Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
S3 Lelaki Posesif 2


__ADS_3

Mawar mematung beberapa saat mendengar apa yang diucapkan anaknya.


Ia sangat terkejut mendengar Azka mengatakan hal yang kurang sopan kepada orang lain.


Selama ini ia mengenal Azka adalah anak yang sangat sopan,meski dulunya cenderung pendiam dan dingin tapi Azka bukan tipe anak yang berperilaku kurang ajar kepada orang lain.


Tapi kejadian yang terlihat sekarang membuat Mawar tak bisa berkutik.


Ia tak menyangka Azka akan mempermalukan seseorang karena Zahra.


Anak lelaki itu secara gamblang menunjukan ketidaksukaannya kepada seorang ibu-ibu yang menyentuh adiknya.


"Sayang....kamu tidak boleh seperti itu,itu tidak sopan",ucapnya lirih.


Tangan Mawar menyentuh lembut lengan Azka,mencoba pengertian dengan sebaik mungkin.


Ia tak mau membuat semua jadi kacau,apalagi sudah banyak orang tua yang bisik-bisik akibat omongan anaknya itu.


Pasti banyak yang menganggap Azka anak yang sombong dan jahat,dan Mawar tidak mau itu terjadi pada anaknya.


"Kamu minta maaf ya sama tante...Azka bisa kan?",bujuknya lagi.


Dan setelah beberapa detik menunggu,akhirnya anak itu mengangguk,hal itu sungguh membuat Mawar sedikit bernafas lega.


Setidaknya Azka tidak membuat keributan di hari spesialnya .


"Tante...Azka minta maaf karena bicara tidak sopan",ucapnya pada ibu-ibu tadi.


"Iya ...tante maafin kok",jawab ibu-ibu itu dengan senyum ramahnya.


Mawar tersenyum melihat anaknya yang mudah diatur dan diberi pengertian,ia senang Azka masih mau meminta maaf.

__ADS_1


Tapi ternyata rasa senangnya itu tak bertahan lama,ucapan Azka selanjutnya malah membuat Mawar merasa sangat frustasi.


"Tapi tante...Azka benar-benar tidak suka kalau ada orang yang menyentuh adik Azka,jadi kedepannya tolong jaga jarak dari Zahra...kalau begitu terimakasih atas pengertiannya,Azka pamit dulu",ucapnya dengan nada tegas yang sopan.


Anak lelaki itu langsung melenggang pergi meninggalkan semua orang tua yang mematung akibat mendengar ucapan anak dibawah umur itu.


Bahkan Mawar sampai tak bisa berkata-kata mendengar ucapan anaknya yang seperti itu.


Tisu yang tadi diberikan oleh Azka ditangannya bahkan sampai jatuh karena saking terkejutnya.


"Apa selama ini aku gagal mendidik anak-anak?"


***


Mawar menyisir rambutnya dengan pelan,matanya kosong menatap cermin yang ada di depannya.


Hal itu membuat Azam yang baru keluar dari kamar mandi mengerutkan kening.


Lagi.. Azam memanggil nama istrinya tapi wanita itu tidak juga merespon.


Merasa ada yang tidak beres dengan Mawar,Azam langsung menghampiri istrinya,mengelus pundaknya dengan lembut agar Mawar tidak terkejut.


"Ada apa?",tanyanya.


Yang ditanya masih kebingungan sembari menatap wajah Azam yang khawatir.


Mawar tersenyum sembari mengelus lengan suaminya itu.


"Nggak mas...cuma sedikit kepikiran saja"


"Apa? apa yang membuatmu cemas?"

__ADS_1


Azam tahu,istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Apa aku sudah benar mendidik anak mas? apa selama ini aku sudah menjadi ibu yang baik bagi anak-anak?"


Terdengar helaan nafas dari Azam,lelaki itu berangsur memeluk istrinya dengan sayang.


Dibelainya rambut Mawar dengan pelan,mencoba memberikan sebuah ketenangan jiwa pada istrinya.


"Kamu ibu satu-satunya bagi mereka...kamu yang paling tahu hal yang buruk dan baik untuk mereka..."


"Tapi mas...aku khawatir selama ini aku salah mendidik anak-anak "


Raut wajah Mawar kini memerah,ia sudah menangis di depan suaminya sekarang.


Kemudian dengan suara yang tersengal-sengal Mawar menceritakan apa yang telah terjadi tadi siang.


Segala hal yang membuatnya khawatir ia ceritakan kepada Azam.


Mawar bisa merasakan sebuah tepukan lembut menenangkan dirinya.


"Dia hanya khawatir,Azka begitu karena dia terlalu sayang sama adiknya...bukankah dia tidak pernah membencimu?",tanyanya lembut.


Mawar mengangguk sembari menghapus air matanya.


"Sudah jangan menangis lagi,tak ada yang perlu di khawatirkan...dia hanya sedang berperan sebagai kakak yang melindungi adiknya.."


Mawar hanya bisa mengangguk lemah ,ia tahu Azka sangat menyayangi adiknya ,tapi apakah hanya sebatas melindungi dan menyayangi saja?


Yang Mawar lihat itu seperti sebuah sikap yang sangat posesif ,dan Mawar takut itu menjadi sebuah obsesi bagi Azka.


Cara anak itu melindungi adiknya terlalu arrogant dan tidak normal.

__ADS_1


__ADS_2