Suamiku Menikah Lagi

Suamiku Menikah Lagi
Bantuan


__ADS_3

Setelah cukup lama menangis,Mawar sekarang sudah mulai bisa mengontrol emosinya kembali.


Saat ini ia sedang sangat canggung sekaligus malu didepan Azam.


Bagiamana tidak..? lelaki itu dari tadi menghiburnya dengan sabar.


*R*asanya canggung sekali...aku bahkan menangis dengan kerasnya,pasti dia merasa aku berlebihan kan...?


"Apa kau sudah merasa lebih baik..?",tanyanya.


Mawar hanya mengangguk saja,ia bahkan tak berani menatap mata Azam.


Sebenarnya ia merasa sangat lega karena telah mengeluarkan isi hatinya,ia juga merasa senang karena akhirnya ada seorang yang membantunya.


Padahal ia tak pernah berfikir sedikitpun mendapat bantuan dari pria ini.


Namun kenyataannya Azam malah menawarkan sendiri bantuan kepadanya,dan entah mengapa Azam juga terlihat sangat marah tadi.


Apa mungkin Azam pernah diselingkuhi? Makanya dirinya ikut terbawa suasana?


Lama ia diam tak berani membuka suara,hingga akhirnya ia di kejutkan dengan suara teriakan dari lantai dua.


Mata Mawar melotot menatap Azam yang juga tengah memandangnya.


"Akins...?!"


Mereka berdua langsung lari menuju dimana Akins berada.


Mawar menatap tak percaya,yang dilihatnya sekarang adalah Akins yang sedang duduk sembari menangis memegangi kakinya yang berlumuran darah.


"Astaga Akins..?"


"Huhu..kaki Akins sakit ayah...!"


Azam sempat terkejut saat melihat keadaan di lantai dua yang sangat berantakan,banyak barang berhamburan di sana,juga pecahan gelas dan piring yang berserakan dimana-mana.


Dilihatnya luka anaknya karena goresan kaca yang cukup dalam.


Dengan cepat Azam menggendong anaknya dan membawanya ke lantai satu.


Azka juga turun dengan dituntun oleh Mawar.


Mawar langsung lari ke arah dapur dan mengambil kotak P3K ,kemudian langsung mengobati Akins.


Ia duduk di lantai mengobati Akins yang sedang duduk di sebuah kursi.


"Ma..maafkan tante...",ucapnya sembari meneteskan air mata.


Ia merasa sangat bersalah karena sudah membuat Akins terluka.


Ia sungguh lupa kalau lantai dua sangat berantakan dan tidak aman bagi anak-anak.


"Ini semua gara-gara tante.."

__ADS_1


"Berhenti bicara seperti itu,aku yang menyuruh ,mereka berdua naik",ucap Azam.


"Tetap saja itu salahku..karena aku lupa kalau lantai dua sangat berantakan..."


Habis sudah,niat hati ingin menyembunyikan semuanya tapi malah semua masalah terkuak hari ini di depan Azam.


Bahkan karena kecerobohannya Akins sampai terluka.


"Akins udah nggak papa kok tante cantik,Akins benel-benel udah sehat..makanya tante nggak boleh nangis...ini semua kalena Akins yang nakal nggak mau dengelin kak Azka"


Bukanya berhenti menangis,tangisa Mawar malah semakin menjadi.


Ia sungguh merasa sangat terharu mendengar kata yang Akins lontarkan,anak itu sedang membujuknya.


Membuat ketiga lelaki di depannya merasa khawatir.


Saat dirinya masih menangis,tiba-tiba saja ia merasa sebuah pelukan menyelimutinya.


Dilihatnya Azka memeluknya sembari mengelus lembut punggungnya.


Kemudian merasakan sebuah pelukan tambahan dari Akins yang terlihat gusar.


Kedua anak itu sungguh membuatnya luluh dan merasa sangat bahagia.


"Akins udah belhenti nangis kok tante,kaki Akins udah nggak kelasa sakit lagi,jadi tante jangan nangis ya..."


Mawar tersenyum kemudian membalas pelukan kedua anak itu,meskipun hari ini terasa sangat berat,namun dengan adanya ketiga pria di depannya membuat hatinya sedikit melupakan kejadian yang pahit.


"Apa Akins sama Azka mau tante buatkan omlet,buat tanda permintaan maaf tante..?",karena hari ini ia tak membuat kue satupun.


