
Azam merebahkan badanya di ranjang king size miliknya,ia menenggelamkan wajahnya di bantal empuknya.
"Sial..sial..sial...!"
Sungguh Azam teringat dengan kejadian tadi,ia benar-benar buruk dalam mengontrol emosinya jika berhubungan dengan Mawar.
Rasa sesak dan marah bercampur jadi satu tatkala Mawar berbicara pada Dafa dengan senyum lembutnya.
Darahnya seakan naik dan moodnya langsung hancur saat itu juga.
Ia bukan benar-benar marah sebenarnya,tapi cenderung ke lebih tak suka dengan Mawar dan Dafa yang terlihat begitu dekat.
Tapi sialnya Mawar malah mengira ia marah padanya.
*A*pa dia takut padaku..?
"Arghh...! Dafa sialan..",umpatnya.
Padahal dalam hal itu Dafa tidak salah apa-apa,Azam hanya ingin menyalahkan kesalahannya pada Dafa saja.
Intinya gara-gara Dafa moodnya jadi jelek dan Mawar menjadi takut karena dirinya yang seperti itu.
*T*ok...tok..tok..
Suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.
"Siapa..?!"
"Ini mama...",Bu Risma masuk dengan membawa segelas susu dan beberapa camilan.
"Nih dimakan dulu...mama tahu kamu belum makan dengan baik akhir-akhir ini...apa Mawar jadi pulang tadi..?",tanyanya sembari melirik Azam yang tengah meneguk habis susu itu.
"Sudah ma.."
"Kamu kan yang nganterin..?"
"Tentu lah ma...memang siapa lagi.."
"Ya baguslah...jangan sampe kamu nggak bantu dia,kasian Mawar..apalagi suaminya selingkuh,pasti dia sedih sekali...kamu juga harus hibur dia",ucap Bu Risma dengan nada seprihatin mungkin tapi wajahnya malah terlihat berbinar.
"Kenapa mama tersenyum?",mencurigakan sekali,Azam bahkan sampai merinding melihat mamanya seperti itu.
"Ya ...mama senenglah,sebentar lagi Mawar cerai sama suaminya.."
"Kok ngomongnya gitu si ma.."
Bu Risma tersenyum lagi mendengar jawaban anaknya itu.
"Mama kan pengin Mawar jadi mantu baru mama,makanya mama seneng denger dia mau cerai"
__ADS_1
Azam melihat mamanya yang tersenyum lebar kearahnya.
"Kamu mau kan nikah sama Mawar..?"
"Mama terlihat seperti orang jahat...senang diatas penderitaan orang lain"
"Mama nggak jahat...makanya kamu nikah ya sama Mawar,buat dia bahagia...kamu suka kan sama Mawar?"
Azam diam melihat mamanya yang menaik turunkan alisnya kepadanya,kemudian ia membuang nafas beratnya.
Menutupi segala hal dari mamanya memang susah,apalagi pasti mamanya sudah tahu kalau selama ini ia sering membantu Mawar.
Perhatiannya pada Mawar yang berlebihan tak bisa ia tutup-tutupi ,Azam juga tidak bisa menyembunyikan selama pada mamanya.
"Ya..Azam mau si nikah sama Mawar ma...tapi masalahnya kan Mawar mau apa nggak...",ucapnya malu-malu,ia bahkan tak bisa menatap mata Bu Risma saking malunya.
Padahal ia sudah bukan ABG (anak baru gede) lagi,tapi rasanya masih malu saat mengatakan itu didepan mamanya.
"Ah...! mama seneng deh denger kamu mau nikah sama Mawar,kamu memang anak mama..! kamu tenang saja,yang penting kamu deketin dia senatural mungkin ,buat Mawar nyaman sama kamu dulu...sisanya serahin ke mama aja..!"
"Tapi Mawar kan belum cerai ma..ini juga baru proses.."
"Emangnya siapa yang nyuruh kamu nikah sekarang...?"
Astaga...Azam malu bukan main,ia malah terpancing dengan omongan mamanya!
"Buat dia jatuh hati sama kamu...pernikahan itu lebih berarti kalau kalian saling mecintai,jangan sampai Mawar mau nikah sama kamu gara-gara berat sama rasa balas budi.."
