
Pagi ini Mawar hanya berdiam diri di rumah,ia tak berniat sama sekali membuka tokonya.
Anya juga sudah ia beri kabar,ia berbohong kalau ia ada urusan dengan suaminya.
Padahal ia hanya ingin menghindari anak itu,ia tak kuat jika harus menghadap Anya,mungkin ia akan langsung menangis dan menceritakan semuanya.
Namun Mawar memilih menjauh untuk sementara waktu,ia tak mau membuat Anya ikut kepikiran apalagi anak itu sedang sakit.
Tentu saja ia juga meminta pertolongan Dafa agar sesekali menjenguk Anya,meskipun sebenarnya ia merasa tak enak hati.
Hari ini biarlah ia menenangkah hati dan fikirannya.
Mawar memilih membeli sarapan lewat online,untuk memasakpun ia sangat malas.
Dirinya kini sedang duduk di atas ranjang sembari menatap foto pernikahan mereka berdua yang dipasang di atas meja kamar.
Disana ia dan Mas Adi tersenyum dengan bahagianya,itu adalah foto pertama mereka setelah menikah.
Ia mengenakan gaun putih saat itu bersama Mas Adi yang mengenakan kemeja hitam.
Senyumnya terpancar sangat indah,melihatnya saja ia bisa mengingat bagaimana rasa bahagianya saat itu,air matanya tanpa bisa dibendungpun mengalir lagi.
Saat ia masih dalam keadaan seperti itu,tiba-tiba Mawar mendengar sebuah suara mobil yang berhenti di halaman rumahnya.
Segera ia menghapus jejak air matanya.
*S*iapa...? apa Mas Adi pulang ..?
Mawar masih diam,kemudian tak berselang lama sebuah ketukan dari arah pintu utama terdengar.
"Sayang...! Mas pulang..!"
*T*ok..tok..tok...
Benar..ternyata suaminya sudah pulang,segera Mawar bercermin dan memberi mukanya dengan bedak kemudian mengoleskan lisptik tipis di binirnya.
Ia tak mau terlihat sembab dan pucat! sungguh Mawar tak ingin Mas Adi mengetahui bahwa dirinya sudah menangis semalaman.
Diraihnya gagang pintu dan di bukanya pintu itu,Mawar terdiam sejenak melihat wajah suaminya yang penuh senyuman.
Meskipun ada gurat kelelahan,namun wajah suaminya masih tersenyum dan terlihat sangat bahagia.
*P*asti karena kehamilan selingkuhannya itu...
"Kamu sudah pulang mas..?",ucapnya sembari pura-pura tersenyum.
"Iya..hari ini mas ijin kerja biar bisa seharian sama kamu..",katanya sembari melangkah maju hendak memeluk istrinya.
Namun dengan cepat Mawar langsung mundur satu langkah,menghindari pelukan sang suami.
Mengingat kejadian kemarin membuatnya merasa risih ,bahkan jika itu sebuah sentuhan kecil.
"Ayo masuk mas...aku bakal buat kopi dulu..",kilahnya,kemudian masuk kedalam dapur.
Tanpa rasa curiga Mas Adi langsung duduk saja di sofa sembari menyalakan tv.
Mawar langsung saja mengambil gelas ,kopi kemasan juga tremos.
__ADS_1
Ia menyeduhkan air itu dengan mata yang menatap lekat pada kopi yang sedang diaduknya begitu lama.
*A*pa aku beri saja sianida ya..
Diliriknya suaminya itu yang sedang tertawa menatap televisi dari celah gorden.
"Haha..ternyata aku sudah gila...",ucapnya lirih.
Gara-gara sering menonton acara tv di acara ikan terbang ,Mawar sampai memikirkan hal-hal aneh seperti itu.
Ia langsung membawakan kopi yang selesai ia buat ke ruang depan dimana suaminya berada.
"Ini mas kopinya..."
Tanpa disadari Adi,Mawar menatapnya lekat.
Ia hanya ingin melihat bagaimana sikap Mas Adi,suaminya itu sungguh bakat sekali dalam berakting di depannya.
Qalaupun sekarang ia juga sedang berakting,seperti tidak terjadi apa-apa setelah mengetahui suaminya selingkuh.
"Tapi mas ...hari ini aku ada acara kumpul sama ibu-ibu komplek,aku diundang ke acara arisan",bohongnya.
Mas Adi menatapnya ,kemudian terlihat menghembuskan nafasnya.
"Baiklah..kalau begitu Mas nengokin mama saja"
Mawar mengangguk dengan tersenyum palsu.
