
Mawar terkejut mendengar suara keras dari pintu sekaligus teriakan dari mertuanya itu.
Bu Winar benar-benar menggebrak pintu kamarnya dengan sekuat tenaga.
"Ada apa mah?",ia mencoba berdiri dengan sekuat tenaga,pusing dikepalanya bertambah sakit karena terkejut tadi.
"Ada apa kamu bilang?! ini tuh masih siang,cucian baju dan piring juga belum kamu pegang udah enak-enakan tidur aja!"
Mata Bu Winar kini bahkan sudah melotot dengan galaknya,ia juga mengacung-ngacungkan tangannya mendikte ini dan itu.
"Maaf mah,tapi Mawar benar-benar tidak enak badan,nanti Mawar kerjain kok",katanya.
Ia benar-benar tak bohong,semua yang ia katakan juga bukan alasan hanya untuk menghindari pekerjaan rumah.
Tapi kepalanya terasa sangat sakit,bahkan penglihatannya sudah mulai berputar-putar.
"Nggak usah alesan kamu..bilang aja biar mama yang kerjain kan!"
"Enggak kok mah,nanti biar Mawar yang beresin"
"Dasar malas,kenapa Adi nikah sama kamu sih?udah malas nggak bisa punya anak lagi!"
*D*eg..!
Hati Mawar terasa seperti teriris dengan benda yang paling tajam,ia tak bisa berkata apa-apa lagi.
Setelah mengatakan itu Bu Winar meninggalkan Mawar didalam kamar,terdengar suara ocehan mertuanya yang masih bisa ia dengar dari kamarnya.
Mawar tertunduk menangis ,hatinya sangat sedih mendengar semua itu,kenapa mertuanya bisa setega itu berkata kasar padanya? ia juga menginginkan seorang anak,namun rencana tuhan berkata lain.
Apa tidak bisa Bu Winar mengatakan hal lain selain menyangkut pautkan anak?ia tahu mertuanya sangat kecewa,namun dalam hal ini Mawar yang paling menderita.
Setelah beberapa saat Mawar mencoba berdiri,ia berjalan dengan berpegangan pada dinding rumah,Mawar langsung saja masuk kedalam kamar mandi dan duduk didepan sebuah baskom yang berisi banyak baju kotor disana,
dengan gerakan yang lambat ia mulai mencuci baju-baju itu.
"Nih..yang bersih nyucinya",tiba-tiba Bu Winar datang dari dalam kamarnya,memberinya beberapa baju kotor dan melemparnya kedepan Mawar.
"Meskipun kamu tak bisa memliki anak,setidaknya bergunalah dirumah ini",setelah mengatakan itu Bu Winar kembali pergi,wanita paruh baya itu terlihat santai didepan televisi.
__ADS_1
Mawar menangis lagi,ia menutup mulutnya agar tangisannya tak terdengar siapapun,dadanya sangat sakit diperlakukan seperti itu.
Bukankah selama ini ia juga banyak bekerja dan berkorban demi suami dan mertuanya?apa semua itu tak terlihat di mata Bu winar?
Mawar meremas kain didepannya,sungguh ia tak mengira Bu Winar akan berubah menjadi membencinya.
Ia meringis merasakan kepalanya yang berdenyut sangat nyeri namun Mawar tetap mengucek satu persatu baju kotor yang ada didepannya.
Hidupnya sangat pas-pasan,sehingga ia tak mampu membeli sebuah mesin cuci,sebenarnya ia bisa saja menabung atau menyicilnya dengan menggabungkan gaji suaminya dan hasil dari tokonya,namun terkadang Bu Winar meminta uang yang cukup banyak untuk arisan meminta perhiasan.
Mas Adi tak pernah menolak kemauan ibunya itu,ia sangat berbakti kepada ibunya,dan Mawar tak pernah mempersalahkan itu selagi mertuanya itu senang.
Ia juga bersyukur mendapat perhatian dan kasih sayang seorang ibu dari Bu Winar dulu,namun sekarang keadaan sudah berbeda.
Setelah beberapa menit berlalu ia telah menyelesaian acara mencuci bajunya,peluhnya terlihat mengucur deras dari dahinya,bibirnya kering dan sangat pucat.
