
Mawar sedang menghangatkan makanan yang baru ia keluarkan dari kulkas.
Pagi ini mereka makan-makanan yang Mawar masak kemarin malam,karena Mas Adi tidak memakannya jadi makanan itu Mawar hangatkan lagi.
Ada ikan nila asam manis dan juga sayur pokcoy,Mawar juga membuat segelas kopi susu untuk suaminya,kegiatan itu sudah terbiasa baginya.
Setelah itu Mawar juga mengantar kepergian Mas Adi sampai di depan pintu rumahnya.
"Nanti nggak usah masak buat makan malam lagi,sepertinya mas bakal makan di luar lagi..",katanya sebelum pergi.
"Iya mas..."
"Yaudah ...mas berangkat dulu",Mas Adi mencium keningnya seperti biasa.
Mawar melambaikan tangannya saat mobil suaminya mulai melenggang pergi.
Kebetulan sebelum masuk ada penjual sayur dengan gerobak lewat di depan rumahnya.
Tentu saja Mawar langsung mengambil dompet dalam kamarnya lalu bergabung dengan beberapa ibu-ibu yang sudah berbelanja disana.
"Eh..mba baru ya disini...",kata ibu-ibu disampingnya.
"Iya bu..saya baru pindah kesini sama suami",jawabnya sembari tersenyum ramah.
"Saya niatnya mau mampir kemarin-kemarin,tapi rumahnya kosong jadi nggak jadi deh.."ucap ibu-ibu di depannya.
"Oh maaf bu..memang kalau sudah siang rumah saya tinggal kerja"
"Oh pantes..kenalin saya Bu Widi,rumahnya tepat sebelah kanan kamu"
"Mawar..saya Mawar..maaf ya bu baru bisa nyapa,soalnya kerjaan saya banyak"
Mawar tak enak hati,saking semangatnya membuka toko baru ia lupa menyapa tetangga barunya.
"Iya nggak papa,santai saja..",sepertinya Bu Widi orang yang ramah.
"Saya Bu Diah,suami saya Rt disini,jadi kalau ada apa-apa laporin saja sama saya"
Mawar senang,sepertinya ibu-ibu di kompleknya ramah-ramah.
"Mba...?"
Mawar menoleh saat Anya memanggilnya,sepertinya gadis itu juga berniat membeli sayur.
"Kamu juga anak baru disini..?",tanya Bu Diah.
"Iya bu..kenalin Adik saya namanya Anya,di tinggal di sebelah saya.."
Mawar mengenalkan Anya pada ibu-ibu disana,suasana pagi itu sunggih sangat menyenangkan.
__ADS_1
"Oh iya...nanti malam ikut ya acara kumpul bersama di balai,nggak jauh kok tempatnya",ajak Bu Diah.
Mawar berfikir sebentar,sepertinya ia bisa ikut,hitung-hitung mengakrabkan diri dengan para tetangga baru.
"Baiklah bu..saya usahakan biar bisa datang..",ucapnya.
Setelah acara membeli sayur yang diselingi perkenalan diri itu selesai ,Mawar langsung beberes diri,ia harus segera bersiap untuk membuka toko dengan Anya.
***
"Sepertinya sudah ada pelanggan yang menunggu kita mba.."
Mawar dan Anya segera turun dari sepeda,mereka melihat ada seorang ibu-ibu yang berdiri di depan tokonya.
Ibu-ibu itu langsung menghampirinya dan bertanya.
" Mba pemilik toko ini..?",
"Iya bu..ada apa ya...?"
"Oh..saya mau pesan roti buat acara arisan besok apa bisa? tapi sekarang saya sedang buru-buru,apa boleh saya minta nomernya?",ucap ibu-ibu itu.
"Bisa sekali kok bu"tentu saja Mawar langsung memberikan nomor hpnya,masih pagi tapi sudah ada pelanggan yang datang.
Anya senyum-senyum sendiri sembari membuka kunci gembok ,ia juga merasa senang mendengarnya.
Setelah berbincang beberapa kata ibu-ibu itu pergi dengan tergesa-gesa,tak lupa memberi uang Dp juga,sepertinya memang sedang terburu-buru.
"Iya...tapi kita harus bekerja extra hari ini",pesanan ibu-ibu tadi cukup banyak dan tentu Mawar dan Anya harus kerja dobel.
"Nggak papa mba..aku jadi tambah semangat malah",Mawar tertawa,jiwa muda memang beda.
