
Hari berganti begitu cepat,waktu terus saja bergulir tidak perduli dengan adanya permasalahan manusia di dunia ini.
Setelah melewati hari-hari yang begitu terasa campur aduk,kini tiba saatnya Mawar menghadiri sidang perceraiannya.
Mawar bisa melewati beberapa hari terakhir ini berkat orang-orang yang menyayanginya dan selalu mendukungnya.
Ada Anya yang selalu disampingnya dan memberikannya kekuatan,menjadi tempat curhat keluh kesahnya dan memberikan sandaran disaat ia sangat membutuhkan.
Akins dan Azka juga mebuat hari-harinya bertambah berwarna,ia bisa melupakan seluruh kesedihannya saat bersama mereka.
Sekarang hidup Mawar sudah tidak terpuruk seperti dulu,kehidupan ekonominya perlahan membaik dari hari ke hari,semua itu berkat usahanya dan Anya.
Ia sungguh sangat bersyukur dengan kehidupan yang sekarang,usaha kuenya sekarang sungguh membanggakan,semua itu tak lain juga berkat Azam,berkat lelaki itu tokonya bisa berkembang sampai sekarang.
Karena kesibukannya Mawar jadi lebih bisa cepat
melupakan beban hidupnya.
Mawar menatap cerminan dirinya di dalam cermin kamar,ia mengoleskan sebuah bedak dan juga lipstik berwarna peach yang terlihat segar ke bibirnya yang indah itu.
Ia menguncir kuda rambutnya,kemudian membiarkan anak-anak rambut yang berjatuhan disamping wajahnya.
Wanita itu mengenakan baju berwarna merah dengan celana hitam.
(Kira-kira seperti diatas penampilannya,cuma Mawar dikuncir kuda )
Hari ini Mawar sengaja berdandan seperti itu,ia akan memperlihatkan keadannya kepada mantan suami dan mertuanya bahwa ia sangat baik dan tidak bersedih dengan perceraian mereka hari ini.
Diraihnya tas kecil berwarna hitam miliknya,Mawar segera menuju kebawah dimana Anya tengah menunggunya.
"Udah mba..?"
Mawar mengangguk pasti,dan di balas dengan senyuman oleh Anya.
Hari ini mereka berdua berangkat menggunakan taksi yang sudah mereka pesan.
Setelah menempuh waktu beberapa menit akhirnya mereka sampai di depan gedung pengadilan agama.
Disana Mawar melihat ada dua pengacara yang Azam berikan tengah berdiri menunggu dirinya.
Setelah saling sapa,mereka segera masuk kedalam dan bersiap melakukan proses persidangan.
Hari ini Mawar hanya ditemani oleh Anya dan dua pengacaranya,Azam tidak bisa ikut karena ada urusan di kerjaannya.
__ADS_1
Sudah empat hari lamanya lelaki itu pergi keluar negeri karena urusan bisnis,pagi tadi Azam hanya mengirim pesan yang berisikan kata-kata semangat dan mendoakan agar hari ini berjalan lancar.
Mawar bahkan jadi tersenyum geli saat membaca pesan itu,karena setahunya Azam bukanlah orang yang hangat seperti itu.
Ia sempat membalas pesan Azam,tapi lelaki itu bahkan belum membukanya sampai sekarang,mungkin dia benar-benar sibuk.
Dafa juga seperti itu,ia mengirim pesan beberapa kata tentang hari perceraiannya.
Mungkin karena mereka berdua bersaudara jadi sifatnya sedikit mirip?
Mawar berjalan memasuki ruangan di temani dua pengacaranya,di sisi kanan ia melihat Adi yang duduk bersebrangan tengah menatapnya,entah apa yang di fikirkan lelaki itu sampai menatapnya seperti itu sampai Mawar benar-benar merasa risih.
Di belakangnya Bu Winar duduk sendiri,Rosi mana mungkin datang ke sidang tersebut,wanita itu pasti juga takut jika dirinya dibawa-bawa dalam masalah ini.
Karena kalau Mawar mengadukan dirinya berselingkuh,Adi pasti akan langsung di pecat dan di cabut gelar PNSnya.
Sidang berlangsung dengan lancar,karena bantuan pengacaranya Mawar bisa dengan cepat tanpa ada hambatan apapun.