"Oh..apakah aku ikut Mas saja ya...? aku juga kangen sama mama,aku ijin deh sama bu Rt",ucapnya mencoba mengetes reaksi suaminya.
"Kamu nggak boleh gitu sayang..nggak enak sama Bu Rt,lagian kita juga warga baru disini..biar mas saja yang jenguk mama...",katanya sedikit kelabakan.
"Hehe..iyaya mas..baiklah aku akan siap-siap dulu",katanya sembari tersenyum kemudian masuk kedalam kamar.
Saat berbalik badan senyuman manis Mawar hilang,kini wajahnya terlihat datar.
Setelah ia sedikit berdandan Mawar langsung pamit ke Mas Adi,pengelabuhannya harus benar-benar sempurna.
"Aku pamit dulu ya mas...jangan lupa salam sama mama.."
"Mas anterin nggak..?"
"Nggak usah mas..aku berangkat sama Anya..",bohongnya lagi,padahal sih Anya sedang di rumah sakit.
Mawar langsung keluar tanpa mencium tangan suaminya seperti biasa.
Adi melongo melihat itu,tidak biasanya istrinya itu melewatkan cium tangan.
"Apa dia lupa..?",mungkin karena senang sudah dapat teman baru,pikirnya.
Tak jauh dari rumahnya,Mawar masih duduk di dalam taksi yang telah ia pesan.
Ia menunggu Mas Adi keluar dari rumahnya,perkirannya suaminya itu bakal langsung pergi setelah ia pergi.
Dan ternyata dugaanya benar lagi,suaminya itu terlihat langsung pergi membawa mobilnya.
"Jalan pak,tolong ikuti mobil itu ya...",ucapnya.
__ADS_1
Sang sopir mengangguk saja.
Sepanjang perjalanan Mawar tak pernah lepas menatap mobil sang suami,ia bahkan sampai menghafal rute jalan yang mereka lewati.
Sampai akhirnya Mas Adi berhenti di sebuah perumahan yang terdapat sebuah pohon rambutan di depannya.
Taksi yang ia tunggangi berhenti tak jauh namun cukup aman,jadi suaminya takan merasa curiga.
Tak berselang lama Mawar melihat mertuanya Bu Winar dan wanita yang ia lihat di rumah sakit keluar dari rumah.
Wanita itu menghambur ke pelukan suaminya Mas Adi.
Dengan cepat Mawar memotret dengan hp miliknya beberapa kali,kemudian ia memerintahkan sang supir untuk berjalan pergi.
Saat melewati suaminya disana,Mawar melihat Mas Adi yang tersenyum sembari mengelus-elus perut selingkuhannya itu.
Mas Adi terlihat sangat bahagia,tatapan Bu Winar juga terlihat sangat lembut pada wanita itu,sungguh mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Mawar menutup mulutnya dengan menangis,meskipun ia sudah berusaha teguh dan tak akan menangis lagi,namun pertahanannya roboh saat melihat adegan itu.
Adegan dimana sang suami mengelus perut wanita lain,yang kini sudah terdapat benih cinta dari mereka berdua.
Wanita mana yang tak sakit hati dan menangis dengan adegan seperti itu.
Setelah sedikit tenang Mawar meminta sang supir untuk mengantarnya pergi ke rumah sakit diman Anya berada.
Meskipun ia sedang sangat sedih namun ia tak boleh membiarkan Anya sendiri,ia tak mau menelantarkan Anya demi suami yang telah menghianatinya.
Ia tak boleh larut dalam kesedihan terus,setelah Anya sembuh nanti ia akan menceritakan semuanya pada Anya dan meminta saran pada adiknya itu.
Ia butuh tempat curhat dan bersandar disaat seperti ini.
Satu-satunya orang yang selalu ada saat ia jatuh hanya Anya.
Mungkin karena mereka merasakan pahitnya hidup tanpa orang tua sedari kecil,membuat mereka bisa saling memahami.
.
.
.
.
...Hai para pembaca tersayang...โบโบ...
...Maafin author karena cuma bisa up satu episode perhari..karena author juga sibuk di dunia nyata๐ป๐ป๐ป...
...Aku cuma bisa up juga dimalam hari setelah selesai kerja,jadi mohom dimaklumi ya..๐๐...
...Tetap baca novelku dan kasih author dukungan biar tetep semangat up'nya๐...
...Semoga novel yang aku buat bisa menghibur kalian......
...BTW ...novel ini aku buat karena terinspirasi oleh kisah nyata ,tapi nggak persis 100 persen,kebanyakan cuma kehaluan author aja kok๐...
...Terimakasih karena sudah baca dan dukung author sampai sekarang..aku sayang kalian..!๐ค...
__ADS_1