Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
S2 Lagi


__ADS_3

"Apa yang kau katakan....!!",dicengkramnya jas putih milik Dafa dengan sangat erat.


Azam menekan lelaki itu dengan sangat keras membuat dokter yang masih didalam ruangan keluar melihat kegaduhan apa yang tengah terjadi.


Namun tak satupun yang berani melerai kedua orang tersebut.


Baik Azam maupun Dafa dua-duanya adalah atasan mereka,sang pemilik rumah sakit ini.


Dafa hanya bisa pasrah saat Azam mendorong dan menekannya didepan pintu,saat ini dirinya juga masih merasa sedih dengan apa yang terjadi.


Bug...!


Sebuah pukulan mendarat diwajah Azam dengan keras membuat lelaki itu melepaskan cengkramannya dan menjauh dari Dafa.


"Sadarlah Azam...ini bukan saatnya kau marah",ucap Charle.


Azam menyeka darah yang keluar dari bibirnya,kemudian sebuah senyum terbit dari wajahnya.


Meskipun begitu siapapun tahu Azam tengah menangis,lelaki itu terkekeh beberapa kali kemudian berganti menjadi tangisan pilu.


Semua orang hanya bisa diam dan saling menunduk ikut merasa sedih.


Kebanyakan orang dalam koridor ini adalah lelaki yang tak tahu caranya untuk menghibur,meski ada beberapa perawat yang berada disana tapi mereka juga tidak tahu harus berbuat apa.


Suasana yang tadinya hening kini berubah menjadi berisik karena teriakan Azam.


"Aaarghhh....!!! Mawar....Mawarr...!!!"


Lelaki itu berteriak meraung seperti singa,Azam benar-benar kehilangan Mawar.


Azam mencoba berdiri masuk kedalam ruang operasi meski dengan langkah yang sempoyongan.


Charle dan Dafa hanya bisa mengikutinya dari arah belakang,mereka berdua tak ada yang membuka suara saat melihat lelaki itu besipuh dibawah brangkar dimana Mawar terbaring pucat.


Bau anestesi sangat terasa kental disana,peralatan bekas operasi yang masih ada disana dan Mawar yang diam tak merespon panggilan Azam sungguh pemandangan yang sangat memilukan.


Charle mengepalkan tangannya menahan semua gejolak saat melihat wanita yang ia cintai sudah tak bernyawa.


Kini Azam sedang memeluk tubuh Mawar sembari menangis pilu.


Berkali-kali lelaki itu memanggil nama Mawar berharap wanita itu mendengar suaranya dan bisa kembali lagi.


Tangannya yang bergetar hebat mengusap wajah yang penuh luka,ada bekas luka dimana-mana diwajah cantik Mawar.


Bibirnya yang mengering dan sobek akbibat kecelakaan ia usap dengan lembut.

__ADS_1


"Maafkan aku...maafkan aku karena tak bisa menjagamu...",ucapnya lirih didepan wajah wanita itu.


Beberapa detik dirinya masih dalam kedaan yang lama sampai akhirnya tiba-tiba Dafa mendorongnya cukup keras,membuat dirinya terpisah begitu saja dengan Mawar.


Azam yang emosinya masih belum stabil itu hendak memukul Dafa yang bertingkah menyebalkan.


Namun langkahnya terhenti saat melihat Dafa mengambil alat pacu jantung.


"Panggil dokter lain sekarang!"


Azam mematung saat melihat bagaimana Dafa menggunakan alat itu pada Mawar,dirinya masih belum tahu apa yang tengah terjadi.


Para dokter terlihat sibuk dengan alat-alatnya masing-masing mengerumuni Mawar yang masih menutup mata tersebut.


Sampai akhirnya terdengar sebuah nada beraturan di Holter monitor yang tersambung dengan tubuh Mawar.


(Monitor Holter adalah alat medis yang merekam ritme jantung secara terus-menerus)


"Maaf tuan...kami harap anda keluar terlebih dahulu",ucap salah satu perawat yang ada disana.


Azam keluar dengan menurut,lelaki itu diam tanpa melawan sedikitpun.


Tatapannya yang kosong itu kembali saat mendengar suara pintu operasi yang tertutup kembali.


Namun pertannyaanya tidak dijawab oleh lelaki itu,karena Charle juga masih bingung dengan apa yang tengah terjadi.


