
Namaku Anya...
Itu yang aku yakini...
Nama itu terbit setelah seorang perempuan cantik datang mengulurkan tangannya kepadaku dengan senyuman.
Dari aku lahir mungkin hanya wanita itu yang benar-benar tulus dengan diriku.
Wanita dengan rambut panjang sesiku dan kulit yang putih itu tampak seperti artis,sangat-sangat cantik.
Hanya saja pakaian yang digunakan terlihat kusam dan biasa,wajahnya juga terlihat polos tanpa riasan make up sedikitpun.
Saat itu aku bertemu dengannya disebuah pinggiran pasar dekat sungai Galuh,sungai besar yang digunakan banyak warga untuk bertahan hidup.
Sungai itu digunakan untuk mencuci,mandi, bahkan banyak warga mencari ikan disana,meski sungai itu kotor karena sudah banyak tercemar tapi itu masih aman dan layak digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
Tak terkecuali aku...
Aku adalah wanita gelandangan yang tak punya tempat tingal,jangankan rumah...keluarga saja aku tidak tahu siapa.
Keseharianku bergantung pada sungai itu,kadang aku menjual ikan-ikan kecil yang aku tangkap seharian kepada orang-orang pasar .
Dan kalau sial aku terpaksa mengemis atau menjadi kuli panggul membawakan barang belanjaan ibu-ibu yang butuh bantuan.
Setidaknya uang yang ia dapatkan bisa digunakan untuk makan barang sekali saja dalam sehari.
Itulah yang selalu aku lakukan setiap hari...
Demi bisa menyambung hidup dan bisa makan,aku akan melakukan apapun ...
Aku tumbuh dilingkungan yang begitu keras,aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjalani masa kecilku dulu,tapi yang pasti aku ingat aku adalah anak jalanan yang tidak punya keluarga atau teman sekalipun.
Dulu aku pernah tinggal bersama seorang kakak laki-laki yang mengurusku dengan telaten,kami memutuskan untuk saling bergantung di dunia yang kejam ini.
Aku dan dia sama-sama tidak memiliki kekuarga,jadi kami memutuskan untuk saling menganggap keluarga satu sama lain.
Kami tinggal bersama dibawah jembatan sungai galuh ini,membangun sebuah gubuk kecil yang cukup untuk dipakai tidur berdua.
Tapi semenjak ia mendapat pekerjaan ia tak pernah kembali lagi..
Sudah bertahun-tahun lamanya aku hidup sendiri sampai sekarang,sekarang umurku sudah beranjak lima belas tahun.
Sudah biasa bagiku hidup serba susah begini,makan jika mendapat rezeki dan jika aku tidak dapat uang maka aku harus seharian menahan lapar sampai esok hari ,berharap di hari berikutnya akan ada orang yang mau memberikannya uang atau makanan.
Tubuhku yang kurus kering karena kurang gizi tak bisa mengerjakan pekerjaan yang berat-berat,karena kondisiku ini juga aku sering sakit-sakitan.
__ADS_1
Seperti saat ini,saat aku tidak bisa mengambil ikan untuk dijual ,jalan satu-satunya adalah mengemis.
Menengadahkan tangan kepada orang-orang pasar yang lewat berharap mereka menjatuhkan koin meski hanya satu keping.
Sampai akhirnya aku dikejutkan dengan sebuah tangan yang menggenggamku ,tangan itu hangat dan begitu menenangkan.
Meski tangannya terasa sedikit kasar tapi cara wanita itu menggenggamnya berbeda saat orang-orang menariknya dengan kasar.
Dengan wajah cantiknya seorang perempuan tersenyum padaku dan berbicara dengan nada yang begitu lembut .
"Siapa namamu...?"
Dia bertanya seolah-olah perduli dengan diriku ini,tentu saja aku tidak langsung menjawabnya,karena bagiku perlakuan lembut wanita itu masih aneh.
Kemudian tangan wanita itu mengusap kepalaku dengan sentuhan yang sangat lambat tapi menenangkan.
Karena terkejut aku malah menepis tangannya dan sedikit menghindar.
"Apa yang kamu lakukan!" jawabku ketus.
Tapi bukannya wanita itu pergi,wanita itu malah terlihat tersenyum lembut.
"Namaku Mawar...mba hanya ingin lebih mengenalmu"
"Untuk apa...?"
