Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Tidak Bisa Kembali


__ADS_3

Sebuah belaian halus terasa diatas kepala Anya,gadis itu menoleh saat merasakan ada seseorang yang membelainya.


Dirinya tersenyum walaupun air mata masih jatuh dengan deras di pipinya.


"Mba...?! mba...!",Anya menangis lagi sembari menyebut nama mba'nya itu.


Dirinya sangat senang saat melihat Mawar sudah merespon ucapannya.


Mereka berdua memangis sembari berpelukan di ruang tamu begitu lama,mengeluarkan segala kesedihan di dalam hati berharap semuanya akan baik-baik saja setelahnya.


"Maafkan mba...",uacpnya lirih.


Anya menggelengkan kelapanya,kemudian menenggelamkan kepalanya kepadalam pelukan Mawar.


"Nggak mba...mba nggak perlu minta maaf,aku senang kalau mba sudah merasa baikan sekarang"


Hening beberapa saat,kedua wanita tersebut diam dalam posisi yang sama.


Mawar membelai adiknya itu dengan sayang,matanya menerawang kedepan sembari berfikir sesuatu,sakit yang ia rasakan tidak bisa pulih secepat itu meskipun Anya menghiburnya.


"Anya..."


Anya mendongak saat mendengar mba'nya memanggilnya,dirinya bisa melihat raut wajah Mawar yang masih tertekan disana.


"Bagaimana kalau kita pergi saja?"


Anya sempat terkejut saat mendengar perkataan Mawar,namun setelahnya gadis itu mengangguk sembari tersenyum halus.


"Kamu yakin?",tanya Mawar.


"Iya mba...aku akan ikut kemana mba akan pergi"


"Tapi kamu sekolah...kamu bisa saja disini dan melanjutkan kuliahmu,mba akan kirim uang rutin sama kamu"


Anya menggeleng keras,ia mengeratkan pelukannya kepada Mawar.


"Nggak...aku nggak mau kalau pisah sama mba,pokoknya nggak mau!"


Mawar hanya diam,dirinya tahu Anya pasti tidak mau itu terjadi.Anak itu sangat menyayanginya.


"Tapi mba juga nggak mau sekolahmu terputus gara-gara mba",ucapnya lirih.


Meskipun Mawar juga merasa berat akan keputusan ini,tapi dirinya tidak punya pilihan.


Mawar akan pergi jauh meninggalkan kehidupannya sekarang,tapi Anya juga masih sekolah.


"Aku bisa ambil kuliah online mba...aku akan bicara pada pihak sekolah besok",ucapnya tegas.


"Kamu yakin?"


"Aku yakin mba..."


Mawar tersenyum saat Anya mengatakan itu,dirinya juga pasti bakal sangat sedih jika tidak ada Anya disisinya.


Dari dulu seseorang yang selalu ada disampingnya adalah Anya.

__ADS_1


"Tapi mba...kita mau pergi kemana?"


Mereka berdua bahkan tidak punya saudara,jangankan saudara...orang tua saja mereka tidak tau siapa.


"Ada...mba punya tempat yang bisa kita tempati,tapi itu sangat jauh...apa kamu tidak apa-apa?"


"nggak papa mba...aku percaya sama mba Mawar"


Sekali lagi Mawar tersentuh dengan pendirian Anya,dirinya merasa punya sedikit kekuatan untuk bisa melanjutkan hidup.


"Baiklah...kita harus mengemas segala sesuatunya mulai sekarang,karena mungkin kita akan pergi dalam waktu dekat"


"Iya mba...",ucap gadis itu.


Setelah itu Anya pergi kelantai atas,dirinya benar-benar langsung mengemas semua barang miliknya dan juga milik mba'nya.


Anya memasukan semua baju yang memang milik mereka sendiri,ia tak menyertakan barang-barang pemberian Azam.Ia tak mau mba'nya jadi kepikiran karena melihat barang dari lelaki itu.


Jika nanti mba'nya berniat membawanya,biarlah Mawar yang memilih sendiri.Semua keputusan ada didalam tangan mba'nya.


Disisi lain Mawar masih diam merenungkan diri di ruang tamu,dirinya berfikir begitu keras dengan keputusan yang telah diambilnya.


Berulangkali Mawar mencoba mengontrol perasannya yang tak karuan.Menahan diri agar tak menangis lagi karena merasa sangat tersakiti.


Setelah keteguhannya benar-benar sudah terkumpul,Mawar mengambil hp miliknya yang berada di dalam tas.Wanita itu terlihat sangat serius saat mengetikan sesuatu disana.


"Apa aku masih bisa...?",ucapnya lirih.


Sekarang ini Mawar sedang mengirim pesan kepada sesorang yang dulu pernah menawarinya pekerjaan.


