Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
memulai serangan


__ADS_3

Mawar duduk dengan anteng di salah satu sofa yang ada diruangan itu,namun wajahnya tidak bisa berbohong,sudut bibirnya selalu tertarik keatas,dia tersenyum senang.


"Jadi dia wanita baik yang selalu kamu bicarakan?",tanya kakek itu pada ibu panti.


Kakek itu mengetuk-ngetuk pelan tongkat yang tengah dipegangnya,beliau kini sudah duduk bersebrangan dengan Mawar.


"Iya tuan..",jawab ibu panti dengan sopan.


"Nama kamu Mawar..?"


"Iya kek"


"Kakek tidak menyangka bisa bertemu kamu lagi...payung yang pernah kamu berikan juga masih kakek simpan,kakek sangat berterimakasih untuk waktu itu ...mumpung kita sudah bertemu kakek ingin memberikan sesuatu kepada nak Mawar sebagai balasan,sebutkan saja apa yang nak Mawar mau"


Mawar tersenyum mendengar perkataan kakek itu,meskipun sudah beruban namun badannya masih terlihat gagah,bahkan aura wibawanya masih terasa kental.


"Saya hanya berharap kakek sehat selalu",jawabnya.


Sama seperti saat kakek itu mendoakan Mawar agar bisa hidup bahagia,kali ini pun Mawar mendoakan dengan tulus agar kakek bisa terus sehat.


Seseorang yang mempunyai panti itu pasti juga orang yang sangat baik,meskipun raut wajah kakek terlihat garang,namun Mawar tak menganggap kakek itu menakutkan.


Mungkin karena kumisnya yang tebal dan matanya yang tajam,banyak orang yang menganggap kakek itu orang yang menakutkan.


Namun siapa yang tahu isi hati manusia?kadang mereka yang terlihat baik belum tentu orang yang baik,dan Mawar sudah tahu itu mengingat ia pernah mengalaminya sendiri.


Bu Winar yang terlihat sangat baik kepadanya ternyata orang yang paling jahat dan dalang dari sumber masalahnya.


Adi sendiri yang terlihat sangat mencintainya diam-diam malah selingkuh dibelakangnya.


Memang benar kata pepatah"Jangan liat buku dari covernya"


"Hahaha....! saya memang tidak pernah salah menilai seseorang",ucapnya sembari tertawa.


Kakek itu sangat senang saat Mawar menjawab seperti itu,ia tak menyangka Mawar malah balik mendoakan dirinya.


Padahal jika Mawar menyebutkan keinginannya,kakek itu pasti akan memberikannya.


"Saya benar-benar ikhlas soal payung itu kek...malah saya yang harusnya berterimakasih,berkat kakek yang mendoakan saya bahagia,saat ini hidup saya benar-benar sudah bahagia"


Kakek itu menatap wajah ayu didepannya,selama hidupnya ia belum pernah bertemu dengan gadis muda seperti Mawar.


"Kamu bisa memanggilku kakek Abbas...kakek ingin kita bisa lebih dekat",ucapnya.


Setelah itu mereka berdua berbicara dengan santai dan senangnya,bahkan Mawar sampai tidak sadar dengan keadaan ibu kantin dan para pekerja lainnya.


Mereka semua entah pergi kemana dan malah meninggalkan Mawar dan kakek Abbas berdua saja diruangan itu.


***

__ADS_1


Waktu menunjukan pukul tujuh malam,Mawar yang baru pulang langsung naik kelantai abbas,dimana sekarang tempat itu sudah biasa menjadi tempat istrirahatnya.


Ia merebahkan diri dengan sembarang posisi diatas ranjang empuknya,badannya sungguh merasa sangat pegal.


Siang tadi kakek Abbas mengajaknya berkeliling mall dan membelikannya banyak barang,meskipun Mawar menolaknya namun kakek itu tetap memaksanya.


Katanya semua itu sebagai tanda balas budi karena dirinya pernah memberikannya payung,mau tak mau Mawar menerimanya saja,karena kakek Abbas mengancam akan marah padanya jika ia tidak mengabulkan keinginannya itu.


Semua barang pemberian kakek Abbas masih ada dilantai satu,Mawar bahkan sudah tidak punya tenaga untuk membuka apa isi kantong belanjaan itu.


Dirinya sudah sangat mengantuk,biarlah urusan toko Anya dan para pegawai lainnya yang urus,kebetulan Anya juga sudah pulang dari ujiannya.


Baru beberapa menit ia menutup mata,Anya datang dibalik pintu dan memanggil namanya,membuat Mawar terpaksa membuka mata lagi.


