Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Love You More


__ADS_3

Mawar membuka matanya secara perlahan,pandangannya tak begitu jelas karena ruangan itu sedikit gelap.


Hanya ada lampu tidur berwarna orens yang menyinari.


Dilihatnya jam di dinding tepat di depannya menunjukan waktu dua malam.


"Ukh...aku dimana..?"


Saat bergerak badanya terasa sangat sakit,lalu rasa pusing kembali menerjang kepalanya.


"Kau sudah sadar..?"


Mawar sangat terkejut saat tiba-tiba mendengar suara laki-laki di sampingnya.


Disana ia melihat Azam yang duduk sembari menguap serta mengucek-ucek matannya.


Laki-laki itu sepertinya habis tidur di sofa yang tak jauh dari brangkarnya.


"Azam..?"


Kemudian Azam mendekat ke arahnya,lalu tanpa di duganya tangan laki-laki itu menempel di dahinya.


"Demammu masih tinggi...apa ada yang kau butuhkan?"


Mawar hanya geleng-geleng kepala,ia masih heran kenapa Azam ada disini sekarang.


"Aku ada dimana...?"


"Kau ada di rumah sakit...tenang saja,Anya dan anak-anak ada di ruangan lain sekarang"


*D*i rumah sakit...?


Tapi ruangannya ini tak terlihat seperti rumah sakit,ruangan ini malah lebih persis seperti kamar yang mewah.


"Maafkan aku karena merepotkanmu.."


"Tidak...kau tidak merepotkan sama sekali,istirahatlah ini masih petang"


"Tapi aku sudah tidak mengantuk.."


Azam melihat wajah Mawar yang tersinari lampu tidur itu,meskipun ruangan ini tidak terang,tapi ia masih bisa melihat wajah pucat Mawar.


"A..aku sedikit haus..",ucapnya kemudian.


Azam tersenyum kecil mendengar ucapan Mawar,ia tahu wanita itu masih belum sepenuhnya nyaman berada di sisinya.


Dengan pelan dan penuh perhatian Azam memberikan Mawar minum yang sudah tersedia di samping meja,kemudian tanpa diminta dirinya langsung mengupas buah apel dan memotongnya dengan kecil-kecil.


Mawar juga tidak menolak sama sekali saat lelaki itu mulai menyuapinya buah.


Nyatanya saat itu ia merasa lapar karena dari pagi ia belum makan apapun.

__ADS_1


Tangannya juga tidak bisa memegang alat makan karena sedang di perban.


Azam benar-benar sangat mengerti dirinya.


"Kalau boleh...apa kau mau menceritakan kejadian hari ini..?",ucapnya lamat-lamat saat suapan terakhir ia berikan.


Sejenak Mawar menatapnya diam sembari megunyah buah itu,namun setelahnya ia langsung menganngguk sebagai jawaban.


Kemudian Mawar menceritakan semuanya pada Azam,mulai dari pesan yang ia terima sampai akhirnya alasan kenapa ia bisa sampai terluka.


Entah kenapa wajah Azam yang terkena lampu tidur terlihat sangat marah,meskipun tak begitu jelas tapi Mawar tahu Azam bahkan sedang menggertakan giginya.


"Lalu apa keputusanmu..?"


"Aku akan tetap menceraikan Mas Adi,dia juga sudah mau menandatangani surat itu..",ucapnya pelan.


Mau bagaimanapun rasa sakit hati yang ia terima pagi tadi belum sepenuhnya hilang,saat mengatakan itu rasanya juga ia sangat ingin menangis.


Namun Mawar menahannya,ia sudah bertekad bahwa itu adalah tangisan yang terakhir,ia sudah tidak mau mengeluarkan air mata lagi untuk seseorang yang sudah sangat mengecewakannya.


"Baiklah...aku akan membantumu agar bisa cepat bercerai dengan dia,apa kau mau mengajukan tuntutan lain..?"


Mawar menatap mata Azam yang juga sedang menatapnya.


*K*enapa dia baik sekali...?


Kalau difikir-fikir Azam bahkan sudah membantunya begitu banyak.


Dan masalah perceraiannya,Azam bahkan membawa pengacara yang sangat terkenal itu,bukankah lelaki itu sudah mengeluarkan banyak sekali uang demi dirinya?


Ruangan yang sedang ia gunakan sekarang juga pasti biayanya sangat mahal.


