
Pagi hari Mawar sudah memasak dan bersih-bersih,bahkan Mas Adi dan mertuanya belum ada yang bangun.
Hari ini Mawar berniat membeli bahan untuk keperluan toko rotinya bersama Anya di pasar,ia akan membuka toko sedikit siang.
Sebelum berangkat ia juga menyiapkan segala keperluan Mas Adi seperti baju,tas,sepatu dan lainnya.
"Mas..aku berangkat ke pasar dulu ya..",ucapnya di dekat telinga suaminya.
Mas Adi hanya melenguh saja,Mawar tahu suaminya itu masih sangat mengantuk ,entah jam berapa kemarin malam suaminya tidur.
Bergegas ia mengambil tas dan handphone miliknya lalu keluar sembari mematikan lampu teras.
Mawar berjalan menuju persimpangan tiga di pinggir jalan raya,ia sudah janjian akan bertemu Anya disana.
Tak lama Anya terlihat ada di dalam bus berwarna biru tua yang berhenti di depannya.
"Mba...!",Anya melambaikan tangannya sembari tersenyum.
Mawar langsung ikut masuk kedalam mikro itu dan duduk di sebelah Anya.
Wajah Anya yang tadinya tersenyum kini berubah "mba...? apa ini luka baru..?",sembari menunjuk kening Mawar yang sudah tertutupi plester.
"Sudah..aku tidak apa-apa,jangan khawatir", Anya merengut mendengar jawaban mba Mawar,ia sangat kesal.
Padahal ia baru tahu kebenarannya kemarin dan hari ini ia melihat mba'nya memiliki luka yang baru lagi,ia sungguh merasa geram!
Namun Anya memilih diam ,dia tahu Mba Mawar tidak akan berubah pikiran,pasti mba nya itu tidak akan mau jika melaporkan mertuanya ke pihak berwajib.
Bagaimanapun ia tak punya hak ikut campur dalam rumah tangga orang lain,tapi ia bertekad akan selalu di pihak mba Mawar dan akan nekat melaporkan siksaan itu jika memang sudah melewati batas.
Karena masih pagi suasana pasar sungguh sangat ramai,Mawar dan Anya pergi kepasar yang harus di tempuh dengan kendaraan umum,karena pasar ini menyediakan bahan yang lebih lengkap,harganya juga jauh lebih murah.
Mereka berbelanja dengan list yang sudah mereka buat kemarin sore,setelah selesai mereka bergegas pulang agar bisa cepat membuka toko.
Di dalam bus yang sedang ia tumpangi sungguh sesak,hari ini penumpangnya sangat padat,untung saja ia dan Anya mendapatkan kursi tadi.
Saat mikro itu berhenti di sebuah halte,ada beberapa orang yang keluar dan juga beberapa orang yang masuk.
Kali ini bus bahkan lebih sesak,Mawar yang melihat ada seorang ibu-ibu paruh baya kesusahan berpegangan,bahkan saat bus berjalan keseimbangan ibu itu tak stabil sehingga beliau hampir saja jatuh,dengan cepat Mawar langsung berdiri.
"Ibu duduk disini saja bu..",
"Tapi nak..belanjaanmu banyak"katanya.
"Tak apa bu,ini bisa saya taruh dilantai"
"Sini mbak yang duduk saja,biar Anya yang berdiri",ucap Anya dari bangku belakang.
"Nggak usah,kamu duduk saja..mba nggak mau kamu lelah"
"Tapi mba..."
__ADS_1
"Udah nggak papa..."
Mawar tak mau di bantah,dan Anya juga tak bisa memaksa,ia tahu rasa perduli Mba Mawar itu terlalu tinggi.
"Makasih ya nak.."ucap ibu itu setelah duduk di kursi yang tadi di dudukinya.
"Iya bu ..saya masih kuat kok",Mawar tersenyum hangat.
"Kamu habis dari pasar nak?",ibu paruh baya itu melihat kresek belanjaan Mawar yang banyak.
"Iya bu..ke kebetulan saya kepasar sama adik saya"
"Banyak sekali belanjaanmu,apa kamu jualan?"
"Iya bu..alhamdulillah saya buka toko roti kecil-kecilan"
"Wah..saya senang melihat anak muda yang mandiri seperti kamu"
"Saya juga masih belajar bu..."
"Tidak apa..kalau mau sukses memang harus belajar,saya doakan toko kamu bisa maju dan laris manis",ucap ibu itu tulus.
"Terimakasih bu..."
"Apa saya boleh minta kartu nama kamu? barangkali saya bisa pesan kalau ada acara keluarga"
Bukankah ini yang namanya rezeki? Mawar tulus menolong sesorang tapi ternyata tanpa sengaja ia mendapat pelanggan baru.