Mawar berjalan dengan sempoyongan menjuju dapur,ia berniat mencuci piring setelah itu ia akan istirahat di kamar,sepertinya ia sudah tak kuat lagi jika bekerja lagi.
Baru saja ia mengangkat satu piring ditanganya,padangannya terasa berputar dan piring itu jatuh kebawah.
Praanng...!
Piring itu pecah di bawah kakinya,pecahannya berhamburan kemana-mana.
"Maaf mah..piringnya pecah,soalnya Mawar pusing banget mah..",tenagannya bahkan lemas sekali.
"Kamu tuh ya,udah dibilangin kerja yang bener biar berguna..!",ia menoyorkan jarinya ke kepala Mawar.
"Cepet beresin..mama nggak mau tahu..!",ucapnya sembari mendorong Mawar hingga Mawar terjatuh ,tangannya bahkan mengenai pecahan piring tersebut hingga darah keluar dari telapak tangannya.
"Aaw..!!",Mawar meringis kesakitan,ada beberapa pecahan piring yang menusuk tangannya.
Bu Winar hanya diam menatap saja tanpa ada niat menolongnya.
"Gitu doang manja banget sih..cepet beresin! mama nggak mau tahu",ucapnya lalu pergi meninggalkan Mawar sendiri.
Beberapa saat Mawar berdiam diri sembari menatap luka yang ada di tangannya,terlihat sebuah goresan cukup dalam disana.
Darah masih keluar dengan derasnya,membuatnya jatuh menetes di sekitar lantai.
__ADS_1
Setelah itu Mawar berdiri kemudian membersihkan lukanya,lalu ia pergi kekamar dan mengobati lukanya dengan obat oles.
Saat melewati ruang tengah dilihatnya Bu Winar yang sedang menonton Tv dengan santainya.
Tak mau kena semprot lagi ,ia segera kembali kedapur dan menyelesaikan pekerjaanya meskipun menahan sakit ditangan dan kepalanya.
Ia mencuci piring dengan hati-hati ,lukanya benar-benar terasa nyeri,namun ia harus menyelesaikan pekerjaan itu.
Setelah selesai ia berjalan kearah kamar,ia sungguh tak kuat jika berdiri lama-lama,mungkin jika di teruskan ia bisa pingsan.
"Mau kemana kamu?",Bu Winar yang sedang asyik menonton tv melihat Mawar yang hendak masuk kamar lagi.
"Mawar mau istirahat sebentar mah,Mawar bener-bener udah nggak kuat",ucapnya dengan nada yang lemah.
Bu Winar diam mengamati keadaan Mawar,matanya menelisik seluruh tubuh wanita di depannya itu,seperti berkata "*A*was aja kalau kamu bohong biar nggak kerja lagi..."
"Terserah..yang penting nanti jangan lupa masak buat makan malam"
"Ia mah.."
"Apa kamu juga sudah selesai mencuci piring..?"
"Sudah ma...Mawar sudah mencuci semuanya"
"Baguslah...",ucapnya lagi lalu pandangannya beralih pada layar tv lagi.
Mawar kemabali melanjutkan langkahnya,saat tangannya hendak membuka knop pintu,suara Bu Winar yang memanggilnya lagi mengehentikan gerakan tangannya.
"Awas kamu bilang-bilang sama Adi..!mama bakal usir kamu dari rumah ini!",ancamnya,Mawar terdiam mendengarkan ucapan mertuanya itu.
"Hei..! denger nggak sih kalau orang tua ngomong?!",suaranya kini sudah naik satu tangga.
"Ia mah..",Mawar hanya bisa mengangguk dan masuk kedalam kamar,ia sungguh lemas dan merasa sakit.
Dikuncinya kamar tidurnya,ia hanya ingin beristirahat sebentar saja,kemudian ia berbaring lagi mencoba menutup mata dan berharap bahwa rasa sakitnya ini bisa sembuh saat bangun nanti.
Bahkan Mawar berharap bahwa semua kejadian pahit yang ia alami beberapa hari ini adalah mimpi,ia ingin kehidupan dulu saat pertama kali datang kerumah ini ,kehidupan yang bahagia.
......~~~......
__ADS_1
...Terimaksih pada semua pembaca yang terus dukung author😚😚...
...Aku sayang kalian🤗🤗🤗...