
"Maafin aku ya mba...",ucap Anya kepada Mawar.
"Iya nggak papa,kamu jaga toko aja...lagipula mba nggak yakin kamu bisa anter ini sampe tujuan"
Hari ini Mawar berniat mengirim kue pesanan Bu Risma,ia sedang menata box kue yang dipindahkan ke dalam mobil bersama sang supir taksi online.
Seharusnya ini adalah tugas Anya,namun karena Anya sedang kedatangan tamu bulanan,jadi ia tak bisa mengantarnya.
Biasalah...beberapa wanita akan mengalami keram atau nyeri pada perut saat hari pertama haid,dan saat ini Anya sedang mengalaminya.
Ia hanya bisa berjaga dibagian kasir karena perutnya yang terasa sakit,dari pagi saja kebanyakan Mawar yang membuat roti-roti itu.
Mawar memberikan alamat rumah kepada sang supir sesuai dengan pesan yang ia terima dari Bu Risma.
Sepanjang perjalanan Mawar hanya menatap kearah luar jendela.
Dilihatnya gedung-gedung tinggi menjulang pada setiap sisi kanan dan kiri jalan.
Pandangan matanya terlihat sayu dan kosong,entah apa yang sedang ia fikirkan.
Saat ia berhenti di lampu merah,mata coklatnya itu menatap beberapa orang yang berjalan memakai jas kantoran.
Sepertinya ia berhenti tepat di depan gedung perusahaan,pada jam ini mungkin beberapa pegawai sedang istirahat dan mencari makanan diluar.
Setelah lampu berganti menjadi warna hijau,sang supir kembali melajukan mobilnya menuju alamat yang akan dituju.
*K*apan ya aku bisa kerja di perusahaan..
Sekelebat rasa ingin bekerja di suatu perusahaan mulai mencuat dari dalam hatinya.
Keinginannya yang dulu sempat terpendam kini mulai muncul lagi setelah melihat gedung-gedung tinggi di depan matanya.
Betapa bodohnya ia melepaskan kesempatan yang sudah ia dapatkan demi suaminya Mas Adi.
Ia bahkan rela melepaskan kesempatan emas itu dan lebih memilih suaminya.
Dan apa yang ia terima sekarang? hanya sebuah rasa sakit hati karena telah dikhianati,yang tersisa hanyalah rasa penyesalan.
Ingin sekali dirinya memulai kariernya dari awal,melakukan semuanya sesuai kehendaknya tanpa ada yang melarang.
Tapi kalau memikirkan tokonya yang sekarang mulai ramai pengunjung,Mawar belum tega melepaskannya.
"Apa aku cari pegawai baru ya.."
Penghasilannya juga sudah stabil dan tidak ada pengeluaran yang tidak perlu seperti dulu saat ia masih tinggal bersama mertua.
Ia harus memikirkannya dengan matang nanti saat ia pulang keruko,sekarang ia harus fokus dengan pekerjaannya mengantar kue pesanan.
Mobil yang ditumpanginya mulai masuk ke area perumahan mewah,Mawar bahkan tak bisa mengedipkan matanya karena merasa takjub.
Rumah-rumah berjejeran dengan sangat megahnya,halamannya juga luas seperti lapangan di desanya dulu.
"Astaga...aku baru liat yang seperti ini secara langsung",gumamnya lirih.
Ia hanya pernah meilhatnya beberapa kali di tv,itupun acara yang menawarkan perumahan mewah setiap akhir pekan saja.
Mawar tak menyangka akan melihatnya secara langsung seperti ini.
__ADS_1
Ternyata memang terlihat sangat indah dan mewah,melihat semua itu secara langsung membuatnya mengerti kenapa orang-orang sangat mengejar uang.
Alasan mereka berlomba-lomba ingin hidup mewah dan nyaman.
*T*ernyata selama ini aku hidup bagai katak dalam tempurung...
"Apa kita nggak salah jalan pak?",tanyanya pada sang supir.
"Tidak kok mba...kadang juga saya nganter ke daerah sini"
Mawar masih tak percaya saja,ia tak menyangka rumah Akins dan Azka ada di antara rumah elit itu.
Setelah sampai di depan gerbang yang besar,mobil taksinya berhenti dan mulai membunyikan klaksonya.
Terlihat seorang berbaju satpam berbadan besar keluar dari dalam.
"Maaf siapa..?",katanya menunduk melihat Mawar di dalam mobil.
"Saya datang mengantar pesanan Bu Risma,dari toko roti Mawar",ucapnya.
"Tolong tunggu sebentar.."
Dilihatnya sang satpam berbicara lewat telefonnya,kemudian berjalan menghampirinya.
