
Mawar mencoba membuka matanya yang terasa berat itu,ia berdiam menatap atap kamar.
Memikirkan hal yang telah terjadi sebelumnya membuatnya merasa sesak,tanpa terasa air matanya jatuh lagi.
Lama ia berada dalam keadaan seperti itu,hingga akhirnya ia tersadar bahwa dirinya kini sudah berbaring diatas ranjang.
Tubuhnyapun sudah terselimuti.
*A*pa Mas Mas Adi yang melakukan ini..?
Karena lelah menangis ia sampai tertidur dilantai,dan tak sadar bahwa suaminya telah menggendongnya.
*S*uami...
Suami tang baru saja ia ajak bercerai
Meskipun Mas Adi tak mau menceraikannya ,tapi kini Mawar sudah membulatkan tekad,ia tak ingin membagi cintanya.
Hubungan yang dimilikinya dengan sang suami juga sudah tidak bisa diperbaiki lagi,dan tak mungkin mereka bisa saling mencintai seperti dulu kala.
Mawar beranjak membuka lemari,ia mengemas barang-barang yang ia bawa setelah menikah dengan Mas Adi,ia juga membawa barang yang ia beli sendiri.
Untuk baju dan barang lainnya yang notabenya dibelikan sang suami ia tinggal.
Meskipun tak banyak baju yang ia punya tapi tak apa,baju-baju itu adalah baju yang ia miliki sebelum menikah dan dari hasil keringat sendiri.
Ditaruhnya tas yang berisi baju itu di bawah ranjang,bersama dokumen penting yang sudah ia simpan dulu.
Suaminya tak akan curiga ,karena isi lemari masih utuh oleh baju-baju yang suaminya belikan.
Setelah ini ia akan mengecek keadaan dan membawa semua barangnya ke toko.
Di bukanya pintu kamar dengan lirih,Mawar menengok kanan kiri mencari keberadaan suaminya.
*S*epertinya Mas Adi tidak dirumah...
Dengan cepat ia mencoba membuka pintu utama,namun betapa terkejutnya Mawar karena pintu itu tidak bisa dibuka sama sekali.
"Apa Mas Adi yang menguncinya..?"
Segera ia kembali ke kamar hendak mengambil kunci cadangannya,namun tidak ada.
Ia mencari keseluruh tempat,tapi kuncinya tidak ada di manapun.
Mawar terduduk lemas ,sepertinya suaminya itu benar-benar sengaja mengurungnya di rumah.
"Apa aku harus minta tolong pada Dafa..?",satu-satunya orang yang dekat dengannya adalah Dafa,ia tak mungkin meminta bantuan Anya yang sedang sakit.
*T*idak..tidak...ia pasti sangat sibuk..
Mawar mencoba berfikir dengan keras,kira -kira siapa yang mampu menolongnya dalam keadaan ini.
Azam...
Sebenarnya fikirannya tertuju pada lelaki itu,namun dengan cepat ia menepis ide gilanya.
*T*idak mungkin kan ia mau membantu..
__ADS_1
Apalagi mereka tidak begitu dekat,meskipun mereka sering bertemu namun ia hanya dekat dengan anaknya Akins dan Azka.
Setiap bertemu'pun mereka hanya saling menyapa,sisanya hanya ada diam dan rasa canggung.
Mawar menghembuskan nafas beratnya ,yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu Mas Adi pulang dan memintanya untuk melepaskannya.
Setelah beberapa jam menunggu Mawar mendengar suara mobil suminya pulang.
Namun ia hanya diam saja tanpa menyapa sang suami.
"Mas pulang...!",katanya.
Mulutnya mencibir mendengar itu,saat suaminya membuka pintu kamar,Mawar tetap diam dan tak menengok sedikitpun.
Ia sangat enggan untuk melihat wajah sang suami,hatinya akan merasakan sakit lagi jika harus melihat wajah itu.
"Sayang...mas bawa makanan buat kamu",katanya.
Ia bisa merasakan suaminya duduk disampinyanya,tubuhnya meremang saat merasakan tangan sang suami memegang pundaknya.
"Jangan sentuh aku.."
Dengan cepat ia menepis tangan itu,kemudian menggeser tubuhnya agar sedikit menjauh.
"Mawar...!",ia sangat terkejut saat tiba-tiba Mas Adi menggenggam lengannya sedikit keras.
