
Mobil Azam berhenti di koridor sebuah gedung perusahaan,terlihat salah satu satpam yang berdiri di dekat pintu berlari kearahnya memberi hormat.
Sepertinya satpam itu berniat membukakan pintu untuk Azam,namun lelaki itu sudah membukanya sendiri.
Mawar yang masih bingung karena sekarang ia tak tahu ada dimana hanya diam mengamati keadaan saja.
Kemudian tanpa di duganya lelaki itu membukakan pintu untuknya dan mengulurkan tangan kearahnya.
Mawar menurut saja,ia keluar dari dalam mobil.
Kepalanya mendongak melihat betapa tingginya gedung itu.
"Kita ada dimana?"tanyanya.
"Diperusahaanku...",jawabnya sembari melepaskan jas hitam yang dipakainya,kemudian memasangkannya ketubuh Mawar.
"Apa?",kenapa dia memberikan jas?
"Ayo masuk ...",ucapnya tanpa berniat menjawab pertanyaan Mawar.
Sepanjang perjalanan Mawar melihat beberapa orang yang menganggukan kepalanya memberi hormat pada Azam.
Ada juga beberapa karyawan yang memberi salam kepadanya,namun Azam tidak bereaksi sedikitpun,lelaki itu hanya melangkah kedepan dengan tatapan yang sedikit arogant?
*H*uh...! kalau seperti ini dia terlihat seperti bos yang arrogant!
Mawar berjalan di samping Azam,entah itu perasaannya saja atau bukan,tapi beberapa
pandangan wanita terlihat sinis kepadanya.
Ia mengoreksi baju yang dikenakannya berulang kali,tapi tidak ada yang aneh di bajunya.
*J*adi kenapa mereka menatapku seperti itu...?
Tatapan mereka sangat tajam seperti anak panah,jika saja benar anak panah mungkin tubuhnya sudah berlubang dimana mana.
"Jangan hiraukan mereka",ucap Azam.
Sepertinya lelaki itu tahu apa yang sedang Mawar fikirkan.
Mereka naik menggunakan lift pribadi milik CEO ,dimana hanya ada Azam dan Mawar disana.
Hingga akhirnya sampailah mereka pada lantai paling atas,dimana dilantai itu hanya ada ruangan yang khusus untuk Azam dan sekertarisnya.
"Duduklah...aku akan menemui sekertarisku sebentar",ucapnya.
Mawar menganggukan kepala saja,setelah Azam pergi kini hanya ada dirinya diruangan itu.
__ADS_1
Ruangan itu di dekorasi dengan gaya modern dan di dominasi dengan warna hitam dan abu-abu,cocok sekali untuk image Azam yang seperti itu,pria yang dingin dan cool.
Mawar berjalan menghampiri kaca yang memperlihatkan pemandangan kota jakarta di bawahnya.
Dari atas sini pemandangannya sungguh terlihat indah,rasanya beban fikirannya sedikit berkurang saat melihat pemandangan itu.
Mungkin Azam juga melakukan hal seperti itu jika sedang lelah?
"Cantik bukan...?"
Mawar terkejut saat mendengar suara Azam yang sudah ada di belakangnya,berdiri begitu dekat dengannya.
Sebenarnya Azam sudah masuk sedari tadi,dirinya sempat terkejut saat tidak melihat Mawar di sofa,jas yang ia berikan kepada Mawar juga sudah tergeletak diatasnya.
Namun kegelisahannya memudar saat mendapati Mawar yang sedang berdiri di dekat kaca.
Bayangan wanita itu sungguh cantik,meskipun hanya mengenakan baju toko dan menguncir satu rambutnya ,tidak membuat aura kecantikan Mawar memudar.
Ia berjalan perlahan mendekati Mawar,sampai pada titik terdekat yang ia bisa,berdiri dibelakangnya sembari menghirup aroma wangi dari rambut Mawar yang mengurai.
Azam mengamati wajah keterkejutan wanita itu,lalu wanita itu terlihat bergeser secara alami menjauhinya.
Bagaimana bisa wanita yang seperti Mawar dikatakan perempuan yang murahan?,Mawar bahkan tidak pernah menggodanya meskipun wanita itu sudah tahu kalau dirinya memiliki semuanya.
"Jadi ...apa yang mau kamu bicarakan?",tanyanya.
Azam diam sebentar,kemudian ia berjalan mendahului Mawar dan langsung duduk di sofa.
"Aku punya dua hal yang harus dibicarakan,pertama tentang sidang perceraianmu,kalian akan melakukan sidang pada bulan depan..."
