
Saat ini Anya sedang berkemas-kemas,ia memasukan barang bawaan Mawar dan dirinya kedalam tas jinjing.
Sudah tiga hari lamanya Mawar di rawat di rumah sakit,meskipun luka fisik yang dialaminya tak seberapa,namun Azam dan Bu Risma memaksanya untuk tinggal lebih lama disana.
Mawar di rawat juga oleh dokter specialis psikologi yang menyamar sebagai suster.
Semua itu Azam lakukan semata-mata agar Mawar merasa lebih nyaman.
Ia sengaja menempatkan beberapa dokter yang ia suruh menyamar sebagai suster.
Dan setelah melihat hasil perawatan selama tiga hari kondisi Mawar berangsur membaik.
Hari ini adalah jadwal mereka pulang,Azam bahkan sudah siap mengantarkan mereka pulang,tentu saja bersama Akins dan Azka.
Setiap pulang sekolah kedua anak itu pasti langsung minta diantar ke rumah sakit dimana Mawar berada.
Selama tiga hari pula Mawar bisa melewati hari-hari tanpa merasa bosan.
"Udah semua mbak..",ucap Anya,nampak gadis itu sedang menjinjing tas ditangannya.
"Biar mba aja yang bawa,pasti berat kan?"
"Nggak papa kok mba..aku kan kuat..!",memperlihatkan otot kecil ditangannya.
Mawar tersenyum karena merasa lucu,padahal Anya adalah gadis yang baru beranjak dewasa,bahkan tingginya masih jauh dengannya.
"Apalagi mba baru sembuh.."
"Baiklah...tapi kalau kamu kesusahan jangan memaksa ya.."
"Siap mba.."
Mereka keluar ruangan setelah semuanya beres,di depan sana Mawar dapat melihat punggung Azam yang sedang membelakanginya.
Lelaki itu sempat keluar ruangan tadi karena menerima telefon dari sekertarisnya.
*D*ia selalu sibuk..apa aku terlalu mengganggunya..?
Selalu seperti itu,bahkan selama tiga hari Mawar sering melihat Azam menerima telefon dari kantor.
"Sudah selesai..?",lamunannya tersadar saat ia mendengar suara Azam.
Mawar hanya mengangguk,dilihatnya langkah Azam yang semakin mendekat kearahnya.
"Biar aku bawakan,sepertinya cukup berat..",ucap Azam setelah melihat Anya membawa tas yang terlihat penuh itu.
"Tidak apa-apa kak..isinya cuma baju kok.."
"Tapi tetap saja.."
"Kak Azam mending jagain mba Mawar saja.."
__ADS_1
Azam terlihat berfikir sebentar,ucapan Anya memang benar,lebih baik ia berada disisi Mawar,bukankah Mawar baru sembuh? bisa saja Mawar masih merasa lemas.
"A..aku sudah sangat sehat..",apa-apaan Anya? mendengar Anya berkata seperti itu Mawar malah malu sendiri dengan Azam.
Setelah itu mereka segera berjalan kearah pintu keluar,disana terlihat Dafa beserta anak-anak berada di luar mobil menunggu dirinya.
"Tante...!",Akins dan Azka berlari kearahnya,keduanya bergelayutan di samping kakinya sembari tersenyum lebar.
"Akins..Azka..jangan ganggu tante Mawar dulu,dia baru saja sembuh..",ucap Azam memperingati.
"Tidak apa-apa,aku sudah sembuh kok.."
Azam memang seperti itu,lelaki itu sangat berlebihan dalam menanggapi sakitnya,padahal ia sudah sembuh total,lukanya bahkan sudah tak terasa linu lagi.
Terlihat Azam berdecak kesal,meskipun suara decakanya sangat kecil tapi Mawar masih bisa mendengarnya.
Semenjak kejadian dimana ia terluka di taman,Azam terlihat sedikit berbeda,laki-laki itu kadang bersikap berlebihan,bahkan Mawar merasa Azam sering menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mereka memasuki mobil Azam ,beberapa satpam membantu mereka masukan barang-barang bawaan.
"Terimakasih Dafa..sudah merawatku selama ini",ucapnya saat ia sudah duduk didalam mobil.
"Santai saja...ini memang sudah jadi kewajibanku",jawabnya dengan tersenyum.
Dan tanpa di duganya Azam kembali berdecak untuk kedua kalinya.
