Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Masa alunya


__ADS_3

"Kalian saling kenal?",tanya Azam dengan nada yang dibuat setenang mungkin.


"Kami dulu satu kampus",jawab Mawar.


Mendengar jawaban itu Azam merasa sedikit lega,ternyata pria di depannya itu hanya teman kuliah saja.


"Oh iya...aku kesini mau ngenter ini,atas nama Bu Lidia",ucapnya sembari memberikan sebuah struk pesanan kue.


"Kamu masih kerja di toko kue?"


Adnan terlihat terkejut saat mengetahui Mawar datang kerumahnya untuk mengirim pesanan kue mamanya.


Karena konsentrasinya belum sepenuhnya pulih,lelaki itu bahkan tak memperhatikan seragam yang dikenakan Mawar.


Mawar mengagguk saja sebagai jawaban,tidak salah juga perkataan Adnan yang mengatakannya masih bekerja di toko kue,toh sebenarnya ia memang masih bekerja di toko kuenya sendiri.


Dulu saat masih berpacaran dengan Adnan memang ia sudah bekerja part time di toko kue.


"Masuklah dulu ,aku akan menelfon mamaku sebentar,dia tidak ada dirumah sekarang"


"Ta...tapi kami harus segera pergi Adnan",sejujurnya setelah mengetahui fakta bahwa yang memesan kue itu mamanya Adnan,Mawar merasa sangat gundah.


"Sebentar saja,kita bahkan baru bertemu setelah sekian lama...ayolah"


Mawar melirik Azam yang ada di sampingnya,wajah lelaki itu terlihat sekali tidak nyaman.


Dirinya sungguh sangat bingung harus memilih siapa,ia tidak enak hati pada Azam yang rela mengantarnya meskipun pasti banyak pekerjaan sedang menunggunya,lelaki itu berkata akan membicarakan hal penting dengannya ,tapi malah sekarang Adnan menyuruh mereka bertamu.


*B*ukankah akan memakan waktu yang cukup lama?


"Tapi pekerjaanku masih banyak",kilahnya.


Adnan menghembuskan nafas beratnya,ia sungguh menginginkan Mawar masuk kedalam rumahnya,duduk disana dan menceritakan apa saja yang selama ini wanita itu lakukan.


"Baiklah...tapi tolong berikan aku kontak chatmu,agar aku bisa menghubungimu lagi"


Azam tidak suka saat lelaki itu secara terbuka meminta nomor Mawar.


Padahal ia juga masih tahap pendekatan dengan Mawar,tapi lelaki didepannya ini malah menyerobot antrian sesuka hati.


Sebagai sesama lelaki tentu Azam tahu modus jenis seperti itu.


"Tapi..."


Belum sempat Mawar menolaknya,sebuah suara mobil berhenti dibelakang mereka.


Terlihat seorang ibu-ibu yang terlihat seumuran dengan Bu Risma keluar dari mobil berwarna putih itu.

__ADS_1


Mawar menyembunyikan wajahnya sebisa mungkin dengan menunduk,ia bahkan tak berani menatap Bu Lidia yang berjalan semakin dekat kearah mereka.


"Sayang ...siapa mereka?",tanyanya.


"Dari toko kue ma...katanya mama yang pesen kue"


"Oh iya...tolong panggilin pelayan buat bawa kuenya masuk",perintahnya.


Adnan terlihat langsung masuk kedalam rumah dan memanggil beberapa pelayan.


"Ngomong-ngomong saya suka sekali sama kue ditoko kamu,ini sedikit tips dari saya tolong terima ya..",ucapnya sembari memberikan beberapa lembar uang.


"Ti..tidak perlu nyonya,kalau begitu kami langsung pamit dulu",tolaknya halus,ia hanya ingin benar-benar pergi secepatnya.


Azam sedikit heran melihat gelagat Mawar,wanita itu terlihat sangat resah sejak tadi.


"Loh kamu benar mau langsung pergi Mawar?",ucap Adnan dengan tiba disana,ia datang bersama tiga pelayannya yang langsung membawa box-box kue itu kedalam rumah.


"Mawar..?"tanya Bu Risma menelisik.


"Iya mah...Mawar yang pernah aku ceritain ke mama"


"Jadi kamu Mawar mantan anak saya..?haha pantas saja saya merasa sedikit kenal denganmu",ucapnya.


Mawar memberanikan diri menatap Bu Lidia yang tengah menatapnya juga.


Adnan tersenyum dengan senangnya saat mamanya berkata seperti itu,dengan cepat ia langsung masuk kerumah lagi,lelaki itu akan langsung berbicara pada pelayan di dapur untuk menyiapkan makanan yang enak.


