
Tapi tak mungkin ia mengikat suaminya tetap disisinya,apalagi Mas Adi pergi karena kerjaan.
"Kemana mas?"
"Ke Jogja..mas pergi sama kepala sekolah",katanya.
*K*e jogja..? aku ingin ikut dan melihat tokoku dulu,barang kali bisa bertemu Akins lagi..
"Apa aku boleh ikut mas? aku ingin melihat rumah kita "
Mawar tak mungkin berkata ingin ikut karena alasan Akins,suaminya itu dari awal memang terlihat tidak suka padanya,terlihat saat masalah kado hadiah dari Akins.
"Nggak..nggak bisa",jawabnya dengan cepat.
"Kenapa mas? aku nggak bakal ngrepotin atau ganggu mas kok"
"Bukan begitu sayang..mas disana untuk kerja,mas bakal menginap sana-sini jadi mas nggak bisa bawa orang"
"Nggak papa mas..aku nginep aja di rumah lama kita"
Mawar tetep kukuh ingin ikut,bukan tanpa alasan lain,ia hanya sangat rindu pada Akins,jika takdir berpihak kepadanya mungkin saja ia bertemu dengan Akins,ia akan menunggu selama ssatu minggu di tempat bekas tokonya dulu.
"Nggak bisa sayang...rumah kita juga udah nggak ada isinya"
"Tapi mas..."
"Dengerin mas Mawar...mas cuma pergi satu minggu kok,mas minta tolong ya ngertiin mas,kamu boleh minta apa aja asal jangan ikut..",ucapnya dengan nada sedikit berteriak.
Mawar terdiam mendengar perkataan suaminya,mukanya memerah ,sepertinya ia akan menangis.
Mawar memang sangat sensitif jika menyangkut suaminya.
Adi memeluk istrinya itu yang sudah menangis ,ia mengelus rambut Mawar dengan pelan,membiarkan Mawar megeluarkan semua emosinya.
"Maafin mas..mas cuma nggak mau kamu jadi egois begitu,mas pergi juga karena kerja..kamu bisa kan negrtiin mas..?"ucapnya dengan nada yang sudah lembut
Mawar mengela nafas beratnya,kemudian mengangguk dalam pelukan suaminya.
Entah mengapa ia sangat sensitif hari ini,lama mereka berdua berpelukan hingga akhirnya tangis Mawar berhenti.
"Nah..udah reda marahnya?",katanya sembari mengusap air mata Mawar.
Mawar mengangguk "sekarang kamu mau minta apa?nanti pas mas pulang mas bakal beliin"
"Apapun?",katanya dengan nada parau.
"Iya apapun yang kamu mau.."
Mawar tersenyum mendengarnya,ia kembali menghambur ke dalam pelukan suaminya lagi.
"Aku cuma pengin kamu pulang dengan selamat mas.."
"Iya sayang..mas bakal langsung pulang kok kalau kerjaan di sana udah selesai"
__ADS_1
"Baiklah..janji ya mas.."
"Iya sayang...",Adi mengecup kening istrinya.
"Ayo kita sarapan,mas juga sepertinya hampir telat",Mawar meringis mendengarnya,dilihatnya jam yang sudah menunjukan setengah delapan.
Suaminya benar-benar akan telat ,itu semua karena ulahnya yang membuat drama di pagi hari.
Entahlah..ada rasa resah dan tak ingin melepaskan suaminya pergi,hatinya tidak mengijinkan itu,tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
***
Suasana sore ini sedikit mendung,angin bertiup sedikit kencang,sepertinya akan turun hujan lagi.
Sangat mendukung kegalauan yang tengah dirasakan oleh Mawar.
Setelah pembicaraan dengan suaminya tadi pagi,selama di toko Mawar terlihat melamun dan banyak menghela nafas.
Ia duduk di kursi dekat dengan jendela kaca,menopang dagunya dengan satu tangannya.
Dilihatnya gerimis mulai turun membasahi aspal yang kering.
Orang-orang yang tadinya berjalan terlihat berlarian menghindari air yang turun semakin deras.
Dan benar saja ,selang berapa waktu kini hujan jadi semakin deras,banyak juga orang yang berteduh di depan tokonya.
"Mba..",Mawar menengok saat Anya memanggilnya.
