
"Apa kau tidak apa-apa honey?",tanya Charle khawatir.
"Kau terlihat sangat gelisah",tambah Bela.
Mawar menepuk-nepuk wajahnya saat kedua orang didepannya ini menatapnya dengan tatapan khawatir
"Aku tidak apa-apa...apa aku terlihat seperti itu?"
"Kalau kau tidak enak badan kau bisa istirahat terlebih dahulu,aku dan Charle akan meminta pengertian dari klien kita nanti"
"Tidak...aku sungguh tidak apa-apa,aku juga tak ingin kerjasama kita kali ini batal"
"Tapi benarkah kau tidak apa-apa honey?"
Mawar mengangguk sekali lagi sebagai jawaban.
Dirinya memang benar-benar dalam keadaan sehat,tapi entah kenapa dirinya merasa gelisah sedari tadi pagi.
Padahal ia tak merasa sakit atau merasa grogi,tapi ada sesuatu yang mengganjal dihatinya yang membuatnya tak nyaman.
Bela dan Charle bahkan sampai mengetahui gerak-geriknya yang aneh.
Apa mungkin meeting kali ini membuatnya grogi dan takut? tapi Mawar sudah terbiasa dengan kerjasama seperti ini,dirinya sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
Banyak perusahaan yang sudah ia hadapi yang tak terhitung jumlahnya.
Haa...kenapa denganku?
Mawar menghela nafas beratnya,kali ini dirinya benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya sendiri.
Perlahan...terlihat para staf karyawan memasuki ruangan rapat.
Satu persatu kursi yang tadinya kosong mulai terisi,ruangan yang tadinya berisi beberapa orang perwakilan dari Amerika kini sudah terlihat penuh.
Hanya tinggal satu dua kursi saja yang masih kosong,yaitu pemilik perusahaan ini dan juga beberapa kursi milik tim HR.
Suara bisik-bisik terdengar saat orang dalam ruangan mencoba berkominikasi tanpa membuat keributan,namun beberapa menit setelahnya suara itu senyap seakan dimakan oleh udara saat seorang memasuki ruangan itu.
Lelaki bertubuh tinggi dengan mata yang tajam terlihat sangat menakutkan,auranya sangat menekan bahkan saat langkah kakinya terdengar di dalam ruangan.
Tentu saja dia adalah sang CEO pemilik perusahaan ini yang datang dengan beberapa tim HR dibelakangnya.
Semua orang berdiri memberi hormat saat sang CEO sudah berdiri di depan kursinya,tak terkecuali Charle dan Bela.
Kemudian mereka mulai berjabat tangan sebagai ucapan salam sebelum memulai rapat kerja sama nanti.
__ADS_1
Mata Mawar menatap wajah lelaki yang tak jauh dari tempat duduknya sekarang.
Tubuhnya mematung saat mengetahui kalau yang dilihatnya saat ini bukanlah halusianasi saja.
Lalaki itu sedang berjabat tangan dengan Bella ,sepertinya dirinya belum sadar kalau Mawar terlihat sangat syok karena kehadirannya.
Dan tanpa bisa dihindari sedikitpun,mata mereka kini sudah saling menatap dalam diam,seakan dunia memang sudah merencanakan pertemuan mereka seperti ini.
Azam menatap lekat Mawar yang tengah menatapnya juga,tubuhnya kaku tak bisa bergerak saat melihat wanita yang selama ini ia cari ada didepannya begitu saja.
Namun sesaat kemudian Mawar memutuskan pandangan mereka,Mawar menunduk sembari meremas jarinya dibawah.
Hatinya kini terasa berpacu sangat cepat seolah dirinya telah lari beribu-ribu meter jauhnya.
Keterkejutannya itu tidak bisa di minimalisir begitu saja,wajahnya bahkan tidak bisa Mwwsr kontrol karena saking terkejutnya.
Mawar memilih menunduk tak mau semua orang yang ada disini mengetahui keanehan dari dalam dirinya.
Pantas saja sedari pagi dirinya merasa sangat gelisah,ternyata waktu sudah mempersiapkan kejutan yang sangat besar untuknya sekarang.
Saat Mawar sedang mencoba menetralkan rasa paniknya itu,tiba-tiba terlihat sebuah tangan terulur didepannya.
