
Mawar menyeka keringat yang bercucuran deras di dahinya,siang ini terasa begitu panas.
Wajar saja,cuaca di Jogja dan di Jakarta tentu berbeda,Mawar dan Anya bahkan membeli minuman dingin di pinggir jalan karena merasa kehausan.
Mereka berdua sedang berkeliling melihat toko-toko yang akan mereka sewa,sudah tiga toko mereka hinggapi namun belum ada yang cocok.
Ada saja alasan yang membuat mereka memilih undur diri dan mencari toko lain lagi,keadaan toko-toko sebelumnya memang sangat bagus tapi kebanyakan harga sewanya terlalu tinggi,dan Mawar tidak bisa mengambilnya.
Modal mereka hanya sedikit,Mawar hanya ingin memiliki toko kecil-kecilan terlebih dahulu,yang terpenting usahanya berjalan lancar.
Mawar juga sebisa mungkin mencari di tempat yang strategis,tapi masih dekat dengan rumahnya agar tak memakan biaya transportasi juga,mereka sudah sepakat akan berangkat bersama menggunakan sepeda othel milik Anya.
Setelah mencari hingga sore hari akhirnya mereka menemukan sebuah ruko dua lantai yang sesuai kriteria.
Pemilik ruko memberikan harga murah karena katanya sedang sangat membutuhkan uang cepat,Mawar merasa senang sekali,bukankah ini sebuah rezeki?
Bangunan ruko yang masih bagus membuatnya tak perlu banyak mendekor banyak hal lagi,tempat yang strategis juga tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Karena ruko itu ada dua lantai jadi Mawar akan menggunakan lantai satu sebagai toko dan lantai dua sebagai tempat istirahat sementara.
"Waah..ini keberuntungan kita mba..",Anya dan Mawar sedang berkeliling didalam ruko tersebut.
Di lantai dua terlihat ada sebuah sofa panjang yang sedikit usang tapi masih bisa dipakai.
"Iya..kita sangat beruntung,besok kita mulai belanja keperluan toko,jadi sekarang kita pulang dulu,sudah sore juga .."
"Iya mba..aku juga udah laper..",katanya cengengesan.
Karena saking semangatnya mencari toko mereka bahkan sampai lupa makan siang.
"Baiklah..nanti makan di rumah mba saja,kita makan sama-sama"
"Memangnya nenek lampir nggak di rumah ya mba..?",mendengar Anya menyebut mertuanya nenek lampir membuat Mawar terkejut sekaligus menahan tawa.
"Huss..nggak boleh begitu"
"Hehe..habisnya aku sebel sama dia.."
Mawar tahu,karena hal yang menimpanya Anya pasti akan membenci Bu Winar,sebenarnya ia juga sama,namun Mawar lebih memilih diam ,ia juga tak ada niat balas dendam,biarlah takdir yang akan membimbingnya saja,bukankah kebaikan pasti akan di balas kebaikan?
"Nggak kok..Bu Winar nggak pulang ,mungkin jarang pulang juga"
__ADS_1
"Kenapa ?"
"Katanya nginep di tempat temennya dulu di Jogja"
Anya hanya mengangguk saja,ia juga tak tertarik dengan kehidupan nenek lampir itu.
Setelah itu mereka pulang menggunakan angkutan umum lagi,karena masih belum kenal dengan keadaan dan jalan di jakarta jadi untuk awalan mereka menggunakan angkutan umum.
Setelah sampai rumah mereka langsung makan berdua,Mas Adi juga belum pulang kerja.
Hingga petang Anya baru pulang ke rumahnya,tentu saja mereka berdua banyak membicarakan rencana untuk besok dan kedepannya.
Mawar memilih mandi dan segera merebahkan tubuhnya ke ranjang berukuran sedang itu.
"Ukkhh..."
Ternyata berkeliling membuat badannya sangat letih,kakinya juga mulai terasa pegal-pegal.
Mawar beranjak mengambil sebuah krim pijat kemudian ia gosokan ke kakinya ,rasanya sedih juga melakukan hal seperti itu sendiri.
Meskipun hal seperti itu sudah biasa baginya,merawat diri sendiri saat sakit sejak kecil.