"Ma...Mawar masih hidup....Mawar masih hidup!",Azam tertawa sembari merapalkan doa.


Dirinya sangat bersyukur saat tahu bahwa Mawar masih memiliki sebuah kesempatan untuk kembali.


Suasana yang tadinya sangat pilu itu kini berubah menjadi sedikit menenangkan.


Kedua lelaki itu menuggu dengan setia didepan ruang operasi.


Tak lama kemudian terdengar suara Anya dan Bella yang berjalan menghampiri Charle dan juga Azam.


Meski sedikit terkejut saat melihat kak Azam ada disana,Namun Anya tidak bertanya apapun.


Gadis itu langsung menghampiri Charle dan bertanya apa yang telah terjadi.


Anya terduduk lemas saat mengetahui mba'nya sekarang sedang dioperasi.


Hari ini dirinya ada acara di tempat sekolah,dan saat mendengar kabar dari kakak Bella bahwa mba'nya mengalami kecelakaan dirinya langsung menghampiri rumah sakit.


Bella yang sama terkejutnya juga diam tak tahu harus bagaimana,saat mendengar kabar dari Charle dirinya juga langsung datang ke rumah sakit dan membatalkan acara pentingnya.

__ADS_1


Meski tak tahu kenapa partner kerjanya Azam ada disini,tapi Bella memilih diam dan akan bertanya nanti apa hubungan Azam dengan kecelakaan Mawar.


Lama mereka menunggu didepan ruang operasi dengan jalan fikiran masing-masing,sampai akhirnya suara pintu terbuka membuat perhatian mereka teralihkan.


Disana terlihat Dafa yang keluar sembari mengelap kacamatanya.


"Ba...bagaimana...?!",tanya Azam langsung menghampiri lelaki tersebut.


"Untuk saat ini operasinya berjalan lancar...tapi..",ucapnya menggantung.


"Tapi apa...!" tanya Anya menerobos.


Dafa menatap wajah Anya yang terlihat sangat khawatir,wajahnya yang memerah akibat menahan tangis itu juga sangat jelas terlihat.


"Kita harus menunggu tiga hari...jika dalam tiga hari Mawar tidak sadar maka..kemungkinan dia bisa saja koma...",ucapnya lamat-lamat.


Anya yang sedari tadi menahan tangisannya kini sudah tidak bisa dibendung lagi.


Wanita itu ambruk dan menangis disana.


Azam yang mendengar itu mengusap wajahnya kasar,Mawar belum masih dalam keadaan kritis!


Azam tidak tahu harus senang atau sedih sekarang,Mawar masih hidup tapi juga dalam keadaan yang tak memungkinkan.


Wanita itu bisa saja tidur untuk waktu yang lama ataupun kehilangan nyawanya kapanpun.


"Apa tidak ada cara lain?",tanya Charle.


"Sayangnya tidak...kita hanya perlu menunggu Mawar sadar...semua tergantung pada Mawar dan keberuntungan...jika dia masih mempunyai tekad untuk hidup maka kemungkinan besar dia bisa cepat sadar...tapi jika tidak...",Dafa menghentikan ucapannya.


Meskipun begitu semua orang yang ada disana tahu apa yang ingin diucapkan dokter muda itu.


Hidup Mawar bergantung pada keinginan wanita itu,jika keberuntungan ada dipihak Mawar dan wanita itu memiliki tekad untuk kembali,kemungkinan Mawar akan sadar dengan cepat.


Tapi apakah Mawar benar-benar memiliki tekad untuk kembali?setelah semua yang ia lalui didunia ini.


Wanita itu tidak pernah bahagia ...Mawar selalu berusaha membuat orang yang disekitarnya bahagia meski dirinya selalu tersakiti.


Seperti bunga Mawar yang indah dan menyenangkan,tapi nyatanya tubuh wanita itu penuh dengan duri.


Dan yang paling tahu soal itu adalah Anya dan Dafa..mereka tahu luka apa yang dialami wanita itu selama hidupnya.


Bahkan sampai sekarang Mawar masih mempertatuhkan nyawanya untuk orang lain.


Bukankah takdir wanita itu tidak adil? kenapa Mawar selalu berakhir menyedihkan seperti ini setelah merasakan sedikit kebahagiaan dihidupnya?

__ADS_1


__ADS_2