Mawar tahu itu adalah tangan milik Azam,Mawar melirik tangan itu sebentar.
Ada rasa risih saat dirinya hendak berjabat dengan tangan milik lelaki itu,tapi dirinya tidak punya pilihan lain,ini merupakan tradisi saat seseorang akan menjalin kerjasama dan juga sebagai bentuk penghormatan kepada lawan bicara.
Dengan cepat Mawar mencoba menariknya kembali,namun tangannya tertahan dengan kuatnya dalam genggaman Azam.
Mata Mawar melotot saat Azam tidak mau melepaskannya.
Apa yang dilakukan pria ini!
Sekarang mereka sedang ada di dalam ruang rapat! dan ada banyak orang yang melihatnya..
Dengan sekuat tenaga Mawar melepaskan tangannya,namun tentunya dengan sangat hati-hati agar orang lain tidak sadar dengan keadaan mereka saat ini.
Setelah tangan itu sudah terlepas,Mawar bisa melihat senyuman kecil di wajah Azam .
Lelali itu terlihat menarik ujung bibirnya tipis sembari menatapnya dengan tatapan yang aneh.
Tentu saja membuat Mawar merasa merinding,wajah Azam yang dulu penuh kelembutan tidak terlihat sama sekali disana,lelaki itu kini terlihat sangat menakutkan.
Aura intimidasi dari Azam benar-benar sangat menekan Mawar.
"Kamu kenapa honey...?apa kamu sakit?",tanya Charle yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Ti..tidak..."
"Tapi wajahmu pucat..apa kamu bisa melalukan presentasi nanti?"
Mawar mengangguk,meskpin dirinya merasa sangat tidak nyaman.
Mawar mencoba melirik Azam yang sudah duduk di depan dengan kursi kebanggaannya,tapi sialnya Azam juga tengah menatapnya.
Lelaki itu menatapnya secara terang-terangan,membuat Mawar merasa sangat risih.
Mawar mencoba menghindari tatapan Azam selama rapat,ia juga tak memperdulikan tatapan aneh Azam saat dirinya berdiri didepan sembari menjelaskan rencana perusahaannya.
Meskipun merasa sangat gelisah tapi Mawar masih bisa berfikir rasional,dirinya tidak bisa menghancurkan rapat kali ini karena masalah pribadi.
Setelah beberapa jam,emua orang nampak setuju dengan hasil rapat kali ini,dengan berbagai pertimbangan akhirnya hasil bagi kesejahteraan bersama tersepakati.
Beberapa karyawan terlihat mulai keluar dari dalam ruangan,tak terkecuali Azam yang langsung keluar setelah berpamitan kepada pihak tamunya.
Mawar memilih duduk disana lebih lama sebelum keluar dari dalam ruangan,Bela sedang ada di toilet sekarang.
Charle sendiri sudah keluar tadi bersama Azam ketika rapat ini selesai.
Pekerjaan lelaki itu dua kali lipat lebih banyak darinya,karena harus berinteraksi dengan para artis papan atas di Indonesia.
Karena waktu yang harus di bagi dengan sedemikian rupa,Charle harus benar-benar bisa sangat disiplin kalau tidak mau repot sendiri nantinya.
Lelaki itu bahkan sudah pergi meninggalkannya dengan Bela di perusahaan ini.
"Aku harus kabur secepatnya..."
Mawar mengemas barangnya dan langsung mencoba keluar dari ruangan itu.
Dirinya harus cepat pergi sebelum bertemu Azam lagi nanti.
Mawar langsung mengirim pesan kepada Bela agar wanita tidak perlu menunggunya.Dirinya sungguh tak bisa terlalu lama diperusahann Azam.
Langkahnya kian cepat saat memikirkan kebodohannya.
Mawar tidak tahu bahwa tuan Alfareezel pemilik perusahaan ini adalah Azam.
Namanya yang beda itu tak membuat Mawar curiga sama sekali.
Kalau tahu akan begini,lebih baik aku terima saja tawaran untuk beristirahat tadi.
Namun bubur sudah tidak bisa menjadi nasi,dirinya sudah ditemukan oleh Azam!
__ADS_1
Mawar berjalan dengan pasti saat sudah mendekati pintu lift,dirinya yang hendak masuk tiba-tiba lengannya dicekal seseorang dari arah belakang .
"Jangan pergi..!"