
Sudah empat hari lamanya sejak Mawar sakit,kini dirinya sudah bisa beraktifitas seperti biasanya.
Mawar sedang menyapu halaman depan rumahnya,semenjak ia sakit tak ada yang membersihkan rumah.
Teras sangat kotor,cucian baju dan piring menumpuk,bahkan halaman depan penuh dengan daun kering yang menumpuk,bunga-bunga yang ia rawat juga banyak yang kering dan hampir mati.
Dak ada yang mengerjakan pekerjaan itu di rumah,suaminya Mas Adi akhir-akhir ini sangat sibuk,bahkan seringkali lembur hingga malam.
Dan mama mertuanya? jangan ditanya lagi,Bu Winar tak akan mau melakukan semua pekerjaan itu.
Meski kadang Mas Adi meminta Bu Winar untuk melakukan pekerjaan rumah,namun Bu Winar selalu beralasan tidak enak badan atau sekedar ada urusan arisan.
Dan tentu saja Adi tidak akan memaksa mama'nya itu,dia adalah anak yang sangat berbakti dan sayang kepada ibunya.
Pagi ini terasa berbeda dari biasanya,lingkungan sekitar rumahnya terasa lebih sepi daripada biasanya.
Para tetangganya sedang pergi mengikuti kondangan di desa sebelah,anak-anak komplek juga sudah pergi ke sekolah.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya,Mawar bergegas masuk ke rumah,ia berniat pergi ke tokonya.
Sudah lima hari ia tidak datang ke toko roti miliknya,dan Mawar juga rindu dengan Anya pegawainya yang sudah ia anggap sebagai teman dan adik baginya.
Baru saja ia menenteng tas dan membuka pintu depan,Mawar dikagetkan dengan adanya mertuanya yang juga hendak masuk ke dalam rumah.
"Mau kemana kamu..",Bu Winar menelisik diri Mawar dengan matanya,melihat dari ujung kaki hingga kepala.
"Mawar mau ke toko ma..",ucapnya ,entah mengapa Mawar sekarang sangat takut dengan mertuanya itu.
Bu Winar hanya melihat Mawar yang sedang menunduk,kemudian langsung ia melenggang masuk ,menabrak tubuh Mawar yang masih di ambang pintu hingga Mawar tergeser dengan kasar.
Mawar hanya diam saja,ia tak mau memperdulikan perbuatan mertuanya itu,ia langsung melangkah pergi,yang terpenting jangan membuat masalah dengan mertuanya dulu,begitu pikirnya.
Namun semua tak sejalan dengan keinginannya,suara Bu Winar yang memanggilnya terpaksa membuat langkahnya terhenti.
Karena tak mungkin ia langsung berlari saat mertuanya memanggilnya bukan?
"Hei kamu...!",Bu Winar melambaikan tangannya memanggil Mawar
"I..iiya ma..",dengan takut-takut Mawar kembali dan mendekat ke tempat Bu Winar yang sedang duduk di sofa rumah.
__ADS_1
"Sini tas kamu..",ucapnya dengan mengulurkan tangannya.
"Buat apa ma..tas Winar tidak ada apa-apanya",dia menggenggam tali tas'nya erat-erat,di dalam tas itu terdapat uang toko yang akan digunakannya untuk membeli bahan nanti.
"Hei ..! kamu mau membangkang ya..!! ",Bu Winar langsung menarik tas itu tanpa ijin dari Mawar.
"Maaahh..",Mawar langsung saja berniat mengambil kembali tasnya,namun dirinya terjatuh saat mertuanya berdiri dan mendorongnya.
"Sekarang kamu berani ya sama mama..!! mama tahu kamu punya uang banyak kan! kamu nggak mau berbagi sama mama ya..!!"
"Huh..kenapa juga Adi menikah sama cewek pelit kayak kamu,sekarang sifat aslinya keluar juga kan!",tambahnya.
"Enggak ma..bukan begitu..itu uang pokok untuk belanja bahan roti",Mawar mencoba berdiri dan hendak menghampiri mertuanya itu.
"Aalllaahhh...jangan buat alesan deh,mama tahu toko kamu tuh sekarang lagi rame,pasti banyak kan untungnya"
Mawar geleng-geleng kepala,ia sudah ingin menangis ,dilihatnya mertuanya yang membuka tasnya dengan kasar lalu mengambil semua uang yang ada di dompetnya.
