
"Mawar..."
Mawar menoleh saat tiba-tiba mendengar seseorang yang memanggilya.
Ia sangat terkejut saat melihat Adi sudah ada dibelakangnya.
Awalnya ia tak begitu mengenalinya,tapi semakin di perhatikan laki-laki itu memang Adi mantan suaminya.
Adi terlihat kurus kering,rambutnya yang panjang tanda ia lama tak mencukurnya,bajunya juga lusuh dan lecek.
Adi terlihat sangat tak terawat,Apa Rosi tidak pernah merawat suaminya sendiri?
"Adi?" ,ucap Mawar lirih.
Mawar langsung pergi dan meninggalkan Adi,ia tak mau berurusan dengan pria itu lagi.
Namun semua itu tak semudah yang diinginkannya,lelaki itu mengerjarnya bahkan sudah menghadangnya.
"Ada apa...? tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" sarkas Mawar.
Adi menatap Mawar yang bicara kasar kepadanya,wanita itu kini sudah sangag berubah.
Tak lama kemudian Azam datang bersama seorang bayi digendongannya,Adi juga melihat anak kecil disamping lelaki itu.
Kalau dilihat lagi mereka seperti keluarga yang lengkap dan bahagia..
"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu Mawar...kumohon dengarkan aku sekali saja..."
Mawar melirik suaminya,tatapannya itu berkata seolah ia tak mau berbicara pada Adi,Mawar ingin segera pergi saja dari sana.
Namun jalan fikirnya berbeda dengan Azam,suaminya itu malah diam saja seolah tak memperdulikan Adi disana.
Azam melihat Mawar tak nyaman hanya bisa menghembuskan nafas beratnya,ia tahu istrinya ingin segera pergi tapi masalah tidak bisa dihindari terus.
Semuanya harus diselesaikan sekarang agar Adi tidak mengejar istrinya terus.
"Sayang...dengarkan dulu Adi...selesaikan semua masalah kalian sampai kelar...aku dan anak-anak akan menunggumu di kursi",ucap Azam lembut.
Sebenarnya ia merasa tak tega,tapi Mawar harus menjadi perempuan yang bertanggung jawab untuk masalah masa lalunya.
Mawar mengangguk setuju,kemudian Akins dan suaminya terlihat mulai menjauh dan duduk ditempat mereka berkumpul tadi.
Mawar juga memilih tempat yang sedikit sepi,ia memilih duduk dikursi taman yang terletak di bawah pohon.
Sekarang Mawar harus fokus kepada Adi dan mendengarkan semua ucapan lelaki itu agar semuanya cepat selesai dan ia bisa pergi dari sana.
"Ada apa..cepatlah..keluargaku sedang menungguku",ucap Mawar.
"Apakah itu anakmu dengan Azam...? benarkah dia anakmu?",tanya Adi.
__ADS_1
Mawar mengerutkan keningnya,ia sedikit kesal dengan apa yang ia dengar dari mulut Adi.
"Lalu siapa? suamiku hanya Azam..."
"Tapi kau tidak bisa hamil Mawar...dan aku yang paling tahu itu"
"Tapi kenyataannya aku punya anak Adi...sekarang hidupku juga sangat bahagia,aku memiliki keluarga yang sangat menyayangiku...anak dan suamiku sangat mencintaiku"
Deg...
Ucapan Mawar bagai lemparan telak kepada Adi,lelaki itu dulunya tak bisa mencintainya dengan jujur dan malah berakhir selingkuh.
"Kenapa...? kenapa bisa kau hamil..?",tanya Adi lirih.
Mawar menatap lelaki yang tengah menunduk sembari mengepalkan tangannya,Adi sedang mencoba menahan diri.
"Apa benar kau belum tau...? atau pura-pura tidak tahu?",Mawar yakin Adi sudah menyelidiki semuanya jika lelaki itu melihat berita resepsinya di salah satu stasiun tv dirumahnya.
"Sebenarnya...aku ingin mengonfirmasikan sesuatu padamu...." ucap lelaki itu lirih.
"A..apa benar...mamaku dalang dari semua ini?"
Mawar masih diam...ia tak langsung menjawab pertanyaan mantan suaminya itu.
"Apa..apa mamaku juga menyiksamu dulu...? dia melakukan kekerasan juga...?"
Mungkin Adi menginginkan jawaban yang lain,mungkin lelaki itu ingin dirinya menjawab bahwa mamanya tidak ada hubungannya dengan keadaan mereka sekarang ini.