"Iya ma...tapi gimana ya buat Mawar suka sama aku?"
Semua usaha sudah ia lakukan,perhatian dan juga waktu yang ia miliki,dirinya bahkan rela mengesampingkan pekerjaannya demi Mawar.
Namun wanita itu tak ada tanda-tanda sedikitpun tertarik padanya.
Padahal kalau wanita lain pasti sudah klepek-klepek diperlakukan seperti itu.
Dikantornya juga banyak wanita yang suka padanya,semua itu ia dengar dari laporan sekretarisnya.
Sebagai atasan yang terkenal akan sikap dingin dan tegasnya,ia juga sangat populer dikalangan pegawai wanita.
Bagaimana tidak? Azam bahkan masih muda dan tampan,tapi ia sudah menjadi CEO diusia dua puluh delapan tahun.
Apalagi statusnya yang duda,sudah pasti banyak wanita yang mengincarnya.
"Ish kamu ini...ya pikir sendirilah..masa tanya sama mama...udah tua juga masih bingung deketin cewek"
"Aku memang bingung ma...!"
Boro-boro mikir soal wanita,selama cerai dengan mantan istrinya dulu Azam hanya sibuk dengan kerjaan.
__ADS_1
Semua hidupnya hanya ia pusatkan pada kantor dan anak-anaknya.
Meskipun beberapa kali ia kerap dekat dengan beberapa wanita,namun kebanyakan mereka yang lebih aktif dalam hubungan ketimbang dirinya.
Seringnya ia selalu dekat dengan wanita-wanita centil dan glamor,jadi gampangnya Azam hanya memberikan kartu Atm saja jika mereka merajuk.
Tapi kali ini berbeda,Mawar adalah satu-satunya wanita yang pernah ia temui yang tidak tertarik dengan kemewahannya.
Wanita itu bahkan hanya berucap terimaksih saja,dimata Mawar bahkan tak ada tatapan terpesona atau kekaguman sedikitpun terhadap ketampanannya.
"Yaudah deh pikir dulu pelan-pelan...kalo Mawar udah bener-bener cerai baru kamu gas poll",ucap mamanya mengedipkan mata.
Azam mengacak rambutnya kesal saat mamanya terlihat keluar dari kamarnya.
Ia bingung sekaligus senang,setelah mamanya memberi dukungan kepada dirinya,entah mengapa dadanya terasa sangat berkobar.
Meski dirinya bingung cara membuat Mawar suka padanya,namun tak bisa dipungkiri semangatnya dalam memperjuangkan Mawar berlipat-lipat kali ini.
"Mawar...",ucapnya lirih sembari tersenyum.
Azam benar-benar sudah mabuk cinta,ia yakin pasti dirinya akan bisa mendapatkan hati wanita itu secepat mungkin.
"Aku kan kaya dan tampan...oh aku sangat sempurna...cepat atau lambat aku pasti akan memilikimu",setelah itu Azam tertawa sendiri di dalam kamar.
Jika ada yang melihatnya mungkin mereka beranggapan Azam sudah gila.
Cinta memang seperti itu,cinta bisa membuat orang dewasa berubah menjadi seperti anak kecil.
Cinta bisa membuat seseorang yang kaku dan dingin seperti Azam berubah menjadi lelaki yang sangat perhatian.
Dilangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan bersenandung ria,Azam benar-benar merasa senang saat ini.
Karena mamanya sudah mendukungnya berarti secara otomatis bukankah mamanya itu sudah memberinya restu?
Diguyurnya wajah tampannya itu dengan air shower ,Azam memejamkan mata menikmati sensasi air yang mulai berjatuhan membasahi badanya.
Ada gurat kebahagiaan di wajahnya saat membayangkan senyum cantik Mawar yang selalu melintas di fikirannya.
"Selangkah lagi...satu langkah lagi aku akan mendapatkanmu.."
Besok ia harus menemui pengacaranya,ia harus segera membahas soal perceraian Mawar.
...
Disisi lain Mawar bergidik ngeri,ia menyentuh lehernya yang merasa merinding itu.
"Kenapa mba..?",tanya Anya yang ada sampingnya.
"Nggak tahu...tiba-tiba mba ngerasa merinding saja..."
__ADS_1