Sejak berangkat mba Mawar sudah tidak semangat sekali,bahkan seharian ini di toko Anya melakukan semuanya sendiri.
Terlihat jelas di raut wajah mba'nya bahwa ia sedang resah dan sedih,tapi Anya tak bisa melakukan apapun.
Ia sudah berusaha mengajaknya mengobrol dan menghiburnya,namun mba Mawar tetap saja seperti itu,bahkan sampai melewatkan makan siangnya.
"Mba melum lapar..",lagi-lagi jawaban itu yang di berikannya.
Anya hanya bisa menghela nafas lagi"tapi mba...."
*K*liiing...
Ucapannya terpotong saat suara bel pintu berbunyi.
Anya termenung saat melihat seorang laki-laki yang ia kenal datang ke tokonya lagi.
Apalagi laki-laki itu membawa seorang anak kecil yang gembul di gendongannya.
"Sore Kak Dafa.."
"Sore...diman.a Mawar?",katanya sembari tersenyum
Anya hanya mengacungkan tangannya,Dafa langsung melihat kearah dimana Anya menunjuk.
Ia melihat Mawar sedang melamun,wajahnya juga terlihat sangat sedih.
__ADS_1
"Kenapa Mawar terlihat sedih?"
"Katanya suaminya bakal pergi dinas ke jogja selama satu minggu..yaah.. mba Mawar jadi sedih begitu"
Dafa merubah ekspresinya ,ia mengerutkan kening saat mendengar Anya mengatakan itu,dan semua itu tak lepas dari pandangan Anya.
"Tante cantik...!!!",ucap seorang anak kecil yang ada di gendongan Dafa.
Mendengar seseorang yang ia kenal memanggilnya Mawar langsung memalingkan muka.
Raut wajahnya terlihat sangat terkejut juga sangat bahagia.
"Akins ..?!",Mawar berdiri dari duduknya kemudian berlari menghambur menggendong Akins dan mencium pipi tembamnya berkali-kali.
Akins bahkan tertawa terbahak-bahak karena ulah Mawar.
Berbeda dengan Dafa dan Anya,mereka berdua bahkan melongo melihat situasi yang tengah terjadi.
"Kalian saling kenal?"
"Iya om..ini tante cantik yang pelnah Akins celiatain",jawabnya dengan girang.
"Jadi ini mba..",Anya menunjuk Akins,ia sudah pernah diberitahu tentang Akins oleh Mawar sebelumnya.
Mawar mengangguk,ia kembali menciumi lagi pipi Akins,sungguh rasa rindunya pada anak itu sangatlah besar,padahal mereka tak ada hubungan apapun.
"Ayo duduk dulu...",Mawar membawa Dafa untuk duduk terlebih dahulu,ia ingin tahu bagaimana Dafa bisa bersama Akins.
"Jadi kalian keluarga..?"tanyanya.
"Iya tante...om Dafa itu om Akins.."
Mawar tertawa,padahal ia menanyakan pada Dafa tapi Akins ikut menjawab.
"Dia keponakanku.."
Mawar tak menyangka,ternyata Akins adalah keponakan Dafa,benar kata Anya,dunia itu sangat sempit!
"Tante..kenapa tante pelgi waktu Akins masih di jogja? Akins cali di toko tapi toko tante udah item sumua..",tiba-tiba Akins bertanya dengan lucunya,membuat Mawar tersenyum lagi dan lagi.
Melihat itu Anya sedikit tahu,bahwa anak kecil di hadapannya ini bisa membuat mood mba'nya membaik,ia senang mba Mawar terlihat bahagia lagi.
"Maafin tante ya sayang...sekarang tante udah pindah ke Jakarta,maaf tante nggak bisa kabarin Akins soalnya tante juga nggak tahu dimana Akins tinggal"
"Bagus itu tante...!",katanya dengan semangat,membuat Mawar terheran-heran dengan jawaban Akins.
*A*panya yang bagus..? bukankah mereka bakal jarang ketemu kalau ia sudah di jakarta..?
"Akins kan lumahnya di Jakalta,jadi tiap hali Akins bakal ketemu tante telus..yeayy..!!"
"Apa..?!"
Apa ia tak salah dengar?ia kira rumah Akins di Jogja,tapi kenapa sekarang di Jakarta..?
__ADS_1