Adi adalah anak yang sangat berbakti pada orang tuanya,jadi mungkin ia tak siap mendengar kenyataan yang pahit tentang mamanya itu.
Namun nasi sudah menjadi bubur,apa yang dilakukan Bu winar sudah berimbas pada rumah tangga mereka.
Adi menikahi perempuan lain secara diam-diam agar bisa memiliki keturunan,dan Mawar yang memilih pergi karena tak kuat dengan perilaku Bu Winar dan juga sikap Adi yang mulai berubah.
Musim semi pada pernikahan mereka kini sudah hilang dan tidak akan bisa dikembalikan lagi.
Mawar sudah bahagia dengan keluarga barunya sekarang dan dia sudah merelakan mantan suaminya untuk memiliki rumah tangga yang utuh.
"Semuanya sudah berlalu...waktu tidak bisa diputar kembali..."
Meski benar apa yang Bu Winar lakukan kepadanya dulu,tapi mereka tidak bisa memperbaikinya lagi.
Adi menangis tertahan...laki-laki itu merasa sangat bersalah,dia merasa sangat menyesal.
Andai dia lebih memperhatikan Mawar,apakah wanita itu masih ada disampingnya?
Andai dia tahu mamanya yang melakukan semua ini lebih awal,apakah ia dan Mawar bisa memiliki keluarga yang sempurna?
Enatahlah...dia tidak bisa menjawabnya.
__ADS_1
Hatinya yang masih menyukai Mawar tak bisa berbohong,pernikahannya dengan Rosi terasa hambar sekarang.
Ia masih menginginkan wanita itu berada di sisinya,tapi ia tau itu mustahil.
Hubungan mereka rusak serusak-rusaknya,Adi bahkan malu pada Mawar sekarang,ia malu karena ulah mamanya dulu.
"Maaf..maafkan aku Mawar...",ucap Adi ,lelaki itu bahkan sudah berlutut sekarang sembari menangis.
Melihat itu Mawar langsung berdiri,ia sangat terkejut saat Adi berlutut di depannya.
"A..apa yang kau lakukan?!"
"Aku ingin minta maaf..maafkan aku atas semua kesalahanku padamu dulu...andai saja aku tau semua itu lebih awal...mungkin aku tidak akan menghianatimu...aku tidak akan menikah lagi..."
Mawar diam,ia menahan air matanya,mendengar perkataan Adi membuatnya melintasi ingatan masa lalunya.
Rasa sakit yang sudah ia pendam dalam-dalam terbuka kembali.
"Terlambat...semuanya sudah terjadi...mungkin memang ini takdir kita berdua...",jawabnya lirih.
"Sekarang semuanya sudah berlalu Adi,aku sudah bahagia...dan kuharap kau pun sama..."
Setelah mengatakan itu Mawar langsung pergi meninggalkan Adi yang masih berlutut.
Tak ada hal lain yang bisa Mawar lakukan untuk Adi,dulu ia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga mereka dengan sekuat tenaga,tapi laki-laki itu memilih simpannanya.
Sekarang penyesalan sudah tidak ada artinya,bahkan jika Adi menangis darah sekalipun masalalu tidak bisa diperbaiki kembali.
Mawar mengusap air matanya dan mencoba tersenyum saat menghampiri keluarganya.
Azam menatapnya dengan tatapan penuh perhatian,begitupun dengan anak-anak yang menatapnya dengan penuh cinta.
Mawar sangat bersyukur sekarang memiliki keluarga yang sempurna.
Meski masa lalunya begitu menyakitkan,mungkin itulah cobaan yang harus di laluinya.
Dan sekarang ia hanya perlu menjaga keluarganya agar tetap bahagia.
"Apa terjadi sesuatu ma...?",Azka bertanya dengan nada yang khawatir.
"Tidak...mama hanya lapar,bisakah kita makan dulu?"
Anak-anak mengangguk semangat,mereka tentu tidak tahu permasalahan masa lalunya.
"Kau sudah melakukan yang terbaik...",ucap Azam sembari merangkul istrinya.
"Terimakasih...terimakasih karena sudah membuatku bahagia...",ucap Mawar lirih.
Azam tersenyum mendengar ucapan istrinya,harusnya ia yang mengatakan itu,ialah yang sangat bersyukur bertemu dengan Mawar,wanita yang baik hati dan tulus mencintai keluarganya.
__ADS_1