Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Merebut


__ADS_3

Mawar mengobati dan membalut luka yang ada di dahi Anya dengan hati-hati.


Setelah itu ia beranjak duduk disamping anak-anak yang terlihat masih sangat ketakutan.


Kini mereka sedang duduk bersama,Mawar memangku Akins dan Azka duduk disampingnya seperti biasa.


"Terimakasih..dan aku juga minta maaf.."ucapnya pada Azam.


"Untuk apa..?"


"Anak-anak seharusnya tidak melihat semua ini..."


Nagaimanapun juga adegan tadi tidak layak untuk dilihat anak di bawah umur.


"Mereka akan mengambil pelajaran dari kejadian tadi,mungkin mereka akan bertekad menjadi lelaki yang lebih kuat agar bisa menjagamu nanti..bukankah begitu..?"


Dilihatnya Akins dan Azka yang mengangguk secara bersamaan,Azam tersenyum melihat kedua anaknya mendukungnya.


Ah...anak dan ayah sama saja,mereka terobsesi dan sangat menyayangi Mawar.


"Apa tanganmu baik-baik saja..?"


"Hanya memar biasa..pasti akan segera sembuh.."


Dan tanpa di duga Azka memegang pergelangan Mawar dengan hati-hati,Mawar hanya diam saja saat Azka mulai mencari sebuah salep kemudian mengoleskannya dengan hati-hati di tangannya.


"Terimakasih..",ucapnya sembari tersenyum.


Meskipun Azka terlihat sangat cuek,tapi sebenarnya ia sangat perhatian.


Mungkin Azka hanya malu,apalagi anak itu tidak bisa bicara,rasa minder dari orang lain mungkin sudah tertanam dalam dirinya.


Mawar senang,sekarang anak itu sudah mulai terbuka kepadanya,sekarang Azka sudah menunjukan ekspresi-ekspresi kecil kepadanya.


Dulu anak itu hanya terlihat datar-datar saja,namun sekarang Azka sering menunjukan ekspresinya dengan tersenyum atau bersedih.


"Mba..biar anak-anak sama Anya,keliatannya mereka sudah mengantuk.."


Memang benar,Azka beberapa kali terlihat menguap,Akins tanpa disadarinya bahkan sudah tertidur dipangkuannya.


"Oh..Azka tidur di lantai atas mau..?",tanyaya.


Mawar takut ia tak akan nyaman,apalagi mungkin tokonya tak sesuai seleranya.


"Kami pulang dulu saja...ini juga sudah malam..",ucap Azam.


Namun tanpa di duga Azka berlari ke ayahnya,kemudian menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Mawar bahkan bingung,ia belum tahu apa yang dimaksud Azka.


"Apa kau mau menginap disini..?"


Dilihatnya anak itu mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Kau yakin..?",tanya Azam lagi,namun jawaban Azka tetap sama.


"Biarlah mereka menginap disini,itupun kalau kamu berkenan"


"Haahh..mau bagaiamana lagi..kalau aku memaksa mereka pulang pasti dirumah bakal mengamuk nanti..maaf karena sudah merepotkanmu lagi..."


"Tidak..harusnya aku yang berterimakasih..untuk semuanya"


Azam telah membantunya banyak hal,ia sungguh merasa sangat berhutang budi padanya.


"Baiklah..kamu tidur di lantai atas kan..? aku yang akan menggendong Akins"


Mawar menyerahkan Akins kepada Azam,mereka berjalan menaiki tangga.


Azam diam sejenak,meskipun lantai ini sudah bersih dan tidak seberantakan seperti yang terakhir kali ia lihat.


Namun ruangan ini terlihat sangat kosong,bahkan nyaris tidak ada barang apapun di sana kecuali sofa yang usang itu.


"Dimana kasur yang kubelikan..? kau tidak memakainya..?"


"A..aku tak sempat menatanya..",ucapnya gugup.


Kemarin siang,setelah membawa pengacara ,Azam juga membelikannya sebuah kasur yang besar dan beberapa perlengkapan lainnya.


Saat itu ia bingung saat ada kurir yang tiba-tiba datang ke tokonya memberi sebuah pesanan.


Awalnya Mawar kebingungan,ia dan Anya tak memesan apapun,namun ada kurir yang mengantar sebuah kasur atas namanya.


Setelah ditanya ternyata semua itu dari Azam,meskipun begitu ia belum memakainya,ada rasa tak enak hati karena Azam terlalu baik padanya.


Mawar yang menyuruhnya pulang,ia tak mau Anya tidur di toko,ia baru keluar dari rumah sakit,apalagi udaranya sekarang ini benar-benar dingin.