Ibu itu tertawa melihat Mawar yang terlihat gugup saat dirinya meminta kartu nama.
"Iya..terserah kamu saja yang penting saya bisa menghubungi..."
"Nak Mawar..?",ibu itu membaca nama yang ada di kertas.
"Ini kartu nama saya,kamu boleh menghubungi saya jika butuh sesuatu",tiba-tiba ibu paruh baya itu memberikan kartu nama padanya.
"Saya ikhlas menolong bu..",tentu saja Mawar tak berniat meminta imbalan.
"Saya juga ikhlas...terimakasih sudah menemani saya mengobrol disini,saya memang sedang butuh teman untuk berbicara",ibu itu tersenyum.
Tak lama kemudian bus itu berhenti di sebuah halte,ibu itu berdiri dan keluar menuruni bus.
Mawar tak menyangka akan bertemu ibu-ibu yang ramah seperti itu.
Di halte itu banyak penumpang yang turun menyisakan beberapa orang di dalamnya.
"Apa itu mba..?",Anya berganti posisi duduk,kini mereka sudah duduk bersebelahan.
"Kartu nama ibu tadi.."
"Wahh..ini kan nama perusahaan yang dekat dengan toko kita mba.."
__ADS_1
"Benarkah..?"
"Iya mba..setiap berangkat kerja aku melewati perusahaan ini,gedungnya besar lo mba.. rezeki kita ini mba",Anya terlihat sangat gembira,gadis itu tertawa sembari membolak-balikan kartu nama itu.
Mawar juga tak mengira ia akan mengalami hal itu,ibu-ibu yang ia tolong pemilik sebuah perusahaan besar,meskipun belum pasti ibu itu akan memesan namun bukankah kesempatan itu sudah ada?
"Semoga saja memang rezeki kita.."
Setelah sampai mereka langsung membuka toko dan langsung bergegas membuat roti,bahkan langsung ada pembeli saat toko itu buka.
Seperti yang diharapkan,toko roti milik Mawar laris manis dan banyak sekali pembeli.
Mereka bekerja extra hari ini karena memang tenaga di toko itu berkurang satu.
Meskipun lelah Anya dan Mawar sangat semangat melayani pembeli,apalagi mengingat kejadian hari ini membuat mereka tambah semangat.
***
Sudah dua minggu lamanya setelah kejadian di bus itu toko Mawar semakin laris dan banyak pembeli,tokonya juga banjir pesanan dari beberapa perusahaan besar.
Itu semua juga berkat Bu Nisa,ibu-ibu yang pernah dia tolong di bus.
Semenjak perusahaan Bu Nisa memesan roti dari tokonya,banyak perusahaan lain yang ikut membeli,karena rekomendasi dari Bu Nisa toko rotinya juga jadi semakin terkenal.
Akhir-akhir ini ia pulang hampir larut malam,karena memang toko yang sudah ramai maka jam buka lebih panjang apalagi ia juga harus menyelesaikan banyak pesanan.
Selama itu juga Mas Adi sering pulang larut bahkan sering tak pulang ,Suaminya itu kerap laki pergi keluar kota bersama kepala sekolah karena urusan pekerjaan.
Seperti hari ini,padahal jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam tapi suaminya juga belum pulang.
Sampai saat ini Mas Adi juga tak tahu luka-luka yang ada di tubuhnya.
Mawar tersenyum getir ,bagaimana bisa tahu? setiap bangun tidur ia langsung pergi ke toko dan saat pulang suaminya bahkan belum ada di rumah.
Mereka bahkan sudah minim komunikasi,awalnya Mawar merasa sedih,namun ia harus bersabar dan mengerti,suaminya itu sudah bekerja keras untuknya.
Ia segera membersihkan badanya,dan menuju kamar,rumah itu terasa sangat sepi...
Tak ada Mas Adi di sisinya juga mertuanya Bu Winar,ia merasa lega akhir-akhir ini mertuanya itu jarang di rumah,Bu Winar sering menginap di rumah temannya setelah di beri uang yang cukup banyak oleh Mas Adi.
Mungkin ia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya?
Mawar berbaring melihat atap-atap rumah,ia melamun cukup lama hingga akhirnya ia teringat sesuatu.
"Oh iya..!!"
"Besok aku akan cek kesehatan kandungan lagi..mungkin saja aku dan Mas Adi masih bisa mengikuti program kehamilan?"
Mungkin saja Mawar masih bisa mengandung,meskipun peluangnya kecil bukankah tak ada salahnya berobat lagi? dokter pun pernah menyarankan kalau ia harus datang lagi untuk pemeriksaan berlanjut.
Keuangan dirinya dan Mas Adi juga sudah stabil.
__ADS_1
*Y*aa..besok..besok aku akan berobat sendiri saja...