
Mawar segera turun ke lantai satu dengan terburu-buru saat mendengar suara klakson mobil.
*A*h..kacau...!
Ia bahkan belum selesai membereskan lantai dua yang berantakan!
Tidak mungkin ia bisa menyelesaikannya dalam waktu lima menit,apalagi keadaannya benar-benar kacau.
Banyak pecahan piring dan gelas yang berhamburan disana.
Ia membuka pintu toko dan melihat ketiga lelaki itu keluar dari mobil.
Matanya langsung tertuju pada Akins yang sedang berlari ke arahnya sembari tersenyum gembira.
Lain halnya dengan Azam dan Azka yang berjalan dengan gaya coolnya.
"Tannte...Akins lindu sekali sama tante..",ucapnya.
Mawar tersenyum dengan senangnya,setiap bertemu Akins... pasti kata itu yang akan ia lontarkan,membuatnya bisa menghafal hal tersebut.
"Tante juga kangen sama Akins..."
Ia menggendong anak kecil itu dan membawanya masuk ke dalam toko,begitu juga dengan Azam dan Azka yang mengikutinya dari belakang.
Pintu tetap ia buka lebar-lebar,ia tak mau seseorang akan salah faham nantinya.
Bagaiaman juga Azam adalah duda,membawa kedua anaknya ke toko yang sedang tutup bisa membuat orang lain berfikir lain.
"Silahkan duduk tuan...",ucapnya mempersilahkan Azam untuk duduk.
"Apa tokomu tutup..?"
"Iya...hari ini saya tidak buka "
Ia ikut duduk dengan Akins di sisinya,bersebrangan dengan Azam dan Azka.
"Kenapa tutup tante...? padahal Akins mau beli kue yang banyak..."
"Tante ada urusan ,jadi tante belum bisa buka.."
Mawar sedikit merasa bersalah melihat raut wajah Akins yang cemberut itu.
"Apa itu ulusan yang membuat tante menangis...?",katanya.
Mendengar itu Mawar sangat terkejut,apa Akins menyadari kalau ia habis menangis?
Padahal ia sudah membasuh mukanya dan menutupinya dengan bedak.
Mawar masih diam mematung ,ia bingung harus berkata apa.
Tanpa disadarinya Azka dan Azam juga menatapnya dengan intens,ketiga lelaki itu sepertinya benar-benar peka terhadapnya.
"Si..siapa yang menangis...tante tidak menangis kok..."
"Mawar..."
Mawar dikejutkan dengan suara Azam yang tiba-tiba memanggilnya dengan nada tekanan disana.
Ia menengok dan melihat Azam yang berwajah dingin seperti biasanya sedang menatap dirinya lekat.
__ADS_1
"Ya tuan.."
Kenapa juga ia terlihat sangat marah..? bahkan ia berbicara dengan bahasa santai...
"Berhenti memanggilku tuan dan berbicara formal padaku,kau boleh memanggilku Azam.."
Mawar menelan ludahnya kasar,aura Azam benar-benar menakutkan,ia bahkan merasa terintimidasi.
Lihat saja cara duduknya,ia seperti bos besar yang sangat berkuasa.
"A..apa..?",jawabnya mencoba menggunakan bahasa yang lebih santai.
"Kenapa kau menangis...?"
Astaga...! Mawar kelimpungan sendiri mendengarnya,bagaimana bisa Azam langsung menanyakan hal itu padanya?
Ia gusar saat ditatap ketiga lelaki di ruangan itu,apa yang harus ia jawab?
"Ini bukan apa-apa.."
Akhirnya ia hanya bisa menjawab seperti itu dengan nada lirih,Mawar juga menundukan kepalanya tak berani menatap mata Azam.
Ia tidak mungkin berkata jujur pada Azam ,apalagi ada kedua anak-anak disini.
Ia tak mungkin memberitahukan alasan ia menangis gara-gara suaminya selingkuh.
Mawar melirik Azam yang masih menatapnya dengan menyilangkan tangannya.
Setelah beberapa menit terdengar hembusan berat dari pria itu.
"Kalian naiklah..ada yang ingin Ayah katakan dengan tante Mawar.."
Mawar diam membisu saat kini dirinya tengah berhadapan dengan Azam saja,ia bahkan meremas bajunya di bawah sana.
"Jujurlah padaku...aku akan mendengarkan semuanya..."