Mawar terlihat mengedipkan mata beberapa kali,wanita itu sepertinya merasa sedikit terkejut dengan apa yang disampaikannya.
"Bu..bulan depan?!"
Kenapa cepat sekali? bukankah masa perceraian bisa memakan waktu beberapa bulan?
"Apa kau keberatan..?"
"Tidak..bukan itu..tapi bukankah paling cepat tiga apai empat bulan?"
"Memang,tapi kau bisa melakukannya bulan depan,itupun dilakukan di pengadilan agama di Jakarta"
"Kenapa bisa seperti itu..?",KTPnya bahkan masih di Jogja.
(Jika isteri hendak mengajukan gugatan cerai kepada suaminya, maka Pengadilan agama yang berwenang untuk memeriksa dan mengadilinya adalah Pengadilan Agama dimana Isteri tersebut berdomisili hukum. Domisili hukum dapat dibuktikan dengan adanya Kartu Tanda Penduduk (KTP), artinya jika isteri berdomisili hukum di Kabupaten Magelang dan Suami bertempat tinggal di Jakarta, maka Pengadilan Agama yang berwenang adalah Pengadilan Agama tempat domisili hukum isteri yaitu Pengadilan Agama Kabupaten Magelang.)
"Karena aku yang melakukannya..",jawabnya singkat
__ADS_1
Mawar diam menatap wajah Azam yang tengah menatapnya juga.
"Terimakasih..",hanya itu yang keluar dari mulut Mawar,wanita itu sungguh tak tau apa lagi yang harus ia katakan kepada Azam.
"Lalu kabar yang kedua tentang toko kue milikmu.."
"Ada apa..?",tanyanya was-was,Mawar sangat terkejut saat Azam membawa nama tokonya.
"Perusahaanku ingin membangun kerjasama dengan toko milikmu"
Mawar masih diam menanti penjelasan dari Azam,karena sungguh ia masih bingung dengan apa yang diucapkan lelaki itu.
"Setiap minggu atau jika ada acara kantor,aku ingin memesan kue dari tokomu...kau harus tanda tangan kontrak jika menyetujuinya"
Mata Mawar langsung berubah berbinar,ia sangat senang dengan apa yang di dengarnya,bukankah ini sebuah rezeki nomplok?
Jika tokonya benar-benar bekerja sama dengan perusahaan Azam,tokonya bisa berkembang dengan cepat!
"Itu upun jika kau mau...aku tidak akan memaksa.."
"Aku mau..!terimaksih Azam..!",jawabnya.
"Kalau begitu baca dulu isi perjanjiannya..",ucapnya sembari memberikan kertas dokumen kepada Mawar.
Wanita itu langsung membaca isi dari perjanjian itu satu persatu,Mawar terlihat sangat berkonsentrasi dan sangat cermat.
Melihat itu Azam tersenyum senang,akhirnya ia bisa melihat tawa Mawar lagi.
Sepulang dari rumah Adnan,Azam sudah menahan perasaannya dari tadi,melihat Mawar menangis membuat emosinya naik.
Ia tak tahu harus melampiaskannya pada siapa,yang pasti ia benar-benar ingin merangkul Mawar kedalam pelukannya.
Memeluknya erat dan menjaganya dengan seluruh kekuatannya,tapi sialnya Azam tidak bisa melakukan itu.
Dirinya bukan siapa-siapa bagi Mawar,wanita itu bahkan belum sepenuhnya bererai dengan Adi.
Aampai akhirnya ia memiliki ide untuk mengikat Mawar terlebih dahulu,yaitu dengan cara melakukan kerjasama dengan toko kue miliknya.
Maka dari itu setelah tiba dikantornya,Azam dengan terburu-buru meminta sekretarisnya membuat dokumen kerjasama dengan toko milik Mawar.
Dan ternyata hasilnya tidak terlalu buruk,wanita pujaannya terlihat senang kembali dan dengan cara itu juga ia bisa mengikat Mawar agar tetap berada disisinya.
"Tapi ada satu syarat lagi yang harus kau penuhi",ucapnya.
"Apa itu?"
"Seminggu sekali kau harus datang sendiri ke kantorku,kita akan membicarakan proses pembayarannya juga bukan?"
__ADS_1
Mawar melihat Azam yang tersenyum lebar disana,ia tidak mengerti tentang point itu.
Bukankah masalah itu diberikan kepada pegawai lainnya? masa seorang CEO sang pemilik perusahaan mengurusi pesanan kue?!