Mawar pernah berfikir jika suatu saat nanti ada seseorang yang bisa lebih memperhatikannya dan memperlakukannya bagai putri bak di dunia dongeng.
Ia terbiasa melakukan semuanya sendiri,saat ada masalah dalam keuanganpun ia memilih tak menuntut suami,sebisa mungkin ia akan membantu Mas Adi sesuai dengan kemampuannya.
Cinta Mas Adi juga sangat cukup baginya,bagi Mawar merasa dicintai dan memiliki keluarga kecil yang bahagia adalah mimpinya.
Meskipun Mas Adi mencintainya namun karena pekerjaan Mawar merasa kurang di perhatikan ,sampai-sampai ia terbiasa dengan perasaan ini.
Memang menyedihkan,memikirkan perlakuan Mas Adi yang seperti itu,ia selalu mendukung kerjaan Mas Adi tapi suaminya itu malah sebaliknya,Mas Adi tak pernah mengijinkannya kerja di kantoran.
Saat ia buka toko Mas Adi juga jarang menanyakan perihal usahanya,tentang bagaimana keuangan atau keadaannya,yaahh..ia ingin di perhatikan dengan hal-hal kecil seperti itu.
Suaminya memang sering membisikan kata cinta dan juga kata-kata romantis,namun untuk perlakuan sepertinya Mawar tidak bisa merasakannya.
Saat tokonya terbakar pun Mas Adi tak pernah mengungkit lagi tentang usahanya itu.
Mawar menghembuskan nafas beratnya,ia menepuk-nepuk wajahnya sendiri.
"Aku harus sadar..aku tidak boleh manja seperti ini..",katanya.
__ADS_1
Sudah syukur Mas Adi mau menikahi orang sepertinya,seorang gadis yang tak jelas asal-usulnya yang bahkan tak memiliki keluarga.
Berfikir seperti itu membuat Mawar tertawa sendiri.
*I*yaya..benar Bu Winar..aku seseorang yang tak punya keluarga ini sangat bersyukur memiliki keluarga dan suami seperti Mas Adi..
Tak ingin berfikir yang tidak-tidak lebih jauh lagi,Mawar memilih tidur sebentar dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut.
Ia harus mengumpulkan tenaga untuk besok lagi,toh nanti juga pasti ia akan terbangun saat Mas Adi pulang.
***
Ceklek...
Adi membuka pintu kamar ,dilihatnya Mawar yang sudah tertidur pulas di atas ranjang.
Tanpa melepas sepatu dan pakaiannya Adi langsung naik ke ranjang dan merebahkan badannya di samping Mawar.
Matanya menatap wajah Mawar yang masih tertidur itu,lama Adi berada dalam posisi seperti itu ,entah apa yang ada di fikirannya.
Siang tadi Adi mampir ke rumah teman rekan kerjanya,karena mereka di tugaskan melakukan kerja bersama.
Temannya itu sama sepertinya,sudah memiliki istri dan menikah selama dua tahun lebih,bahkan sama-sama baru di pindahkan ke Jakarta.
Namun bedannya temannya itu dari orang yang lebih berada,ia juga sudah memiliki anak laki-laki dan sekarang istrinya sedang mengandung anak ke dua.
"Andai kita bisa seperti itu...",katanya lirih.
Perkataan mamanya bukan tak pernah ia fikirkan,ia juga sangat ingin memiliki anak dari darahnya sendiri,namun mengingat keadaan Mawar sepertinya tidak bisa,sehingga ia pernah menawarkan akan mengadopsi anak.
Namun sering kali Adi kehilangan keteguhannya ,ia masih ragu untuk mengadopsi anak,padahal sekarang waktu yang pas untuk membicarakan itu.
Keuangannya sudah stabil,dan gajinya juga sudah banyak,namun entah mengapa setiap ia ingin membicarakan hal ini dengan Mawar hatinya goyah.
Ada sedikit rasa ragu dan tak mau dari lubuk hatinya yang terdalam.
Ia tak mau merawat anak orang lain...
...~~~...
...Terimakasih sudah mampir dan baca novelku🤗...
__ADS_1
...Jangan lupa klik favorite dan dukung author terus⚘...
...Aku sayang kaliaaaann...😘😘😘...