Meskipun hari ini mereka berencana tidur bersama malam ini dan berniat menggunakan kasur yang Azam berikan.


Namun Mawar lupa dan belum menatanya,bahkan bungkusnyapun belum ia buka sama sekali.


Dilihatnya Azam yang meletakan Akins dengan hati-hati di sofa usang itu.


Lelaki itu kemudian membuka bungkus kasur yang telah ia beli untuk Mawar,meletakannya dekat dinding kemudian menata bantal beserta selimut.


Mawar melihat kasur itu sangat besar dan terlihat empuk,ada empat bantal dan dua guling disana.


Azam juga membelikan dua badcover juga untuknya.


"Aku membelikan semua ini untukmu,jadi pakailah sesuka hati ...aku akan marah jika kamu tak mau menggunakannya",ucapnya setelah meletakan Akins disana.


"Lagipula aku sudah memprediksi ini akan terjadi..aku sering kesini malam hari dengan anak-anak,karena aku hanya bisa mengajak mereka setelah aku pulang kerja..jadi aku membelikan kasur ini juga demi anakku..",kilahnya.


Sebenarnya ,Azam setarus persen membelikan semua ini hanya untuk Mawar.


Ia sangat tak tega membiarkan Mawar tidur di sofa yang usang itu.


Ia tak mau membuat wanita yang ia cintai menderita.

__ADS_1


"Baiklah..aku akan menggunakannya dengan senang hati..",ucapnya sembari tersenyum.


"Kalau begitu aku akan pulang dulu...besok pagi akan kuusahakan menjemput mereka"


"Bukankah besok sekolah libur..? biarkan mereka bermain disini dulu...kau bisa menjemputnya saat pulang kerja,itupun kalu kau mengijinkannya.."


"Baiklah..asal tidak memberatkanmu..",jawab Azam.


Setelah itu Mawar mengantar Azam sampai kelantai bawah,Azka dan Akins dilantai dua bersama Anya.


Sesampainya di depan toko Azam berdiri menatap Mawar sebelum pergi.


Ada sesuatu yang sedari tadi mengganjal di fikirnnya namun belum sempat ia tanyakan kepada Mawar.


"Mawar..",ucapnya lamat-lamat.


"Ya..ada apa..?"


Mawar sangat heran,sedari tadi ia melihat Azam hanya diam saja.


Ia yakin lelaki itu pasti akan menanyakan sesuatu,ia sudah menunggunya.


*T*api kenapa ia diam saja..


"Azam..?"


"A..apa kau berniat akan kembali bersama suamimu..jika dia menceraikan selingkuhannya..?"


Mawar sedikit terkejut saat Azam menanyakan hal itu.


Ia masih diam saja menatap mata Azam yang menatapnya.


Kemudian ia berjalan melewati Azam yang masih berdiri disana.


Mawar menutup matanya sembari menghirup udara malam yang terasa dingin dikulitnya itu.


"Kau tahu...? dari dulu aku hanya menginginkan keluarga kecil yang bahagia..",ucapnya lirih.


"Aku bahkan mengorbankan karir dan masa mudaku untuk suamiku...aku percaya Mas Adi bisa mewujudkan impianku ini...tapi seperti yang kau lihat sekarang...semuanya sudah hancur "


Adi diam menatap punggung Mawar yang ada di depannya.


"Aku sudah memberikan segala kepercayaan dan hidupku untuknya...beberapa kali aku mencoba memperbaiki hubungan ini,tapi hasilnya tetap sama..",terlihat Mawar menghembuskan nafas beratnya.


"Perselingkuhan itu seperti penyakit...meskipun kamu berjanji akan berhenti melakukannya,berjanji tak akan mencintai orang lain...tapi hati tak bisa memiliki dua rasa...dan aku tak mau akan menyesal kedua kalinya ..


Bisa saja suatu saat Mas Adi akan membuangku dan lebih memilih Rosi...dan sebelum itu terjadi,aku memilih untuk melepaskannya terlebih dahulu..agar aku tak begitu merasakan sakit...mungkin ini takdir ku,memilik sebuah keluarga kecil hanya ada di mimpi saja..",ucapnya sembari berbalik dan tersenyum kepada Azam.


"Aku akan mencoba hidup seperti dulu...mencari uang yang banyak untuk sekolah Anya dan hidup berdua dengan bahagia.."


Azam tertawa mendengar Mawar berkata seperti itu.


*Maafkan aku...tapi aku akan mengubah takdirmu,kau akan mencari uang dan hidup berdua saja dengan Anya..? jangan konyol*...

__ADS_1


*A*ku akan merebutmu,dan mewujudkan impianmu mempunyai keluarga yang bahagia...


__ADS_2