"Ti..tidak Azam,aku tidak akan menuntut apapun"


"Kenapa..? dia sudah menyakitimu separah ini..",ucapnya tidak suka.


"Aku hanya ingin kami bercerai...itu saja.."


Azam mengusap wajahnya dengan gusar,kenapa Mawar sangat baik?


Rasanya ia sendiri bahkan ingin menghukum mereka dengan begitu berat.


Yah mereka...Adi,Bu Winar dan juga Rosi,mereka semua yang telah menyakiti Mawar,setidaknya Azam akan mengira bahwa Mawar akan melaporkan Adi agar lelaki itu di pecat.


Namun jawaban yang Mawar berikan malah hanya itu,wanita di depannya ini hanya menginginkan sebuah perceraian saja.


Padalah ia tahu Mawar sangat tersiksa selama in.i


Tadi siang setelah Mawar di kabarkan mengalami stres bahkan cenderung depresi ,Anya menangis sangat lama.


Gadis itu merancau kalau semua ini adalah salahnya yang tidak bisa menjaga Mawar,hingga akhirnya ia bisa tenang saat Dafa turun tangan.

__ADS_1


Setelah itu Anya menceritakan semua pada mereka,ia bercerita pada Dafa dan Azam tentang kisah Mawar yang pilu.


Dimana ia mendapat KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga)oleh mertuanya.


Tentu saja Dafa dan Azam sangat terkejut,ia tak mengira bahwa Mawar sudah menahan semuanya selama ini.


Bahkan depresi yang Mawar alami semuanya karena kejadian itu,semua beban kesedihan yang Mawar pikul tidak lain karena keluarga sialan itu.


Azam menghela nafasnya yang terasa berat,kemudian ia mencoba tersenyum di depan Mawar.


"Baiklah..semua keputusan ada di tanganmu,aku akan mengabari pengacaraku besok,kalian akan segera bercerai dalam waktu dekat...semuanya sudah aku atur..."


"Terimakasih.."


"Istirahatlah...aku akan keluar sebentar melihat anak-anak..",ucapnya.


Setelah itu Azam benar-benar langsung keluar dari ruangan Mawar.


Namun ia tak langsung pergi keruangan dimana anaknya berada,Azam malah terlihat menaiki tangga.


Kini ia sedang berdiri melihat suasana malam dari atas gedung rumah sakit itu,entah apa yang ia fikirkan.


Lelaki itu menatap pemandangan malam itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Padahal saat itu pemandangannya sangat indah,langit juga menunjukan banyak bintang disana.


Lampu-lampu gedung yang menyala juga tak kalah indahnya dari atas sana,namun semua itu tak bisa menghibur hatinya yang sedang kacau.


"Mawar...Mawar..Mawar...",ucapnya lirih dengan menutup mata.


Azam benar-benar sudah sangat mencintai Mawar,bahkan ketertarikannya itu sudah ia rasakan dari dulu.


Namun dengan semua kejadian yang telah terjadi selama ini,Azam benar-benar ingin melindungi wanita itu.


Rasa sukanya semakin bertambah setiap harinya


hingga pada akhirnya pagi tadi ia melihat Mawar yang terluka seperti itu,jantungnya seakan lepas,hatinya sangat sakit melihat keadaan Mawar yang terluka.


Perempuan itu masih saja menangis ,padahal ia sudah bertekad akan melindungi Mawar.


Rasa marah dirinya kepada Adi sudah mencapai puncaknya,ia benar-benar ingin menghancurkan semua orang yang telah menyakiti Mawar.


Namun tadi mendengar ucapan Mawar yang tidak ingin menuntut apa-apa,hatinya sedikit terluka.


Padahal dirinya sebegitu inginnya menghukum orang-orang itu,namun Mawar yang notabenya seorang korban langsung masih bisa berlapang dada membiarkan mereka.


Padahal dia sampai mengalami depresi gara-gara mereka,dan depresi itu akan sangat menakutkan jika sampai tahap depresi berat.


Banyak orang yang bahkan bunuh diri karena depresi.


Azam menutup matanya mencoba merasakan angin malam yang terasa dingin itu,ia harus mengatur rencana untuk kedepannya agar keinginannya menghukum mereka bisa terlaksana tanpa harus melukai hati Mawar.

__ADS_1


__ADS_2