
"Sayang...ada apa...?",Dafa gelisah melihat reaksi Anya.
Laki-laki itu menghampiri istrinya yang tengah duduk diatas ranjang.
Gelagat Anya sudah terlihat aneh,matanya yang tak fokus dan tangannya yang sudah tidak bisa diam membuat Dafa semakin curiga.
"Hei...tenanglah sayang..ada apa? ceritakan saja",ucapnya lembut sembari mengelus rambut istrinya dengan sayang.
"Ti..tidak...aku hanya terkejut melihat kakak masuk tiba-tiba...",kilahnya.
"Memangnya kamu sedang apa sampai-sampai terkejut karena aku masuk kamar?"
Tidak ada barang yang mencurigakan selain gelagat Anya.
"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu..."
"Sesuatu seperti apa...?"
"Yah...pekerjaan besok dan besoknya..."
Dafa menghela nafas,istrinya benar-benar wanita penggila kerja.
Meskipun secara finansial dia bisa memberikan apapun,tapi Anya selalu melakukan pekerjaan dengan totalitas dan tidak pernah membawa namanya sebagai otoritas.
Kadang Dafa berfikir perannya sebagai suami yang mencari nafkah tidak terlalu penting.
"Jangan terlalu difikirkan...sekarang adalah hari baik...bisakah kita berangkat sekarang?",ajaknya lembut.
__ADS_1
Anya mengangguk,mereka segera keluar dari ruangan dengan bergandengan tangan menuju lift.
Lift itu adalah salah satu akses menuju lantai paling atas dari rumah mereka berdua.
Setiap anniversary pernikahan kedua pasangan itu selalu merayakannya di rooftop,sekedar makan romantis dan berbincang ringan,tentu saja dengan tempat yang sudah disulap seromantis mungkin oleh Dafa.
Meja makan dengan dua kursi sudah tertata rapi disana,Anya melihat beberapa lilin sudah berjejer rapi disudut dan diatas meja.
Bunga-bunga yang indah tak kalah bersinar ditelan kegelapan malam,dan musik isntrumen membuat suasana semakin intim dan romantis.
Dafa melirik wajah istrinya yang penuh dengan senyum,hatinya puas seakan terisi penuh melihat Anya bahagia karena dirinya.
"Apa kamu suka...?" ,peluknya tiba-tiba dari arah belakang.
"Aku sangat suka...terikasih",cup...
"Ini lebih baik daripada tahun kemarin...",kekehnya.
Dafa hanya tertawa mendengarnya,tahun kemarin memang lebih sederhana,karena dirinya mengambil tema garden party dengan suasana santai.
Tapi kali ini berbeda,Dafa benar-benar membuat suasana sangat romantis.
"Ini belum seberapa...aku punya sesuatu untukmu,apa kau mau melihatnya sekarang?".
"Apa itu...?"
Dafa menggandeng tangan istrinya menuju sofa yang terletak disudut ruangan,kemudian memberikan sebuah amplop putih dengan pita silver diatasnya.
__ADS_1
Anya melirik wajah suaminya yang terlihat sayu sembari tersenyum hangat,kemudian membuka amplop itu secara perlahan.
Matanya melebar melihat sebuah kertas dengan logo dipojok tulisan.
Anya membacanya dengan perlahan sembari menutup mulutnya,entah karena bahagia atau apa tapi wanita itu sekarang menangis sembari memegang selembar kertas yang diberikan suaminya.
Anya memeluk Dafa masih dalam keadaan menangis.
"Apa kau suka...?",tanyanya dengan mengelus punggung dan rambut istri tercintanya.
"Aku tahu kamu sangat ingin melanjutkan sekolahmu...aku sudah mendaftarkan namamu,dan ternyata kamu diterima disana",jelasnya.
Sudah dari dulu Dafa memperhatikan,Anya sangat semangat dalam bekerja,dan ia tahu Anya ingin melanjutkan kuliah kejenjang yang lebih tinggi.
Meskipun ia tahu semuanya,tapi Dafa perlu waktu yang lama untuk memikirkannya,hingga saat hatinya sudah siap,barulah sekarang ia memberanikan diri untuk membiarkan istri tercintanya memiliki masa depan yang diinginkan.
Meski hatinya tak sanggup jika harus jauh dari istrinya,tapi Dafa ingin Anya bahagia.
Nanti saat Anya diluar negeri ia bisa sering mengunjungi,toh ia punya uang dan pesawat pribadi,jadi apa yang dia khawatirkan?
"Terimakasih...terimakasih kak...ta..tapi...aku tidak mau..."
Deg...
Satu kalimat itu membuat pergerakan Dafa berhenti,ia memandang wajah istrinya yang merah akibat menangis.
"Kenapa...?!"
__ADS_1
Bukankah ini yang di inginkan Anya? atau ia salah perkiraan? tapi itu tidak mungkin!