"Kenapa kau memaksa aku menginap terus? bukankah tidak masalah jika sekedar bermain saja?"
"Tidak...aku akan mengadakan pesta semalaman nanti"
"Pesta...?pesta apa?"
Kenapa jadi ada pesta segala?
"Kita harus berunding masalah pertunangan kita dengan keluarga,kita juga harus menyiapkan pesta..."
"Hah...?!",Mawar terkejut dengan apa yang di dengarnya.
*A*pa...?! pertunangan...? secepat itu...?!
Ia tahu Azam sudah mengajaknya menikah,tapi ia bahkan tak pernah berfikir kalau Azam akan mengajaknya secepat ini,dirinya bahkan baru menerima ajakan Azan beberapa menit yang lalu!
Ia kira mereka harus menjalin hubungan beberapa bulan lagi untuk tahap pengenalan satu sama lain,lagipula menikah bukanlah hal yang patut dibicarakan dalam hitungan hari.
"Bukankah sudah jelas...kita akan menikah satu bulan lagi,minggu depan kita harus mengadakan pesta pertunangan",ucapnya enteng.
Perlahan Mawar memijit keningnya yang terasa tegang,mencoba menenangkan dirinya yang masih merasa terkejut itu.
"Me..menikah...? secepat itu?"
"Untuk apa ditunda-tunda...toh kau sudah setuju menikah denganku",ucapnya dengan tersenyum senang.
"Ta...tapi Azam,a...aku masih takut,aku belum siap jika secepat itu",jawabnya lirih.
Azam terlihat diam menatap Mawar,kemudian beranjak memeluk kekasihnya yang sedang menunduk.
"Kau hanya perlu percaya padaku sayang...aku benar-benar serius dengan pernikahan ini,kau tidak perlu merasa takut...aku janji aku tidak akan pernah menyakitimu",ucapnya meyakinkan.
"Aku tahu kau pasti merasa trauma...untuk itu ijinkan aku untuk membahagiakanmu,kumohon..."
Mawar masih diam dalam pelukan Azam,dirinya sungguh bingung dengan keadaan ini.
"Kenapa kau yakin mau menikah denganku Azam",ucapnya lirih.
"Sudah kubilang aku sangat mencintaimu"
*T*api cinta bisa berubah seiring berjalannya waktu...
Mawar sudah mengalaminya bersama Adi.
__ADS_1
"Kau hanya perlu disisiku sayang,aku akan melimpahkanmu kebahagiaan dan rasa cinta yang tiada henti,jadi menikahlah denganku ya..."
Mawar mendongak melihat Azam yang tengah menatapnya sendu,lelaki itu terlihat sedikit putus asa.
Azam kemudian beranjak mencium kening Mawar dengan penuh penghayatan,mencoba menyalurkan keberanian dan keteguhan untuk wanitanya.
"Kumohon sayang...",pintanya sekali lagi.
Mawar menenggelamkan dirinya dalam pelukan Azam,dia bergumam kecil disana,menjawab dengan sangat lirih.
"Ba...baiklah..aku mau"
Padahal dirinya menjawab sangat lirih,tapi Azam bisa mendengarnya.
Lelaki itu langsung mempererat pelukannya,menciumi kepala Mawar berkali-kali dan mengucapkan terimakasih.
"Kalau begitu,minggu depan aku akan membawamu kerumah,aku akan memperlkenalkan calon istriku kepada keluargaku...mau kan?"
Mawar mengangguk sembari tersenyum,tangan Azam dengan lembut membelai pipinya disana.
Meski Mawar masih ragu,tapi dia harus membuang rasa takutnya,ia harus percaya dengan ucapan Azam.
Mawar yakin Azam akan mempertanggung jawabkan ucapnnya.
Lelaki itu bahkan sudah memohon beberapa kali kepadanya,meminta dirinya menikah padahal baru meresmikan hubungan tadi.
*A*pa keputusanku benar...?
Dalam pelukan itu Mawar diam memikirkan keputusannya,bagaimana jika keputusannya salah?
Tapi jika mau di fikirkan lagi,saat ini posisinya tidak bisa menolak Azam,dirinya entah bagaimana merasa sudah terikat dengan Azam.
Laki-laki itu berhasil membuat dirinya terjerat dengan sempurna,Azam memaksa tapi seperti tidak memaksa.
Ia sangat pintar dalam mengekang Mawar disisinya,menekan Mawar agar merasa dicintai meskipun belum sepenuhnya Mawar mencintainya.
"Sekarang kamu masuklah,udaranya sangat dingin malam ini...",ucap Azam sembari merapikan anak rambut Mawar yang berjatuhan.
"Tiga hari ini aku mungkin sangat sibuk,jadi tidak bisa bertemu denganmu...jadi jangan nakal-nakal dan kabari aku jika membutuhkan sesuatu",tambahnya lagi.
"Baiklah...aku juga akan sibuk karena pembukaan toko baru"
"Anak pintar ...kalau begitu aku pulang dulu..."
Sebelum pergi Azam mencium bibir Mawar sebentar disana,kemudian mencium kening Mawar dan langsung masuk kedalam mobilnya.
Ia melambaikam tangan saat mobil Azam berjalan.
Dirinya masih berdiri diam melihat mobil kekasihnya yang mulai menjauh itu.
Menghembuskan nafas beratnya kemudian berniat masuk kedalam rumah sebelum dirinya mendengar seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
"Mawar...?"