Ia juga tak meminta harta gono-gini ke mantan suaminya Adi,meskipun ia berhak atas itu.
...
(Cerai Gugat :
Perceraian yang terjadi karena gugatan seorang istri kepada suaminya ke Pengadilan Agama. Jika Pengadilan Agama mengabulkan permohonan cerai dari seorang istri terhadap suaminya, maka seorang istri berhak mendapatkan :
...
Mawar benar-benar sudah bercerai sekarang.
Setelah semuanya telah selesai Mawar segera keluar dari dalam ruangan,para pengacaranya juga langsung berpamitan kepadanya.
Mawar menghirup udara dalam-dalam saat dirinya sudah berada diluar gedung,ia memejamkan mata sembari tersenyum cerah.
Rasanya beban yang selama ini ia pikul hilang dalam sekejap.
Dulu ia pernah berfikir pasti akan sangat sedih dan sulit jika kehilangan Adi,namun sekarang sepertinya dugaannya itu salah.
Meski pasti ada rasa sedih dihatinya,Mawar merasa semua ini tidaklah buruk.
Ia hanya sedih karena rasa kecewa kepada Adi,hanya itu saja,selebihnya tidak ada rasa sakit hati karena cinta dan merasa kehilangan.
"Ayo mba kita pulang...bukankah kita harus merayakan momen ini?",ucap Anya sembari cengengesan.
Mawar malah tertawa mendengar perkataan adiknya itu,sepertinya yang paling senang ia bercerai adalah Anya.
__ADS_1
"Mawar...!",saat dirinya dan Anya tengah berjalan tiba-tiba Adi memanggilnya dari arah belakang.
Pria itu mulai berlari kecil kerahnya,dibelakangnya terlihat Bu Winar memasang wajah kesal dan sangat bersahabat.
*A*pa lagi...?
Mawar bahkan malas jika harus berdebat hari ini.
"Ada yang harus aku katakan..",ucapnya.
Mawar hanya diam menunggu kata yang akan keluar selanjutnya.
"Meskipun kita berpisah aku akan tetap kasih kamu uang nafkah"
"Aku tidak mau...",tolaknya tegas.
"Kenapa...? aku bisa memberikanmu uang setiap bulanannya"
"Sudah kubilang aku tidak mau Adi..."
Adi tercengang mendengarnya,Mawar bahkan memanggilnya dengan nama saja tanpa embel-embel "Mas"
Wanita itu bahkan menatapnya datar tanpa ada kelembutan sedikitpun dimatanya.
"Tapi Mawar...",tangannya yang sudah memegang lengan Mawar terhenti saat Rosi memanggilnya dari arah samping.
Mawar tersenyum kecut melihat Rosi yang baru saja keluar dari dalam mobil,sepertinya Rosi ikut menemani Adi dan menunggunya sedari tadi di dalam mobil.
Mawar segera melepaskan tangan Adi di lengannya,ia memandangi Adi dan juga Rosi bergantian,wanita itu memegang tangan Adi sangat posesif.
Mungkin saja Rosi ketakutan Mawar akan merebut Adi kembali,secara tadi Adi mengejarnya bahkan memegang lengannya,Rosi pasti melihat semua kejadian itu.
"Simpan saja uangmu untuk istri barumu..aku tidak butuh"
"Tapi Mawar...aku merasa sangat bersalah jika tidak memberimu uang nafkah"
Mawar mencoba mengatur nafasnya yang sudah mulai memburu,rasanya ia sangat kesal mendengar kata yang keluar dari mulut Adi.
Hah...merasa bersalah apanya..?!
Baru sekarang lelaki itu membicarakan soal rasa bersalah tanpa rasa malu,sampai mereka ceraipun Adi tidak meminta maaf karena telah menduakannya.
"Yang benar saja...",ucapnya lirih.
"Aku tidak habis pikir dengan fikiranmu Adi...sudah kubilang aku tidak mau uang atau apapun itu,kalau kamu merasa bersalah aku hanya minta satu hal...tolong jangan pernah datang ke kehidupanku lagi",ucapnya lalu melenggang pergi meninggalkan Adi dan Rosi yang masih berdiri disana.
__ADS_1
Rosi mengepalkan tangannya karena merasa geram mendengar perkataan Mawar,apalagi saat ia melihat suaminya Adi masih menatap lurus dimana Mawar mulai berjalan menjauh.