Mawar melirik Azam yang duduk di sebelahnya,lelaki itu hanya lurus memandang kedepan.
Saat ini ia memang duduk di kursi depan dengan Azam,karena dibelakang ada Anya,Akins dan juga Azka,belum lagi barang-barangnya.
Mana mungkin ia bisa menghabiskan semua isi kantong besar itu.
"Masuklah..didalam banyak pasien menunggumu..",ucap Azam.
Dafa hanya meliriknya tanpa berniat membalas ucapan Azam,ia melambaikam tangan saat mobil sudah mulai bergerak menjauh.
Dafa menghela nafas beratnya,kemudian terlihat senyum cerah yang keluar dari wajah tampannya.
Sepertinya ia menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada harta karun.
...
Di dalam mobil Mawar hanya diam saja,ia bahkan tak berani mengajak Azam berbicara,tanpa bertanyapun ia tahu..Azam sedang tidak baik-baik saja.
Semenjak keluar rumah sakit lelaki itu hanya memasang wajah cemberut,Mawar bahkan bingung sendiri dengan tingkah Azam yang gampang berubah akhir-akhir ini.
Tapi karena ada anak-anak dan juga Anya,Mawar sedikit bisa merasa lega,setidaknya suasana tidak terlalu canggung.
Azam langsung turun dan membawakan semua barang-barang itu masuk kedalam ruko tanpa berbicara sedikitpun.
"A..azam..",Mawar memberanikan diri mengajak Azam berbicara setelah lelaki itu selesai meletakan barang-barangnya.
__ADS_1
"Kenapa..?"
Mawar menggigit bibir bawahnya,ia sedikit merasa tak nyaman karena Azam melihatnya dengan tatapan yang seperti itu.
"A..apa kau marah padaku..? "
Azam mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Mawar.
"Kenapa aku harus marah padamu?"
"Ka..karena aku selalu menyusahkanmu..kamu pasti merasa kerepotan selama ini.."
"Kenapa kau berfikir begitu...?"
"Kau terlihat marah..",ucapnya dengan menunduk,suaranya'pun sangat kecil.
"Kau juga sering ditelfon karena pekerjaanmu,aku pasti sangat menyusahkanmu..maaf"
Azam mengusap wajahnya kasar,ia melihat Mawar yang masih menunduk tak berani menatapnya.
"Maafkan aku...aku memang sedang marah,tapi tidak padamu...sekarang masuklah ,aku dan juga anak-anak akan pulang"
Mawar melirik Azam yang lebih tinggi darinya,raut wajah lelaki itu sudah tak sekaku tadi,disana Azam sudah tersenyum lembut kepadanya.
"Terimakasih atas semua bantuannya selama ini.."
"Tidak apa-apa...aku ikhlas melakukannya.."
Setelah itu Akins dan Azka tampak turun dari tangga bersama Anya
"Tante...Akins pulang dulu ya..tante halus banyak istilahat bial bisa cepet main sama Akins dan kakak"
"Iya...tante juga banyak terimakasih sama kalian yang udah mau nemenin tante selama ini"
"Kami juga seneng kok nemenin tante..ayah juga seneng kalo ketemu tante.."
"Ekhem...ayo Akins kita pulang,ayah harus ke kantor lagi...",ucap Azam mengalihkan pembicaraan.
Anya menahan tawanya melihat tingkah Azam yang terlihat kelewat canggung itu.
Ia yakin seratus persen kalau kak Azam benar-benar jatuh hati pada mba'nya
Ia sudah mengamati sikap Azam selama ini,sangat bodoh jika ia tak bisa menyadarinya.
Selama ini perbuatan kak Azam kepada mba'nya sangatlah berlebihan,bahkan tatapan mata kak Azam benar-benar memancarkan sorot yang berbeda.
Semua pengamatannya semata-mata hanya ingin melindungi mba'nya.
Ia tak mau mba'nya akan terluka lagi,sudah cukup baginya melihat mba Mawar begitu menderita.
Kali ini setelah mba'nya cerai,Anya sudah bertekad akan menjadi tameng.
__ADS_1
Bukannya apa,tapi ia tahu pasti banyak lelaki yang akan mengantri mendekati mba'nya,bahkan selama bekerja di toko Anya bisa menilai banyak lelaki yang datang sebagai langganan karena ada rasa ketertarikan juga.
Secara mba'nya itu kan cantik,persis seperti namanya,cantik bagai bunga mawar...