Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Pengobat Rasa


__ADS_3

Mawar memasukan semua baju ke dalam koper berukuran sedang,tak lupa ia menyelipkan beberapa obat dan keperluan yang lain.


Sore ini suaminya akan pergi ke Jogja karena pekerjaan,Mawar mencoret list yang telah ia buat selama satu minggu terakhir.


Itu semua demi Mas Adi,suaminya itu akan pergi selama satu minggu jadi Mawar harus memperhatikan keperluan suaminya dengan teliti ,ia tak mau disana suaminya kebingungan karena barangnya ketinggalan.


"Udah semua mas..ini aku masukin beberapa kue kering juga ,kalau mas laper mas bisa makan kuenya ..."


"Makasih ya sayang..mas berangkat dulu ya..",ucapnya sembari mencium kening Mawar.


Mawar mengantar suaminya sampai depan rumah,ia mamandangi Mas Adi yang mulai masuk ke dalam mobil.


*H*aaah...aku bakal rindu mas..


Entah mengapa rasanya sangat sedih,ia ingin menangis tapi di tahannya,Mawar tak mau membuat Mas Adi merasa terbebani.


Mawar berdiri cukup lama di depan rumah sampai mobil suaminya tak terlihat di ujung jalan.


Ia kembali masuk kedalam rumah dengan lunglai,baru ditinggal saja ia sudah lesu seperti itu,bagaimana ia bisa melewati hari-hari berikutnya?


Mawar membaringkan diri di dalam ranjang,hari ini ia tidak berangkat ke toko karena ia harus mempersiapkan keperluan Mas Adi.


Dari pagi Anya sudah berangkat duluan,anak itu pasti kesulitan membuka toko sendiri,berhubung tokonya sekarang sudah sedikit ramai pengunjung.


Sebenarnya ia ingin menyusul Anya,tapi entah kenapa rasanya sangat lemas dan malas,mungkin ini efek karena ditinggal suami.


Diraihnya hp yang terletak di atas bantal,kemudian Mawar mencoba menelfon Anya,ia ingin bicada pada Anya kalau dirinya tak bisa menyusul ke toko.


"Halo Anyaa.."


"*H*alo mba..kapan mau kesini mba..Akins dari tadi udah nunggu"


Mendengar perkataan Anya dari sebrang sana membuat Mawar terkejut,ia bahkan sudah berdiri sekarang.


"Akins..?"


"Iya mba..Akins datang kesini sama kakaknya.."


Mawar tersenyum senang,Azka ada disana? di tokonya..?!


"Baiklah mba akan kesana secepatnya.."


Tanpa menunggu lama lagi,dengan cepat Mawar memesan ojek online kemudian mengganti baju dasternya dengan pakaian yang pantas sembari menunggu tukang ojeknya datang.


Tidak menunggu lama ojek online yang di pesannya datang juga,sepanjang perjalanan Mawar tak berhenti tersenyum.


Membayangkan wajah tampan Azka membuatnya berdebar,entah mengapa ia rindu dengan wajah tampan tapi dingin itu.


*S*eperti ayahnya saja..hihi...


Anak itu memang terlihat dingin,tapi Mawar tahu Azka sebenarnya anak yang baik dan manis.

__ADS_1


Setelah sampai,Mawar langsung membayar ojek online itu,ia berlari memasuki tokonya dengan semangat.


*Kl*ing...


Hal pertama yang ia lihat adalah Akins yang duduk di atas pangkuan Azam,dengan Azka yang duduk tak jauh darinya.


"Tante cantik...!!",Akins melompat dari pangkuan ayahnya kemudian menghambur kepelukan Mawar.


Mawar tertawa geli saat Akins menciumi semua wajahnya sampai basah.


"Akins..yang sopan..",ucapan Azam membuat Mawar melihat pria itu.


*A*h...dia tetap sama...


Seperti biasa,Azam tetap terlihat tenang dan dingin,sama seperti ia bertemu pertama kali.


Mata Mawar beralih menatap Azka yang sudah berdiri di depannya,padahal anak itu tadi duduk anteng di kursi dekat ayahnya.


"Azka..?"


Mawar menundukan badannya dengan lutut yang ditekuk menempel lantai,tangannya yang satu masih menggendong Akins,dan tangannya yang satu terulur untuk Azka.


Ia sungguh ingin memeluk Azka,tapi anak itu tetap diam dan hanya melihatnya saja.