Namun dugaan Azam salah,anaknya itu tiba-tiba tersenyum dengan lebarnya sembari berakata dengan semangat.


"Mau tante...Akins juga udah lapal..!",Azka juga terlihat mengangguk saja.


Azam sungguh terkejut mendengarnya,padahal anak itu susah sekali kalau disuruh makan di rumah,Akins hanya banyak makan camilan.


Namun ia juga tidak heran jika yang menawarkan adalah Mawar,pasti semua makanan akan masuk kedalam mulutnya.


Azam yang melihatnya hanya tersenyum disana,setidaknya kali ini Mawar terlihat sedikit lebih ceria.


Selama Mawar membuat omlet di dapur,ketiga pria itu menunggunya dengan sabar,Azam sibuk dengan handphonenya,wajahnya juga terlihat sangat serius,entah apa yang sedang ia kirim itu.


Setelah urusannya selesai,matanya beranjak melihat sekelilingnya,ruko Mawar yang terlihat lebih luas di banding toko rotinya yang dulu.


Ia juga bisa melihat tas yang tergeletak tak jauh dari jangkauannya.


"Makanannya sudah siap...!",Mawar membawa ketiga pring berisi omlet daging dan juga nasi.


"Baunya enak sekali tante...",puji Akins,mata anak itu bahkan sangat berbinar.


"Ayok dimakan...tante buatin biar Akins cepet sembuh...",dan dengan cepat Akins menyambar makanan itu,Azka juga langsung memakannya dengan lahap.


"A..azam...makanlah,aku sudah membuatkan untukmu juga...semoga saja sesuai seleramu...",Mawar sangat heran,dari tadi pria itu hanya memandangnya tanpa menyentuh makanan yang ia sediakan.

__ADS_1


*A*pa makananku tidak membuatnya selera..?


"Lalu untukmu...?"


Kenapa Mawar tak ikut makan bersama mereka?fikirnya.


"Aku sedang tak berselera...",jawabnya dengan nada lirih.


Azam hanya diam saja ,kemudian di raihnya makanan tersebut lalu memakannya perlahan.


*E*nak juga...


Ketiga lelaki di depanya makan dengan lahapnya,melihat itu hatinya merasa tenang.


Sampai akhirnya ia mendengar dering telephone masuk dari hpnya.


Mata Mawar membulat saat melihat nama suaminya tertera disana,dan kecemasannya fak luput dari pandangan Azam.


"Ada apa..?"


"Mas Adi menelfon..."


Azam menatap Mawar yang masih terlihat cemas.


"Jangan diangkat..",Mawar diam beberapa detik ,kemudian ia langsung mematikan telfonya sesuai perkataan Azam.


Setelah itu Azam memakan makanannya dengan cepat dan langsung merubah raut muka seriusnya lagi.


"Jadi..sekarang apa yang akan kau lakukan...?",ucapnya tiba-tiba.


"Maksudnya..?",Mawar sedikit bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba Azam lontarkan.


Bukankah sudah jelas ia katakan tadi,ia akan tetap menceraikan suaminya.


"Maksduku tempat tinggalmu,kemana kau akan tidur,bukankah kau sudah keluar dari rumah?"


Mawar tersentak,bagaiman Azam bisa tahu..? pria di depannya sungguh menakutkan.


"Aku akan menginap di rumah sakit malam ini bersama Anya "


"Untuk besok..?"


"Tentu saja di toko ini,tidak mungkin kan aku kembali ke rumah..",


"Apa kau mau aku carikan penginapan?"tawarnya,Azam tak tega jika Mawar harus tinggal di toko ini.


Bahkan sofa yang dipakainya sudah usang dan jelek.


"Tidak-tidak...aku akan menginap disini saja...lagi pula aku sudah terbiasa.."


Azam tak bisa memaksa,ia akan membantu sebisanya tanpa harus memaksa jika Mawar tidak mau.


Setidaknya ia akan mencari cara lain agar wanita itu bisa merasa lebih nyaman.

__ADS_1


"Baiklah jika itu maumu...jika kau membutuhkan sesuatu bilang saja padaku..."


Mawar mengangguk,pria didepannya ini sungguh baik ,ternyata Azam tidak semenakutkan seperti yang ia nilai selama ini.


__ADS_2