"Silahkan masuk nona" ucapnya kemudian membukakan pintu gerbangnya.
Padahal selama ia melewati perumahan ia sudah sangat takjub,namun sekarang dirinya lebih takjub setelah memasuki halaman rumah Bu Risma.
Jarak dari gerbang sampai rumah cukup jauh,sepanjang jalan Mawar bisa melihat bunga yang dirawat dengan baik terlihat sangat rapi dan cantik,sepertinya itu adalah tamannya.
Mawar menatap tak percaya saat mobilnya berhenti di sebuah rumah yang sangat megah,ia bahkan sampai tak bisa berbicara apapun saking terkejutnya.
Disana Mawar melihat Bu Risma yang sudah tersenyum menyambutnya.
Mawar mengucapkan kata terimakasih pada seorang laki-laki berkacamata yang sudah membukakan pintunya.
Kalau dilihat dari seragamnya sepertinya dia kepala pelayan disini,karena pakaian yang dikenakannya terbilang lebih mewah dan resmi ketimbang pelayan yang lain.
Umurnya juga sudah terpaut jauh dari yang lainnya.
"Selamat datang sayang...",ucap Bu Risma sembari memeluk Mawar.
"Oh ya tolong pak Rus bawa kuenya kedalam ya",ucapnya sembari memegang lengan Mawar hendak langsung membawanya masuk.
"Em tunggu tante...aku mau bayar supirnya dulu"
"Nggak usah,nanti biar pak Rus yang bayarin"
"Tapi tante..."
"Hus..nggak boleh nolak orang tua loh",ucapnya,kemudian menuntun Mawar memasuki rumahnya.
Mawar hanya tersenyum canggung saat para pelayan yang berjejer rapi di depan pintu memberi hormat padanya.
*A*pa semua orang kaya seperti ini..?
Mawar malu karena diperlakukan seperti ratu,padahal ia hanya pemilik toko yang sedang mengantar pesanan majikan mereka.
__ADS_1
Ia bahkan hanya memakai celana jins berwarna biru dan juga seragam toko rotinya,kalau dilogika pasti gaji mereka lebih besar ketimbang pendapatan hasil jualannya,mereka kan sudah merawat rumah yang besar ini.
*A*staga...
Mawar menatap tak percaya saat ia masuk kedalam rumah Bu Risma,interiornya sungguh sangat mewah ,rasanya ia masuk kedalam istana saja.
*A*pa aku didalam mimpi...?
Dicubitnya lengannya dengan kecil,ia meringis saat merasakan nyeri diarea kulitnya.
*T*ernyata bukan...
"Duduk disini dulu ya ,tante mau kebelakang sebentar"
Mawar mengangguk saja,selama beberapa menit ia masih melirik sana-sini melihat sekeliling dengan takjub.
Kemudian terlihat Bu Risma datang dengan beberapa pelayang di belakangnya.
"Maaf tante lama ya..",duduk disamping Mawar.
"Nggak kok tante..."
Satu persatu pelayan mulai meletakan makanan yang mereka bawa kedepan mejanya.
"Nggak usah repot-repot tante,saya kesini cuma nganter pesanan saja"
"Nggak usah sungkan kalo sama tante,kamu disini lamaan ya sambil nunggu Akins sama Azka pulang,pasti mereka seneng banget liat tante kesayangan mereka kesini"
"Tapi tante.."
"Udah nggak ada tapi-tapian,sekarang coba makan dulu,tante cuma bisa kasih kayak gini.."
*A*pa...? cuma...?
Mawar bahkan tidak bereaksi karena masih terkejut melihat semua kudapan didepannya yang sangat banyak dan mewah
tapi Bu Risma malah berkata semua ini dengan kata "*C*uma"
Mawar mengambil satu makanan yang paling dekat dengannya,bentuknya umum bulat seperti kue biasanya namun sudah dipotong segitiga.
Tapi kalau ditanya ia tidak tahu namanya,karena memang ia baru melihatnya.
"Ini namanya kue apa tante..?",meskipun ia berjualan roti tapi tidak semua nama roti ia tahu,apalagi ia tak pernah melihatnya.
"Oh kue itu namanya Tarte Tropezienne...,kuenya enak loh,tante pesen langsung dari resto Prancis di jakarta"
"A..apa..?"
Mawar melongo mendengarnya,bahkan Bu Risma berkata dengan logat yang susah ditirukan.
Ia bahkan tidak tahu jenis kue apa itu.
.
.
Ini dia gambar kue Tarte Tropezienne
__ADS_1
Cheesecake versi Prancis dengan cream puff lembut dan krim keju tebal di tengahnya.