"Azka...?"


Anak itu tetap diam,bahkan tak bergerak sedikitpun.


Dan tanpa di duga Azka mendekat dan menerima uluran tangan Mawar,Mawar tersenyum lalu memeluk Azka dengan senang.


*D*ia lucu sekali...!


Mawar menahan tawanya melihat tingkah Azka,padahal masih kecil tapi Azka sudah malu-malu begini,apalagi anak itu seperti sok jual mahal.


Azam menatap interaksi kedua anaknya dengan Mawar,hatinya sangat senang melihat itu,mungkin saja suatu saat nanti Mawar bisa menjadi ibu dari anak-anaknya.


Yah..bukannya tak apa jika berharap?


Apalagi setelah mendengar cerita Dafa tadi malam,kemarin setelah pulang dari toko Mawar ,Dafa membicarakan sesuatu dengannya,sesuatu yang membuatnya sangat terkejut.


Dafa menceritakan semuanya tentang keadaan Mawar di Jogja,sebelumnya Dafa pernah bercerita tentang pasien wanita yang sangat menderita hidupnya,bagaimana wanita itu di beri obat agar mandul dan lainnya.


Tapi ia tak menyangka itu Mawar..!


*B*agaimana suaminya itu tak becus menjaganya?


Kalau bisa saja ia ingin merebut Mawar agar berada disisinya dari lelaki itu,namun Azam tak mau jadi orang yang minim moral.


"Kita ke atas saja ya..biar bisa leluasa "ucap Mawar


Mawar melihat tokonya itu sedikit ramai,jadi ia ingin membawa Akins dan Azka bermain ke atas agar lebih bebas dan leluasa.

__ADS_1


"Mau tante..!"


Akins berkata semangatnya,Azka juga mengangguk sebagai jawaban.


Akhirnya Mawar menggendong Akins dan menuntun Azka menuju lantai atas.


Saat dirinya mulai melangkah terlihat Azam juga berdiri,laki-laki itu berjalan mengikuti langkahnya dari belakang.


"Anda mau kemana..?"


Mawar merasa risih saat Azam mengikutinya dari arah belakang.


"Tentu saja ikut ke atas..",tunjuknya ke atas kemudian berjalan melewati Mawar.


"Kenapa ..?"


*K*enapa ikut..? kamu kan bisa menunggu di bawah..


Azam tersenyum mendapat pertanyaan dari Mawar "Karena mereka anakku..",ucapnya lalu melangkah menaiki tangga lagi.


*A*h..aku lupa...


Mawar memang senang dengan kedua anak itu,tapi ia lupa bahwa Azka dan Akins adalah anak Azam,lelaki dingin yang membuatnya tak nyaman dan sedikit canggung.


"Anya..mba titip toko sebentar ya.."


"Iya mba nggak papa,Anya bisa sendiri kok..",ucapnya dari meja kasir.


"Baiklah.."


Mawar mulai menaiki tangga lagi,saat sampai di ruang atas ia melihat Azam yang masih berdiri memandangi ruangannya tersebut.


"Silahkan duduk tuan..hanya itu yang bisa anda duduki.."


Azam mengernyit melihat sebuah sofa usang yang sangat buluk,meskipun tampilannya buruk tapi sepertinya masih bisa di pakai.


"Kamu duduk dimana..?"


"Saya duduk di karpet saja.."


Mawar langsung menurunkan Akins,kemudian dengan cekatan ia menggelar karpet dan langsung duduk di sana.


Azka dan Akins tentu saja langsung ikut bergabung dengan Mawar,kedua anak itu bahkan tak memperhatikan ayahnya yang terlihat sedikit kesal.


Mereka bertiga asyik bermain tanpa menghiraukan Azam,lelaki itu hanya bisa menatap lekat Mawar dan anak-anaknya.


Ia juga ingin bergabung ,tapi bagaimana caranya..? ia tak tau bagaimana mendekati seseorang terlebih dahulu,yang ia tahu hanya grafik data pada sebuah komputer.


Hidupnya selama ini ia dedikasikan hanya untuk bekerja!


Azam melirik wajah Mawar lagi,wajah cantik yang di penuhi senyuman tulus untuk kedua anak-anaknya.

__ADS_1


Wajah Mawar sudah terlihat hidup kembali,dengan datangnya Azka dan Akins membuat rasa sedih dalam hatinya berkurang.


__ADS_2