
"Sayang....jangan ganggu dulu dong...Azzahra baru tidur ini",ucap Mawar bisik-bisik.
"Tapi aku kangen sayang..."
Mawar tersenyum mendengar perkataan suaminya,Azam kini tampak lebih manja setelah anak mereka lahir.
Namanya Azzahra Kalila Alfareezel,mereka telah diberkati buah hati yang sehat dan sangat cantik.
Zahra sangat gembul dan berkulit putih,dengan mata coklat khas milik Mawar membuatnya sangat menggemaskan.
"Sebentar lagi ya...aku takut Zahra bangun"
Mawar mengelus tangan Azam yang melingkar diperutnya,lelaki itu sudah mengikutinya sejak tadi seperti perangko.
Padahal dirinya sedang menyusui Zahra karena anak mereka rewel,tapi suaminya malah manja dan minta jatah.
Selama kehamilan Azam memang terlihat seperti suami yang paling siaga dan selalu menjaganya,tapi setelah menikah suaminya berubah menjadi sangat manja dan sering meminta jatah.
Itu sudah terjadi sekitar dua bulan yang lalu,Zahra sekarang sudah menginjak umur sepuluh bulan dan masa itu adalah masa aktif anak karena anak sedang belajar berjalan dengan lancar.
Meskipun Mawar tidak mempermasalahkan tentang betapa repotnya ia menjaga anak,tapi dengan Azam yang manja seperti itu membuatnya sedikit kewalahan.
Mawar sengaja tak menyerahkan soal buah hatinya para pelayan ataupun baby sister,ia memilih merawat anakanya sendiri.
Cup...
Satu kecupan mendarat di leher Mawar,membuat Mawar merinding dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengayun ranjang gantung Zahra.
Sapuan nafas suaminya yang hangat membuat Mawar merasa mati kutu.
"Baumu enak sayang...seperti bau bayi.."
"Itu karena bedak Zahra.."
Azam tersenyum mendengar suara Mawar yang sudah tak beraturan itu,sepertinya usahanya itu telah membuahkan hasil.
Azam tetap melakukan aktifitasnya,tangannya juga sudah tak terkondisikan,memainkan bagian favoritnya yang sekarang sering dikuasi anaknya Zahra.
Rintihan-rintihan kecil mulai terdengar dari mulut Mawar,Azam langsung menggendong istrinya setelah merasakan Mawar sudah tidak kuat berdiri lagi.
Ia membaringkan Mawar dan langsung menciumnya,Azam sungguh tak bisa menahan gelora di tubuhnya kali ini.
Satu persatu baju mereka mulai ditanggalkan,Azam membuangnya ke sembarang arah.
__ADS_1
Namun sayangnya hasratnya itu tak bisa tersalurkan,suara dobrakan keras dari arah luar mengejutkannya dan juga Mawar,tak terkecuali Zahra yang tadinya tertidur kini terbangun dan menangis .
"Mama...! Ayah...! Akins mau jalan-jalan sama dedek Zahla...!",teriak anak itu didepan pintu.
Azam dan Mawar yang panik langsung memakai bajunya lagi,Mawar langsung menenangkan Zahra dan Azam yang langsung keluar menemui Akins yang sudah merengek.
"Adun akins...dedek jadi bangun gara-gara kamu teriak-teriak begitu",ucap Azam.
"Tapi Akins pengin jalan-jalan sama dedek Zahla ayah...Akins bosan dilumah telus..!"
Azam memijit keningnya yang merasa pusing,sudah acara romantis bareng istri gagal sekarang anaknya rewel minta jalan-jalan.
"Ada apa Akins...?",ucap Mawar sembari menggendong Zahra.
"Mama mama...Akins pengin jalan-jalan sama dedek,temen-temen Akins bilang setiap hali meleka jalan-jalan sama adiknya..kenapa Akins nggak pelnah?"
Mawar tersenyum mendengar perkataan anaknya itu kemudian dia mendudukan diri mensejajarkan tubuhnya dangan Akins.
"Akins lihat dedek Zahra baik-baik..."
Akins menurut,menatap adiknya yang sudah membuka matanya akibat ulahnya itu.
"Kenapa ma...dedek tetep lucu kok,Zahla juga udah nggak nangis..."
"Akins sayang nggak sama adek Zahra...?",tanya Mawar.