Ia tidak tahu apakah nomor itu masih bisa dipakai atau tidak karena sudah sangat lama.


Lama dirinya menunggu balasan,tapi tidak ada pesan apapun dari hpnya.


Di hembuskannya nafas yang terasa berat itu,Mawar benar-benar kecewa saat pesannya tidak terbalaskan.


"Apa beliau sudah ganti nomor?"


Jika nanti tidak ada balasan dari pesan itu,usaha terakhirnya ialah menggunakan uang tabungannya.


Sekarang dirinya sudah punya banyak uang,dengan semua uang itu dia masih bisa bertahan hidup di luar kota bersama Anya.Mawar bahkan mungkin masih bisa membuka toko kecil-kecilan disana.


Setelah memantapkan hati Mawar segera bergabung dengan Anya yang sedang beberes di lantai atas,dirinya juga harus mempersiapkan semuanya dengan sempurna.


...


Malam ini Mawar dan Anya tengah makan malam berdua.


Semua bahan makanan yang Mawar beli tadi siang dimasak oleh Anya.Mawar mengunyah dengan pelan masakan yang ada di hadapannya.


Ada rasa getir disetiap kunyahannya,dirinya makan sembari menatap malang makanan yang ada di hadapannya.


Padahal semua menu itu adalah rencana makan malamnya bersama Azam dan juga anak-anak,tapi semuanya hangus dan yang tersisa hanya angan-angan saja.


"Kenapa mba? nggak enak?"

__ADS_1


Anya mengamati wajah Mawar yang masih terlihat lesu itu,mba'nya bahkan seperti tak berselara makan.


Padahal Anya membuat semua masakan itu karena mba'nya yang memerintahnya.


"Enak kok...mba cuma nggak begitu lapar",kilahnya.


Anya diam tak bertanya lagi,ia tahu mba Mawar pasti masih merasa sangat kepikiran dan sedih.


Makan malam yang terasa sepi itu berlangsung begitu lama,karena keduanya tidak membicarakan apapun,Anya bahkan tak berniat membuka suara melihat kondisi mba'nya sekarang.


Lebih baik dirinya diam dari pada membuat mba'nya merasa lebih sedih.


Sampai akhirnya terdengar sesorang yang memencet bel rumah.


Mawar yang tadinya diam kini langsung beridri,wanita itu berjalan dengan pasti menuju pintu utama meninggalkan Anya yang masih makan di dapur.


"Apa itu Azam...?"


Mawar berniat meminta penjelasan jika Azam benar-benar datang.Tapi yang di duganya salah,yang terlihat didepan pintu rumahnya adalah seorang pria yang tengah tersenyum lembut seperti biasanya kepada dirinya.


Yang tak lain ialah Adnan...


Mawat langsung membalikan tubuhnya berniat masuk kedala rumah tanpa mau meladeni Adnan.Namun gerakan lelaki itu lebih cepat dari darinya.Adnan mencekal tangannya mencegah dirinya pergi.


"Lepaskan...",ucapnya lirih dan dengan raut wajah yang datar.


"Aku tidak mau...",ucap lelaki itu dengan suranya yang lembut.


"Kubilang lepaskan Adnan..."ucap Mawar lagi,tapi lelaki itu tidak menggubrisnya sama sekali.


Lelaki itu masih mencekal tangannya denga kuat.


"Sampai kapan...?"


Adnan mengerutkan kenging saat mendengar pertanyaan Mawar,dirinya bingung dengan apa yang Mawar ucapkan...wanita itu terlihat seperti tidak punya tenaga sama sekali.


Mawar bersikap penuh penolakan tapi wanita itu tidak meronta sama sekali,seperti seorang yang sudah putus asa.


"Apa...?"


"Sampai kapan kau akan mengganggu hidupku?"


Mata Mawar yang sayu menatap mata Adnan yang menatapnya dengan bingung.


"Aku tidak berniat mengganggumu Mawar...aku benar-benar tulus ingin berada di sisimu"


Mawar tersenyum kecut saat mendengar ucapan Adnan.


"Justru itu yang membuatku terganggu Adnan..kehadiramu membuat hidupku tak tenang"


Adnan terlihat syok saat mendengar Mawar berkata seperti itu,selama ini ia baru melihat sosok Mawar yang seperti itu.


"Apa maksudmu?"


"kau tanya saja pada ibu sendiri...",Mawar tidak tahu lagi.Ia sudah mengatakannya kepada Adnan..

__ADS_1


Dihempasakannya tangan Adnan yang masih mencekram tangannya,hingga akhirnya pautan itu terlepas.


Mawar langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Adnan yang masih berdiri dengan bingung mencerna apa yang dikatakannya.


__ADS_2