"Apa ini hah!! ,selama ini kamu bilang nggak punya uang ,terus ini apa!!",Bu Winar membuang tas Mawar ke sembarang arah,lalu menjambak rambut Mawar dengan sangat keras.
"Aaww!!..mah..jangan gini ma..sakit..!",wajah Mawar memerah,dirinya sudah menangis kesakitan,bahkan urat di dahinya sampai terlihat.
"Uang segini aja di umpet-umpetin! huh..!! harusnya kamu tuh bersyukur punya suami yang udah kerja,rumah juga nggak ngontrak...anak yatim tuh banyak yang hidup gelandangan..kalo kamu masih mau tinggal disini kamu harus berguna dong..!!"
Mawar menangis sesgukan,ia meremas rok yang ia kenakan,rasanya sakit sekali di perlakukan oleh seseorang yang sangat ia hormati,bahkan Mawar sudah menganggap mertuanya itu sebagai ibu kandungnya.
Memang apa salahnya ia terlahir jadi anak panti? ia juga tak ingin hidupnya seperti itu,ia juga sangat mensyukuri kehidupannya sekarang.
Sikap Bu Winar yang berbanding terbalik sungguh membuatnya hancur,Bu Winar yang dulunya halus dan penuh perhatian sekarang suka menyiksa dan mencemoohnya.
Menyebutnya sebagai wanita yang mandul,tak berguna,yatim dan sebagainya,bahkan akhir-akhir ini Bu Winar selalu meminta uang dan menyuruhnya bekerja keras hampir setiap hari.
Seperti kemarin saat Mawar sedang sakit,Bu Winar selalu memerintahkannya untuk memijatnya atau sekedar mencuci piring sebisanya.
Ia tak mau melakukan pekerjaan rumah sedikitpun,untuk makan pun Bu Winar selalu meminta Mawar yang memasaknya,dan akan berbohong pada Adi kalau dirinyalah yang melakukan itu semua.
Sebagai seorang manusia tentu kesabaran Mawar ada batasannya,ia sungguh tidak kuat tinggal bersama mertuanya,ia ingin pergi saja dari rumah itu.Namun ia tak bisa..ada tali yang mengikatnya kuat,yaitu Mas Adi suaminya.
"Awas nanti kalau kamu ngadu sama Adi..!! kalau itu terjadi kamu cerai saja sama dia..mama juga nggak butuh memantu yang nggak bisa kasih keturunan,biar Adi menikah lagi sama anak temen mama..!!"
__ADS_1
Setelah mengatakan itu Bu Winar keluar sembari membanting pintu meninggalkan Mawar yang menangis disana.
"Mas..aku udah nggak kuat lagi...",ia sungguh ingin berbicara pada suaminya,namun ia takut Mas Adi tidak percaya dan akan menceraikannya.
Setelah beberapa saat Mawar mencoba menabahkan diri,dirinya langsung mencuci muka ,ia tak mau terlihat sembab dan berantakan saat ke toko nanti.
Setelah itu Mawar mengambil tas'nya yang teronggok dilantai dan melanjutkan niatnya pergi ke toko,meskipun tanpa uang sepeserpun di dompetnya.
Sepanjang perjalan Mawar melamun ,ia memikirkan kehidupannya kini yang tak bahagia.
Di raihnya telfon yang ada di sakunya,ia berniat menelfon Mas Adi sekedar mendengar suaranya untuk menenangkan hati dan pikirannya yang lelah.
*T*uuuttt...tuuuuttt...
Lama telfon itu menyambung,namun Mas Adinya belum juga mengangkatnya.
*A*pa Mas Adi sibuk?
Mawar mencoba menelfon lagi,setelah beberapa saat akhirnya telfon itu diangkat.
"Hallo mas..."
"*H*allo sayang..nanti dulu ya,mas sangat sibuk,nanti mas telfon lagi"
*P*ik...
Telfon itu langsung dimatikan,bahkan Mawar belum sempat berbicara.
Ia menghela nafas berat,kali ini tak ada Mas Adi lagi yang bisa mendengarnya bahkan sekedar menghiburnya.
Mawar harus jadi istri yang pengertian,ia tak boleh menuntut dan mengerti keadaan suami,itu adalah pikiran yang selalu ia tanamkan pada dirinya sendiri.
Akhirnya Mawar melanjutkan langkahnya ke toko dengan berbagai beban yang ada di fikirannya.
...~~~...
...Terimaksih sudah mampir dan mau membaca...
...Aku sayang kalian🤗🤗...
__ADS_1