Setelah itu mereka bergegas membuka toko dan membuat kue untuk di jual.
Di luar dugaan toko rotinya hari ini ramai pengunjung,Mawar bahkan tak sempat makan siang karena pengunjung terus berdatangan.
Hingga sore hari barulah tokonya sedikit lenggang pengunjung.
"Hhaaahhh...capek mba...",ucap Anya sembari mengibas-ngibaskan topinya ke wajah.
Mawar melirik Anya,mereka sedang duduk di atas lantai sembari meluruskan kaki,hari ini memang tokonya sangat ramai.
"Mana semangatmu tadi..",katanya meledek.
Anya hanya tertawa meringis,padahal dirinya tadi berkata dengan berapi-api tapi sekarang malah tepar.
"Kita istirahat sebentar,makan dulu ...terus buat roti pesanan",katanya.
"iya mba..."
__ADS_1
Setelah istirahat beberapa saat dan menghabiskan bekal mereka, Mawar dan Anya langsung membuat kue pesanan untuk besok.
Ada beberapa kue kering seperti cookies,croissant ,dan kue-kue lainnya.
Setelah semua pesanan selesai langsung dimasukan kedalam lemari ,pesanan akan diambil besok pagi jadi mereka harus menyelesaikan hari ini.
"Nanti mba yang gayuh deh..kamu bonceng aja..",kelihatannya Anya lelah sekali,ia jadi tak tega jika terus membonceng.
"Baiklah mba...badanku seperti remuk semua..."
Memang hari ini sangat menguras tenaga,Mawar juga merasa badannya sangat lelah,tapi ia mau mengeluh di depan Anya.
Mereka pulang sedikit terlambat hari ini karena harus menyelesaikan pesanan.
Mawar menggayuh sedikit pelan sembari menikmati langit yang terlihat indah,terlihat warna langit yang berwarna oren dengan hiasan awan-awan yang menggumpal di atas sana.
"Kamu mau jajan nggak..",tawarnya saat melewati beberapa gerobak makanan yang berjejer rapi.
"Boleh deh mba..sepertinya udah nggak ada tenaga buat masak makan malem nanti"
Benar juga kata Anya,tenaganya juga sudah habis apalagi nanti malam mereka harus datang ke balai karena diundang Bu Diah.
Mana sempat jika harus memasak lagi,toh ia akan makan sendiri,Mas Adi juga sudah berpesan akan makan di luar.
Mawar dan Anya sepakat membeli sate dan beberapa jus untuk makan nanti saat sampai rumah.
Akhirnya mereka sampai saat langit mulai gelap,acara di balai dimulai setelah isya,jadi masih ada waktu yang tersisa jadi mereka sedikit santai.
"Kalau difikir-fikir ibu-ibu yang pesan tadi pagi wajahnya seperti tidak asing ya mba..",ucap Anya di sela-sela makannya.
"Nggak tahu deh..mba nggak pernah mengamati wajah seseorang",jawabnya.
"Tapi bener deh mba..aku kayak udah pernah lihat tapi diama gitu"
Mawar melirik wajah Anya yang sedang berfikir keras itu,rasa penasaran Anya memanglah sangat tinggi,sifatnya itu yang membuat Anya jadi anak yang gampang memahami sesuatu karena mau bekerja keras.
Meskipun Anya hanya bisa sekolah sampai menengah pertama namun Mawar tahu,gadis di depannya itu sangatlah cerdas.
Andai saja ia punya uang banyak ia tak akan segan-segan menyekolahkan Anya,Anya seperti gambaran dirinya,seorang anak yatim piatu yang tak mempunyai keluarga.
Bedanya ia sedikit beruntung karena bisa mendapat beasiswa sampai kuliah lewat panti asuhan dirinya dulu.
.eskipun akhirnya gelarnya itu tak terpakai karena suaminya Mas Adi belum mengijinkannya kerja di kantoran.
Dan seperti inilah hidupnya sekarang,membuka toko roti bersama Anya,mencoba untuk terus mengembangkan diri meskipun banyak kekurangan.
Meskipun begitu ia sangat mensyukuri hidupnya yang sekarang,baginya sudah cukup dengan keadaan seperti itu,ada Anya disisinya,usaha yang lancar dan suami yang selalu mencintainya.
...~~~...
__ADS_1
...Terimakasih sudah mampir dan membaca novelku🤗...
...Jangan lupa beri dukungan buat author biar tambah semangat☺☺...