Ia meringis kesakitan karena merasa cengkraman sang suami semakin mengeras.
"Jangan sentuh aku mas..!"
"Kenapa..?kenapa hah...?! aku suami kamu..! aku berhak lakuin apa aja sama kamu...!!"
"Jangan..jangan mas...aku nggak sudi...!",ia mulai memberontak namun usahanya sia-sia saja.
"Kamu nggak boleh nolak suami..dosa...",ucapnya sembari memyeringai.
Kini Mawar sudah menangis dibawah kungkungan suaminya,Mas Adi menciumi lehernya dengan kasar disana.
"Jangan sentuh aku...!! aku risih sama kamu..!!",teriaknya berkali-kali,namun suaminya tak menggubrisnya.
"Aku jijik sama kamu mas...karena kamu sudah pernah tidur dengan selingkuhanmu itu..Rosi..!!"
Mendengar perkataan Mawar membuat pergerakannya berhenti,ia menatap Mawar dengan tajam,terlihat jelas suaminya itu sedang menahan amarah.
"Kenapa..? yang ku katakan memang benar..",ucapnya lagi mencoba memprofokasi,ia akan melakukan apapun demi terlepas dari suaminya itu.
"Aku nggak sudi deket sama kamu mas...apalagi disentuh sama tubuh kamu yang kotor...!"
Adi terlihat mengeram kemudian meloncat turun dari ranjang,kemudian berjalan dengan cepat dan keluar dari rumah sembari menggebrak pintu dengan kerasnya.
Ia juga mendengar suara mobil sang suami yang menjauh,sepertinya Mas Adi sudah pergi.
*P*asti ke tempat Rosi...
Mawar terduduk memeluk tubuhnya itu dengan menangis,ia bahkan sampai bergetar ketakutan.
Harusnya yang marah disini adalah dirinya,tapi kenapa selama ini Mas Adi yang marah-marah dan malah memojokan dirinya..?
__ADS_1
Suaminya yang sakarang sungguh berbeda dengan Mas Adi yang dulu ia kenal.
Mawar mengusap air matanya dengan kasar,kemudian dengan cepat ia mengeluarkan semua barang yang ia simpan dan membawanya keluar rumah.
Setelah taksi yang ia pesan datang,Mawar langsung memasukannya kedalam mobil dan meminta sang sopir untuk segera pergi menuju toko rotinya.
Sebelum pergi ia menatap rumah yang pernah ia tinggali itu dengan rasa sesak di dada.
Rumah yang pernah ia beri harapan bahwa hidupnya akan lebih baik setelah pindah ke Jakarta.
Namun nyatanya hubungan keluarganya bahkan sudah hancur berkeping-keping dengan datangnya orang ketiga.
Setelah sampai di toko ,Mawar langsung masuk dan merebahkan diri di lantai dua.
Ia berbaring di atas sofa usang yang selama ini ia tempati saat istirahat.
Disana masih sangat berantakan karena ulahnya.
Besok..besok ia harus membersihkannya karena Anya besok sudah bisa pulang.
Ia tak mau Anya melihat keadaan yang kacau ini.
Saat dirinya hendak memamkam mata ,tiba-tiba dering telefon berbunyi dengan kerasnya.
Dilihatnya nama Azam terpampang di layar hpnya.
Kenapa dia menghubungiku...?
Sebenarnya sangat berat untuk mengangkat telfon itu,rasanya sangat malas bahkan untuk membuka suara.
Meskipun enggan,tapi Mawar tetap mengangkat telfonya itu.
"Halo..."
"*H*alo Mawar..."
"Kenapa anda menelfon saya...?"
"Aku akan datang ke tokomu..."
"Apa..?!",ia terkejut bahkan sampai berdiri.
"Anak-anakku ingin bertemu dengan mu..",katanya dari sebrang sana.
*A*staga..!tapi toko sedang tutup..!
Ia ingin berteriak seperti itu,tapi ia tak bisa..
"Tunggu kami lima menit lagi,kami hampir sampai..itu saja..."
Tuuutt...
Setelah itu telefon itu langsung dimatikan
Apa dia gila...!bagaiamana bisa ada orang seperti itu..?!
Aku bahkan belum mengatakan bahwa hari ini tokonya tutup...!!
__ADS_1
Apalagi tak mungkin ia bertemu dengan mereka dalam keadaan berantakan seperti ini.