"Ini kue sisa jualanku...jika kau mau kau bisa menerimanya...kalau begitu mba akan langsung pulang,jaga dirimu dengan baik..." katanya dengan mengusap kepalaku sekali lagi.
Kemudian wanita itu pergi meninggalkan bebebapa bungkus kue tanpa mengatakan apapun lagi.
Dan sejak saat itu wanita itu selalu datang menemuiku,setiap aku ke pasar aku selalu melihat wanita itu tersenyum menungguku di depan pintu pasar.
Entah apa niat wanita itu kepadaku,tapi yang pasti aku merasakan sebuah ketulusan untuk yang pertama kalinya dalam hidupku.
Setiap hari wanita itu memberiku makan dengan sisa kue jualannya atau sebuah bungkusan nasi yang mungkin ia bawa dari rumah.
Hingga sampai berjalannya waktu aku merasa sangat nyaman dengannya dan mulai memanggilnya "Mba Mawar".
Nama yang sangat cantik bagai bunga itu sangat cocok dengan kepribadiannya yang sangat baik.
Mba Mawar juga yang telah memberiku nama yang indah,dulu aku tak pernah memikirkan ataupun mempermasahkan soal namaku sendiri.
Karena begitu ada banyak panggilan untukku bagi para warga pasar seperti,dari panggilan anak sial,anak haram ataupun anak tidak berguna.
Tidak ada dari mereka yang menamaiku dengan nama palsu sekalipun,mereka menganggap aku yang masih manusia ini sebagai sesuatu yang hina.
__ADS_1
Bahkan aku sering dipukuli karena dituduh mencuri barang jualan mereka.
Padahal yag kulakukan hanyalah memungut apa-apa yang sudah jatuh ketanah,itupun yang sudah rusak.
Meskipun begitu tidak ada yang mendengarkan dan percaya.
Pakaianku yang compang-camping,tubuhku yang lusuh penuh debu sangat cocok dijadikan pelampiasan ataupun target tersangka jika ada barang mereka yang hilang.
Yah...mungkin karena memang aku terlihat sangat kekurangan dan banyak pengemis yang mencuri di pasar ini,yang membuat image anak jalanan sepertiku sangat dibenci.
Mereka bahkan tidak perduli dengan tubuh anak kecil yang meringkuk kedinginan dengan baju yang basah disisi jalan.
Dinginnya air hujan yang bercampur angin sudah biasa aku rasakan setiap musim hujan seperti ini.
Rasa dingin yang seakan menyengat langsung kedalam kulit dan tulangku membuat tubuhku tak bisa berhenti menggigil.
Tapi sialnya aku tak bisa berhenti menengadahkan tangan keatas seperti sebuah robot yang sudah diatur untuk menjadi kebiasaan.
Karena aku harus makan....
Aku harus bisa mendapat uang untuk membeli nasi,makan dengan nasi dan garam juga cukup untukku,yang terpenting hari ini aku harus makan ..
Karena sudah dua hari aku belum makan nasi sedikitpun,aku hanya minum air sebanyak mungkin.
Mba Mawar yang tadinya sering memberiku kue juga tidak terlihat ,mungkin ia bosan kepadaku atau rasa simpatinya hanya bertahan beberapa waktu saja.
Saat aku melamun memikirkan semua itu tiba-tiba suara seorang wanita yang sangat familier terdengar di telingaku,bercampur suara hujan dan guntur yang terdengar cukup keras.
"Ayo ikut mba pulang..." katanya .
Tanpa aku duga wanita datang dengan jas hujan di sekuluh tubuhnya,memberiku sebuah payung..
Awalnya aku diam menatap mba Mawar dengan penuh keterkejutan.
Sampai aku akhirnya sadar dan mulai berfikir"Ah mungkin dia malaikat penolong yang tuhan berikan padaku...."
.
...Hai para readersku terzeyeeeenggg😘😘😘😘...
...Author akhirnya comback lagi setelah sekian paripurna😭😭...
...Author cuma baru bisa buat prolog di season 3 ini ya,untuk kelanjutannya akan author usahain buat rajin update nanti......
...Jadi jangan lupa tetep dukung author dengan kasih vote,like dan komentar yang cantik yang sayanggg😘😘🥰...
__ADS_1
...Aku sayang kaliannn!!!! i love you sekeboonnn!!😍😍...