Lama Mawar menjawabnya,ia bahkan terlihat menggigit bibir bawahnya saja.
"Kamu bisa menceritakan semuanya padaku..aku akan membantumu sebisaku,jadi jangan sungkan jika kamu sedang dalam masalah.."
"Kenapa kamu mau membantuku...?",ucapnya dengan nada lirih.
Azam menatap wanita yang sedang gundah itu,ia bisa melihat Mawar *******-***** bajunya,Mawar bahkan berkata tanpa menatapanya,wanita itu sedari tadi hanya menunduk saja.
"Karena kamu wanita yang disukai anak-anak saya.."
*J*uga wanita yang aku sukai...
"Anggap saja ini adalah balas budi karena kamu sudah membuat anakku senang..."
Mawar mencoba menatap mata Azam,pandangan mereka bertemu begitu lama.
Azam bisa melihat bahwa Mawar sebentar lagi akan menangis,ia ingin sekali berlari dan menanyakan berbagai hal padanya namun ia tak bisa.
Dan benar saja,isakan kecil mulai terdengar dari mulutnya.
"Apa kamu benar-benar akan membantuku...?"
Azam mengangguk memastikan,sepertinya wanita di depannya ini belum percaya sepenuhnya padanya.
__ADS_1
Mawar menghembuskan nafas beratnya,kini tatapannya berubah tajam saat melihat Azam.
"Bisakah kau membantuku agar aku bisa bercerai dengan Mas Adi..suamiku...?"
Deg...!!
Azam memantung mendengar itu,ia bahkan sampai melotot mendengar itu.
*A*pa yang aku dengar tidak salah..?!
"Apa yang kau katakan...?"
"Aku ingi bercerai dengan suamiku..."
Azam berdiri dari duduknya sembari mengusap kasar wajahnya,ia merasa senang dan juga sedih secara bersamaan.
Ia tak akan munafik..ia senang karena wanita yang ia sukai akan bercerai dengan suaminya.
Namun disisi lain ia merasa sedih melihat keadaan Mawar yang seperti itu.
Setelah ia bisa mengontrol perasaannya,Azam kembil duduk lagi.
"Kenapa...? apa alasannya..?"
"Dia...Mas Adi sudah selingkuh dariku...dan sekarang bahkan istrinya sudah hamil...",terangnya dengan nada bergetar.
Setelah itu Mawar menangis dengan menutup mulutnya,membuka pembicaraan itu membuat luka dihatinya terbuka kembali.
"Brengs***k....!!!"
Azam sangat marah mendengar itu,bagaimana Adi memperlakukan Mawar dengan kejamnya..?kalau tahu begini harusnya dari dulu ia merebut Mawar.
Azam meninju tembok dengan kerasnya,selama ini ia sudah menahan diri karena Mawar terlihat bahagia dengan suaminya.
Namun mendengar apa yang Mawar katakan tadi membuatnya tidak bisa menahannya lagi.
"Jelaskan semuanya padaku...",ucapnya dengan tegas.
"Semua yang kau alami ...aku akan membantumu bercerai dengan suamimu itu.."
Dan akhirnya Mawar menceritakan semuanya,tentang bagaimana awal berselisih dengan mertuanya.
Bagiamana mertuanya itu menyiksanya sampai akhirnya ia mengetahui kalau suaminya selingkuh.
Azam mengeratkan giginya menahan amarah,sungguh ia ingin pergi dan langsung memukul Adi dan memberi pelajaran pada Bu Winar.
Namun ia urungkan,ada yang lebih penting disini,didepannya masih ada wanita yang sedang menangis.
Ia tak menyangka bahwa Mawar sudah sangat menderita selama ini.
Azam mendekat dan duduk disamping Mawar,ia melihat Mawar yang masih menahan tangisannya.
Ia sangat ingin memeluk wanita didepannya ini dengan erat dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja,namun ia belum punya hak untuk itu.
Kemudian tangannya terulur menepuk pundak Mawar dengan pelan,hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Aku akan membantumu...segalanya...segalanya akan kulakukan untukmu..",ucapnya.
Azam sudah bertekad,ia akan memisahkan Adi dan Mawar bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Selama ini ia sudah membiarkan Mawar menderita, dan kali ini ia tak bisa diam saja,ia akan berusaha semaksimal mungkin agar Mawar bisa berada disisinya dan membuatnya bahagia.