"Kalau kita main diluar nanti Akins bakal janji jaga dedek Zahra?"
"Tentu ma...!Akins kan kuat..! Akins bakal jagain dedek Zahla..."
Mawar tersenyum mengelus Akins yang terlihat bersemangat itu,Zahra juga sudah mengoceh dan menggerakan tangannya hendak meraih Akins yang ada di depannya.
"Baiklah...kita akan pergi jalan-jalan sore nanti kalau cuacanya bagus...jagoan mama juga udah besar buat jagain dedek Zahra.."
"Asyikk....Akins jalan-jalan sama adek Zahla...asyik..!!",anak itu melomlat-lompat kegirangan membuat Mawar tersenyum senang.
Lain halnya dengan Azam yang sudah berwajah kecut karena semua rencananya gagal total.
***
Sesuai janji...Mawar dan anak-anak jalan-jalan disalah satu taman kota.
Taman itu terlihat sangat ramai dan menyenangkan,banyak penjual yang berjejer rapi dipinggiran taman.
__ADS_1
Terlihat beberapa anak berlarian kesana kemari bermain dengan keluarga mereka.
Mungkin karena sore ini sangat cerah,taman itu terlihat lebih ramai dari biasanya,apalagi hari ini adalah akhir pekan.
Banyak orang-orang datang kesini bersama keluarga hanya untuk menghabiskan waktu bersama.
"Akins...jangan lari-lari nak...nanti kamu jatuh...",teriak Mawar saat anaknya itu langsung berlari berbaur dengan anak-anak yang sedang bermain gelembung gak jauh dari tempatnya duduk.
"Nggak papa sayang...biarin dia main sesukanya biar dia nggak rewel lagi..."
Mawar hanya melirik suaminya yang masih merangkul pinggangnya sembari berdecak kesal.
"Bi tolong gendong Zahra dulu ya..",Mawar beranjak dari kursinya,memberikan Zahra pada pelayan yang biasa menemaninya kemudian pergi meninggalkan Azam dan Azka yang masih duduk disana.
"Ayah seperti tidak paham mama saja",celetuk Azka.
Mamanya Mawar tidak akan membiarkan Akins bermain sendiri,apalagi banyak orang disana.
Meskipun mereka sudah dalam pengawasan bawahan Azam tapi Mawar selalu menjaga Akins dan Azka dengan sepenuh hati.
Kasih sayang Mawar tak berubah meski wanita itu sudah memiliki Zahra.
Mawar bahkan terlihat protektif kepada anaknya dari hari kehari,tapi meskipun seperti itu Akins dan Azka sangat menyukainya.
Mereka sangat suka saat mamanya Mawar mengkhawatirkan mereka.
Belum sampai Mawar menghampiri anaknya Akins... benar saja anak itu terjatuh dan sudah menangis sekarang.
"Kan mama sudah bilang...Akins jangan lari-lari ,jatuh juga kan...?",ucapnya sembari meniup-niup kaki anaknya yang sudah lecet sedikit itu.
Akins hanya mengangguk sembari mengucek-ucek matanya merasa bersalah.
"Kita main disana saja ya...nanti mama belikan kinciran kecil..katanya Akins mau jagain dedek Zahra.."
"Maafin Akins mama..Akins lupa",Mawar tertawa mendengar ucapan anaknya itu,Akins dari dulu memang benar-benar menggemaskan.
Berbeda dengan Azam dan Azka,kedua lelaki itu terlihat cool dengan gayanya masing-masing,lihatlah...cara duduk mereka bedua juga sama,menyilangkan kaki dan bersedekap dada.
"Tuhkan yah...mama itu paling paham sama anaknya,masa papa nggak sih", sindir Azka.
Azam hanya melirik Azka yang duduk disampingnya,omongan Mawar memang selalu benar dan ia tak bisa menyangkalnya.
Diam-diam senyum diwajahnya terukir indah,Azam memandangi Mawar yang sedang mengajak Akins membeli mainan disana.
__ADS_1
Mawar sungguh tulus kepada anak-anaknya,Azam sangat bersyukur memiliki istri seperti Mawar yang berhati malaikat.
Ia tak pernah menyangka akan sebahagia ini memiliki keluarga,Mawar telah mengajarkannya banyak hal dalam hidupnya.