"Mantan...?",Azam bertanya karena sangat terkejut,ia mengira Adnan hanya teman baik Mawar sewaktu kuliah.


"Oh...apa kamu pacar barunya?",ucap Bu Lidia sembari menatap Azam dari kaki sampai wajahnya.


"Pinter juga ya kamu cari mangsa baru...",katanya lagi sembari melirik mobil Azam.


Mawar masih diam saja,ia tak mau membuat keributan di rumah orang lain.


"Kamu belum tahu ya...pacar baru kamu ini mantan pacar anak saya loh...ati-ati sekarang kalo cari wanita,apalagi keliatannya kamu dari orang berada,wanita jaman sekarg tuh cuma ngincer yang kaya doang"


"Maaf?",Azam masih bingung dengan perkataan Bu Lidia.


"Sebagai orang tua saya cuma mau kasih saran buat kamu,mending cari wanita yang sederajat sama kita biar nggak dimanfaatin kayak anak saya..",ucapnya sembari melirik Mawar.


"Anda tidak berhak bicara seperti itu.."


Sepertinya Azam sudah sedikit mengerti keadaan sekarang.


"Haha...kamu belum tahu aja sifatnya,yah...memang saya nggak berhak maksa kamu juga si,saya cuma mau ngomong gitu aja"

__ADS_1


Azam mengepalkan tangannya,telingannya sungguh risih mendengar omongan Bu Lidia,kalau saja di depannya ini bukan seorang wanita,pasti ia akan langsung meluncurkan bogemnya.


"Mawar bukan perempuan seperti itu...!"


"Azam..",Mawar memegang tangan Azam yang sudah mengepal itu,ia tak mau membuat keributan.


"Kita pulang saja..",ucapnya memohon.


Azam melihat mata Mawar yang sudah berkaca-kaca,ia menghembuskan nafas beratnya.


Ia langsung menggenggam tangan Mawar dan langsung mebawanya masuk kedalam mobil.


"Loh mah...dimana Mawar...?",Adnan yang baru saja tiba terbengong karena tidak mendapati Mawar ada disana.


"Dia sudah pulang...katanya ada urusan mendesak",jawabnya langsung melenggang masuk.


Adnan hanya bisa pasrah saat mengetahui kalau Mawar sudah pergi,mungkin sekarang memang belum saatnya mereka bertegur sapa lebih lama.


...


Sepanjang mobil itu melaju Mawar hanya menatap kearah luar jendela.


Ia menutup mulutnya sembari mengusap kecil air matanya yang mulai berjatuhan.


Bertemu lagi dengan Bu Lidia adalah salah satu hal yang tak pernah ia inginkan terjadi.


Karena saat bertemu dengan wanita itu,semua ingatan pahit masalalunya seakan kembali berputar seperti sebuah film di dalam otaknya.


Mawar tidak pernah memiliki ingatan yang bagus dengan Bu Lidia,dulu saat ia masih bersama Adnan,Bu Lidia tidak pernah merestuinya.


Bahkan Bu Lidia pernah melabraknya saat ia masih bekerja,menyuruhnya berpisah dengan Adnan dan juga mempermalukannya di mall tempat ia bekerja.


Bu Lidia mengatakan kepada semua orang yang ada disana bahwa ia adalah anak yang matre dan mengincar harta anaknya.


Mawar juga dikatakan sebagai anak haram yang tidak jelas asal-usulnya.


Karena perlakuan Bu Lidialah Mawar memilih berpisah dengan Adnan.


Ia tak kuat jika hampir setiap minggu Bu Lidia datang marah-marah ke tokonya setiap kali Adnan memberikannya sesuatu kepadanya.


Padahal sebenarnya,selama ia berpacaran dengan Adnan ,ia sama sekali tidak pernah meminta apapun,malah Adnan sendiri yang secara sukarela memberikannya barang-barang mewah meskipun ia sering menolaknya.


Mawar menarik nafas panjangnya mencoba mengontrol emosinya,ia tidak boleh menangis dan membuat Azam repot.


Namun ada rasa takut dari dalam hatinya kepada Azam,lelaki itu dari tadi hanya diam tanpa mengucapkan kata sedikitpun.


*A*pa mungkin Azam juga berfikiran sama dengan apa yang dikatakan Bu Lidia?

__ADS_1


Mawar tertawa kecil saat ingat dengan ucapan mantan mertuanya dulu,wanita yang tidak jelas asal usulnya seperti dirinya, memang tidak pernah diharapkan oleh siapapun.


__ADS_2