"Mba...ada kak Azam dibawah",katanya.


Mawar yang belum sepenuhnya sadar masih diam disana sembari menatap Anya yang masih berdiri di batas pintu.


"Hm..",hanya itu jawabnya.


"Baiklah...aku akan kembali bekerja,kalau gitu Anya akan suruh kak Azam duduk dulu"


Setelah itu Anya menghilang dari pandangannya, beberapa detik otaknya mulai menangkap apa yang dikatakan Anya.


Mawar terjengit kaget saat kesadarannya sepenuhnya kembali.


*L*aki-laki itu benar-benar sudah pulang?


Selama beberapa hari ini Azam bahkan tidak pernah ada kabar,setelah sidang perceraiannya Azam bahkan belum membalas pesan yang ia kirimkan.


Padahal Mawar hanya ingin mengucapkan terimakasih atas bantuan laki-laki itu,tapi Azam bahkan tidak pernah membuka pesannya.


Yang terlihat malah Bu Risma dan cucu-cucunya yang kerap datang ke toko kue miliknya.


Ia tak menyangka Azam akan datang sendiri ke tokonya,padahal lelaki itu sudah mengabaikan pesannya.


Segera Mawar merapikan rambutnya yang terlihat berantakan dengan jari-jarinya.


Ia mulai menuruni tangga menuju lantai satu dimana Azam berada.


Pandangan mereka sempat bertemu,Mawar yang masih ada di ujung tangga tersenyum kecil saat mendapati Azam yang tengah duduk di pojok ruangan.


"Azam...apa kabarmu?",tanyanya.


Azam masih diam menatapnya,wajahnya datar menatap lurus kearahnya,Mawar bahkan tidak tahu apa yang sedang lelaki itu fikirkan tentangnya.


"Azam?"


"Eh...aku sangat baik",ucapnya tersadar.

__ADS_1


"Aku dengar semuanya berjalan lancar?aku sangat senang mendengarnya,maaf karena tidak bisa mendampingimu",katanya kemudian.


"Aku yang harusnya berterimakasih...aku sangat berhutang budi padamu,aku tak tahu jika tidak ada bantuan darimu"


"Bukankah sudah kukatakan?aku ikhlas melakukan semua,ini juga rasa terimakasihku karena kamu sudah membuat anakku senang"


*K*alau kau mau balas budi...kau bisa memberikan hatimu padaku..


"Aku datang kesini karena ada yang ingin aku tunjukan padamu"


"Apa...?"


"Kalau kamu berkenan aku akan membawamu melihatnya"


Mawar diam sejenak menimbang-nimbang keadaan,ia benar-benar lelah dan hanya ingin beristirahat saja malam ini.


Tapi melihat raut wajah Azam yang sedikit serius membuatnya tak enak hati untuk menolak,apalagi ini adalah permintaan Azam pertama kali kepadanya.


"Baiklah...",akhirnya ia hanya bisa mengiyakannya.


"Bagus...! aku sudah mempersiapkannya dengan matang,aku harap kau suka"


Setelah berpamitan kepada Anya,Mawar langsung naik ke mobil Azam dan langsung menuju tempat dimana Azam akan menunjukan sesuatu kepadanya.


Tidak butuh waktu lama mereka kini sampai di daerah yang sangat ramai orang-orang,banyak toko yang berjejeran disana.


Dimana-mana terlihat orang-orang berlalu lalang sembari membawa kantong belanjaan.


"Kita dimana...?"


Mawar masih bingung dengan keadaan sekarang,memangnya apa yang mau Azam tunjukan ditempat seperti ini?


"Kau lihat toko itu?",tunjuknya pada salah satu toko yang berjejer rapi di depannya.


Sebuah toko yang besar dengan desain dominan kaca ,yang terletak ditengah-tengah toko lainnya.


"Ada apa?"


"Aku ingin kau menggunakan toko itu untuk bisnis kue",Mawar menatap wajah Azam tak percaya.


"Aku sudah merombaknya sedemikian rupa agar cocok jadi toko kue",ucapnya lagi.


"A..apa maksudmu?"


"Yah...aku ingin kau bekerja sama denganku dan membuat toko kue disana ,itulah keinginanku kepadamu"


Mawar melongo tak percaya mendengar keinginan Azam,ia tal habis fikir dengan apa yang ada dingarnya itu.


Sementara didalam hati Azam,lelaki itu sangat senang karena telah berhasil membuat Mawar semakin terikat kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2